Lyra mencoba untuk bertahan meski ia terluka oleh kenyataan pahit yang baru saja ia ketahui setelah 6 bulan lamanya. Suami tercinta tega menduakan cintanya dan bermain api dengan Ibunya sendiri.
Rumah Tangga seumur jagung bagai neraka untuk Lyra. Lantas bagaimana ia harus menghadapi situasi ini?
Baca kisahnya yuk readers...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Ke Kalimantan
Bab 26. Ke Kalimantan
(POV Author)
Tiba juga hari di mana Teguh harus berpisah sementara dengan Lyra. Setelah dua hari memastikan kondisi hati wanita itu mulai membaik, Teguh pun menyeret kopernya menuju bandara.
"Duh, kok Gue nggak tenang ya? Coba Gue pasti lagi deh." Gumam Teguh pada angin.
Teguh mengeluarkan handphone-nya dan mencoba menghubungi Lyra.
"Ya, Assalamualaikum Abang..."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Cil, ingat jangan lupa pesan Abang ya Cil. Jangan langsung bukain pintu kalau ada yang pencet bel. Intip dulu Cil."
"Iya Abang..."
"Terus jangan lupa ajak temen kamu si Mita buat nemenin kamu selama Abang di Kalimantan."
"Iya Abang..."
"Satu lagi Cil, kalau mau lakukan apapun, kasih tahu Abang dulu ya."
"Temasuk mau boker juga Bang?"
"Ya, nggak begitu Cil. Pokoknya kalau uang yang Abang kasih tadi habis kabari Abang, nanti Abang transfer ke rekening Mita. Ntar kalau Abang dah pulang, Abang bukain kamu rekening."
"Ini udah lebih Bang, Abang jangan nambahin lebih banyak lagi utang budi ku."
"Jangan mikirin utang Budi, Abang ikhlas. Ingat ya Cil pesan-pesan Abang. Abang mau naik nih, take off."
"Iya Bang, iya..."
"Dah ya Cil, jangan nakal. Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam..."
Setelah mendengar jawaban salam dari Lyra, barulah Teguh mematikan handphone-nya. Setidaknya ia merasa sedikit tenang sekarang.
Pesawat take off membawa Teguh menuju Kalimantan. Ia mengisi waktunya selama 1 jam perjalanan itu dengan memeriksa berkas yang ia bawa dalam tasnya.
Teguh memang dalam hal perjalanan bertemu keluarganya. Namun pekerjaan tidak bisa ia tinggal begitu saja karena akan menjadi bumerang nantinya.
Teguh membaca ulang kertas yang di berikan Alex waktu itu. Di dalam kertas itu terdapat laporan hasil penyelidikan Alex terhadap kekayaan yang di miliki Almarhum Muhammad Zailudin, Papanya Lyra.
Muhammad Zailudin memiliki kilang minyak di laut Kalimantan serta pertambangan minyak di Papua. Lelaki yang meninggal di usia 50 tahun itu juga meninggalkan beberapa galery di beberapa Mall daerah Jakarta yang menjual permata hingga berlian.
Jantung Teguh berdegub melihat kisaran kekayaan yang di miliki oleh Lyra. Wanita muda yang tidak tahu apa-apa itu mewarisi 403 miliyar aset peninggalan sang Papa.
Namun hati Teguh kembali pilu mengingat kenyataan yang ada. Lyra sang putri konglomerat nyatanya selama ini hidup dipaksa sederhana dengan modus pengajaran disiplin dan etika.
Satu hal yang membuat Teguh penasaran ialah, sosok sahabat yang cukup dekat dengan mendiang Papa Lyra.
"Hasan Sanusi, kayak pernah denger." Gumam Teguh menyebut sebuah nama yang tertera di kertas itu.
Setelah membaca ulang kertas itu, Teguh memasukkannya kembali ke dalam tasnya. Masih ada waktu 40 menit untuknya memejamkan mata sesaat.
***
Tepat pukul 11. 15 pesawat landing di Kalimantan. Setengah jam kemudian Teguh menyeret kopernya menuju penjemputan yang telah di arahkan oleh Roy, sang Abang.
"Saya baju merah Bang. Di dekat stand minuman."
Jawab seseorang di seberang sana ketika Teguh menelpon nomor kontak yang di berikan sang Abang padanya.
Dari kejauhan memang terlihat lelaki muda yang berusia 20-23 tahun berbaju merah dengan tubuh besar seperti Teguh namun buncit tidak seperti dirinya.
"Bud...!" Sapa Teguh setengah berteriak.
"Bang Teguh, Assalamualaikum Bang, ketemu lagi kita Bang." Sapa dan salam pria muda bernama Budi.
"Waalaikumsalam, makin sehat aja Lo, Bud." Ujar Teguh tersenyum sambil menepuk pundak Budi.
"Ya gini lah Bang, kalau tidak makan Emak kira aku perlu di yasinkan, hehehe..."
"Hahaha, bisa aja Lo, Bud."
"Kopernya Bang, biar aku masukin bagasi."
"Thanks ya Bud."
"Sama-sama Bang."
Budi memasukan koper Teguh ke bagasi mobil. Sedangkan Teguh langsung masuk dan duduk di depan di samping kursi supir, yaitu Budi.
Selama perjalanan mereka berbincang santai setelah cukup lama tidak bertemu, sejak pernikahan Roy sang Abang dengan wanita yang bernama Indah yang sekarang menjadi istri, yang merupakan sepupu Budi. (Kisah Roy dan Indah ada dalam novel Author berjudul Pembalasan Istri Yang Teraniaya)
Sampai di rumah orang tuanya, Teguh langsung mencari sosok sang Umi tercinta.
