Arka Khontacron adalah pemilik perkebunan anggur terbesar di Buleleng tepatnya di Bali. Arka memiliki saudara kembar laki-laki yaitu Phat Shrabeus kakak nya. Mereka tinggal di Seririt, Nama desanya, Desa Sagara. Desa mereka dalam beberapa bulan ini selalu banyak kasus orang-orang desa yang hilang, terutama wanita. Banyak masyarakat yang komplen ke polisi, tapi hasilnya juga sama. Tapi kasus itu mulai terbuka kembali pada malam itu akibat Arka menemukan mayat Pak Braun Ghum di dalam perkebunan miliknya. Pak Braun ialah pemilik peternakan domba di sebelah perkebunan anggur milik keluarga Khontacron dan juga Arka sering bermain bersama anaknya Sara Mhiomorin waktu kecil. Arka memanggil polisi untuk menyelediki kejadian tersebut, tapi bukannya mencari bukti. Polisi menyeret Arka sebagai tersangka, apakah bisa arka menemukan pelaku yang sebenarnya?
Ini ialah kisah cinta ringan dari Zodiak Taurus, bisakah dia bersabar menghadapi kejadian tersebut atau malah menjadi keras kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DOLPIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27. KETENANGAN SEBELUM BENCANA
Satu minggu telah berlalu sejak penyerangan mengerikan di rumah sakit.
Selama tujuh hari terakhir, Desa Sagara tidak lagi terasa seperti tempat yang sama bagi Arka. Kematian Pak Braun, kematian Pak Thom, penembakan terhadap Bastian, hingga serangan di rumah sakit telah membuat keadaan semakin rumit. Polisi masih menyelidiki para pelaku, tetapi belum ada jawaban yang benar-benar memuaskan.
Tiga orang yang ditangkap dalam penyerangan itu pun belum memberikan keterangan yang dapat mengungkap siapa dalang di balik mereka. Beberapa pertanyaan masih menggantung, sementara nama Tiara Chenzae terus muncul dalam pikiran Arka.
Siapa sebenarnya perempuan itu?
Mengapa ayahnya begitu takut jika Arka menemukannya?
Dan mengapa seseorang sampai berani menyerang rumah sakit hanya untuk mencegahnya?
Sayangnya, selama beberapa hari terakhir, Arka belum berhasil menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Ia bahkan tidak berani kembali ke rumah keluarganya.
Bukan karena takut menghadapi ayahnya, melainkan karena ia tidak tahu apa yang sedang direncanakan ayahnya dan Phat. Setelah kejadian di taman, Arka belum menerima kabar langsung dari kakaknya. Keheningan itu justru membuatnya semakin curiga.
Sementara itu, Bastian akhirnya diperbolehkan meninggalkan rumah sakit.
Kondisinya sudah membaik, meskipun kaki kanannya masih membutuhkan waktu untuk pulih sepenuhnya. Dokter mengizinkannya berjalan menggunakan tongkat penyangga, tetapi melarangnya melakukan aktivitas berat untuk sementara waktu.
Tentu saja, Bastian tidak terlalu menyukai bagian terakhir dari instruksi tersebut.
Menurutnya, beristirahat terlalu lama akan membuatnya bosan.
Menurut dokter, kebosanannya bukanlah masalah medis yang perlu ditangani secara khusus.
Dan menurut Arka, membiarkan Bastian berjalan-jalan tanpa pengawasan adalah ide yang sangat buruk.
Pagi itu, di area parkir rumah sakit, mereka sedang memasukkan barang-barang ke dalam mobil.
Sara berdiri di samping bagasi sambil memeriksa sebuah tas berisi pakaian dan perlengkapan pribadi. Arka mengangkat dua koper kecil ke dalam mobil, sedangkan Bastian berdiri tidak jauh dari mereka dengan tongkat penyangga di tangan kirinya.
Arka mengenakan kemeja santai berwarna biru tua dan celana panjang hitam. Wajahnya tampak lebih segar dibandingkan saat pertama kali mereka mengunjunginya, meskipun gerakannya masih sedikit kaku.
Ia memperhatikan Arka yang sedang menyusun koper di bagasi.
"Arka."
"Apa?"
"Aku punya usul."
Arka tidak menghentikan pekerjaannya.
