NovelToon NovelToon
Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Nikahmuda
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.

​Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32.Bunga es mulai cair

Matahari pagi menyusup malu-malu di balik gorden tipis lorong lantai dua kediaman Adikara. Suasana rumah yang biasanya kaku dan diselimuti keheningan mencekik, pagi ini terasa sedikit berbeda. Ada kehangatan samar yang tertinggal dari kejadian semalam—tentang gaun tidur abu-abu, sweater wol basah, obat tetes mata, dan usapan lembut di puncak kepala yang sempat membuat dada dua insan di rumah itu berdebar tak karuan.

Pukul tujuh pagi, Aruna sudah berdiri di depan cermin kamar mandi miliknya. Tangan kanannya yang terbebat perban tipis masih terasa agak kaku, namun kondisinya jauh lebih membaik dibanding kemarin. Setelah membasuh wajah dan merapikan rambut hitamnya yang terurai halus, gadis itu keluar dari kamar dengan langkah perlahan.

Baru saja gagang pintunya terputar dan terdorong terbuka, Aruna hampir saja menabrak sosok tinggi tegap yang berdiri tepat di ambang pintunya.

"Eh!" Aruna tersentak kecil, refleks mundur satu langkah.

Kaivan berdiri di sana. Pria itu sudah rapi memakai kemeja kerja berwarna biru gelap tanpa dasi, dengan lengan kemeja yang digulung rapi hingga ke siku memperlihatkan jam tangan mewahnya. Wajahnya yang biasanya tegang dan mengintimidasi pagi ini tampak sedikit serba salah. Tangan kanannya terangkat kaku di udara, seperti baru saja hendak mengetuk pintu.

"P-Pak Kaivan...?" cicit Aruna heran. "Ada apa pagi-pagi berdiri di depan kamar saya?"

Kaivan berdehem pelan—sebuah gestur refleks untuk menutupi rasa canggung yang mendadak menyerang dadanya. Pria itu menurunkan tangannya yang menggantung, berpura-pura merapikan gulungan lengan kemejanya.

"Ehem. Aku... tidak sengaja lewat," kilat Kaivan cepat, padahal sebenarnya ia sudah berdiri bolak-balik di depan pintu kamar Aruna sejak sepuluh menit yang lalu. "Bagaimana tanganmu pagi ini? Masih sakit?"

Aruna menggerak-gerakkan jemari tangan kanannya yang terbebat pelan. "Sudah jauh mendingan, Pak. Terima kasih."

Kaivan memperhatikan pergerakan jemari Aruna. Manik mata hitamnya menyapu wajah Aruna yang kini tampak lebih segar meski tanpa riasan apa pun. Semburat rona merah tipis mendadak muncul di pipi Kaivan saat teringat betapa dekatnya wajah mereka semalam ketika gadis itu meneteskan obat mata untuknya.

Kaivan buru-buru mengalihkan pandangannya ke ujung lorong, berusaha mengendalikan detak jantungnya yang mendadak melompat kencang.

"Baguslah kalau begitu," gumam Kaivan, suaranya diposisikan serendah mungkin agar terdengar wibawa. "Turunlah ke bawah. Sarapan sudah disiapkan Bi Asih. Jangan sampai kau menungguku menyuapimu lagi seperti kemarin."

Mendengar kalimat terakhir itu, Aruna teringat momen ketika Kaivan memaksanya makan dan menyisir rambutnya. Wajah Aruna seketika merona merah pudar. Gadis itu menundukkan kepala kaku. "I-iya, Pak. Saya turun sekarang."

Aruna melangkah melewati Kaivan. Namun, karena matanya menunduk dan pikirannya sibuk menetralkan rasa malu, ujung gaun mewahnya agak menyapu lantai tangga pertama, membuat langkah kakinya sedikit limbung.

"Hati-hati!"

Secara refleks, tangan tegap Kaivan terulur, meraih pinggang kecil Aruna dari samping untuk menahan tubuh gadis itu agar tidak terjatuh.

DEG.

Jarak tubuh mereka mendadak terkikis rapat. Punggung Aruna menempel kencang pada dada bidang Kaivan. Aroma citrus bercampur sandalwood yang maskulin dari tubuh Kaivan seketika merayapi indra penciuman Aruna, sementara telapak tangan besar Kaivan yang hangat terasa begitu nyata menahan pinggangnya.

Aruna membeku sepenuhnya. Mual atau rasa takut yang biasanya muncul saat disentuh pria mendadak hilang entah ke mana, berganti dengan rasa hangat dan gelombang desiran aneh yang membakar dadanya.

