NovelToon NovelToon
KAMU ADALAH MEMPELAI KU

KAMU ADALAH MEMPELAI KU

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Dibuang oleh keluarga, dikhianati oleh orang yang dicintai, dan merasa tidak memiliki siapa-siapa.

Laura mengira hidupnya telah berakhir.
Sampai seorang pria asing datang dan berkata.“Kamu adalah mempelai ku.”

Laura tidak tahu siapa pria itu.
Yang dia tahu, sejak pertemuan malam itu, hidupnya tak akan pernah sama lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 : MASALAH YANG MULAI MEMBESAR

Pagi itu, atmosfer di Varell Corporation terasa tegang. Beberapa karyawan berjalan cepat melewati lorong sembari membawa dokumen dan tablet kerja. Di ruang rapat lantai atas, jajaran direksi sudah berkumpul sejak pagi untuk menunggu kedatangan Adrian Varell.

Beberapa minggu terakhir, transisi kerja sama antara Varell Corporation dan Exco mulai berjalan. Namun, seiring dipindahkannya beberapa proyek ke pihak Exco, berbagai masalah mulai bermunculan mulai dari kendala penyesuaian sistem hingga keterlambatan jadwal dan pembengkakan anggaran.

Pintu ruang rapat terbuka. Adrian melangkah masuk dengan tenang, meletakkan tablet serta berkas di atas meja jati, lalu duduk di kursi utamanya.

“Baik, kita mulai,” ujar Adrian lugas. “Aku ingin mendengar laporan perkembangan terbaru mengenai proyek yang ditangani Exco.”

Direktur Teknologi berdeham pelan seraya membuka laporannya. “Ada beberapa penundaan, Pak Adrian. Dua proyek utama kita tertahan karena integrasi sistem Exco belum selesai. Mereka minta tambahan waktu dua sampai tiga minggu.”

Adrian mengernyitkan dahi. “Tambahan waktu selama itu?”

Direktur Keuangan memajukan tubuhnya dan menyela. “Masalahnya bukan cuma waktu, Pak. Keterlambatan ini meningkatkan biaya operasional karena kita harus menambah personel untuk pengawasan.”

Adrian menyandarkan punggungnya, mencermati angka pada lembar laporan sebelum mengangkat pandangan. “Apakah Exco sudah memberikan rincian tertulis terkait pembengkakan biaya ini?”

“Belum ada laporan resmi, Pak,” sahut Direktur Keuangan. “Mereka masih melakukan kalkulasi.”

Adrian mengetukkan jarinya pelan di atas meja. “Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan sebelum ada data resmi dari mereka. Aku mau semua perubahan biaya dicatat. Jika Exco melakukann kelalaian, kita tagih pertanggungjawabannya berdasarkan data, bukan emosi.”

“Baik, Pak,” jawab Direktur Teknologi mengangguk.

“Dan satu lagi,” tambah Adrian menatap para direktur. “Jangan biarkan masalah ini memicu keputusan gegabah. Kita harus memetakan masalah ini secara rinci sebelum menentukan langkah berikutnya.”

Saat rapat berlanjut, ketukan pintu terdengar. Seorang staf masuk dengan raut cemas. “Permisi, Pak Adrian. Beberapa perwakilan investor mulai melayangkan surat klarifikasi terkait penarikan keterlibatan Valdren International dari proyek baru.”

Suasana ruang rapat mendadak makin hening.

Adrian menerima dokumen itu dan mencermatinya sekilas. “Seberapa besar tekanannya?”

“Beberapa pemegang saham utama meminta audiensi resmi minggu ini, Pak,” jawab staf itu.

Adrian mengatupkan dokumen tersebut. “Atur jadwal pertemuannya. Ingatkan tim Humas untuk tidak mengeluarkan pernyataan spekulatif apa pun.”

Setelah staf keluar, Adrian menatap para bawahannya dengan tegas. “Tetap fokus pada tugas masing-masing. Jangan membuat masalah ini terlihat lebih besar daripada kenyataannya.”

Namun di balik sikap tenangnya, Adrian sadar betul bahwa badai masalah baru saja dimulai.

Di saat bersamaan, suasana di markas besar Valdren International jauh lebih tenang dan terkendali.

Hero duduk santai di balik meja kerjanya sembari membaca dokumen finansial. Di depannya, Valen berdiri memegang tablet kerja.

“Tuan, ada kabar terbaru dari Varell,” ujar Valen membuka pembicaraan. “Beberapa proyek utama mereka tertunda, dan biaya operasional mulai membengkak akibat kendala sistem Exco.”