"Kalau usulmu adalah meminta kami menggendongmu ke mobil, jawabannya tidak."
Bastian mendengus.
"Aku belum setua itu."
"Kalau begitu, katakan saja usulmu."
Bastian menggeser tongkatnya, lalu menatap Arka dan Sara secara bergantian.
"Bagaimana kalau kalian ikut denganku ke Pantai Kuta?"
Arka berhenti menyusun koper.
Sara yang sedang memegang tas juga menoleh.
"Pantai Kuta?" ulang Sara.
Bastian mengangguk santai.
"Benar."
Arka menutup bagasi setengah, lalu menatap temannya dengan ekspresi penuh kecurigaan.
"Untuk apa kita kesana?"
"Di sana ada rumah aman milikku."
"Aku tahu kau tidak mengajak kami pergi ke sana hanya untuk melihat rumahmu."
Bastian tersenyum tipis.
"Bagus. Ternyata otakmu masih berfungsi setelah dipukul orang."
Arka menghela napas.
"Bastian."
"Baiklah, baiklah." Bastian mengangkat tangan menyerah. "Aku punya rumah aman di daerah Pantai Kuta. Kita bisa tinggal di sana untuk sementara."
Sara meletakkan tasnya di dalam bagasi, kemudian mendekati mereka.
"Rumah aman? Sejak kapan kau punya tempat seperti itu?"
"Sudah cukup lama."
"Untuk apa?"
Bastian terdiam sebentar sebelum menjawab.
"Karena menjadi polisi di tempat seperti Sagara mengajarkanku satu hal."
Ia memandang Arka dengan lebih serius.
"Kadang-kadang, orang yang sedang menyelidiki kejahatan justru membutuhkan tempat untuk bersembunyi dari orang-orang yang seharusnya mereka tangkap."
Arka tidak membalas.
Ia memahami maksud Bastian.
Serangan di rumah sakit telah membuktikan bahwa musuh mereka mampu melacak keberadaan mereka. Selama mereka masih berada di sekitar Sagara, mereka berisiko terus diawasi oleh orang-orang yang bekerja untuk keluarganya.
Pantai Kuta berada cukup jauh dari desa tersebut.
Jarak itu mungkin memberi mereka waktu untuk menyusun langkah berikutnya tanpa harus terus-menerus melihat ke belakang.
"Seberapa jauh tempat itu dari Sagara?" tanya Arka.
"Dengan mobil, kita membutuhkan beberapa jam perjalanan, tergantung kondisi jalan."
"Dan apakah ada orang yang tahu kau memiliki rumah di sana?"
Bastian mengangkat bahu.
"Beberapa orang mungkin tahu aku memiliki tempat tinggal di kawasan itu. Tapi tidak banyak yang mengetahui alamat rumahnya."
Arka menyipitkan mata.
"Kau yakin tempat itu aman?"
Bastian tidak langsung menjawab.
Ia menatap gedung rumah sakit di belakang mereka, kemudian kembali memandang Arka.
"Aku tidak akan mengatakan tempat itu seratus persen aman. Tempat seperti itu tidak ada. Tapi rumah tersebut jauh dari Sagara, tidak terhubung dengan urusan keluarga mu, dan bisa memberi kita ruang untuk berpikir."
Ia berhenti sejenak.
"Yang paling penting, kita tidak perlu memberi tahu siapa pun bahwa kita akan pergi ke sana."
Sara melirik Arka.
Menurutnya, gagasan Bastian cukup masuk akal. Selama beberapa hari terakhir, mereka selalu merasa sedang diawasi. Bahkan ketika pergi membeli makanan atau sekadar berjalan di sekitar rumah sakit, Arka tidak pernah benar-benar terlihat tenang.
Sara sendiri mulai lelah hidup dalam ketidakpastian.
Ia ingin mengetahui kebenaran tentang ayahnya.
Ia ingin tahu mengapa ayahnya harus meninggal.
Namun, ia juga tidak ingin menjadi korban berikutnya hanya karena terlalu dekat dengan Arka.
"Menurutku, kita sebaiknya pergi," kata Sara akhirnya.
Arka menoleh kepadanya.
"Kau yakin?"
Sara mengangguk.
