NovelToon NovelToon
Bukan Takdir Yang Kupilih

Bukan Takdir Yang Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Alisha Chanel

Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.

Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.

Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama Yang Terlarang

"Siapa yang kau cari di balik semak-semak itu, Mawar?"

Suara Bima memotong langkah gadis itu tajam, tepat saat Mawar hendak melangkah ke jalur setapak yang mengarah ke hutan di sisi belakang vila. Tubuh Mawar menegang seketika. Ia berbalik perlahan, menatap pria yang berdiri di ambang pintu dengan rahang mengeras, kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuh.

"Aku hanya melihat bunga, Mas. Warnanya indah dari kejauhan..."

"Pergi ke sini." Bima melambaikan tangan, nada bicaranya tidak meminta, melainkan memerintah. "Tidak ada yang menarik di sana. Tanahnya licin, bisa jatuh ke tebing."

Mawar berdiri diam, kakinya enggan bergerak. "Aku hati-hati kok. Sebentar saja."

"Katakan padaku," Bima melangkah mendekat, langkahnya cepat dan berat, "siapa yang kau harapkan muncul dari balik pepohonan itu?"

Alis Mawar terangkat bingung. "Tidak ada siapa-siapa. Mengapa kau bicara begitu?"

"Karena setiap kali kau menatap ke arah hutan, matamu berubah! Seolah-olah ada seseorang yang kau tunggu di sana." Bima kini berdiri tepat di hadapan Mawar, suaranya meninggi.

"Dia? Siapa yang kau maksud, Mas?" Mawar mengulang pelan, dada terasa sesak mendengar sebutan itu.

Bima tersentak, seakan baru menyadari apa yang baru saja ia ucapkan. Ia membuang muka, menarik napas kasar, lalu kembali menatap Mawar dengan senyum yang dipaksakan. "Tidak ada siapa-siapa. Aku hanya tidak ingin kau terluka. Sini, masuk."

Ia meraih lengan Mawar, menariknya pelan namun tegas menuju pintu. Mawar menurut, namun hatinya kini dipenuhi keraguan yang makin pekat.

 ***

Malam itu, suasana di ruang makan terasa berat. Bima duduk di seberang Mawar, menyuapi nasi perlahan, sesekali menatapnya diam-diam, seakan memastikan gadis itu tidak akan menghilang begitu saja.

"Mas," suara Mawar memecah keheningan pelan namun tegas. "Ceritakan padaku tentang keluargaku."

Tangan Bima yang memegang sendok berhenti di udara. Ia meletakkannya perlahan di pinggiran piring, menimbulkan bunyi denting yang tajam. "Untuk apa?"

"Aku ingin tahu siapa aku. Dari mana asalku. Mengapa aku sendirian di hutan itu saat kau menemukanku." Mawar menatap Bima lurus, tak memalingkan wajah sedikit pun.

"Dan siapa orang-orang yang sering muncul di kepalaku?" tandasnya.

Bima menelan ludah. "Itu hanya mimpi, Sayang. Ingatan yang belum pulih sepenuhnya sering menciptakan bayangan yang tidak nyata."

"Tidak semuanya," bantah Mawar pelan.

"Ada suara yang memanggil namaku dengan lembut. Ada tangan yang menggenggam tanganku erat. Seperti seseorang yang... sangat berarti bagiku."

Wajah Bima memucat seketika. Ia berdiri kasar, kursi yang didudukinya bergeser berdecit keras di lantai. "Cukup! Jangan bicara soal itu lagi!"

"Siapa dia, Mas?" Mawar ikut berdiri, suaranya bergetar namun tak surut.

"Mengapa kau selalu menghindar setiap kali aku bertanya soal masa laluku? Apakah ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?"

"Aku menyembunyikan apa pun demi kebaikanmu!" Bima menggebrak meja, piring-piring berguncang.

"Dunia di luar sana penuh bahaya. Orang-orang yang seharusnya melindungimu justru yang menyakitimu. Aku menyelamatkanmu dari mereka!"

"Siapa orang-orang itu?"

Bima terdiam, bibirnya terkatup rapat. Napasnya memburu, dada naik turun menahan amarah yang nyaris meledak. "Sudah kubilang, lupakan saja semuanya. Yang ada hanyalah sekarang. Hanya kita berdua."

Bima mendekat, mencoba meraih tangan Mawar, namun gadis itu mundur selangkah.

"Kalau begitu, tunjukkan buktinya," tantang Mawar.

"Foto, surat, apa saja yang bisa memberitahuku siapa keluargaku. Mengapa tidak ada satu pun benda milikku di sini? Di vila ini, di mana pun aku melihat, hanya ada kau."

Bima menghela napas panjang, menunduk sejenak seakan menahan beban berat di pundaknya. Saat ia mendongak, tatapannya telah berubah, dingin, tajam, tanpa keramahan yang biasa ia tampilkan.

