Malam itu, Pietra pulang membawa kejutan untuk sang suami—dan menemukan suaminya dalam pelukan sahabatnya sendiri. Bukan hanya dikhianati; ia dipukul, direndahkan, dan baru menyadari bahwa pernikahannya selama ini hanyalah kedok untuk menguasai warisannya.
Maka ia memilih menghilang. Sendirian, tanpa tujuan, ia naik pesawat pertama yang membawanya sejauh mungkin: Moskow.
Di kota asing yang dingin itu, Pietra bertekad membangun ulang dirinya dari nol. Tapi takdir justru menempatkannya di jantung dunia yang paling berbahaya—sebagai sekretaris pribadi Marco D'Amato, pengusaha tampan berdarah dingin yang menyimpan satu rahasia mematikan: ia adalah Don dari mafia terkuat di Rusia.
Marco terbiasa mengendalikan segalanya. Namun wanita yang menolak tunduk, yang membalas setiap tatapannya tanpa gentar, yang berani berkata "Aku bukan milikmu"—itu di luar kendalinya. Dan semakin Pietra menolak dilindungi, semakin Marco tak sanggup melepaskannya.
Di antara kontrak yang ditandatangani dengan darah, musuh yang mengintai dari bayang-bayang, dan masa lalu yang menolak mati, satu aturan berlaku mutlak di dunia Marco: pengkhianatan hanya dibayar dengan nyawa.
Pietra datang untuk melarikan diri dari luka. Ia tak pernah menyangka akan terjerat dalam permainan yang jauh lebih berbahaya—permainan di mana hati bisa menjadi senjata paling mematikan.
Ketika cinta dan dendam bertemu di dunia yang tak mengenal ampun, siapa yang akan bertahan sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatriz novaes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
MARCO D'AMATO
Aku membuka pintu ruang kerja dengan tenaga lebih besar dari yang kumaksudkan.
Aku masuk.
Dan hal pertama yang kulihat adalah Pietra.
Ia membelakangiku, membungkuk di atas meja, menata kontrak-kontrak yang baru ditandatangani. Blazernya yang pas sempurna menegaskan garis pinggangnya, gaunnya mengikuti setiap gerakan dengan keanggunan yang bukan hasil latihan—melainkan alami.
Pandanganku menyusuri tubuhnya dari atas ke bawah tanpa berusaha kutahan.
Kaki yang kokoh.
Postur yang percaya diri.
Rambut tergerai jatuh berombak di punggungnya.
Sial.
Dialah yang bertanggung jawab atas dua puluh kontrak yang berhasil ditutup.
Dialah alasan kepalaku masih terbakar sampai sekarang.
Ia berbalik saat merasakan kehadiranku.
"Tuan D'Amato," ujarnya, profesional, tapi ada sesuatu yang baru di sana. Rasa percaya diri. "Kontraknya sudah diteruskan ke bagian hukum."
Aku tak langsung menjawab.
Aku hanya diam, mengamatinya.
Mustahil menyembunyikan kekaguman itu. Bukan sekadar kebanggaan profesional. Ini sesuatu yang lebih mentah, lebih fisik, lebih mendesak.
"Kau tadi..." aku mulai, tapi kata yang tepat tak juga datang.
Ia sedikit mengangkat alis.
"Efisien?" ujarnya menawarkan, tenang.
Aku maju dua langkah.
Kendali mulai lolos dari sela-sela jariku.
"Mendominasi," koreksiku, suaraku lebih rendah dari yang seharusnya. "Kau masuk ke ruangan itu seolah kau pemiliknya."
Pietra mempertahankan sikapnya, tapi kini matanya menganalisisku. Awas. Waspada.
"Aku hanya melakukan pekerjaanku."
"Tidak," jawabku, berhenti terlalu dekat dengannya. "Kau melakukannya lebih baik daripada yang bisa kulakukan sendiri."
Keheningan merentang panjang.
Aromanya kembali menyergap. Lembut. Bersih. Terlalu manis untuk seseorang yang baru saja meremukkan dua puluh pemegang saham.
Tubuhku bereaksi sebelum akal sehatku sempat.
Aku mencondong sedikit, tanganku bertumpu di meja di sampingnya, menciptakan kedekatan yang tak ada beberapa detik sebelumnya.
"Kau sadar apa yang kaupancing hari ini?" tanyaku.
Ia menahan tatapanku.
"Hasil."
Sial.
Jawaban itu nyaris membuatku kehilangan segalanya.
Pandanganku turun tanpa sengaja ke bibirnya. Lalu naik lagi. Aku terlalu dekat. Aku tahu itu. Ia pun tahu itu.
"Marco..." ia mulai bicara, dengan nada yang bukan mundur, melainkan peringatan.
Jarak antara kami kini teramat tipis. Berbahaya. Kendali diriku tergantung pada seutas benang.
Aku hampir mengatakan sesuatu. Atau melakukan sesuatu.
Lalu...
"Marco?"
Suara Irina membelah udara seperti sebilah pisau.
Bersamaan dengan pintu yang terbuka, momen itu pun pecah.
Aku mundur selangkah, rahang mengunci, napas terlalu berat untuk seseorang yang seharusnya cuma sedang bekerja.
Irina masuk membawa map, tatapan tajamnya langsung mengarah pada kami berdua.
"Aku mencarimu," katanya, dingin. "Ada urusan mendesak yang harus diselesaikan."
Pietra cepat-cepat berpaling ke meja, kembali menangani berkas-berkas dengan efisiensi yang nyaris otomatis.
"Tentu," jawabku, datar, tanpa sanggup melepaskan mataku dari Pietra. "Kubereskan sekarang."
Irina mengamati seluruh adegan itu.
Ia melihatnya.
Tatapan itu.
Ketegangan itu.
Keretakan itu.
Dan ia memahami sesuatu yang membuatnya semakin geram:
Pietra bukan cuma kompeten.
Ia menusukku lebih dalam dari sekadar urusan profesional.
Dan aku... sudah tak peduli lagi soal itu.