Menjadi korban perundungan dan anak broken home membuat Ardelia Aira Safira berharap kehidupan barunya di SMA Bangsa Indonesia berjalan tenang. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu kembali dengan dr. Arkanza Dirgantara dokter muda dingin, tampan, sekaligus sahabat dari kakak iparnya.
Berawal dari insiden yang menyelamatkan harga dirinya, Aira perlahan melihat luka masa lalu di balik sikap kaku sang dokter. Dengan kepolosan dan keberaniannya, Aira nekat mengejar Arkan. Namun bagi Arkan, perbedaan usia dan status Aira sebagai adik ipar sahabatnya adalah batas yang tak boleh dilanggar. Puncaknya, Arkan secara tegas menolak Aira serta menghancurkan hati gadis itu seketika.
Namun, ketika Aira benar-benar memilih mundur dan menghilang, keheningan justru menyadarkan Arkan bahwa hidupnya yang monoton terasa hampa. Di antara dinding kaku rumah sakit dan riuhnya masa SMA, akankah Arkan tetap berpegang pada logika, atau menyerah pada hatinya yang mendadak kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke Tanah Kelahiran dan Langkah Pertama Sang Psikolog
Tahun demi tahun berkelebat tanpa terasa. Tujuh tahun berlalu sejak keputusan besarnya berpindah kota. Kini, Aira telah resmi menyandang gelar sebagai seorang Psikolog. Perjalanannya tentu jauh dari kata mudah penuh peluh, tantangan, dan dinamika akademik yang menguras energi. Namun, semangat pantang menyerahnya membakar setiap rintangan.
Selama menempuh pendidikan sarjana, Aira aktif mengukir prestasi lewat berbagai kompetisi hingga lulus dengan predikat Cum Laude. Tak berhenti di sana, ia melanjutkan ke jenjang Magister Psikologi Profesi, mempublikasikan beberapa jurnal ilmiah bereputasi, serta menjadi pembicara dalam berbagai konferensi nasional maupun internasional.
Kini, urusannya di Surabaya telah tuntas. Sang kakak, Nadia, sudah hidup bahagia dan mandiri bersama putra tunggalnya. Aira memantapkan tekad untuk kembali ke Jakarta kota kelahirannya. Kepulangannya kali ini bertepatan dengan tugasnya sebagai asisten peneliti sekaligus co-presenter mendampingi dosen pembimbingnya yang akan menggelar seminar psikologi berskala nasional di Jakarta. Momen ini dimanfaatkannya untuk kembali berkumpul bersama keluarga sekaligus mengepakkan sayap karir akademisnya.
Sementara itu, Pandu sudah lebih dulu kembali ke Jakarta tiga tahun lalu usai menuntaskan kuliah manajemen bisnisnya, dan kini telah menjabat sebagai manajer project di sebuah perusahaan swasta.
"Aira, semua barang penting sudah kamu kemas, kan?" tanya Nadia yang melangkah masuk ke kamar. Hari ini adalah hari libur kerjanya, sehingga ia meluangkan waktu penuh untuk membantu adik bungsunya merapikan barang.
"Sudah, Kak. Sebagian baju dan barang-barangku yang masih bagus sudah kukasihkan ke teman-teman kampus," sahut Aira seraya menata perlengkapan riasnya ke dalam tas pouch.
"Baguslah kalau begitu. Tiket pesawat sudah Kakak booking-kan untuk penerbangan besok pagi. Besok Kakak antar ke bandara sekalian mengantarkan Galang ke sekolah."
"Memangnya tidak mengganggu jadwal kerja Kakak?" tanya Aira khawatir.
"Aman! Kakak sudah izin ke owner WO," jawab Nadia tersenyum tenang.
Aira tersenyum lega. "Terima kasih ya, Kak. Oh ya, aku juga sudah mengirimkan berkas lamaran dosen ke salah satu universitas di Jakarta. Doakan semoga tembus, ya!"
"Pasti, Dedek kecilnya Kakak!" goda Nadia mengacak pelan rambut adiknya.
─•~❉᯽❉~•──•~❉᯽❉~•──•~❉᯽❉~•─
Keesokan harinya, langit pagi tampak cerah. Aira bersiap menuju bandara dengan penampilan kasual namun elegan. Ia mengenakan tank top putih polos yang dipadukan dengan kemeja oversized lengan panjang berwarna biru muda sebagai outer. Lengan kemejanya digulung santai hingga sebatas siku. Penampilannya kian segar dengan celana panjang wide-leg jeans berwarna putih senada, disempurnakan dengan sneakers putih kasual.
Nadia mengantarkan Galang terlebih dahulu ke sekolah. Bocah yang kini duduk di kelas 6 SD itu telah tumbuh menjadi anak yang tampan dan berbudi pekerti halus.
"Tante Aira, hati-hati di jalan ya... Galang pasti bakal kangen banget sama Tante," bisik Galang merengkuh pinggang Aira erat-erat sebelum turun dari mobil.
Aira membalas pelukan keponakannya tak kalah erat. "Tante juga pasti kangen Galang. Nanti kalau libur sekolah, minta Mami main ke Jakarta ya. Main sama Noah dan Nora di rumah Oma."