Hero membaca ringkasan data sekilas, lalu meletakkannya kembali di meja tanpa riak emosi. “Biarkan saja mereka membereskannya sendiri.”

“Bukan cuma itu, Tuan,” tambah Valen. “Beberapa investor utama Varell mulai gelisah setelah Valdren memangkas porsi investasinya di sana.”

Hero menyandarkan punggungnya, menatap Valen dingin. “Itu bukan lagi urusan kita. Varell sendiri yang memilih melangkah bersama Exco, jadi biarkan mereka menanggung konsekuensinya.”

“Baik, Tuan. Tim kita akan tetap bersikap pasif dan memantau dari luar,” jawab Valen mengerti.

Hero mengetuk meja pelan. “Pastikan seluruh kewajiban kita pada kontrak lama yang masih berjalan tetap terpenuhi. Jangan beri mereka celah untuk menyalahkan kita.”

“Sudah saya pastikan, Tuan,” jamin Valen.

Hero kembali fokus pada berkas di mejanya. Namun tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Laura.

Laura: Kamu sudah makan siang belum?

Seketika, raut wajah Hero yang dingin melumer. Garis bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang hangat.

Valen yang menyaksikan perubahan itu hanya bisa menggeleng pelan seraya menahan tawa. “Tuan,” panggil Valen berdeham. “Sepertinya kabar dari Varell mendadak kehilangan daya tariknya.”

Hero mendongak, memasukkan ponselnya ke saku jas. “Memang tidak pernah menarik.”

“Pasti karena pesan dari Nona Laura, kan?” tebak Valen jahil.

“Dia cuma menanyakan apakah aku sudah makan,” balas Hero santai.

Valen tersenyum tipis. “Baiklah. Jadi laporan Varell selesai untuk hari ini?”

Hero berdiri seraya merapikan jasnya. “Aku mau menjemput Laura.”

Sebelum melangkah keluar, Hero berhenti dan menoleh pada asistennya. “Valen, jika hanya ada rumor kecil dari Varell, tidak perlu mengganggu waktuku. Beri tahu aku kalau ada krisis besar saja.”

Valen membungkuk hormat. “Pesan dimengerti dengan baik, Tuan.”

Sementara itu di kampus, Laura melangkahkan kaki keluar dari gedung fakultas sembari membawa tasnya. Hari itu terasa melelahkan akibat tumpukan tugas kuliah.

Diana yang berjalan di sampingnya menyenggol lengan Laura pelan. “Kamu sedang menunggu pesan dari seseorang, ya?” godanya saat melihat Laura berulang kali mengecek ponsel.

Laura buru-buru menyimpan ponselnya. “Enggak, kok. Aku cuma mengecek jam.”

Diana tertawa kecil. “Aku bahkan belum sebut nama siapa-siapa, lho. Kamu benar-benar sudah banyak berubah sekarang.”

“Berubah bagaimana?” tanya Laura bingung.

“Dulu kamu selalu ingin cepat pulang sendiri. Tapi sekarang kamu seperti sedang menunggu jemputan seseorang,” tutur Diana lembut.

Laura terdiam. Ia tidak bisa menyangkalnya. Kehadiran Hero yang dulu membuatnya canggung, kini perlahan menjadi sesuatu yang diam-diam ia nantikan.

“Mungkin... aku cuma sudah terbiasa saja,” sahut Laura pelan. “Aku memang belum tahu pasti perasaanku, tapi aku sudah tidak merasa takut lagi di dekatnya.”

Diana tersenyum hangat. “Itu sudah lebih dari cukup, Laura.”

Tak lama kemudian, sebuah sedan hitam mewah berhenti di dekat gerbang. Hero melangkah keluar dengan kemeja formal yang rapi. Sosoknya yang tinggi langsung menyedot perhatian, namun tatapannya melunak begitu melihat Laura.

“Laura,” panggil Hero mendekat.

Laura mengulas senyum tipis. “Kamu sudah sampai.”

“Bukankah aku sudah janji akan menjemputmu?” balas Hero lembut. Tanpa ragu, ia mengambil alih tas tebal yang dibawa Laura. “Kamu belum makan siang, kan? Kita makan dulu sekarang.”

Laura menatap Hero sejenak, lalu mengangguk patuh.

“Pergilah, Laura. Aku juga mau pulang,” pamit Diana seraya melambaikan tangan.

