NovelToon NovelToon
Suamiku Pak Dosen Killer

Suamiku Pak Dosen Killer

Status: tamat
Genre:Dosen / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:19k
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Di kampus, Reyhan Arkananta Wijaya adalah dosen muda yang dikenal killer karena sikap tegas dan tanpa pandang bulu yang dimilikinya. Satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat nilai mahasiswa melayang. Di mata Nadhira, mahasiswi semester enam yang ceroboh dan ahli panik, Pak Reyhan adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup akademisnya.

Namun, hidup Nadhira mendadak jungkir balik ketika perjodohan rahasia antar keluarga memaksanya menikah dengan sang dosen killer.

Kini, Nadhira harus menjalani dua kehidupan yang saling bertolak belakang, berpura-pura tidak saling kenal dan saling membenci di area kampus, lalu pulang ke rumah yang sama sebagai sepasang suami istri. Di tengah kejaran tenggat tugas, ancaman nilai E, gosip kampus yang memanas, dan rasa cemburu diam-diam sang dosen galak, mampukah rahasia besar mereka bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehangatan di Persinggahan

Deru hujan yang kembali deras menghantam atap seng posko darurat di kaki lereng Lembang. Jalur utama menuju jalan tol Jakarta-Bandung benar-benar lumpuh total.

Tidak hanya tanah longsor di titik utama yang memutus akses bus sebelumnya, tetapi dua titik tebing di jalur bawah juga dilaporkan retak dan berpotensi tumbang jika dilalui kendaraan berat seperti bus pariwisata.

Pihak Kepolisian Daerah bersama Tim SAR secara resmi menutup seluruh rute evakuasi keluar Lembang hingga besok pagi, menunggu alat berat menyelesaikan pembersihan material dan memastikan keamanan struktur jalan.

Di dalam posko yang riuh, Bu Citra tampak sibuk berdiskusi dengan komandan tim evakuasi, sementara puluhan mahasiswa FSD duduk merapat di atas terpal, menggigil oleh udara malam Lembang yang menembus hingga sepuluh derajat celsius.

Pakaian mereka yang kotor terkena noda lumpur merah makin menambah rasa lelah dan panik yang belum sepenuhnya menguap.

Reyhan melangkah mendekati Bu Citra setelah mengakhiri panggilan telepon di ponselnya. Pria itu sudah membasuh noda lumpur di celananya.

"Bagaimana situasi rute bawah, Bu Citra?" tanya Reyhan.

"Polisi melarang semua bus bergerak malam ini, Pak Reyhan," jawab Bu Citra dengan raut wajah cemas.

"Sangat berisiko kalau kita memaksa jalan dalam kondisi badai dan jalur licin begini. Tapi anak-anak sudah kelelahan dan kedinginan. Posko ini terlalu terbuka untuk menampung seratus mahasiswa sampai besok."

Reyhan membetulkan letak kacamatanya dengan jari tengah. Matanya menyapu sekilas ke arah sudut posko, tempat Nadhira sedang duduk berselimutkan sarung tebal bersama Kania. Bibir Nadhira tampak sedikit pucat akibat terpapar hawa dingin pegunungan dalam waktu lama.

"Saya sudah menghubungi relasi keluarga di kawasan Parongpong," ujar Reyhan tenang.

"Ada sebuah villa peristirahatan keluarga milik kenalan lama yang berjarak hanya sepuluh menit dari posko ini lewat jalur dalam yang aman. Kapasitasnya cukup besar untuk menampung seluruh rombongan."

Bu Citra membelalak lega. "Maksud Pak Reyhan... kita bisa mengungsi ke sana malam ini?"

"Ya. Fasilitas pemanas air, perapian, dan selimut tebal di sana sudah disiapkan."

"Terima kasih banyak, Pak Reyhan! Ini benar-benar menyelamatkan kita," puji Bu Citra penuh rasa syukur.

Tiga puluh menit kemudian, seluruh rombongan FSD telah berhasil dipindahkan ke sebuah villa bergaya klasik kolonial dengan dominasi material kayu jati tebal dan batu alam.

