Hampa, itulah yang dirasakan Tristan dengan rumah tangganya. Sampai suatu hari, dia kedatangan sekretaris baru yang cantik jelita. Saat itulah tiang kesetiaan Tristan goyah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 - Kembali Ke Kamar
Suasana restoran hotel bintang lima itu sangat tenang, diiringi alunan musik instrumental lembut yang mengalun dari sudut ruangan. Hidangan steak dan pasta mewah sudah tersaji di atas meja, namun Tristan lebih banyak memutar-mutar garpunya tanpa benar-benar menyentuh makanan tersebut. Tatapannya menatap kosong ke luar jendela kaca besar.
Nayla menyadari perubahan sikap atasannya sejak mereka kembali dari trotoar tadi. Tristan terlihat jauh lebih diam dan terdistraksi oleh pikirannya sendiri.
Nayla meletakkan pisau dan garpunya pelan, lalu menatap pria di hadapannya. "Bos?"
Tristan tersentak kecil, memutus lamunannya dan memandang Nayla. "Ya, Nayla?"
"Kamu terlihat lebih diam dari sebelumnya," tanya Nayla lembut, memasang raut cemas yang tertata rapi. "Ada apa? Apa kamu terganggu atau menyesal dengan hubungan kita sekarang?"
Tristan mendadak memamerkan senyum tipis seraya menggelengkan kepala. "Tidak, sama sekali tidak. Aku tidak menyesali apa pun yang terjadi di antara kita."
Ia menarik napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya di kursi. "Aku cuma... mendadak memikirkan Olivia."
Nayla mengerjapkan mata, mendengarkan dengan saksama. "Olivia?"
"Iya," gumam Tristan, pandangannya meredup. "Dia benar-benar berbeda sekarang. Sikapnya dingin sekali, seolah-olah dia selalu berusaha menjaga jarak dariku. Yang membuatku makin sedih, dia bahkan sudah jarang sekali menemani atau memperhatikan Denis, anak kami sendiri. Dia lebih sibuk dengan dunia sosialitanya dan sering pergi tanpa alasan jelas. Itu... yang membuatku merasa sangat kesepian selama beberapa tahun terakhir ini."
Nayla miringkan kepalanya sedikit, tatapannya menyiratkan empati. "Apa kamu masih mencintainya, Bos?"
Tristan menggeleng pelan, ada keraguan samar di matanya. "Aku tak tahu. Rasanya... perasaan itu sudah hilang sejak lama. Yang tersisa cuma komitmen karena Denis."
Nayla tersenyum tipis, mengangguk-angguk kecil. "Menurutku, kamu itu suami dan ayah yang sangat baik, Bos."
Sebelum Tristan sempat membalas pujian itu, sebuah sentuhan tak terduga terjadi di bawah meja. Ujung kaki telanjang Nayla, yang sudah melepaskan sepatu hak tingginya, bergerak perlahan, mengusap betis dan menyenggol kaki Tristan secara manja dan menggoda.
Nayla menyunggingkan senyum manis yang memikat, menatap lurus ke dalam mata Tristan. "Dan karena kamu pria yang sangat baik... itu bikin aku makin tertarik sama kamu, Bos."
Sensasi usapan lembut di kakinya dan godaan langsung dari Nayla seketika membakar habis sisa kemurungan di dada Tristan. Tawa senang dan renyah lolos dari bibir sang CEO. Matanya berkilat penuh gairah yang mendadak kembali membuncah. Perasaan berbunga-bunga menguasai otaknya, membuat bayangan kesepian akibat Olivia menguap begitu saja.
"Makanannya sudah selesai, kan?" bisik Tristan dengan nada suara yang mendadak berat dan intens.
Tanpa menunggu balasan panjang, Tristan segera menyelesaikan pembayaran. Pria itu menarik tangan Nayla melangkah cepat menuju lift, membawa wanita itu kembali ke kamar hotelnya.
Begitu pintu kamar terkunci, Tristan langsung menyambar bibir Nayla. Gairah yang sempat meredup kini meledak kembali di atas ranjang king size. Mereka menyatu dalam benturan hasrat yang panas dan melelahkan, menumpahkan segala emosi hingga keduanya terengah-engah dalam kepuasan.
Nayla hanya bisa pasrah saat Tristan menggempur dirinya dengan gagah. Suara tepukan daging dan desahan mereka memecah kesunyian di dalam kamar.
