Malam hujan di RS Elisabeth Semarang, dua bayi tertukar karena gelang pink. Clarissa hidup mewah di Graha Candi Golf, Aurel menderita di Gunungpati. 18 tahun kemudian, tes DNA membongkar rahasia. Siapa yang akan hancur saat kebenaran terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13 Jejak yang Mulai Terbuka
Minggu-minggu berikutnya berlalu di dalam keheningan yang berat namun tak pernah terucap. Di permukaan, segala sesuatu tampak berjalan seperti biasa. Sari tetap bangun jauh sebelum fajar menyingsing, saat udara masih sedingin es dan kabut menempel tebal di daun-daun pisang halaman. Langkah kakinya ringan meski hari telah dimulai sejak dini wajahnya bersinar bangga setiap kali melintas di ruang tamu dan melihat piala kristal itu berdiri tegak di atas meja kayu yang telah dipulasnya sendiri bertahun-tahun silam. Di dapur, aroma rempah berpadu menjadi wangi yang khas jahe, kunyit, kencur, dan daun sereh bau yang sejak kecil selalu melekat di ingatan Aurel, bau kehangatan rumahnya. Slamet pun tampak lebih bersemangat, pergi ke ladang lebih pagi dan pulang lebih sore, namun tak pernah lupa membawa seikat buah atau sepasang telur kampung yang ia beli di jalan, senyumnya lebar menampakkan kebahagiaan sederhana yang dirasakannya bersama keluarga.
Hanya Aurel yang kini berjalan di antara mereka dengan hati terbelah dua. Ia tersenyum menyambut sapaan ibunya, menanggapi canda ayahnya, membantu menata botol-botol jamu di meja teras namun di balik senyum itu, pikirannya tak pernah tenang. Satu nama terus berputar di kepalanya, siang dan malam, tanpa henti Suster Rina.
Ia tak berani bertanya kepada siapa pun di kampung ini. Takut suaranya terdengar gemetar, takut matanya menampakkan keraguan yang berusaha ia sembunyikan, takut pertanyaannya sampai lebih dulu ke telinga Sari sebelum ia sendiri memahami apa yang sebenarnya terjadi. Ia tidak ingin menyakiti ibunya wanita yang telah membesarkannya dengan kasih sayang tanpa batas, yang tak pernah mengeluh meski pundaknya mulai membungkuk, yang menatapnya seolah ia adalah anugerah terindah yang pernah diterima dunia. Jika rahasia itu benar-benar ada, Aurel ingin menemukannya sendiri, perlahan, sebelum ia harus membiarkan orang tuanya mengetahuinya.
Setiap kali ada kesempatan pergi ke kota membeli bahan rempah yang langka, mengantar pesanan jamu kepada pelanggan yang tinggal agak jauh ia menyempatkan diri mencari jejak itu. Kadang ia mampir ke kantor desa, kadang ke kantor pos, bertanya dengan kalimat yang selalu ia susun berulang-ulang di kepala agar terdengar wajar, seakan ia hanya sekadar mencari kerabat lama yang hilang kabarnya. Namun jawabannya selalu sama: tidak tahu, sudah lama pindah, tidak ada catatannya. Hingga suatu sore, di kantor pelayanan kependudukan di pusat kota, petugas paruh baya yang ramah itu menatapnya sejenak sebelum berucap pelan.
"Nama itu pernah tercatat bertugas di RS Elisabeth, Nak. Tapi sudah belasan tahun tidak ada laporan kehadirannya di sini. Kalau kau benar-benar ingin tahu, cobalah datang langsung ke rumah sakitnya. Arsip lama biasanya masih tersimpan di sana."
Kalimat itu sederhana, namun bagi Aurel rasanya seperti tirai tebal yang selama ini menghalangi pandangannya perlahan mulai terbuka.