Villa yang terletak di celah bukit yang teduh itu menyambut mereka dengan kehangatan perapian kayu yang sudah menyala di aula utama.

Para mahasiswa berhamburan masuk dengan helaan napas lega yang membuncah. Kehangatan udara di dalam villa seketika melelehkan sisa ketakutan dan hawa dingin yang mengikat tubuh mereka sejak siang hari di tempat longsor.

Bu Citra bersama beberapa ketua angkatan segera membagi pembagian kamar pengungsian sementara. Karena jumlah kamar di villa terbatas, lantai dua difungsikan penuh untuk seluruh mahasiswi, sedangkan aula utama dan lantai satu dialokasikan untuk mahasiswa putra.

Nadhira, Kania, dan empat mahasiswi lainnya mendapatkan satu kamar luas bernuansa kayu di ujung lantai dua yang dilengkapi dua kasur king-size dan kamar mandi dalam bertengki air hangat.

"Aduh, surga banget ini villa!" seru Kania seraya merebahkan tubuhnya di atas kasur tebal. "Gue pikir tadi kita bakalan tidur terlentang di terpal posko SAR, Nad!"

Nadhira menyunggingkan senyum tipis seraya melepaskan jaketnya yang lembap. "Iya, untung Pak Reyhan punya kenalan yang punya villa sebesar ini ya."

"Pak Reyhan itu emang penyelamat banget sih," puji Kania tulus. "Walaupun kaku dan nakutin, tapi koneksinya di mana-mana. Kalau gak ada dia, gak tahu deh nasib Bus dua tadi siang."

Nadhira menunduk seraya merapikan ujung bajunya, menahan senyum bangga yang nyaris meloloskan diri dari bibirnya. "Pak Reyhan emang selalu bisa diandelin, Kan..." batin Nadhira.

Setelah giliran membersihkan diri dan berganti pakaian dengan kaus lengan panjang tebal yang bersih, Nadhira melangkah keluar kamar membawa botol minum thermal milik Reyhan yang sudah kosong. Ia berniat mengembalikannya atau sekadar mengisi ulang air hangat di dapur lantai bawah.

Suasana lantai satu villa sudah mulai tenang menjelang pukul sembilan malam. Sebagian besar mahasiswa putra sudah tertidur lelap di atas karpet tebal aula dengan selimut masing-masing, kelelahan setelah seharian bertarung dengan kepanikan evakuasi.

Nadhira menyusuri lorong kayu lantai dasar yang agak redup, menuju area dapur bersih di bagian belakang villa. Suara gemertak kayu bakar dari perapian tua terdengar menenangkan.

Saat Nadhira melangkah masuk ke area dapur yang berdinding batu alam, ia menghentikan langkahnya.

Di dekat meja bar dapur yang terbuat dari kayu jati utuh, berdiri Reyhan. Pria itu baru saja selesai membasuh wajahnya di wastafel.

Ia kini hanya mengenakan kaus polos berbahan tebal berwarna abu-abu tua dan celana santai gelap. Tanpa kacamata yang biasanya bertengger di hidungnya, raut wajah Reyhan terlihat jauh lebih muda dan sangat tampan dalam pendar remang lampu dapur.

Reyhan memutar tubuhnya saat mendengar ketukan halus langkah kaki di lantai kayu. Mata cokelat gelapnya bertatapan lurus dengan Nadhira.

Nadhira refleks melirik ke arah pintu masuk dapur untuk memastikan tidak ada orang lain di sekitar sana. "Pak... eh, Pak Reyhan?" bisiknya pelan.

"Anak-anak sudah tertidur di aula utama," ujar Reyhan dengan suara pelan, memahami kekhawatiran istrinya. "Di sini aman."

Mendengar kata 'aman', ketegangan di bahu Nadhira seketika mengendur. Ia melangkah mendekat ke meja bar, meletakkan botol minum stanless steel di atas meja.

"Ini botol minumnya... makasih banyak ya. Teh jahe tadi siang bener-bener nolong saya sama Kania," tutur Nadhira lembut.