Nayla menggigit bibirnya, entah kenapa dia merasakan sensasi aneh di perutnya. Terasa geli tapi candu. Lama-kelamaan rasa itu semakin kuat dan membuat tubuhnya bergetar hebat. Nayla bahkan mengeluarkan erangan kuat untuk pertama kalinya.
"Aah... Aaaahh, Tristan!" Nayla refleks merintih begitu. Sebab ledakan gairah dia rasakan.
Mendengar Nayla mulai terbuai dalam kenikmatan, Tristan jadi semakin bersemangat. Dia bergerak lebih kuat dan laju, hingga membuat lenguhan Nayla kian menjadi-jadi. Sampai akhirnya Tristan juga mencapai puncaknya.
Satu jam berlalu. Tristan ketiduran dengan napas teratur akibat kelelahan yang menguras tenaganya.
Nayla perlahan menyingkap selimut, beranjak dari ranjang tanpa menimbulkan suara. Ia mengenakan kembali pakaian mewahnya dan merapikan rambutnya di cermin. Setelah memastikan Tristan tertidur lelap, Nayla keluar dari kamar sang CEO dan kembali ke kamarnya sendiri untuk mengambil tas.
Perut Nayla sebenarnya masih lapar. Makanan western di restoran hotel tadi benar-benar bukan seleranya. Ia tetap mendambakan jajanan dan makanan khas pinggir jalan yang tadi sempat tertunda. Tanpa mengganggu Tristan yang sedang beristirahat, Nayla memutuskan untuk keluar hotel sendirian.
Ia melangkah anggun menyeberangi lobi hotel dan berjalan menyusuri trotoar menuju kawasan pertokoan dan deretan warung kuliner yang berjarak beberapa ratus meter dari tempatnya menginap.
Suasana siang di pusat kota itu cukup ramai. Nayla melangkah santai sambil mengamati deretan kedai makanan. Namun, saat langkahnya mendekati pelataran sebuah pusat perbelanjaan megah, pandangan mata Nayla mendadak terkunci pada dua sosok yang baru saja keluar dari pintu utama mal tersebut.
Nayla mematung di pinggir trotoar. Matanya terbelalak lebar.
Di seberang jalan, tampak Olivia sedang berjalan dengan gaya keangkuhannya yang khas. Ia membawa beberapa kantong belanjaan dari brand mewah ternama. Namun, yang membuat jantung Nayla berdesir kencang bukanlah belanjaan itu, melainkan bagaimana lengan Olivia terikat erat, bergelayut mesra di lengan seorang pria berjas santai yang berjalan di sampingnya.
Olivia tertawa manja, menyandarkan kepalanya ke bahu pria itu tanpa canggung sedikit pun di area publik.
Nayla yang disergap rasa penasaran luar biasa langsung melangkah cepat, bersembunyi di balik pilar beton sebuah bangunan toko di dekat sana. Dari balik celah sempit, ia menyipitkan mata, mengamati sosok pria yang sedang dimanja oleh istri sah atasannya itu.
Saat pria itu menoleh sedikit untuk mengelus rambut Olivia sambil tersenyum lebar...
Deg!
Nayla menahan napas. Penglihatannya seakan disetrum oleh kenyataan yang menghantam otaknya.
Pria itu adalah Zay! Wakil Direktur Nebula Fashion Group, orang kepercayaan Tristan yang sangat disegani di kantor!
Nayla menutupi mulutnya sendiri dengan telapak tangan, matanya membulat sempurna dalam kejutan yang luar biasa. Otaknya berputar cepat menghubungkan semua titik. Olivia, wanita yang dulu menghancurkan rumah tangga ibunya dan kini menjadi istri Tristan, ternyata sedang berselingkuh secara terang-terangan dengan tangan kanan suaminya sendiri!
Sebuah senyuman dingin dan penuh intrik perlahan-lahan terukir di balik jemari Nayla yang menutupi bibirnya. Kartu AS yang sangat besar kini berada tepat di dalam genggamannya.
makasih Thor cerita nya bagus dan menghibur
klo diselingkuhin?????masih enak????
jgn senang dulu,zay mungkin saat ini masih sama kmu krn masih bituh,klo dia sdh mandiri apa ga dibuang kmu oliv????