Hari itu, setelah mengantar pesanan terakhir, ia tidak langsung berbalik arah pulang. Kakinya melangkah sendiri menuju jalan yang menanjak ke atas, menuju bangunan berwarna krem yang berdiri tenang di puncak bukit, dikelilingi pohon-pohon pinus yang daunnya bergoyang pelan ditiup angin. RS Elisabeth bangunan yang tampak damai, seolah tak menyimpan cerita apa pun di balik dinding-dindingnya. Namun baginya, tempat ini adalah awal dari segala pertanyaan yang kini memenuhi kepalanya.
Langkahnya terasa berat saat melangkah masuk. Udara di dalamnya sejuk, berbau obat dan kesunyian. Lorongnya panjang, dindingnya putih bersih, lampu-lampunya menyala terang namun tak mampu menghangatkan dada Aurel yang terasa sesak. Ia berhenti di meja informasi, menarik napas panjang, berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup kencang hingga terasa di telinga.
"Permisi..." suaranya keluar pelan, nyaris tak terdengar. "Saya ingin mencari seseorang yang dulu bekerja di sini. Namanya Suster Rina. Kira-kira sembilan belas tahun yang lalu."
Petugas muda di balik meja itu tersenyum sopan, lalu menunduk menatap layar komputernya, jari-jarinya bergerak menekan tombol pelan dan teratur. Waktu terasa berjalan lambat bagi Aurel; ia menegang, menggenggam tas kainnya erat, menanti jawaban yang bisa saja mengubah segalanya.
"Rina..." petugas itu bergumam sendiri, lalu mengerutkan kening sejenak sebelum mengangkat wajah. "Ada namanya tercatat. Beliau memang bertugas di sini pada masa itu. Tapi sudah lama sekali pindah tidak ke rumah sakit lain di kota ini, melainkan ke pos pelayanan kesehatan yang lebih kecil, jauh ke arah lereng selatan Gunung Pati. Tempatnya agak terpencil." Ia mengambil secarik kertas, menuliskan alamat dan nama desa terakhir yang diketahui, lalu menyerahkannya sambil menambahkan pelan, "Kabarnya beliau sudah pensiun beberapa tahun lalu. Tidak ada jaminan beliau masih tinggal di sana, atau alamat ini masih berlaku."
Aurel menerima kertas itu, melipatnya dengan hati-hati seolah itu adalah benda paling rapuh di dunia. "Terima kasih..." ucapnya, suaranya masih bergetar, "Terima kasih banyak."
Ia berjalan keluar menuju halaman rumah sakit yang mulai teduh. Matahari condong ke barat, memancarkan cahaya keemasan di sela-sela dahan pohon pinus. Angin berhembus sejuk, menyisir rambutnya, namun ia tak merasakannya sepenuhnya. Di tangannya tergenggam satu lembar kertas kecil dan di atasnya tertulis arah yang harus ditempuhnya. Jauh, melewati kebun-kebun yang makin sepi, naik ke jalur tanah yang berkelok, menuju tempat yang kabarnya jarang dikunjungi orang.
Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya tak lepas dari wajah Sari. Ia membayangkan ibunya berdiri menunggunya di beranda, khawatir, lalu tersenyum lega begitu melihatnya pulang. Bagaimana perasaan Sari jika mengetahui putri yang ia besarkan dengan segala kasih sayang diam-diam menggali masa lalu yang mungkin sengaja dikubur? Apakah kebahagiaan yang baru saja mereka rasakan akan pudar digantikan kesedihan? Apakah air mata bahagia itu akan berubah menjadi air mata kepedihan?
Ia sampai di rumah saat senja mulai berubah menjadi kelabu. Kabut tipis sudah turun, menyelimuti pepohonan pinggir jalan. Dan seperti yang dibayangkannya, Sari sudah berdiri di beranda, menatap ke arah jalan setapak, kedua tangannya meremas ujung celemek kain. Wajahnya tampak cemas, namun seketika melembut saat melihat Aurel mendekat.
"Kau lama sekali di kota, Rel..." sapanya lembut, menyambut putrinya dengan usapan hangat di lengan. "Ibu sempat mulai khawatir takut-takut kau kenapa-napa."
