Gara-gara keserakahan manusia merobek batas dimensi, bumi kiamat dan peradaban malah mundur ke abad pertengahan yang kejam. Dua ratus tahun kemudian, ras manusia dianggap sebagai makhluk paling lemah di dunia baru ini.
Tapi aturan itu tidak berlaku bagi Leo, Cheeta, dan Rheno tiga pemuda yatim piatu super nekat dari Lembah Karat. Ambisi mereka awalnya sederhana: bertahan hidup, menjarah, dan jadi kaya raya! Sialnya, gara-gara tergiur harga jual buah magis yang selangit, aksi nekat Leo malah menyeret mereka ke dalam takdir misterius.
Tanpa disadari, kekuatan purba Equilibrium yang terkunci di dalam darah mereka mulai terbangun. Bersiaplah mengikuti perjalanan epik yang seru, kocak, dan penuh kejutan dari trio penjarah amatir ini dalam mengocok isi dunia atas dan bawah!
Gaya Cerita: Santai & Humoris. Pas buat kamu yang suka petualangan fantasi seru tapi bikin ngakak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIKI RIFEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
equilibrium
Situasi yang dihadapi Leo, Cheeta, dan Rheno kian menyudut. Padahal, mereka adalah kelompok pencuri, penjarah, dan pemakan buah magis yang terkenal tangguh.
Namun, medan perang bukanlah sekadar panggung bagi orang-orang yang jago berkelahi; perang menuntut kemampuan adaptasi yang mutlak, dan di sinilah letak kelemahan terbesar mereka.
Banyak orang yang merasa dirinya hebat sering kali menyulut peperangan, tanpa pernah mengerti betapa mengerikannya realitas di dalamnya. Di medan laga yang sesungguhnya, memikirkan keselamatan rekan bahkan bisa membuat diri sendiri mati konyol.
Hukum perang itu absolut: bertahan, menghindar, serang, lalu abaikan rekan yang sekarat di depan mata. Itulah esensi sejati dari peperangan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Grim dan kelompoknya paham betul akan kekejaman ini. Sebagai veteran yang licik, mereka tidak akan segan-segan mengorbankan rekan sendiri jika situasi mendesak.
Sejak awal kemunculan Leo, Cheeta, dan Rheno, Grim sudah bisa membaca dari gerak-gerik, banyolan, serta kecerobohan mereka bahwa ini adalah pengalaman perang pertama bagi ketiganya. Kelemahan mental itu langsung dimanfaatkan dengan kejam.
Dalam kuncian formasi yang begitu ketat, Grim, Snap, dan Mona berhasil mengeksploitasi kelengahan Leo dan Cheeta yang sibuk melindungi rekan Elf mereka, Ely. Ditambah lagi dengan tertahannya Rheno oleh manipulasi tanah Rocky, situasi ini menjelma menjadi kombinasi yang sempurna bagi Grim untuk menghabisi mereka tanpa sisa.
"Sudahlah, Leo!" ucap Grim. "Apa gunanya melindunginya? Kita manusia, mereka adalah ras asing," lanjut Grim sambil berjalan angkuh.
Sementara itu, Rheno yang panik dan ingin segera merapat membuat gerakan dan fokusnya berantakan. Hal ini memberikan celah yang langsung dieksekusi dengan sadis oleh Rocky.
Cheeta sendiri sudah berlutut lemas. Dia memang berhasil membelokkan arah tombak magis hitam padat milik Snap sehingga hampir terhindar dari hujaman fatal, namun luka tebasan belati hitam Grim cukup telak mengenainya.
"Bergabunglah dengan kami, Leo!" ucap Grim, menyodorkan tangannya dari jauh. "Ini hanya permulaan. Aku akan terus memastikan elf dan iblis saling membunuh.
Saat mereka mulai sedikit, sekarat, dan lengah, aku akan menghabis elf dan iblis itu, lalu menjadi raja dunia!" jelas Grim membeberkan visinya.
Mendengar hal itu, seketika Leo, Cheeta, dan Rheno terbayang sang guru elf, Altur. Jauh di dalam hati, mereka menyadari bahwa Altur sudah lelah dengan perang dan ingin hidup damai.