Kaivan pun sama membekunya. Ibu jari tangannya yang menahan pinggang Aruna secara tidak sengaja mengusap kain tipis gaun Aruna. Pria angkuh itu merasakan betapa kecil dan rapuhnya tubuh Aruna di dalam dekapannya.

Suasana di tangga lantai dua itu mendadak hening selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. Keduanya sama-sama menahan napas, terikat dalam lingkaran kecanggungan yang teramat manis.

"A-Aruna..." bisik Kaivan lirih, suaranya sedikit serak dan bergetar tepat di samping telinga Aruna. "Kau... tidak apa-apa?"

Hembusan napas hangat Kaivan yang menerpa lehernya membuat Aruna merinding halus. Gadis itu buru-buru meremas kain roknya sendiri, menelan ludah dengan susah payah.

"S-saya tidak apa-apa, Pak... Tolong... lepaskan," cicit Aruna sangat pelan, hampir tak terdengar.

Sadar akan posisinya, Kaivan seperti tersengat listrik. Pria itu menarik tangannya cepat-cepat, mundur satu langkah ke belakang seraya menyembunyikan tangannya di dalam saku celana bahan mewahnya. Wajah tegasnya kini sudah memerah sempurna hingga ke belakang leher.

"M-makanya jalan itu pakai mata, jangan tunduk terus!" tegur Kaivan terbata-bata, mencoba menutupi rasa gugupnya yang luar biasa dengan nada agak galak—meski gagal total karena suaranya terdengar pecah.

Aruna memutar tubuhnya perlahan, memandangi Kaivan dengan wajah yang sama merahnya. "Maaf, Pak Kaivan."

"Sudah, cepat turun," cetus Kaivan, lalu melangkah mendahului Aruna menuruni anak tangga dengan kecepatan yang sangat tidak wajar, seolah-olah ia sedang dikejar oleh hantu.

Aruna yang memandangi punggung kaku sang presdir dari belakang tidak bisa menahan lengkungan tipis di bibirnya. Ada rasa aneh yang mekar secara perlahan di dalam hatinya—sebuah perasaan manis yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Di meja makan lantai dasar, Bi Asih sudah menata beberapa piring makanan sederhana namun menggugah selera: bubur ayam lembut, roti panggang, teh hangat, dan segelas susu berkalsium tinggi.

Kaivan duduk di kursi utamanya di ujung meja, memegang surat kabar bisnis. Namun, surat kabar itu hanya ia jadikan perisai untuk menutupi wajahnya yang masih terasa panas. Matanya berkali-kali mencuri pandang dari atas lipatan kertas koran ke arah meja makan, menanti Aruna yang sedang berjalan mendekat.

Bi Asih yang memperhatikan gerak-gerik majikannya dari balik meja bar hanya bisa tersenyum-senyum sendiri seraya menggelengkan kepala.

Aruna mendudukkan dirinya di kursi samping kanan Kaivan—kursi yang kini secara tidak resmi menjadi tempat duduknya. Gadis itu menarik piring buburnya pelan.

"Habiskan bubur itu, lalu minum susunya," kata Kaivan dari balik kertas korannya, suaranya diusahakan terdengar dingin dan datar.

"Baik, Pak," jawab Aruna nurut.

Gadus itu meraih sendok dengan tangan kirinya. Karena belum terbiasa makan menggunakan tangan kiri, sendok di jemari Aruna agak gemetaran. Mangkuk bubur di hadapannya berdentang pelan beberapa kali.

Ting, ting.

Kaivan menurunkan kertas korannya sedikit. Matanya menangkap kesulitan Aruna saat hendak menyendok bubur. Pria itu menggigit bagian dalam pipinya, bergelut hebat dengan gengsinya sendiri.

Haruskah aku menyuapinya lagi? Tapi kalau kubantu, nanti dia pikir aku kebelet perhatian. Tapi kalau tidak kubantu... dia susah makan, batin Kaivan heboh dan berisik sendiri.

Tanpa mengutarakan sepatah kata pun, Kaivan melepas kertas korannya ke atas meja dengan gerakan agak kasar. Pria itu menggeser kursinya sedikit lebih dekat ke arah Aruna.

Aruna menoleh kaget. "Pak...?"

Kaivan meraih mangkuk bubur Aruna, lalu mengambil sendok dari tangan kiri gadis itu. Gerakannya sangat kaku, tetapi tatapan matanya fokus pada mangkuk bubur.

"Jangan Ge-Er," cetus Kaivan cepat sebelum Aruna sempat bersuara. "Aku melakukan ini cuma supaya kau makannya cepat dan penjahit yang kupanggil tidak perlu menunggu terlalu lama. Bukan karena ingin bersikap manis."