"Kalau kita tetap berada di sekitar Sagara, mereka akan lebih mudah menemukan kita. Setidaknya di Pantai Kuta, kita bisa menyusun rencana tanpa harus terus-menerus mengkhawatirkan seseorang yang mengawasi rumah."
Bastian menunjuk Sara dengan tongkatnya.
"Nah, itu baru pendapat yang masuk akal."
Sara meliriknya tajam.
"Jangan gunakan tongkat itu untuk menunjuk orang."
"Maaf. Aku masih dalam tahap pemulihan."
"Kau bisa menggunakan mulutmu saja."
Bastian tertawa kecil.
Arka memperhatikan keduanya sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.
"Baiklah. Kita akan pergi kesana."
Bastian tersenyum puas.
"Keputusan yang bagus."
"Tapi ada satu syarat."
Senyum Bastian sedikit memudar.
"Apa lagi?"
"Karena kakimu belum pulih, kau tidak boleh menyetir terlalu lama."
Bastian menatapnya tidak percaya.
"Ini rumahku yang akan kita datangi!"
"Dan?"
"Artinya, aku yang seharusnya menyetir."
Arka mengambil kunci mobil dari tangannya.
"Tidak hari ini."
"Arka!"
"Kau boleh protes setelah dokter mengizinkanmu menyetir."
Sara menahan tawa ketika melihat Bastian menggerutu.
"Aku mulai merasa bahwa pulang dari rumah sakit bukan keputusan yang bagus," keluhnya.
"Kalau begitu, kau bisa kembali dan meminta tempat tidurmu," jawab Arka.
Bastian mendelik.
"Kalian berdua benar-benar tidak punya rasa hormat kepada orang yang baru sembuh."
Sara akhirnya tertawa.
Untuk beberapa saat, suasana di area parkir terasa lebih ringan.
Namun, Arka tetap tidak melupakan alasan sebenarnya mereka harus pergi.
Mereka bukan sedang berlibur.
Mereka sedang menjauh dari orang-orang yang ingin membungkam mereka.
Dan selama Tiara Chenzae belum ditemukan, bahaya itu mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang.
Perjalanan menuju Pantai Kuta dimulai menjelang siang.
Arka duduk di kursi pengemudi, sementara Sara berada di sampingnya. Bastian duduk di kursi belakang dengan kaki kanannya disangga agar tidak terlalu banyak bergerak.
Mobil meninggalkan area rumah sakit, kemudian perlahan menjauh dari pusat kota.
Selama satu jam pertama, tidak banyak percakapan terjadi. Sara sesekali melihat pemandangan di luar jendela, sementara Arka berkonsentrasi pada jalan.
Bastian sendiri sibuk memeriksa ponselnya.
Ia membuka beberapa pesan dari rekan-rekan kepolisian, membaca laporan singkat tentang penyerangan rumah sakit, lalu mengunci layar ketika tidak menemukan informasi baru.
"Bagaimana perkembangan kasusnya?" tanya Arka.
Bastian mengangkat kepala.
"Belum banyak perubahan. Para tersangka masih diperiksa, tetapi mereka belum mau menyebutkan nama orang yang memerintahkan mereka."
"Apakah mereka mengakui bahwa targetnya adalah kau?"
"Sejauh ini, mereka belum memberikan pengakuan yang jelas."
Arka mengetukkan jarinya pelan pada kemudi.
"Jadi, kita masih belum tahu apakah mereka benar-benar dikirim oleh Phat."
"Benar."
"Namun, pesan yang ditemukan polisi menyebutkan namaku dan Tiara."
Bastian mengangguk.
"Itu sebabnya aku tidak ingin kita terus berada di Sagara. Kita membutuhkan waktu untuk mencari tahu siapa yang sebenarnya mengendalikan mereka."
Sara menoleh dari jendela.
"Bagaimana kalau mereka menemukan kita di Pantai Kuta?"
Bastian terdiam sebentar.
"Kalau mereka menemukan kita, setidaknya kita akan tahu bahwa mereka memiliki jaringan yang lebih luas daripada yang kita perkirakan."
Sara mengerutkan kening.
"Itu tidak terdengar menenangkan."
"Memang bukan untuk menenangkanmu."
"Bastian!"
"Aku hanya berusaha jujur."
Arka menggeleng kecil.
"Kau bisa belajar berbicara dengan cara yang lebih baik."