Perlahan mereka mulai sadar bahwa mereka menyukai Altur dan Ely sang elf, serta Arsia, begitu juga Lucifer sang iblis.
"Apakah kamu pikir aku akan tertarik dengan tawaran mu itu?" ucap Leo. "Aku ingin mempunyai banyak teman dari bangsa elf dan iblis!" Seketika ia berteriak sangat kencang hingga suaranya terdengar dari jauh.
Dibarengi senyum dari Rheno dan Cheeta yang kondisinya kurang baik, seluruh medan pertempuran warga kota Castra Metropolis seolah mendapatkan semangat baru.
Wajah Grim mendadak sinis setelah mendapatkan penolakan yang begitu tegas.
"Sayang sekali! Baik! Itu artinya kalian harus mati!" ucap Grim yang seketika melesat maju. "Pertama-tama! Matilah kau, gadis Elf!"
Seketika Rheno, Cheeta, dan Leo bergerak untuk melindungi Ely.
Namun, hantaman pukulan Rocky mengenai telak tubuh Rheno hingga ia terpental dan tersungkur menghantam tanah.
Cheeta yang melesat tanpa memedulikan sekitar terkena tombak Snap yang menembus bahunya, membuatnya terseret hingga menghantam bongkahan batu.
Leo yang langsung menghadang di depan terkena tebasan belati Grim. Sambil menahan sakit, ia mengayunkan pedangnya ke depan sekuat tenaga.
Namun, apa yang bisa diharapkan dari serangan buta arah milik Leo? Grim dengan mudah menghindar dan melompat mundur ke belakang.
Ketiganya kini terkapar di dalam kepulan asap dan debu.
"Huahahaha!" Grim tertawa puas, begitu menikmati momen itu.
Rocky yang hendak menyerang Rheno kembali melesat maju, namun seketika ia mundur karena kaget.
BOOM!
Sebuah tangan raksasa yang terbuat dari aura magis hijau padat menghantam ke arahnya dan menghujam tanah.
Di sisi lain, Snap yang akan melemparkan tombaknya lagi ke arah Cheeta baru saja mengangkat tangannya. Belum sempat ia melemparkannya—
TANK!... BOOM!...
Sebuah proyektil belati magis merah melesat. Berbeda dari sebelumnya, belati ini berbentuk lebih panjang menyerupai pedang. Dengan akurasi tinggi, senjata itu menghantam tombak magis hitam Snap hingga hancur, lalu melesat terus ke belakang menembus apa pun yang dilewatinya, seolah-olah tidak ada yang bisa menghentikannya.
Leo kemudian menghampiri Ely lalu menyentuh kakinya yang terluka. Seketika luka itu sembuh tanpa bekas. Ely kaget melihat lukanya yang pulih, dan ia jauh lebih kaget lagi ketika menoleh ke arah Leo.
Berbarengan dengan kejadian itu...
WUSSS!...
Angin mendadak berubah arah. Energi magis di seluruh area pertempuran meredup dan mati selama beberapa saat. Sihir-sihir tidak berfungsi dan banyak yang gagal. Aura berubah menjadi sunyi dan dingin, membuat kebingungan serta kegelisahan menyebar seketika.
Di atas mereka, Lucifer dan Maxxis pun merasakan hal yang sama.
Sementara itu, jauh di istana langit, Raja Elf yang merasakan hal tersebut segera memanggil ajudannya untuk mencari sang putra, Altur.
Sedangkan di kota Castra Nova, tempat dimana Leo, Cheeta, dan Rheno biasa berlatih, terlihat Altur sedang duduk di atas palu besarnya di depan bengkel besi. la menatap langit dan tersenyum penuh arti.
Lalu, jauh di dunia bawah di tempat yang gelap, sepasang mata terbuka dengan warna merah menyala bersama aura yang mendambakan kehancuran. Dialah sang Raja Iblis, entitas yang paling merasa terganggu dengan hawa keberadaan mereka.
la tersenyum jahat seraya berkata,
"EQUILIBRIUM."
Bersambung