Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.
Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Perangkap Digital dan Pengkhianat di Seragam Hijau
BAB 34: Perangkap Digital dan Pengkhianat di Seragam Hijau
Matahari baru saja naik setinggi penggalah di atas Lapangan Apel Mako Batalyon.
Meskipun aktivitas harian prajurit tampak berjalan normal dengan gema langkah kaki latihan baris-berbaris dan teriakan yel-yel yang membakar semangat, udara di lingkungan markas terasa begitu pekat dan menegangkan. Di balik layar, sebuah operasi intelijen tingkat tinggi sedang berlangsung dalam diam.
Dua hari menjelang kedatangan Tim Inspeksi Kendali Mutu dan Alutsista dari Markas Besar (Mabes), Mayor Aris tidak melonggarkan pengamanan sedikit pun.
Sebaliknya, ia memutar otak untuk memancing keluar sosok pengkhianat internal yang menjadi "duri dalam daging" di satuannya.
Pukul 10.00 WITA, di dalam ruang kerja Danyon yang tertutup rapat, Aris berdiri di depan papan pemetaan taktis bersama Kapten Galih dan Letnan Dian. Layar monitor khusus yang terhubung langsung dengan server utama Ruang Olah Data memancarkan grafik lalu lintas data secara real-time.
"Lapor Danyon," Letnan Dian membuka penjelasan seraya menunjuk layar.
"Sistem honey pot (umpan digital) yang kita pasang di server rahasia sudah aktif penuh. Kami telah menyisipkan file tiruan berisi dokumen transaksi palsu yang dicari oleh sindikat Herman. Jika pengkhianat di markas ini mencoba mengunduh atau menyalin data tersebut ke dalam media penyimpanan eksternal, indikator di layar ini akan menyala merah dan langsung merekam alamat terminal yang digunakan."
Aris mengelus dagunya yang tegas, matanya menatap tajam ke arah grafik data.
"Bagus. Orang ini sangat rapi. Dia memanfaatkan kepanikan saat kebakaran gudang dua hari lalu, namun gagal karena Herman tertangkap lebih cepat. Sekarang, dengan tekanan kedatangan Tim Mabes lusa, dia pasti merasa terdesak dan akan mencoba mengeksekusi aksinya sebelum pemeriksaan dimulai."
"Apakah kita perlu memperketat penjagaan di Ruang Server utama, Danyon?" tanya Kapten Galih siaga.
"Tidak," jawab Aris dingin dengan senyum taktis di bibirnya. "Jelaskan kepada seluruh anggota bahwa sore ini seluruh Perwira Staf dan Komandan Kompi wajib mengikuti Rapat Evaluasi Pengamanan di Gedung Serba Guna. Buat suasana seolah-olah Ruang Olah Data kosong dari pengawasan perwira senior. Kita beri dia panggung untuk melangkah masuk ke dalam jebakan."
"Siap, Danyon!"
Sementara itu, di kediaman dinas Danyon, Mayang sedang menyelesaikan penyusunan laporan kegiatan bulanan Persit bersama Sekretaris Persit.
Meskipun trauma atas insiden penyusupan malam itu belum sepenuhnya hilang, keteguhan hati Mayang membuat reputasinya sebagai Ketua Persit KCK Cabang Batalyon semakin dihormati.
Saat sedang merapikan berkas di meja kerja ruang tengah, ponsel pribadi Mayang berdering. Sebuah nomor tak dikenal tertera di layar.
Mayang menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel ke telinganya. "Halo, selamat siang. Dengan Ibu Aris di sini."
Di ujung telepon, hening sejenak sebelum sebuah suara yang disamarkan menggunakan pemproses suara elektronik terdengar berat dan memantul.
"Selamat siang, Ibu Komandan yang terhormat... Perhatian yang sangat manis untuk suami Anda. Tapi tahukah Anda, orang yang paling dipercayai oleh Mayor Aris di markas ini adalah orang yang sama yang menjual informasi rumah dinas Anda malam itu?"
