NovelToon NovelToon
Gadis Montok Sang Don

Gadis Montok Sang Don

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Mafia / Asmara / Cewek Gendut / Tamat
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Lenardt

Setiap pagi, Laras melayani pelanggan pertamanya di kedai kecil itu: seorang pria bermata biru yang selalu memanggilnya "Cantik". Hanya itu. Karena di rumah, ayah dan kakaknya memperlakukannya seperti sampah, dan lelaki setampan itu tak akan pernah melirik gadis gemuk sepertinya.

Yang tidak Laras tahu, pria itu adalah Satria Kusuma, Don 'Ndrangheta, bos mafia yang ditakuti, dan ia punya waktu enam bulan untuk menikah atau kehilangan takhtanya. Satu malam, setelah melihat sendiri bagaimana Laras diperlakukan, Satria mendatangi rumahnya dan menawarkan kesepakatan yang tak bisa ditolak ayah Laras: utang dilunasi, dan Laras menjadi istrinya.

Laras mengira ajalnya sudah dekat. Ia punya rahasia yang menurut hukum mafia pantas dibayar nyawa. Tapi pria yang ia takuti justru menyediakan sofa, selimut, dan kesabaran tanpa batas, dan perlahan menunjukkan padanya bahwa ia boleh hidup, boleh dicintai, bahkan boleh menjadi kuat.

Sementara itu, di balik pesta dan perjodohan, keluarga Kusuma menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan semuanya. Dan Bianca, adik Satria yang tajam lidahnya, sedang bermain api dengan satu-satunya lelaki yang tak boleh ia sentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenardt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Laras Pradipta

"Nah, kita keluar buat nentuin gaunmu, yuk? Mumpung Mama dan Nenek lagi sibuk, kalau nggak mereka pasti ikut."

"Kamu kenapa, Bia?" Kulihat matanya melebar.

"Maksudnya?"

"Dari jauh juga kelihatan kamu lagi nggak baik. Mana gadis semangat yang suka nyelonong ke kamarku, bawel kayak radio dan bercanda terus?"

"Kelihatan banget ya?"

"Banget. Rendra ngapain kamu?" Dia terpaku menatapku.

"Kok Rendra?"

"Kalian saling cinta, itu jelas. Waktu makan malam itu, saling lirik, saling peduli, walau disamarkan, aku sadar."

"Segitu kentaranya kami?" tanyanya ngeri.

"Lumayan, tapi sebenarnya aku memang cukup jeli."

"Aku sadar kok." Dia salah tingkah. "Tapi bukan Rendra, aku sendiri yang bikin masalah. Kemarin aku bertengkar sama kakakku dan sekarang suasana hatiku hancur."

"Ada apa?" Aku berhenti, lalu sadar itu bukan urusanku. "Nggak usah cerita kalau kamu nggak mau."

"Nggak, nggak apa-apa, cuma... aku capek banget, Ipar kecil. Dikelilingi orang yang tiap saat pengin ngatur hidupmu itu menyebalkan. Tapi sudahlah, kita keluar aja, kita pilih gaunmu, nanti makan siang bareng."

"Asal ada kue cokelat." Dia terbahak mendengar jawabanku.

"Kue cokelat buat first lady-nya mafia, kalau begitu."

Kami menyelinap keluar supaya Ratna dan Nenek Sari tidak melihat dan ingin ikut. Sejujurnya aku tidak keberatan ditemani mereka, tapi Bianca ingin bebas bersamaku saja. Katanya ibu dan neneknya cenderung terlalu condong ke pihak ayahnya.

Kami masuk mobil, dan begitu berangkat kulihat dua mobil lagi mengikuti kami. Itu para anak buah yang ditugaskan melindungi kami.

"Ada apa?" Aku kaget mendengar suara Satria, baru sadar Bianca menelepon dia lewat sistem audio mobil.

"Pagi, Kakakku tersayang, tidur nyenyak?"

"Jangan ngeledek, Bianca."