"Assalamualaikum Umiiii...! Anak Umi yang ganteng ini dataaaang....!" Riuh Teguh agar semua penghuni dalam rumah itu keluar.
Namun sepi, tidak ada seorang pun yang menjumpai Teguh.
"Kok sepi Bud?" Tanya Teguh kepada Budi yang mengekor di belakang sambil membawa koper milik Teguh.
"Pesan Umi, kalau Abang datang di anterin ke sini dulu, siapa tahu Abang capek dan butuh istirahat. Acara selamatan Kak Indah sore. Umi lagi bantu-bantu disana siang ini."
"Masak sendiri Bud?"
"Tidak Bang, katringan. Abang kayak tidak kenal Umi saja. Mana bisa jauh dari cucu-cucunya."
Teguh jadi teringat Aditya, anak dari Almarhum Abangnya Ray, kembaran Roy.
"Jadi kangen si Bocil saingan Gue. Pasti menang banyak dia sekarang selama Gue jauh. Pasti makin di sayang dia sama Umi." Gumam Teguh Teguh.
"Cemburu ma ponakan Bang? Hehehe..."
"Ck!"
Teguh berdecak kesal Budi mengejek dirinya.
Teguh duduk di soda ruang tamu, sedangkan kopernya sudah di bawa Budi ke kamar. Teguh tidak menyiakan waktu senggangnya, ia segera mengeluarkan handphone-nya dan mengirimkan pesan singkat kepada Lyra.
Teguh : Cil Abang dah sampe. Jangan lupa makan ya Cil, dah siang ini. Lagi dimana Cil? Sama siapa?
Sambil menunggu balasan Lyra, Teguh membuka aplikasi media sosialnya. Banyak DM yang masuk, ada yang menanyakan kabarnya ada juga yang mengajaknya berkenalan.
"Ting!"
Notif pesan yang berbunyi itu segera dibuka Teguh.
Lyra : lagi di kampus Bang. Mau ketemu Dosen sekarang. Iya Bang iya, setelah ini aku makan. Abang jangan lupa makan juga.
Teguh senyum-senyum sendiri membaca pesan Lyra. Disaat bersama beda kota, Lyra pun sama, tersenyum sendiri membaca pesan Teguh.
Teguh beristirahat sejenak selama 2 jam. Kemudian ia memutuskan untuk membersihkan diri lalu menyusul keluarganya yang lain di rumah Abangnya, Roy.
Sampai di sana tamu yang lain belum berdatangan karena acara masih 1 jam lagi. Hanya ada keluarga inti saja dari sebelah istri Abangnya serta keluarganya sendiri.
Teguh melangkah pasti masuk ke dalam rumah megah berlantai dua itu.
"Assalamualaikum..."
"Om Teguuuuhhh....!"
Sambut para ponakan ketika melihat Teguh di depan pintu. Mereka berhamburan menghampiri Teguh dan rebutan memeluk tubuh lelaki itu.
"Heh, bukannya membalas salam malah g*re*pe-g*re*pe gini." Ujar Teguh kepada para ponakan.
Dan sayangnya mereka tidak peduli.
"Om Teguh kapan datang, tanya Kiran, putri pertama Abangnya.
"Tadi, om kerumah Oma malah pada di sini."
"Om, jadi pengacara keren nggak?" Tanya Aditya, putra satu-satunya Almarhum Abangnya, Ray.
"Emang Om nggak keren apa ini udah jadi pengacara?"
"Om pengacara?"
"Lah, dia nggak tempe selama ini?"
Setelah bercengkerama sesaat dengan para ponakan, Teguh menyalami satu persatu semua keluarga yang ada disana.
"Guh....!"
"Umi...!"
Umi tampak terkejut sekaligus bahagia melihat putra bungsunya datang menemuinya.
Teguh menghampiri sang Umi, mencium punggung tangannya dengan takzim, lalu memeluk erat tubuh gempal itu.
"Umi makin gemoy aja. Teguh kangen Mi...."
"Kamu baik Guh?"
"Alhamdulillah Mi..."
Mereka saling melepas pelukan.
"Abi mana Mi?"
"Abi sama Abangmu di samping, deket kolam renang. Kamu sudah makan belum Guh, makan dulu yuk!"
"Teguh masih kenyang Mi. Tadi di rumah Umi ada kue di meja, dah Teguh habisin."
"Ya sudah, Umi masih mau bantuin besan nyiapin makanan. Tadi katringannya baru datang."
"Iya Mi, Teguh mau nyamperin Abi dulu."
"Ya sudah."
Setelah melepas rindu sesaat, Ibu dan anak itu pun berpisah untuk melakukan kegiatan masing-masing.
Teguh melangkahkan kakinya menuju taman samping di dekat kolam renang. Disana terlihat Abi dan Abangnya sedang mengasuh ponakannya yang baru berusia beberapa bulan.
Teguh mengucapkan salam, lalu menyalami kedua lelaki beda usia dihadapannya. Lalu mereka pun bercengkerama, bertukar kabar apa saja yang terjadi selama pada mereka.
Bersambung...
hempaskn para bunga bangkai itu
maksain diri amiiiittttt
salah sangka..tiwas berbunga hati tryt berbunga bangkai
harus nya selidiki diam diam saat mereka mengira kamu gak curiga klo gini kan mereka waspada dasar. Polos apa goblok. gregeten akunya 😄