Aruna menatap wajah Kaivan dari samping. Garis rahang pria itu menegang keras, bukti bahwa ia sedang menahan malu yang amat sangat. Alasan defensif yang baru saja meluncur dari bibir Kaivan justru terasa sangat menggemaskan di telinga Aruna.

"Iya, Pak. Saya tahu," sahut Aruna pelan, menyembunyikan senyumannya.

Kaivan meniup pelan bubur di atas sendok, memastikan suhunya tidak terlalu panas, lalu menyodorkannya ke depan bibir Aruna. "Buka mulutmu."

Aruna menerima suapan itu dengan patuh. Setiap kali suapan masuk, Kaivan memperhatikan bibir pucat Aruna yang mengunyah pelan. Dada Kaivan berdesir hangat, ada kepuasan sederhana yang membuncah di dalam dirinya melihat Aruna makan dengan tenang tanpa ada rasa takut lagi padanya.

Momen menyuapi itu berlangsung dalam hening yang sangat manis. Tidak ada bentakan, tidak ada perkataan kasar. Hanya ada denting halus sendok dan hembusan napas mereka yang beradu pelan di meja makan yang luas itu.

Ketika bubur di mangkuk tinggal tersisa sedikit, usap lelehan kaldu kecil tidak sengaja tertinggal di sudut bibir Aruna.

Kaivan refleks menghentikan gerakannya. Pria itu meletakkan sendok, lalu mengulurkan jempol tangan kanannya. Tanpa ragu, ibu jari Kaivan yang hangat mengusap lembut sudut bibir Aruna, membersihkan lelehan kaldu tersebut.

DEG.

Sentuhan kulit di sudut bibir itu membuat Aruna menahan napasnya. Matanya membelalak pelan, menatap lurus pada manik mata hitam Kaivan yang hanya berjarak beberapa sentimeter darinya.

Kaivan pun ikut tertegun. Ibu jarinya masih menempel di sudut bibir Aruna, enggan bergeser. Manik matanya mengunci tatapan mata Aruna yang begitu jernih dan polos. Ada keheningan panjang yang tercipta di antara mereka—sebuah momen slow burn di mana waktu seolah berhenti berputar, membiarkan dua jiwa yang sama-sama terluka itu saling menyelami perasaan satu sama lain.

"L-lain kali kalau makan yang bersih," bisik Kaivan lirih, suaranya terdengar dalam dan lembut, sangat jauh dari kesan angkuh yang biasa ia tunjukkan.

Aruna berkedip pelan, merasakan getaran hangat yang merayapi seluruh tubuhnya dari usapan ibu jari Kaivan. "T-terima kasih, Pak..."

Kaivan menarik tangannya perlahan, lalu berdehem kencang untuk mencairkan suasana yang mendadak terasa begitu intens dan puitis. Pria itu berdiri kaku dari kursinya, merapikan kemejanya secara berlebihan.

"Minum susumu. Aku... aku tunggu di ruang tamu. Penjahitnya sebentar lagi sampai," ujar Kaivan dengan wajah yang kembali merona merah, lalu melangkah kaku meninggalkan area meja makan.

Dari balik pantry, Bi Asih menutupi wajahnya dengan kedua tangan, menahan jeritan gemas yang hampir meluncur dari mulutnya melihat tingkah kaku sang presdir dan kepolosan Aruna.

Aruna menyentuh sudut bibirnya yang baru saja diusap oleh Kaivan. Kehangatan ibu jari pria itu masih terasa menempel di sana. Sambil menundukkan kepala, sebuah senyuman hangat dan manis akhirnya terukir sempurna di wajah Aruna Rasyara—sebuah pertanda bahwa benteng es di antara mereka perlahan-lahan telah mencair, digantikan oleh benih-benih cinta yang mulai tumbuh malu-malu di tengah dinginnya takdir.

_Bersambung

1
Diki Nd
👍👍👍👍
Diki Nd
💪💪💪
dinda aja
sukaaa lanjutkan yahhh
dinda aja
🤭🤭🤭🤭
Pendi Gudung
lanjuttt min
Fadillah Langsa
lanjut napa kak
Ijal Messi
ngakak 🤭🤭
Ijal Messi
lanjuttt
Ijal Messi
🤣🤣🤣
li za
mana kelanjutan nya min
Lenovo A
lanjuttt
Bambang Suanto
duhhh ngakak keciduk
Bambang Suanto
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Bambang Suanto
sedihh
Industri Kreatif
asli seruuu
sosa
Seruu parah
sosa
Sukaa
Rian Moontero
lanjooott👍👍
Isannn
😍😍😍
Alle Salsa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!