"Karena tidak ada yang perlu kau ingat," ucap Bima pelan namun tegas. "Semua yang ada di masa lalu hanya akan melukaimu. Biarkan mereka hilang. Biarkan aku menjadi segalanya bagimu."

"Aku tidak bisa begitu! Aku merasa seperti boneka yang kau simpan di kotak tertutup! Aku tidak tahu siapa diriku sendiri!" tangis Mawar akhirnya pecah.

"Kau milikku!" Bima melangkah maju, mencengkeram kedua bahu Mawar kuat hingga gadis itu meringis.

"Aku yang menemukanmu! Aku yang merawatmu saat kau tak mampu mengingat apapun! Tidak ada orang lain yang peduli padamu selain aku!"

"Kau menyelamatkanku... atau kau mengurungku?"

Pertanyaan itu menampar Bima lebih keras daripada pukulan. Ia melepaskan bahu Mawar seketika, mundur selangkah, seakan tak mengenali wajah di hadapannya. Keheningan memenuhi ruangan, hanya terdengar napas mereka yang sama-sama memburu.

"Kau tidak mengerti..." bisik Bima, suaranya pecah.

Mawar menatap pria itu lekat-lekat, jantungnya berdegup kencang. "Apa maksudmu?"

Bima membuang muka, menatap lantai dengan pandangan kosong. Kata-kata itu seakan keluar sendiri, tergelincir dari bibirnya tanpa mampu ia tahan lagi.

"Gala..."

Nama itu menggema di ruangan itu, dan seketika kepala Mawar terasa berdenyut sakit hebat. Bayangan yang selama ini samar tiba-tiba menjadi jelas, sepasang mata yang penuh kasih, senyum yang selalu menenangkan, tangan yang mengusap keningnya dengan lembut, lalu... wajah yang sama tertutup kesedihan yang mendalam, seakan sedang berpisah untuk selamanya.

"Gala..." ulang Mawar pelan, merasakan nama itu bergetar di dadanya sendiri. "Siapa Gala?"

Bima mendongak cepat, matanya menyala cemas. "Tidak ada siapa-siapa! Lupakan nama itu!"

"Dia orang yang kucintai, bukan?" Mawar menatap Bima, air mata menetes di pipi, namun suaranya teguh. "Itulah sebabnya kau takut aku mengingatnya. Karena dia masih ada di hatiku."

"Dia tidak ada! Dia sudah pergi! Tidak akan kembali lagi!" Bima membentak, wajahnya memerah menahan gugup.

Mawar terhenyak. "Sudah pergi? Ke mana?"

Bima mengatupkan mulutnya rapat, seakan baru menyadari ia telah bicara terlalu banyak. Ia berbalik memunggungi gadis itu, berusaha menenangkan diri. "Sudah kubilang, lupakan saja. Dia tidak penting bagimu."

"Dia penting!" Mawar melangkah maju, menepuk meja pelan.

"Dia adalah bagian dari hidupku! Aku berhak tahu apa yang terjadi padanya!"

Bima berbalik tiba-tiba, tatapannya tajam dan mengancam. "Dengar Mawar. Di sini, di tempat ini, tidak ada Gala. Tidak ada siapa-siapa selain aku. Jika kau ingin tetap aman dan bahagia, kau harus melupakan semua itu. Mengerti?"

Nada bicara Bima menegaskan, ini bukan permintaan, melainkan peringatan. Namun justru kata-kata itu menumbuhkan keyakinan di hati Mawar. Sesuatu yang buruk telah terjadi. Sesuatu yang berkaitan dengan Gala. Dan Bima tahu persis apa itu.

"Kau menyembunyikan kebenaran dariku," bisik Mawar, mundur perlahan menjauh.

"Cukup!" Bima melangkah mendekat, namun kali itu Mawar mengangkat tangan, menahannya.

"Jangan mendekat, Mas."

Suara gadis itu begitu tenang, namun tatapannya penuh ketegasan yang tak terduga. Bima terhenti di tempat, menatapnya tak percaya.

"Sejak tadi aku merasa takut padamu, sekarang aku tahu alasannya. Bukan karena aku belum ingat. Tapi karena hatiku... sudah tahu sejak awal." lanjut Mawar, air mata masih menetes namun matanya tak berkedip.

Bima berdiri terpaku, tak mampu bergerak. Kebenaran yang selama ini ia sembunyikan perlahan mulai merobek topeng yang ia pasang rapi. Di hadapannya bukan lagi gadis yang bingung dan bergantung padanya, melainkan seseorang yang mulai membuka matanya.

Mawar berbalik perlahan, melangkah menuju pintu kamar. Sebelum masuk, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.

"Aku akan mencari tahu kebenarannya, Mas. Sekalipun kau melarang."

Pintu tertutup pelan, meninggalkan Bima sendirian di ruangan yang tiba-tiba terasa begitu sempit dan menyesakkan. Ia meremas rambutnya dengan kedua tangan, napasnya memburu.

"Tidak boleh... Kau tidak boleh tahu. Kalau kau tahu... kau akan pergi meninggalkanku."

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!