Hero membukakan pintu mobil untuk Laura. Setelah Laura duduk nyaman, Hero masuk ke kursi kemudi dan melajukan kendaraannya membelah jalanan kota.

Di dalam mobil, Laura melirik Hero yang fokus mengemudi. “Hero, di kantor tadi ada masalah?”

Hero meliriknya sekilas lewat cermin tengah. “Cuma urusan bisnis biasa. Bukan sesuatu yang harus kamu khawatirkan.”

Laura mengamati wajah Hero, lalu mengangguk lembut. “Kalau begitu... jangan terlalu memaksakan diri bekerja sampai lupa istirahat.”

Hero sempat tertegun mendengar perhatian sederhana itu. Seluruh rasa lelahnya setelah seharian bergelut dengan dokumen seolah sirna begitu saja. “Aku akan ingat pesanmu,” jawab Hero tulus sembari tersenyum hangat.

Laura ikut tersenyum kecil dan kembali memandang ke luar jendela.

Di balik ketenangan sore itu, krisis antara Varell Corporation dan Exco perlahan mulai merembet meluas. Meski Hero memilih untuk tidak ikut campur, perubahan di dunia bisnis tersebut secara perlahan membawa mereka menuju titik konflik yang tak terelakkan.

1
-Thiea-
aku pun penasaran Laura. tiba-tiba muncul dan langsung ngajak nikah../Facepalm/
Prayy: sayang nya Laura belum bisa nunjukin perasaan nya🤣
total 1 replies
-Thiea-
jodohmu bukan orang sembarangan Laura. serasa dapat durian runtuh ya. 🤭
Prayy: Hero sering di perebutkan anak anak perempuan para pengusaha karena tampan 🤣
total 1 replies
-Thiea-
sudah terdeteksi Bucin sejak awal nih../Chuckle/
Prayy: iyaa karena Laura telah melewati berbagai hal yang bikin dia terluka,,itu hadiah untuk nya🤣
total 1 replies
Myz Pena
para pembaca juga penasaran siapa.si hero ini 🫣
Myz Pena: tapi dia kaya raya dan bukan orang sembarang 🤭
total 2 replies
Myz Pena
maka beruntunglah kamu laura,, bentar lagi kamu akan kèluar dari siksaan author 🤣
Prayy: karena itu terus di siksa dari awal🤣
total 1 replies
Myz Pena
pasti kaget kalian kan..
Prayy: benar karena masih muda udh terkenal tampan lagi,,jadi rebutan anak anak pengusaha 🤣
total 1 replies
Myz Pena
saking mandirinya jadi kebentuk mentalnya setangguh ini.. ini ma biar nggak ada laki2 tetap juga bisa hidup.. karena semua bisa dilakukan sendirian.. 🤭
Prayy: apa apa sendiri itu sangat menyakitkan 😄
total 1 replies
Myz Pena
pelan2 bang hero 🤭
Myz Pena
aduh perhatiannya ya🤭
Myz Pena
di jemput calon suami 🤭
Myz Pena: diantar jemput donk kalau gitu 🤭
total 2 replies
Kartika Candra Buwana
semoga kalian baik baik saja ya
Kartika Candra Buwana
wah apa ya yang akan dibahas ya?
Prayy: di bab selanjutnya akan terjawab 🙏
total 1 replies
Miu.Nuha
kakek, bawa Laura pergi dari rumah itu donk. bawa dia bersamamu aja 🥲
Miu.Nuha
gk pernah bener laura berbuat dimata kalian 😑 emang nyebelin ih ini keluarga...
Miu.Nuha
yaaa pak dosenny gk mau ngertiin 😑
sedih kan ya...
Arni Arlinawati Pratiwi💃
okay.. berrti emak mertua mu juga dong! 🗿😭
Arni Arlinawati Pratiwi💃
eee.. lu sape, maen peluk peluk, woy!!! 🗿🙄
Arni Arlinawati Pratiwi💃
gak tau lagi emak!!! thorr.. gak mau tau emak, habis ini buat laura bahagia!!! /Skull/
Prayy: iya Mak bab selanjutnya udh masuk bahagia Laura 😄
total 1 replies
Arni Arlinawati Pratiwi💃
bener ming.. bener banget, pergi gak kamu sayang dari situ! /Skull/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
emak.. "lu brani nampar anak angkat gue!"

kaki emak melyang terbang menghantam kepala richard.

DUAK

"emm.. puas emak, RASAIN! set ... an!" 🤯🤯🤯
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!