Yun Sheren seorang Putri Mahkota dari Kekaisaran Awan Emas terseret melintasi waktu. Dia terjebak di dalam raga sang ibu ketika masih muda di zaman modern.
Namun alih-alih takut--- Yun Sheren justru menikmati semua itu. Ia bersumpah akan membalaskan dendam ibu dan neneknya pada keluarga benalu yang telah merampas seluruh hak ibunya.
Namun--- perjalanan Yun Sheren tidak semudah itu, saat ia harus berhadapan dengan para kultivator iblis dari zaman modern--- kelompok kultivator tersembunyi yang ternyata bekerja sama dengan keluarga Jia.
Dalam perjalanan nya, Yun Sheren di pertemukan kembali sama kedua kakaknya yang ternyata juga terlempar ke zaman modern. Kini, sama seperti sang ibu yang menjalankan takdirnya di zaman kuno. Mereka juga harus menjalankan takdirnya di zaman modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyamaran ( OB)
Suasana di perusahaan Jia siang itu terlihat sama seperti hari-hari biasanya. Beberapa karyawan tampak mondar-mandir karena tugas mereka yang menumpuk.
Sebagian dari mereka sedang duduk di kursi masing-masing, namun tangan mereka bergerak konstan di atas papan keyboard, menciptakan simfoni ketukan yang monoton.
Perusahaan raksasa itu masih berjalan dengan sempurna, tanpa ada yang tahu bahwa sedikit demi sedikit, uang kotor maupun bersih dari perusahaan itu telah tersedot masuk ke dalam sistem rahasia milik Jia Li.
Tidak ada pemberitahuan darurat. Tidak ada kode peringatan berwarna merah yang berkedip di layar monitor utama.
Semua tampak terkendali—di luar, perusahaan itu terlihat sempurna tanpa cacat ataupun penurunan saham. Namun di dalam inti digitalnya, kekuatan sistem milik Jia Li sedang menyedot habis udara uang perusahaan itu sampai kering.
Jia Li duduk bersandar di kursi kerjanya. Di hadapannya, tumpukan dokumen meninggi hampir melewati kepala. Ia tahu betul ini adalah ulah Jia Ren. Pria itu sengaja mempersulitnya, menimbun pekerjaan mustahil agar Jia Li menyerah dan keluar dengan sendirinya dari perusahaan ini.
Namun, kata menyerah tidak ada dalam hidup Jia Li.
Ia mulai mengetik sesuatu di papan keyboard. Kecepatannya tidak masuk akal, melebihi batas kecepatan tangan manusia normal.
Ia sebelum nya sudah membeli sebuah item khusus di toko sistem. Item otomatisasi yang membuat Jia Li tidak perlu berpikir banyak untuk menyelesaikan pekerjaan bodoh ini.
Meskipun secara fisik tangannya bergerak kilat menyelesaikan semua dokumen itu, fokus pikirannya sama sekali tidak ada di sana. Pikirannya melayang jauh, tertuju pada sebuah misi besar yang harus ia selesaikan malam ini.
Di tengah suara ketukan keyboard yang bersahut-sahutan, jemari Jia Li tiba-tiba terhenti.
Ia mendongak.
Dari ujung lorong kubikal, seorang staf OB (Office Boy) berjalan mendekat sambil membawa sebuah nampan besar.
Seketika, atmosfer kubikal yang tadinya tegang dan membosankan berubah drastis. Suasana menjadi hening, para karyawan wanita yang tadinya tampak lesu, layu, dan kelelahan karena beban kerja, tiba-tiba membelalak lebar dan berbinar cerah.
"Ya ampun... Demi apa? Tampan sekali!" bisik beberapa karyawan wanita di kubikal sebelah Jia Li secara hampir bersamaan, menahan jeritan agar tidak meledak.
"Dia staf baru? Kenapa wajah sekelas idol papan atas malah tersesat jadi OB di divisi kita?" sahut yang lain dengan suara bergetar tertahan, buru-buru membenarkan riasan wajahnya yang sedikit luntur.
Melihat pria tampan dengan pakaian OB itu berjalan tenang ke arah meja mereka, suasana makin tidak keruan.
Pemuda itu kemudian meletakkan segelas es kopi di setiap meja karyawan wanita yang dilewatinya. Tak lupa, ia menghentikan langkah, menatap mereka satu per satu, lalu tersenyum sangat lebar.
Sebuah senyuman ramah yang luar biasa menawan—jenis senyuman maut yang sukses membuat para karyawan wanita itu merasa seperti sedang senam jantung di tempat.
"Selamat siang, Kak. Ini kopi untuk menemani kerja siangnya. Tetap semangat, ya," ucap pemuda OB itu. Suaranya terdengar berat namun sangat lembut, mengalun begitu kontras di antara riuhnya kubikal.
"Ah... i-iya, terima kasih banyak ya!" jawab salah satu karyawan dengan pipi yang mendadak merona merah, bahkan lupa cara memegang pulpen dengan benar. Pria itu hanya mengangguk sopan, lalu melanjutkan langkahnya.