Bastian menyandarkan kepalanya ke kursi.
"Baiklah. Kalau mereka menemukan kita, kita akan menghadapinya bersama-sama."
Sara menatapnya beberapa detik.
"Itu lebih baik."
Bastian tersenyum tipis.
"Aku akan mencatatnya. Sara lebih suka kebohongan yang terdengar menenangkan daripada kenyataan yang menyebalkan."
"Aku tidak mengatakan begitu!"
"Tapi wajahmu mengatakannya."
Arka tertawa pelan.
Sara langsung menoleh kepadanya.
"Kau juga jangan ikut-ikutan."
"Aku tidak mengatakan apa-apa."
"Kau tertawa."
"Apakah tertawa sekarang dilarang?"
Sara mendengus, kemudian kembali menatap jendela.
Arka tersenyum tipis.
Namun, ketika mobil memasuki jalan yang lebih sepi, senyum itu perlahan menghilang.
Ia kembali memikirkan keluarganya.
Selama seminggu terakhir, ia belum menerima satu pun pesan dari Phat. Ayahnya juga tidak mencoba menghubunginya secara langsung.
Awalnya, Arka mengira mereka sedang menunggu dirinya pulang.
Namun, sekarang ia mulai mempertanyakan kemungkinan lain.
Bagaimana jika mereka sudah tahu bahwa ia tidak akan kembali?
Bagaimana jika mereka sedang mencari cara untuk menemukannya?
Dan bagaimana jika perjalanan menuju Pantai Kuta justru membawa mereka lebih dekat kepada sesuatu yang selama ini berusaha disembunyikan keluarganya?
Arka melirik kaca spion.
Sebuah mobil berwarna abu-abu terlihat melaju beberapa kendaraan di belakang mereka.
Ia memperhatikannya selama beberapa detik.
Mobil itu tetap berada di jalur yang sama.
Arka mengerutkan kening, tetapi tidak mengatakan apa-apa.
Ia tidak ingin membuat Sara dan Bastian khawatir hanya karena kecurigaan yang belum terbukti.
Namun, ia mulai mengingat ciri-ciri kendaraan tersebut.
Warna abu-abu.
Lampu depan sedikit kekuningan.
Dan kaca belakang yang sangat gelap.
Ketika mobil mereka berbelok ke jalan yang lebih lebar, kendaraan itu ikut berbelok.
Arka menggenggam kemudi lebih erat.
Jangan-jangan...
"Arka?"
Suara Sara menyadarkannya.
"Hm?"
"Kau kenapa?"
"Tidak apa-apa."
Sara mengikuti arah pandangannya melalui kaca spion.
"Kau melihat sesuatu?"
Arka terdiam sesaat.
"Ada mobil yang sejak tadi berada di belakang kita."
Bastian segera menegakkan tubuh.
"Sejak kapan?"
"Kurang lebih lima belas menit."
"Kenapa baru mengatakan sekarang?"
"Aku ingin memastikan lebih dulu."
Bastian mencondongkan tubuhnya sedikit untuk melihat melalui kaca belakang.
"Mobil yang mana?"
Arka menyebutkan ciri-cirinya.
Bastian memperhatikan kendaraan tersebut selama beberapa detik, lalu kembali duduk.
"Jangan langsung mengambil kesimpulan. Bisa saja mereka menuju tempat yang sama."
"Aku tahu."
"Kalau begitu, tetaplah tenang. Jangan membuat gerakan yang terlalu jelas."
Arka mengangguk.
Ia terus mengemudi dengan kecepatan stabil, sesekali memperhatikan kaca spion dan kendaraan di sekitarnya.
Mereka masih memiliki perjalanan panjang.
Dan ia tidak ingin mengambil keputusan gegabah sebelum mengetahui apakah kecurigaannya benar.
Menjelang sore, pemandangan di luar jendela mulai berubah.
Jalanan yang sebelumnya dipenuhi bangunan dan kendaraan perlahan berganti dengan pepohonan, deretan toko kecil, serta jalan-jalan yang mengarah ke kawasan pesisir.
Udara terasa berbeda ketika mereka semakin dekat dengan pantai.
Sara menurunkan sedikit kaca jendela. Angin laut menerpa wajahnya, membawa aroma asin yang menenangkan.