Jantung Mayang menyentak hebat. Napasnya tertahan seraya memegang erat gagang ponselnya. "Siapa ini? Apa maksudmu?!"
"Tanyakan pada suamimu... Apakah dia yakin perwira di sampingnya benar-benar setia, atau hanya menunggu waktu untuk menancapkan pisau dari belakang? Jangan biarkan suamimu pergi ke Ruang Server sore ini kalau tidak mau melihat karirnya berakhir di balik jeruji besi!"
TUT... TUT... TUT...
Panggilan terputus sepihak. Mayang berdiri mematung di tengah ruangan, dadanya naik turun dengan napas memburu. Keringat dingin menetes di pelipis di balik bingkai kacamatanya.
Ancaman teror psikologis ini begitu nyata dan dirancang khusus untuk merobohkan mental serta memecah konsentrasi kepemimpinan Aris.
Namun, Mayang bukan wanita yang mudah digoyahkan oleh gertakan musuh. Mengingat janji setianya pada Aris, Mayang segera menyambar tas dan melangkah cepat menuju Kantor Mako Batalyon untuk menemui suaminya secara langsung.
Pukul 15.30 WITA, suasana di lantai dua Ruang Olah Data dan Server Markas tampak sepi. Sebagian besar personel sedang bersiap mengikuti Rapat Evaluasi di Gedung Serba Guna. Koridor utama hanya diterangi lampu redup.
Sesosok figur berpakaian seragam lapangan (PDL) dengan tanda pangkat perwira melangkah pelan tanpa suara menyusuri koridor. Wajahnya tertutup bayangan topi lapangan. Dengan menggesekkan kartu akses khusus perwira, pintu kaca tebal Ruang Olah Data berbunyi bip dan terbuka perlahan.
Pria itu menyusup masuk, melangkah cepat menuju konsol komputer utama yang memuat data intelijen Batalyon. Jemarinya bergerak lihai di atas papan ketik, memasukkan kode otoritas khusus untuk membobol enkripsi file transaksi palsu yang dirancang menyudutkan Danyon.
Sebuah flashdisk khusus dikeluarkan dari sakunya dan dicolokkan ke port USB. Indikator transfer data mulai berjalan di layar monitor:
Copying file... 45%... 70%... 90%... 100%. Transfer Complete.
Pria itu mengukir senyum penuh kemenangan di balik kegelapan ruangan. "Selesai juga... Karirmu tamat sore ini, Aris," bisiknya sinis.
Namun, sebelum pria itu sempat mencabut flashdisk tersebut, lampu utama Ruang Olah Data mendadak menyala terang benderang!
CEKLEK!
"Perjalanan yang cukup jauh hanya untuk mencuri dokumen palsu, Kapten!"
Sebuah suara bariton yang begitu dikenal bergema memecah keheningan ruangan. Pria itu menyentak kaget dan berbalik seketika.
Di ambang pintu, Mayor Aris berdiri tegap dengan kedua tangan bersedekap di dada. Di samping kiri dan kanannya, Kapten Galih, Letnan Dian, serta empat personel Provost bersenjata lengkap menyergap dengan pandangan mata yang begitu tajam.
Tak jauh di belakang mereka, Mayang berdiri memandang dengan raut wajah tak percaya.
Pria pengkhianat itu perlahan mengangkat wajahnya dari balik bayangan topi. Wajah Kapten Hendra Pasi Logistik Batalyon yang selama ini dikenal sangat tenang dan dipercayai—terpampang nyata!
"Kapten Hendra..." ujar Galih dengan suara bergetar ketidakpercayaan. "Kau... kau yang membocorkan denah markas dan memalsukan dokumen pasokan logistik?!"
Hendra tertawa sumbang, menyadari bahwa dirinya telah terkepung tanpa celah escape. Ia mencabut sebuah pistol dari sarungnya, mengarahkannya langsung ke dada Mayor Aris!