Aurel menelan ludah, menyembunyikan secarik kertas itu di saku terdalam bajunya, seakan tak terlihat saja tak akan ada yang mengetahuinya. "Maaf, Bu... banyak sekali pesanan hari ini, harus mengantar ke beberapa tempat yang agak jauh." Ia berusaha tersenyum wajar, meski dadanya terasa sesak menahan kebenaran yang belum bisa diucapkan.
Sari menatapnya lekat-lekat, seakan ada sesuatu yang ingin dicari di balik mata putrinya. Tatapan itu penuh perhatian, lembut, namun tak menyembunyikan kegelisahan yang mulai tumbuh. "Ada sesuatu yang mengganggumu, Nak? Akhir-akhir ini kau terlihat berbeda pendiam, sering melamun, seolah memikul beban berat sendirian."
Pertanyaan itu begitu tulus, begitu penuh kasih, hingga hampir saja Aurel meluruh di tempat itu. Ia ingin berlutut, memeluk ibunya, dan menceritakan semua yang didengarnya, semua keraguan yang menghantui tidurnya. Namun ia menahan diri. Belum waktunya. Ia belum memegang kebenaran seutuhnya. Dan ia tak ingin melukai hati ibunya sebelum yakin sepenuhnya apa yang sebenarnya terjadi.
"Tidak ada, Bu... hanya sedikit lelah saja," jawabnya pelan, lalu memeluk Sari erat sejenak, merasakan kehangatan yang selama ini menjadi tempat pulangnya, dan berdoa dalam hati agar apa pun yang akan ditemukannya nanti tidak merenggangkan ikatan ini.
Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Setelah lampu ruang tengah padam dan suara dengkuran halus Slamet terdengar dari kamar sebelah, Aurel masih terjaga. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap cahaya bulan yang masuk tipis melalui celah gorden, lalu perlahan mengeluarkan kertas itu dari saku. Tulisan tangan petugas itu rapi dan jelas, menunjukkan jalan yang harus ditempuhnya. Jauh, sepi, dan kabut pasti sudah menutupi jalan setapaknya pagi-pagi sekali nanti.
Ia melipat kertas itu kembali, menyimpannya di tempat yang sama, lalu membaringkan diri perlahan. Matanya terbuka menatap langit-langit kamar yang remang-remang. Pikirannya melayang ke wanita yang belum pernah dikenalnya Suster Rina. Apa yang diketahuinya? Mengapa namanya disebutkan dengan nada rahasia oleh orang-orang tua di kampung? Apakah ia sendirian? Apakah ia masih ingat peristiwa yang terjadi sembilan belas tahun lalu di ruang persalinan itu?
Aurel tahu perjalanan ini tak mudah. Ia tahu bisa saja ia pulang tanpa jawaban, atau justru membawa pulang kebenaran yang lebih menyakitkan daripada keraguannya sekarang. Namun ia juga tahu, diam saja tak akan membuat pertanyaan itu hilang. Ia harus pergi. Bukan untuk menuduh siapa pun, bukan untuk mengubah apa yang sudah ada, melainkan untuk mengetahui demi dirinya sendiri.
Besok pagi-pagi sekali, sebelum ayam berkokok, sebelum kabut menipis, sebelum Sari bangun dan menyiapkan sarapan di dapur, ia akan berangkat. Sendirian.
Ia menarik napas panjang, menatap bayangannya yang samar di cermin kecil di dinding. Apa pun yang nanti ditemukannya, ia berjanji pada dirinya sendiri ikatan yang dibangun dengan kasih sayang bertahun-tahun ini jauh lebih kuat daripada sekadar hubungan darah. Ia tetap putri Sari dan Slamet. Tidak peduli apa yang dikatakan masa lalu. Namun pertanyaan itu tetap berdiri tegak di hadapannya, tak terelakkan: Apa yang sebenarnya terjadi di ruang itu, pada hari kelahirannya?
kalau bisa double up