"Sudah lama aku tidak pergi ke pantai," katanya.
Bastian tersenyum dari kursi belakang.
"Kalau begitu, anggap saja ini liburan."
Sara menoleh.
"Kau baru saja ditembak dan masih kesulitan berjalan. Bagian mana yang membuatmu berpikir ini liburan?"
"Karena aku sedang menuju rumah sendiri, bukan ruang interogasi."
"Dan kita membawa masalah besar bersama kita."
"Masalah besar bisa menunggu sampai besok."
Arka melirik Bastian melalui kaca spion.
"Kalau masalahnya tidak menunggu?"
Bastian mengangkat bahu.
"Setidaknya kita bisa menghadapinya dengan perut kenyang dan tidur yang cukup."
Sara menggeleng sambil tersenyum kecil.
Meski begitu, ia tidak bisa menyangkal bahwa pemandangan di luar membuatnya merasa sedikit lebih tenang.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, mereka mulai menjauh dari bayang-bayang Desa Sagara.
Namun, Arka masih memperhatikan mobil abu-abu di belakang mereka.
Kendaraan itu sempat menghilang ketika mereka melewati persimpangan yang ramai. Selama beberapa menit, Arka mengira mobil tersebut telah mengambil jalan berbeda.
Akan tetapi, ketika mereka memasuki kawasan yang lebih sepi, kendaraan itu muncul kembali.
Kali ini, jaraknya lebih jauh.
Arka tidak mengatakan apa-apa.
Ia hanya menyimpan kecurigaan tersebut dalam pikirannya.
Jika mereka benar-benar sedang diikuti, ia harus memastikan bahwa rumah aman Bastian tidak menjadi sasaran berikutnya.
Matahari mulai condong ke barat ketika mobil akhirnya memasuki sebuah kawasan perumahan yang tidak terlalu ramai.
Rumah-rumah berdiri berjajar di sepanjang jalan, sebagian tersembunyi di balik pepohonan dan pagar tinggi. Tidak jauh dari sana, suara ombak terdengar samar, bercampur dengan suara kendaraan yang melintas.
Bastian mulai memberikan petunjuk arah.
"Belok kiri di persimpangan berikutnya."
Arka mengikuti instruksinya.
"Lalu lurus sampai kau melihat sebuah minimarket. Setelah itu, belok kanan."
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah jalan yang lebih tenang.
Di ujung jalan berdiri sebuah rumah dua lantai dengan dinding berwarna krem, pagar hitam, dan halaman kecil yang ditumbuhi tanaman tropis. Bentuk bangunannya sederhana, tetapi terlihat terawat.
Bastian menunjuk ke arah rumah tersebut.
"Selamat datang di tempat persembunyianku."
Arka memperlambat mobil.
"Itu rumah amanmu?"
"Ya."
Sara memperhatikan bangunan itu dengan saksama.
"Rumah ini terlihat seperti rumah biasa."
"Memang. Bukankah itu tujuannya?"
Arka memarkir mobil di depan pagar, tetapi tidak langsung mematikan mesin.
Ia kembali memeriksa kaca spion.
Jalanan tampak sepi.
Mobil abu-abu yang sebelumnya mereka lihat sudah tidak terlihat.
Namun, Arka belum merasa benar-benar tenang.
"Apakah ada kamera pengawas?" tanyanya.
Bastian mengangguk.
"Ada di bagian depan dan belakang rumah. Aku juga memasang sistem alarm."
"Bagaimana dengan kunci cadangan?"
"Ada padaku."
Arka menoleh kepadanya.
"Kau masih menyimpan semua itu setelah sekian lama?"
"Arka, aku seorang polisi. Menyimpan kunci rumah sendiri bukanlah sesuatu yang luar biasa."
"Aku hanya bertanya."
"Begitu."
Sara turun dari mobil setelah Arka mematikan mesin.
Ia berdiri sejenak di depan pagar, memandang rumah itu sambil menarik napas panjang.
Pantai Kuta.
Jauh dari Sagara.
Jauh dari rumah.
Setidaknya, itulah yang mereka harapkan.
Bastian turun dengan hati-hati, menggunakan tongkat penyangganya. Arka segera menghampiri dan membantunya berjalan menuju pagar.
"Pelan-pelan," kata Arka.