Reyhan meraih botol tersebut, lalu meletakkannya di samping wastafel. Pria tegap itu melangkah satu titik mendekat, berdiri tepat di hadapan Nadhira di balik meja bar.

"Kamu sudah mandi air hangat?" tanya Reyhan, suaranya kini sepenuhnya kembali menjadi suara seorang suami yang protektif.

"Udah. Bajunya juga udah ganti," jawab Nadhira pelan.

Ia lalu memberanikan diri mengulurkan tangannya di atas meja bar, menyentuh pelan pergelangan tangan Reyhan yang terasa agak dingin. "Pak Reyhan sendiri gimana? Tadi kan paling akhir dievakuasi, baju Pak Reyhan basah kena hujan kan?"

Reyhan menatap jemari kecil Nadhira yang melingkari pergelangan tangannya. Pria itu tidak menarik tangannya kembali. Sebaliknya, Reyhan membalikkan telapak tangannya, membalas dengan menggenggam jemari Nadhira.

"Saya tidak apa-apa," sahut Reyhan tenang.

"Melihat kamu berada di tempat yang hangat dan aman malam ini sudah cukup untuk saya."

Kata-kata sederhana yang meluncur dari bibir pria itu seketika membuat dada Nadhira berdesir hebat. Kehangatan yang menjalar dari telapak tangan Reyhan seolah menghapus seluruh ketakutan akan badai dan tanah longsor yang mereka lalui tadi siang.

Nadhira menyunggingkan senyum, mendongak menatap wajah suaminya. "Makasih ya, Pak Reyhan... buat semuanya. Dari tempat oleh-oleh tadi, pas longsor di bus, sampai nyariin villa ini buat kami."

"Itu kewajiban saya," balas Reyhan.

Jemarinya di atas meja meremas telapak tangan Nadhira satu kali lagi sebelum melepaskannya perlahan.

Reyhan lalu merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi krim Pelembap dan satu kantong teh herbal penenang tidur. Ia mendorong dua benda itu ke arah Nadhira.

"Kulit kamu sensitif terhadap hawa dingin pegunungan," tutur Reyhan.

"Gunakan krim ini sebelum tidur agar kulit wajah kamu tidak kering. Dan seduh teh herbal ini di kamar untuk membantu kamu istirahat."

Nadhira mengambil kotak krim itu dengan senyum gemas yang tak bisa dibendung. "Bener-bener ya ini dosen kaku, perhatiannya selalu sepaket sama perlengkapan medis dan instruksi lengkap," batin Nadhira terharu.

"Siap, Pak Dosen," bisik Nadhira menyengir tipis.

Dengan raut wajah kaku dan datar tanpa ekspresi seperti biasa, pria itu mengulurkan jaket miliknya.

"Pakai ini," perintah Reyhan singkat.

"Pakaian ganti kamu cukup tipis. Jangan biarkan tubuh kamu memar karena kedinginan."

Nadhira mendongak, menatap jaket tebal di tangan suaminya. "Tapi... ini kan jaketnya Pak Reyhan? Nanti Pak Reyhan pakai apa?"

"Saya punya baju yang cukup tebal," jawab Reyhan cepat dan logis.

"Iya, makasih ya, Pak Dosen," bisik Nadhira, menyambar jaket hangat itu dari tangan Reyhan. Kemudian memakai jaketnya di depan Reyhan.

Jaket fleece hitam milik Reyhan yang berukuran XL itu benar-benar sangat besar di tubuh Nadhira yang mungil. Panjang jaket itu merosot melampaui paha Nadhira, membuat celana jinsnya nyaris tak terlihat.

Yang paling menggemaskan, lengan jaket yang sangat panjang itu menutup seluruh telapak tangan Nadhira, hanya menyisakan ujung jemarinya yang terlihat menyembul.

Melihat tubuh Nadhira yang 'tenggelam' sempurna di dalam jaket besarnya, serta jemari kecil Nadhira yang sibuk berusaha menggapai keluar dari celah lengan baju membuat jantung pria dingin itu berdesir hebat.