"Gue lihat lo kirim pesan dan gue nggak bisa bales karena lagi nyetir, makanya gue telepon."

"Gue nemu sesuatu yang penting, kita harus rapat. Lo di mana?"

"Gue keluar sama calon istri lo yang cantik dan luar biasa itu, mau lihat-lihat gaun." Kudengar napasnya, keras, jelas dia sedang tertekan, sesuatu yang belum pernah kulihat pada laki-laki ini.

"Datang ke markas. Rapat darurat." Kulihat raut wajah Bianca berubah.

"Gue sampai sana dua puluh menit lagi, gue antar Laras pulang du..."

Sebelum Bianca selesai bicara, terdengar dentuman keras, dan salah satu mobil anak buah kami nyaris terlempar ke udara.

"Sial."

"Apa itu tadi, Bianca?"

"Kayaknya kita kedatangan tamu. Kirim bala bantuan."

"Sial. Kirim lokasi lo, lebih cepat daripada minta dilacak."

Ledakan lagi, dan sekarang tinggal kami dan mereka. Anak buah kami kemungkinan sudah tewas. Bianca mengambil ponsel dan mengirim lokasi ke Satria, lalu menarik pistol dari bawah jok. Gadis gila ini menginjak gas dalam-dalam.

"Laras, bisa nyetir?" Aku panik.

"Apa? Nggak."

"Ya harus belajar, dan belajar nembak juga. Tapi sekarang pegang setirnya. Cukup jaga mobil tetap lurus, dan kalau perlu hindari bus." Bianca sudah masuk jalur khusus bus. Katanya lebih gampang menghindari bus daripada puluhan mobil. Dan dia benar sekali.

Kupegang setir dengan tangan gemetar, sementara Bianca menjulurkan kepala keluar jendela dan mulai menembak. Satria diam saja, tapi terdengar suara keyboard dan napasnya yang berat.

"Bianca, busnya." Aku bicara panik, takut tidak sanggup.

Dia berbalik ke depan dan membelokkan mobil menghindari bus.

"Ambil tas ransel di belakang itu."

Aku berbalik, berlutut di jok, dan menarik ransel yang dia minta ke pangkuanku.

"Buka."

Kubuka, ransel masih di pangkuanku. Bianca cepat-cepat memasukkan tangan ke dalamnya dan mengeluarkan sebuah granat. Dia melemparnya lewat jendela, dan tak lama semuanya meledak.

"Ini memberi kita waktu. Tapi sekarang ambil satu lagi, cabut pinnya, dan lempar lewat jendelamu."

Aku gugup, gemetar, tapi kulakukan seperti yang dia suruh. Kuambil granat itu, kucabut pinnya, lalu kulempar lewat jendela, dan segera terdengar ledakan lagi.

"Itu baru Ipar kecilku. Pilihan lo bagus banget, Kak."

"Bukan waktunya bercanda, Bianca. Kalian baik-baik saja? Anak buah kita sedang menuju ke sana, dua menit lagi sampai."

"Kita dapat jeda, tapi nggak lama. Masih ada mobil yang datang, cuma sekarang lebih jauh. Mereka nembak. Untung gue ambil mobil antipeluru, bukan yang dikasih Arya."

"Yang dikasih Arya lebih cepat, jadi gue belum bisa bilang mana yang lebih bagus. Yang penting kalian selamat. Bawa Laras ke markas, gue harus pastiin kalian baik-baik saja."

"Siap, Kak." Bianca memberi hormat ke sistem audio mobil seolah Satria bisa melihatnya.

Kami mendengar lebih banyak ledakan dan tembakan. Aku menoleh ke belakang dan melihat beberapa mobil hitam di belakang kami. Kulihat satu menabrak yang lain sampai terguling. Aku panik, jangan-jangan mereka juga akan membuat kami terguling.

"Santai, itu orang-orang kita. Sekarang kita aman, tapi masih harus sampai ke markas."

* * *

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!