NovelToon NovelToon
Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan

Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Single Mom
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ve Love

AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN

Namaku Kirana, 22 tahun.

Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.

Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.

"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"

Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.

Aku pikir hidupku sudah selesai.

Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.

Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:

"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."

Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?

Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: MANTAN PACARKU ADALAH ADIK IPARKU

Kotak kayu itu masih terbuka di pangkuanku. Debunya beterbangan.

Foto pernikahan itu paling menyita perhatianku. Arga memakai beskap hitam gagah, merangkul wanita cantik berkebaya putih tersenyum manis. Itu Arga, lebih muda dan bahagia. Di sampingnya pasti Mira, istri pertamanya.

Tapi bukan itu yang membuat jantungku berhenti.

Di belakang mereka, barisan groomsmen pakai beskap coklat seragam. Salah satu yang berdiri paling dekat dengan Arga, merangkul bahu Arga akrab, adalah wajah yang sangat kukenal. Wajah yang tiga tahun menemaniku kuliah, yang menangis janji nikahi aku, yang hilang setelah buat aku hamil 8 minggu.

Rendo. Rendo Wijaya.

Di belakang foto ada tulisan spidol hitam pudar: Pernikahan Arga & Mira, 12 Des 2022 - Adikku Rendo dan tim groomsmen.

Adikku. Dua kata itu bikin dunia ku runtuh untuk kedua kalinya.

Kemarin runtuh karena diusir. Hari ini runtuh karena tahu ayah dari anakku adalah adik kandung dari suami kontrakku sendiri.

Pantas wajah Arga dan Rendo mirip. Rahang tegas, alis tebal, tinggi sama. Aku buta cinta tiga tahun tidak pernah sadar karena Rendo tidak pernah ajak aku ketemu keluarganya. Katanya, "Keluargaku di desa kolot, Kir. Nanti kamu gak betah."

Pantas tadi malam Arga tegang lihat Rendo di jendela. Bukan tatapan lihat pengganggu, tapi tatapan kakak lihat adik yang mengecewakan. Dan Arga bohong bilang tidak kenal.

"Bu Minah... maaf saya mau tanya," suaraku gemetar. Bu Minah yang bawakan rantang lodeh masih di depan pintu.

"Iya, Nduk?"

Aku angkat foto itu tunjuk wajah Rendo. "Pak Arga punya adik namanya Rendo? Rendo Wijaya?"

Wajah Bu Minah langsung berubah. Senyum hilang.

"Lho Nduk belum tahu to? Ya Allah... Arga belum cerita ya?" Bu Minah langsung masuk, tutup pintu kayu rapat dan kunci dari dalam. "Iya Nduk benar. Rendo itu adik tirinya Arga. Beda ibu. Ibunya Arga Bu Ratna meninggal waktu Arga SMA. Terus bapaknya Pak Karim nikah lagi sama Bu Lastri ibunya Rendo. Jadi kakak beradik tiri tapi akrab kayak kandung. Bapaknya dulu Kades sini dua periode. Keluarganya terpandang."

Pak Karim. Nama itu pernah disebut Rendo, katanya bapaknya kerja serabutan di Kalimantan. Ternyata mantan Kades Wonorejo.

"Tapi Rendo memang nakal dari SMP, Nduk. Beda jauh sama Arga yang kalem pinter. Makanya Pak Karim kirim dia kuliah ke Surabaya biar gak bikin malu. Katanya kampus besar dekat Royal Plaza. Makanya jarang pulang."

Surabaya. Kampus dekat Royal Plaza. Tempatku ketemu Rendo di UKM pecinta alam.

"Jadi Rendo kuliah di Surabaya juga, Bu?"

"Iya Nduk. Makanya betah di kota."

"Kalau Rendo adiknya Pak Arga, berarti Mbak Mira itu kakak iparnya Rendo?"

"Iya. Makanya waktu nikahan Arga-Mira 2022 kemarin Rendo pulang jadi groomsmen. Mereka akrab. Rendo sayang sama Mbak Mira. Waktu Mbak Mira meninggal, Rendo nangis kejer di pemakaman, terus langsung hilang lagi ke Surabaya katanya gak kuat lihat rumah tanpa Mbak Mira."

Aku lemas.

Bu Minah lirik foto di tanganku, lirik perutku yang masih rata 8 minggu, lalu lirik foto Rendo lagi. Dia sudah bisa nebak.

"Nduk... maaf Bu Minah lancang... kamu hamilnya sama..."

Aku tidak jawab. Air mata mengalir lagi. Aku cuma tunduk elus perut pelan.

Bu Minah peluk aku. "Ya Allah Nduk. Dunia sempit ya. Kamu hamil sama Rendo adiknya, sekarang malah jadi istrinya Arga kakaknya. Pantes Arga mau langsung nikahin kamu siri kemarin malam. Pasti Pak Kyai yang suruh biar gak jadi fitnah. Biar anakmu nanti gak bingung manggil Arga apa manggil Rendo. Biar gak jadi aib besar keluarga mantan Kades."