Saat OB tampan itu tiba di meja kerja Jia Li, pesonanya yang ceria langsung berubah menjadi ekspresi mengadu. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, memotong jarak di antara mereka hingga aroma maskulinnya yang samar tercium oleh Jia Li. Pria itu berbisik dengan nada yang sangat lirih, hampir berupa bisikan.
"Apa tidak ada pekerjaan lain di dunia modern ini?" bisiknya setengah merajuk, matanya menatap Jia Li penuh tuntutan. "Aku ini seorang Pangeran... tapi kau malah memberikan pekerjaan seorang pelayan rendahan padaku. Kau sungguh tega pada kakakmu sendiri, Adik," ucapnya lagi, terdengar sangat nelangsa.
Tangan Jia Li seketika terhenti di atas keyboard. Jemarinya membeku. Ia mendongak, menatap lekat-lekat sosok pemuda berseragam OB di hadapannya yang tidak lain adalah Yun Sharam.
Penampilan pria itu memang telah berubah drastis sekarang. Rambut panjangnya yang dulu berkilau bak sutra di dunia asal mereka, kini telah dipotong pendek mengikuti tren gaya rambut pria modern.
Walaupun sempat ada drama pemberontakan yang di lakukan kedua kakaknya saat gunting mendekati rambut mereka. Jia Li tetap memaksa kedua kakaknya sehingga mau tidak mau mereka menyerah dan membuang kehormatan mereka.
Jia Li mengembuskan napas pelan, lalu kembali memfokuskan matanya pada layar monitor, mengabaikan tatapan memelas dari sang pangeran. "Jangan mengeluh," katanya dengan nada datar namun tegas. "Kalian sendiri, kan, yang bersikeras ingin ikut denganku ke sini?" ujarnya mengingatkan.
Yun Sharam mencebikkan bibirnya kesal. "Tapi tidak jadi pelayan yang mengantar air seperti ini juga," gerutunya pelan. Sadar jika adiknya tidak akan goyah, ia akhirnya membalikkan badan dan pergi meninggalkan meja Jia Li dengan langkah yang dihentak-hentakkan seperti anak kecil.
Jia Li hanya tersenyum tipis melihat kelakuan kakaknya itu. Namun, senyum itu hanya bertahan beberapa detik. Ia melirik jam tangan peraknya—pukul 11.00 siang, sebentar lagi menjelang jam makan siang.
Drrrtttttt... Drrrtttttt...
Ponsel di samping keyboard-nya bergetar di atas meja. Nama 'Song Ying' terpampang jelas di layar digital tersebut. Jia Li segera menggeser layar dan membaca pesan yang masuk.
“Jia Li, aku sudah mengirim semua barang-barang yang kau inginkan ke lokasi itu. Tapi sebenarnya, apa yang sedang ingin kau lakukan? Kau ingin membangun sebuah markas rahasia atau istana, sampai-sampai membeli semua bahan material konstruksi seperti ini?” tanya Song Ying di dalam pesan panjang itu, lengkap dengan emotion bingung.
Jia Li kembali tersenyum misterius. Jemarinya bergerak cepat membalas pesan tersebut. “Tidak untuk keduanya. Tapi kau akan tahu sendiri jawabannya nanti.” Setelah menekan tombol kirim, ia meletakkan kembali ponselnya.
Sementara itu, di lantai 49 gedung yang sama. Ruang CEO tampak begitu sunyi dan didominasi oleh aura yang intimidatif.
Tok! Tok! Tok!
Bunyi ketukan pintu memecah keheningan di dalam ruangan luas itu.
"Masuk," ucap sebuah suara berat yang berwibawa dari balik meja besar.
Pintu kaca tebal itu terbuka, dan seorang staf OB melangkah masuk dengan kepala sedikit tertunduk, membawa nampan berisi cangkir porselen putih.
Jia Ren, yang sejak tadi terduduk kaku di kursi kerjanya yang nyaman, hanya melirik sekilas tanpa minat.
Namun, gerakan tangannya yang hendak menandatangani dokumen mendadak berhenti. Matanya langsung berubah menjadi sangat tajam saat ia menangkap visual wajah asing yang dimiliki oleh sang OB. Aura pria itu sama sekali tidak mencerminkan seorang pekerja kebersihan.
Pemuda berpakaian OB itu dengan tenang meletakkan secangkir kopi hitam pekat di atas meja kerja Jia Ren. "Silakan dinikmati kopi Anda, Tuan," katanya dengan nada sopan sebelum berbalik untuk melangkah pergi.
Jia Ren menyipitkan matanya, merasakan ada sesuatu yang sangat tidak beres dari gerak-gerik pria di depannya.
"Tunggu," seru Jia Ren dengan nada dingin yang menuntut kepatuhan. Langkah kaki sang OB pun terhenti seketika.