"Jangan bergerak! Mundur kalian semua!" teriak Hendra histeris, matanya melotot liar. "Aris! Kau selalu dipuji! Kau selalu dianggap pahlawan oleh Mabes! Sementara aku yang mengurus seluruh kebutuhan fisik markas ini tidak pernah dilirik! Sindikat perbatasan memberiku imbalan milyaran rupiah, dan kau... kau menghancurkan seluruh rencana pencucian uangku!"
Mayang menahan napas, memegang lengan dinding koridor saat melihat moncong pistol mengarah tepat ke arah suaminya.
Namun, Mayor Aris tidak melangkah mundur satu senti pun. Sorot matanya sangat dingin, memancarkan wibawa komando yang membuat keberanian Hendra goyah.
"Kau menjual kehormatan seragammu hanya demi lembaran uang haram, Hendra," kata Aris dengan nada suara rendah yang begitu menekan.
"Kau membahayakan nyawa prajurit di lapangan, menyabotase gudang logistik, dan yang paling dimaafkan... kau mengirim orang untuk mengancam keselamatan istri saya!"
"Diam kau, Aris! Aku akan menembakmu!" jerit Hendra seraya menarik pemicu!
TAK!
Dengan kecepatan refleks tingkat tinggi yang tak terduga, Aris melangkah miring menghindar dari garis tembak, menyambar lengan kanan Hendra dan memutarnya ke atas hingga tembakan melenceng menghantam langit-langit ruangan!
BANG!
Bunyi letusan senjata bergema memekakkan telinga. Sebelum Hendra sempat menarik pelatuk untuk kedua kalinya, Aris melayangkan pukulan kombinasi taktis sebuah hantaman keras siku kanan mengenai rahang Hendra, disusul tendangan memutar yang menghantam perut pelaku!
BUGH! BUUAGH!
Pistol di tangan Hendra terlempar ke udara dan ditangkap dengan sigap oleh Kapten Galih. Tubuh Kapten Hendra tersungkur keras ke atas lantai semen, mengerang sakit seraya memegangi rahangnya yang tergeser.
Empat personel Provost langsung melompat menindih tubuh Hendra, mengunci kedua tangannya ke belakang dan mempasangkan borgol baja dengan ketat.
"Amankan pengkhianat ini ke sel terisolasi Mabes POM! Sita seluruh aset dan dokumen di ruang kerjanya!" perintah Aris tegas tanpa rasa ragu.
"Siap, Danyon!" seru para prajurit seraya menyeret Kapten Hendra yang terkulai tak berdaya keluar dari ruangan.
Ruang Olah Data kembali tenang. Suara napas Aris yang memburu perlahan teregulasi kembali. Aris berbalik dan langsung mendapati Mayang berjalan cepat mendekatinya.
Tanpa memedulikan keberadaan para perwira lain yang mulai merapikan ruangan, Mayang langsung memeluk pinggang Aris dengan erat, menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami yang masih hangat oleh hawa pertempuran.
Aris membalas pelukan Mayang dengan lembut, mengusap punggung istrinya seraya mengecup keningnya di hadapan cahaya lampu ruangan.
"Semuanya sudah berakhir, Mayang. Pengkhianatnya sudah ditangkap, dan nama baik Batalyon kita bersih sepenuhnya," bisik Aris penuh kehangatan.
Mayang mendongak, menatap mata Aris dengan binar rasa bangga dan cinta yang tak terukur. "Mayang selalu percaya pada Mas Aris. Tidak ada konspirasi atau ancaman apa pun yang sanggup meruntuhkan Komandan Mayang."
Aris tersenyum tipis sebuah senyuman langka yang hanya diperuntukkan bagi wanita tercintanya.
Dengan terungkapnya dalang pengkhianat internal dan bersihnya nama Batalyon menjelang kedatangan Tim Mabes, badai besar yang menguji ketahanan markas telah berhasil dilewati.
Ikatan cinta, kepercayaan, dan kepemimpinan antara Mayor Aris dan Mayang pun kian terpatri abadi, tak tergoyahkan oleh ujian sebesar apa pun.