"Iya! Nanti Galang paksa Mami liburan ke sana!" janji Galang bersemangat sebelum menyalami ibunya dan berlari masuk ke gerbang sekolah.
Mobil Nadia kemudian membelah kepadatan lalu lintas kota Surabaya menuju bandara. Perjalanan memakan waktu sekitar satu setengah jam akibat kemacetan jam berangkat kerja.
Setibanya di area keberangkatan, Nadia membantu meloloskan koper-koper Aira dari bagasi.
"Yakin tidak ada dokumen atau barang yang tertinggal?" tanya Nadia memastikan.
"Sudah aman semua, Kak," sahut Aira usai memeriksa tas jinjingnya.
Nadia menggenggam kedua tangan adik bungsunya, menatapnya dengan binar haru. "Baik-baik di sana ya, Ra. Sukses untuk acara seminarnya nanti. Maafkan Kakak kalau selama kamu tinggal di sini sering merepotkanmu, atau kalau Galang sering membuatmu kesal saat Kakak sibuk bekerja."
Aira terkekeh pelan, menggenggam balik jemari kakaknya. "Sama sekali tidak merepotkan, Kak. Aira justru senang bisa kuliah di sini. Banyak pengalaman berharga yang kubawa pulang, termasuk belajar mandiri dan cari uang sendiri."
"Kalau ada waktu senggang, main ke Surabaya lagi ya, biar Kakak ada temannya," tutur Nadia dengan senyum lembut.
"Pasti, Kak! Ya sudah, Aira masuk ke meja check-in dulu. Kakak hati-hati menyetir mobilnya," pamit Aira melingkarkan lengannya, memeluk erat sang kakak.
Usai melepaskan dekapan, Aira melangkah mantap memasuki area keberangkatan, sementara Nadia berbalik menuju tempat kerjanya.
─•~❉᯽❉~•──•~❉᯽❉~•──•~❉᯽❉~•─
Penerbangan berdurasi satu setengah jam itu berlalu lancar. Begitu melangkah keluar dari area kedatangan Bandara Soekarno-Hatta, sosok Reyhan sudah berdiri melambai di balik pembatas penumpang.
"Bang Reyhan!" panggil Aira riang, berlari kecil menghampiri dan langsung memeluk sang kakak tertua.
"Eh, eh! Adik kecil Abang sudah pulang!" goda Reyhan seraya mengelus puncak kepala Aira hingga tatanan rambutnya sedikit berantakan. "Bagaimana perjalanannya? Tidak mual atau gumoh di pesawat, kan?"
"Ih, Abang! Rambut Aira jadi berantakan!" sungut Aira gemas, menepis pelan tangan kakaknya.
"Baru sampai sudah cemberut," ledek Reyhan terkekeh.
"Lagian baru ketemu langsung dijahili! Aira kan sudah besar, tidak gampang mual lagi seperti Alfian!" cetus Aira menyebut nama putra ketiga Reyhan dan Dinda yang kini berusia 7 tahun.
"Namanya juga anak kecil," balas Reyhan santai. "Sudah, ayo ke mobil. Mama dan Kak Dinda sudah menunggu di rumah dari tadi."
Reyhan cekatan memindahkan koper-koper Aira ke bagasi. Sepanjang perjalanan menuju rumah masa kecil mereka, suasana dalam mobil riuh oleh celoteh Aira yang menceritakan berbagai pengalaman berkesannya di Surabaya.
─•~❉᯽❉~•──•~❉᯽❉~•──•~❉᯽❉~•─
Setibanya di rumah, kedatangan Aira disambut hangat oleh Bu Windy, Dinda, serta ketiga anak Reyhan yang riuh berebut perhatian.
"Ya ampun... Anak gadis Mama makin cantik dan dewasa!" puji Bu Windy seraya merengkuh erat putri bungsunya.
"Mama... Aira kangen banget sama Mama," bisik Aira menyandarkan kepala di bahu sang ibu.
Usai mengurai rindu dengan ibunya, Aira bergantian memeluk Dinda dan mengecupi keponakan-keponakannya yang sibuk bermain di ruang keluarga.
"Bagaimana di Surabaya, Ra? Menyenangkan?" tanya Bu Windy seraya menuangkan teh manis hangat saat mereka berkumpul bersama.
"Lumayan padat, Ma. Tapi menyenangkan karena Aira belajar banyak hal, termasuk kerja part-time untuk menambah pengalaman lapangan," jelas Aira.
Dinda yang duduk di samping Reyhan menimpal ramah, "Lalu, rencana karirmu ke depannya bagaimana, Ra?"
"Sekarang Aira fokus cari kerja di Jakarta saja, biar dekat sama Mama," sahut Aira tersenyum.
"Tidak mencoba melamar di perusahaan tempat Abang bekerja? Siapa tahu ada posisi HR yang cocok," tawar Reyhan.
"Boleh saja, Bang. Tapi sebelum itu, Aira harus menyelesaikan tugas riset dan materi seminar lusa dulu. Jadi fokus Aira mau curahkan ke seminar ini sampai selesai," terang Aira.