"Aku bisa berjalan sendiri."
"Kalau begitu, berhentilah berjalan seperti orang yang sedang bertarung dengan lantai."
Bastian mendengus.
"Aku benar-benar menyesal mengajakmu."
"Terlambat. Aku sudah sampai."
Sara tertawa kecil ketika Arka membantu Bastian melewati pagar.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka bisa berdiri di sebuah tempat tanpa langsung memikirkan siapa yang mungkin sedang mengawasi mereka.
Namun, ketenangan itu belum sepenuhnya meyakinkan Arka.
Ia memeriksa halaman, jendela, dan pintu depan sebelum membiarkan Bastian membuka rumahnya.
Bastian memasukkan kunci ke lubang pintu.
Klik.
Pintu terbuka.
"Masuklah," katanya. "Kalian bisa memilih kamar di lantai atas. Aku akan menggunakan kamar di bawah supaya tidak perlu terlalu sering naik tangga."
Sara melangkah masuk lebih dahulu.
Bagian dalam rumah itu cukup luas. Ruang tamunya memiliki sofa abu-abu, meja kayu, dan jendela besar yang menghadap ke halaman. Di sisi lain terdapat dapur terbuka dan sebuah lorong yang mengarah ke kamar tidur.
Semuanya tampak bersih, meskipun beberapa bagian rumah tertutup debu tipis karena sudah lama tidak digunakan.
Sara meletakkan tasnya di atas sofa.
"Tempat ini nyaman."
Bastian tersenyum bangga.
"Tentu saja. Aku memilihnya sendiri."
Arka menutup pintu, kemudian mengunci dua kali.
Setelah itu, ia berjalan menuju jendela dan memeriksa keadaan di luar.
Bastian memperhatikannya.
"Kau masih memikirkan mobil tadi?"
Arka mengangguk.
"Mobil abu-abu itu."
"Aku juga memperhatikannya."
Sara menoleh.
"Jadi, kalian berdua merasa kita diikuti?"
Bastian mengangkat bahu.
"Kita belum memiliki bukti."
Arka menarik tirai sedikit, lalu kembali menutupnya.
"Tapi mulai sekarang, kita tidak boleh menganggap tempat ini aman hanya karena letaknya jauh dari Sagara."
Bastian mengangguk setuju.
"Benar. Kita akan memeriksa seluruh rumah, memastikan semua pintu dan jendela terkunci, lalu menghubungi orang yang bisa dipercaya untuk mengatur pengamanan tambahan."
Sara menghela napas.
"Berarti kita belum bisa benar-benar beristirahat."
"Setidaknya kita bisa beristirahat dengan atap di atas kepala," jawab Bastian.
Arka akhirnya berbalik dari jendela.
"Baiklah. Malam ini kita beristirahat. Besok, kita mulai menyusun langkah berikutnya."
Ia memandang Sara, kemudian Bastian.
"Kita harus menemukan Tiara Chenzae."
Bastian mengangguk.
"Dan mencari tahu siapa yang mengirim orang-orang itu ke rumah sakit."
Sara menatap mereka berdua dengan serius.
"Kalau Tiara memang mengetahui kebenaran tentang hilangnya orang-orang dari Sagara, kita harus menemukannya sebelum mereka melakukannya."
Arka tidak menjawab.
Ia hanya menatap keluar jendela, ke arah jalan yang mulai gelap.
Jauh di belakang mereka, di sebuah tempat yang tidak diketahui, seseorang mungkin sedang menunggu laporan tentang perjalanan mereka.
Dan jika kecurigaan Arka benar, kepindahan mereka ke Pantai Kuta tidak akan menghentikan siapa pun.
Sebab, bagi orang-orang yang menyimpan rahasia besar, jarak bukanlah penghalang.
Melainkan hanya persoalan waktu.
Malam itu, ketika Sara dan Bastian mulai membereskan barang-barang mereka, ponsel Arka tiba-tiba bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Tidak ada salam.
Tidak ada penjelasan.
Hanya sebuah foto rumah yang baru saja mereka masuki.
Di bawah foto itu, tertulis satu kalimat pendek.
"Kau boleh meninggalkan Sagara, Arka. Tapi kau tidak akan pernah bisa meninggalkan keluarga mu sendiri."