NovelToon NovelToon
Najin

Najin

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Misteri / Penyelamat
Popularitas:323
Nilai: 5
Nama Author: Van pen.

​Pada tahun 1940-an di Jayakarta, Bella Anastasya, seorang pemburu jejak (tracker) tangguh, bertaruh nyawa demi mencari ibunya yang hilang secara misterius selama sepuluh tahun.

​Demi melacak petunjuk, Bella terpaksa bekerja sama dengan Gilang Fahrezi, pengusaha kaya pemilik jaringan informan terbesar di kota. Penelusuran berdarah ini membawa mereka menyusup ke fasilitas militer rahasia, tempat eksperimen parasit ilegal yang mengubah manusia menjadi monster mengerikan. Di sana, Bella harus berjuang melawan ancaman monster sekaligus menghadapi kenyataan pahit tentang takdir sang ibu.

akankah Bella menemukan sang Ibu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Siang hari, jalanan Kota Tua tampak begitu ramai. Seorang anak kecil mengenakan topi hitam berjalan gesit membagikan serta mengedarkan koran ke tiap pejalan kaki. Selembar koran yang ia bawa memuat berita hangat: Rumah Sakit Jayakarta Tutup Sampai Batas Waktu yang Tidak Ditentukan, diduga kuat akibat merebaknya ancaman penyakit menular yang belum diketahui jenisnya. Ujang yang sedang berdiri di trotoar mengambil selembar koran tersebut, lalu tekun membacanya dengan raut wajah serius.

Sementara itu, di depan area Rumah Sakit Jayakarta, suasana terasa kian mencekam. Para tentara Jepang sibuk memasangkan papan kayu bertuliskan "TUTUP" di atas gerbang utama. Sebagian tentara lainnya saling berteriak memberi komando seraya mengangkat karung-karung berisi tanah untuk menumpuk barikade pertahanan di sekeliling pintu masuk.

Aska mengayuh sepeda usangnya pelan, menghentikan lajunya tepat di seberang rumah sakit. Warga sekitar yang melintas turut berkerumun, menatap cemas pada kegentingan yang sedang terjadi di bangunan megah itu. Dari atas sepedanya, mata Aska menajam mengamati keadaan; di kedua sisi gerbang utama, dua unit mobil militer tentara sudah bersiaga penuh dengan senapan mesin berat yang terpasang siap tembak.

Di dalam Griya Harta Emas, Aska dan Ujang yang tadi berada di luar, kini berkumpul mengelilingi bos mereka bersama Bibi Sinta.

“Apa maksudmu? Jadi para tentara mengepung rumah sakit?” tanya Gilang, matanya menajam.

“Mereka yang di luar tak bisa masuk, dan mereka yang di dalam tak bisa keluar. Mereka juga membawa senapan mesin. Situasinya kelihatan serius,” ujar Aska, sebab ia melihatnya sendiri di luar tadi.

Gilang mengerutkan alisnya, perasaannya tidak karuan sebab Bella dan ayahnya masih ada di rumah sakit itu.

“Belum ada kabar dari detektif, kan?” tanya Ujang. Ia berdiri di dekat Bibi Sinta, menatap wanita itu dengan wajah yang tak kalah khawatir.

“Aku rasa mereka belum keluar dari sana juga,” jawab Bibi Sinta pelan.

Gilang berbalik melangkah ke belakang, menyambar jasnya, lalu bergegas pergi.

Ujang yang melihat bosnya hendak melangkah pergi mendadak membelalakkan mata. “Mas Gilang! Mau ke mana? Aku perlu ikut?” teriaknya.

Bibi Sinta menepuk pundak Ujang. “Kau kenapa? Kejar dia!”

Ujang sedikit terkejut lalu melirik Bibi Sinta dengan tatapan tajam. “Aku tahu! Aku mau menyusulnya.” Ia menyodorkan selembar koran yang tadi diambil dari anak kecil kepada Bibi Sinta. “Simpan ini,” bisiknya pelan, lalu berlari pergi.

Gilang menuruni tangga dengan setelan jas rapi. Namun, langkahnya terhenti mendadak ketika berhadapan dengan seorang wanita yang berdiri dengan wajah melas. Wanita itu adalah suster rumah sakit yang kemarin sempat ia temui.

“Ada apa kau datang ke sini?” tanya Gilang.

Wanita itu menyerahkan selembar kain putih kecil pada Gilang. Saat mengulurkannya, jemari wanita itu terlihat bergetar hebat.

Gilang menerima kain itu lalu membukanya. Di sana tertera sebaris tulisan singkat: Kami temukan Emma. Mungkinkah selembar kain itu dikirimkan oleh Bella?

“Lalu orang yang memberikan ini di mana?” tanya Gilang cepat.

“Mereka masih di dalam,” ujar wanita itu.

Mendengar hal itu, kening Gilang makin mengerut tajam. Pikirannya makin tidak karuan membayangkan Bella masih terperangkap di dalam sana.

“Aku berhasil keluar sebelum rumah sakit ditutup sepenuhnya… saat fajar,” ujar wanita itu bergetar.

“Lalu apakah orang-orang ini aman?” tanya Gilang, menuntut kepastian.

Wanita itu perlahan menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu…” ucapnya pelan.

“Apa benar ada penyakit menular di sana?” tanya Gilang lagi.

Wanita itu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air matanya mulai menetes. “Aku tidak tahu.”

“Ayo jawab yang sebenarnya! Katakan apa yang sebenarnya terjadi di sana!” bentak Gilang, raut wajahnya diliputi kecemasan luar biasa.

“Tidak tahu! Aku juga tidak tahu!” balas wanita itu ikut membentak di tengah isak tangisnya.

Ujang, Aska, dan Bibi Sinta memperhatikan interaksi itu dari belakang. Mereka berdiri terpaku di tangga.

Wanita itu menangis tersedu-sedu, menatap Gilang penuh keputusasaan. “Semalam di rumah sakit, ada banyak orang mati. Bahkan sudah tidak terhitung jumlahnya. Aku tidak tahu kenapa. Dan tidak ada cara untuk mengetahuinya.”

Gilang menatap wanita itu tajam. “Lalu kenapa? Kenapa kau bawa catatan ini kepadaku? Ayo katakan!”

Tangisan suster itu perlahan mereda. Dengan gerakan mantap, ia meletakkan telapak tangan kirinya di dada kanan dengan jari manis tertekuk, sebuah simbol rahasia yang menandakan bahwa ia adalah anggota Masyarakat Kemerdekaan.

“Hal yang mengerikan sedang terjadi di Rumah Sakit Jayakarta. Orang-orang sekarat, tidak tahu kenapa. Para rekanku berkali-kali mencari tahu apa sebenarnya penyebabnya. Tidak ada yang berhasil kembali,” ucap wanita itu dingin.

Gilang menelan ludah. Ia mengerutkan kening, lalu kembali memandang selembar kain putih di genggamannya dengan tangan yang ikut bergetar.

“Kali ini, mungkin juga sama,” ucap wanita itu pelan.

1
Tri Rahayu Amoorea
jos
Coco: Terima kasih kakak 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!