Reyhan dan Bu Windy mengangguk-angguk paham.
"Kalau begitu, kamu istirahat dulu di kamar. Perjalanan jauh pasti menguras tenaga. Mama sudah rapikan kamar kamu tadi pagi," tutur Bu Windy lembut.
"Terima kasih, Ma. Aira ke kamar dulu ya," pamit Aira membungkuk halus.
Aira merebahkan tubuhnya di atas kasur kamarnya yang rapi dan harum. Aroma khas rumah masa kecilnya membawa kehangatan yang seketika mengikis rasa lelah usai penerbangan. Namun, waktu istirahatnya tak berlangsung lama. Sebuah notifikasi pesan bergetar di ponselnya, menampilkan nama dosen pembimbing sekaligus ketua tim risetnya.
Dr. Eko, M.Psi., Psikolog:
'Aira, sudah sampai Jakarta? Kalau sudah beristirahat, sore ini kita diskusi sebentar di coffee shop dekat area venue seminar untuk final review materi dan pembagian porsi presentasi lusa.'
Aira mengulas senyum, dengan sigap membalas pesan tersebut.
'Sudah sampai, Pak. Baik, sore ini saya meluncur ke lokasi.'
─•~❉᯽❉~•──•~❉᯽❉~•──•~❉᯽❉~•─
Pukul lima sore, Aira telah tiba di sebuah kafe berkonsep tenang yang berjarak tak jauh dari balai konvensi tempat seminar nasional akan digelar. Dr. Eko tampak sudah duduk di meja sudut dekat jendela, sibuk memeriksa berkas di laptopnya. Aira melangkah mendekat dengan gestur sopan.
"Selamat sore, Pak Eko," sapa Aira hangat seraya menganggukkan kepala penuh hormat.
Dr. Eko mendongak, menyambutnya dengan senyum bangga. "Sore, Aira. Silakan duduk. Bagaimana perjalanannya? Aman?"
"Alhamdulillah lancar, Pak. Dan rencananya saya memang akan menetap kembali di Jakarta," jawab Aira seraya menarik kursi di hadapannya dan mengeluarkan laptop dari dalam tas.
"Baguslah kalau itu keputusanmu," ujar Dr. Eko seraya menggeser sedikit posisi laptopnya. "Langsung saja ya, Ra. Saya sudah membaca draf akhir data riset dan modul materi seminar yang kamu susun kemarin. Secara keseluruhan strukturnya sangat rapi, apalagi bagian intervensi berbasis studi kasus klinis yang kamu garap."
"Terima kasih banyak, Pak. Ada bagian yang perlu disesuaikan atau direvisi lagi?" tanya Aira fokus menatap layar.
"Secara data riset sudah solid. Tapi karena di sini kamu hadir sebagai Co-Presenter sekaligus tim penyusun utama, saya mau pembagian porsi pemaparannya seimbang," jelas Dr. Eko seraya mengetuk-ngetuk penanya di atas meja. "Saya akan membuka sesi seminar dengan memaparkan kerangka teori utama dan temuan riset kuantitatif kita. Nah, bagian aplikasi klinis, dinamika psikologis lapangan, dan pembahasan studi kasus saya serahkan sepenuhnya kepadamu. Bagaimana?"
Aira sempat menahan napas sejenak. Menyampaikan materi di panggung seminar berskala besar di Jakarta tentu mendatangkan desiran gugup. Namun, dorongan profesionalismenya jauh lebih besar.
"Baik, Pak. Saya siap," ucap Aira mantap. "Untuk sesi simulasi alat ukur dan tanya jawab interaktif dengan audiens, apakah nanti akan dipandu bersama?"
"Tepat," jawab Dr. Eko mengangguk puas. "Saat tanya jawab kita respons berdua. Tapi kalau ada pertanyaan yang menyangkut dinamika penanganan kasus nyata di lapangan, kamu yang punya porsi utama untuk merespons. Oh ya, namamu di flyer, modul, dan slide presentasi sudah dicantumkan sebagai Co-Speaker dan Tim Penyusun bersama saya."
"Terima kasih atas kepercayaannya, Pak. Ini kesempatan yang sangat berharga buat saya," tutur Aira tulus.
"Kamu berhak mendapatkannya, Aira. Kerja kerasmu selama jadi asisten peneliti sangat luar biasa. Setelah seminar ini selesai, saya dengar kamu berencana melamar jadi dosen?"
Aira tersenyum tipis. "Iya, Pak. Berkas lamaran sudah dikirim ke salah satu universitas di sini. Mohon doanya."
"Pasti. Dengan rekam jejak riset dan jam terbangmu saat ini, saya yakin kamu akan menjadi akademisi sekaligus praktisi yang hebat," pungkas Dr. Eko hangat.
Diskusi profesional sore itu berlanjut hingga senja meredup. Aira pulang dengan rasa percaya diri yang kian mantap siap melangkah ke panggung seminar lusa bukan lagi sebagai mahasiswi yang ragu, melainkan sebagai seorang psikolog muda yang mandiri, matang, dan kompeten.
Bersambung__
_____
Visual Aira otw pulang ke tanah kelahirannya😉