Tingkah polos dan penampilan Nadhira saat itu benar-benar menguji pertahanan ketenangan diri seorang Reyhan.

Nadhira melangkah mendekati Reyhan seraya mengangkat kedua tangannya yang tertutup kain panjang. "Pak Reyhan... ini kebesaran banget tahu," omel Nadhira pelan dengan wajah cemberut menggemaskan.

"Lihat deh, tangan saya hilang semua!"

Reyhan melangkah satu titik lebih dekat ke hadapan Nadhira. Pria tegap itu menundukkan tubuhnya tipis, menyejajarkan tingginya dengan Nadhira. Wajahnya diusahakan tetap terlihat tenang dan serius, namun tatapan matanya begitu pekat dan hangat.

Tanpa bicara, tangan panjang Reyhan terulur ke arah lengan jaket Nadhira.

Dengan gerakan yang amat telaten, perlahan, dan lembut, Reyhan melipat serta merapikan lipatan kain tebal di lengan kanan Nadhira hingga jemari mungil istrinya bisa menyembul keluar dengan bebas. Pria itu kemudian berpindah merapikan lengan sebelah kiri.

Sensasi jemari hangat Reyhan yang mengusap pergelangan tangannya saat melipat kain membuat Nadhira menahan napas. Jarak mereka begitu dekat hingga Nadhira bisa melihat dengan jelas pantulan dirinya di balik mata cokelat suaminya.

"Secara proporsi, ukuran jaket saya memang tidak sesuai dengan postur tubuh kamu," tutur Reyhan dengan intonasi teratur, berusaha keras menyusun penjelasan ilmiah kaku untuk menutupi rasa gemasnya yang nyaris meledak.

"Namun, dari aspek fungsi, bahan fleece ini mampu mengunci suhu tubuh kamu dengan efisiensi sembilan puluh persen."

Nadhira mendongak, menggigit bibir bawahnya menahan senyum manis. Ia menyadari bahwa di balik penjelasan fungsi yang berbelit-belit itu, telinga Reyhan, terutama di bagian ujungnya telah berubah warna menjadi kemerahan, yang menandakan Reyhan salah tingkah.

"Pak Dosen kaku ini gemes banget sih sebenarnya, salah tingkah tapi sok-sokan ilmiah," batin Nadhira tertawa riang dalam hati.

Nadhira sengaja menggoyangkan kedua tangannya yang kini sudah menyembul rapi dari lengan jaket. "Tapi jujur ya, Pak. Jaketnya wangi, banget wangi Pak Reyhan. Nyaman banget dipakai."

Mendengar pujian polos dan jujur dari bibir Nadhira, Reyhan terdiam sejenak. Tenggorokannya menyempit halus. Pria itu memalingkan wajahnya sedikit ke arah jendela luar, mengembuskan napas perlahan untuk mengontrol detak jantungnya yang berdegup melenceng dari frekuensi normal.

"Jangan mengucapkan kalimat yang bisa mengundang salah paham jika ada mahasiswa lain yang mendengar," tegur Reyhan pelan, suaranya terdengar sedikit lebih berat dari biasanya.

Nadhira tersenyum, memamerkan deretan giginya yang rapi. "Siap, Pak Dosen!"

"Saya akan turun ke ruang utama untuk membantu Bu Citra mengoordinasikan kepulangan kita besok pagi," ujar Reyhan resmi kembali ke mode dosennya.

"Oke Pak Reyhan," sahut Nadhira patuh.

...Bersambung... ...

1
Ivana Putri
yah udah tamat aja yaa ga kerasa
Erry Marlina
suka banget ceritanya...lanjutkan autor
Hajjah Mahniati
lanjut
Hajjah Mahniati
cerita nya bagus ,saya suka keren,lnjutka
Hajjah Mahniati
cerita nya bagus ,dilnjut ya
Suhirno Cilok
lanjut
Rian Moontero
mampiiirr
Hajjah Mahniati
lanjut siip
Ivana Putri
lanjut lagi dong ka seru banget
Hajjah Mahniati: ceritanya bagus keren ,lanjukan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!