Setelah Bu Minah pulang, aku duduk lama di ruang tamu dengan foto itu. Salsa tertidur di pangkuanku.

Jam 4 sore motor trail knalpot keras masuk halaman becek. Arga pulang dari kebun. Baju hitam penuh getah karet lengket, boot penuh lumpur.

Dia lihat aku duduk di lantai dengan kotak kayu terbuka dan foto pernikahannya di tanganku gemetar. Wajah lelahnya langsung tegang. Rahang mengeras.

"Kamu buka kotak itu?" Suaranya dingin pelan, bukan marah meledak tapi ditahan, lebih menakutkan.

Aku angkat foto tinggi-tinggi. "Pak Arga kenapa bohong sama saya? Bilang tadi malam tidak kenal Rendo? Padahal dia adik Bapak sendiri! Adik tiri Bapak!"

Arga diam lama. Lepas boot kasar dibanting ke sudut. Duduk di kursi kayu berderit depan aku, usap wajah lelah dengan dua tangan.

"Aku tidak bohong, Kirana. Hanya belum siap cerita," jawabnya serak. "Aku tahu siapa Rendo. Aku tahu dia pacarmu tiga tahun. Aku tahu dia yang hamili kamu dan kabur ke Kalimantan."

Deg.

"Bapak tahu? Dari kapan?"

"Ibumu cerita ke Mbah Sarti waktu telepon kemarin. Ibumu bilang kamu hamil sama pacarmu Rendo kuliah di Surabaya anaknya Pak Karim mantan Kades yang sekarang kerja di Kalimantan. Mbah Sarti cerita ke istri Pak RT, istri Pak RT cerita ke aku sebelum aku jemput kamu di gerbang desa. Satu desa Wonorejo cuma ada satu Rendo anak Pak Karim. Adikku."

Jadi Arga sudah tahu semuanya sejak awal. Sejak sebelum tawarkan pernikahan kontrak di rumah bocor itu.

"Jadi pernikahan kontrak ini Bapak nikahi saya karena kasihan? Karena saya hamil sama adik Bapak? Karena mau tutupi aib keluarga Bapak?"

"Bukan!" Arga meninggikan suara pertama kalinya. "Aku nikahi kamu karena kamu butuh perlindungan! Butuh tempat tinggal! Butuh nama untuk anakmu! Dan karena aku tidak mau anak adikku sendiri lahir tanpa nama ayah, dihina satu desa sebagai anak haram! Biarpun Rendo brengsek, adik paling mengecewakan, tapi anak di perutmu tetap darah daging keluarga kami! Keluarga Pak Karim! Aku tidak mau dia lahir nasib sama kayak Salsa ditinggal ibunya!"

Dia tatap perutku. Tatapannya ada hangat dan tanggung jawab.

"Dan Salsa butuh kamu. Tadi pagi Salsa mau makan hanya kalau kamu suapi. Mau tidur hanya kalau kamu di sampingnya. Itu sudah cukup alasan untukku nikahimu, Kirana. Bukan karena aib. Tapi karena aku butuh kamu, dan kamu butuh aku."

"Rendo tahu Bapak nikahi saya?"

Arga geleng. "Belum. Tadi malam dia baru tahu waktu ngintip jendela. Makanya kaget langsung kabur lagi. Aku sudah telepon Bapakku, Pak Karim di rumah induk ujung desa. Bapak bilang biar dia urus Rendo. Rendo memang kabur dari Kalimantan karena gak betah kerja. Bukan dirampas HP-nya kayak alasan dia bilang ke kamu. Kamu tidak usah khawatir, Rendo tidak akan ganggu kamu lagi selama ada aku di sini. Dia takut sama aku."

Kata "selama ada aku di sini" bikin hati hancurku sedikit tenang. Merasa aman.

Malam itu setelah Salsa tidur, aku dan Arga duduk berdua di ruang tamu diterangi lampu teplok karena listrik diputus.

"Pak, boleh tanya satu hal terakhir?" tanyaku pelan.

"Apa?"

"Bu Minah bilang Mbak Mira meninggalnya tidak wajar. Katanya disantet. Pendarahannya bukan biasa. Apa benar, Pak?"

Wajah Arga yang sudah mulai rileks langsung tegang lagi. Bahkan lebih tegang dari pas tanya Rendo. Matanya membelalak, tangan mengepal.

"Siapa bilang? Bu Minah lagi?" Suaranya rendah penuh ancaman.

"Bu Minah..."

"Jangan percaya omongan Bu Minah! Jangan percaya omongan orang desa! Mira meninggal karena pendarahan hebat saat melahirkan Salsa! Titik! Dokter puskesmas yang bilang! Bukan santet! Gak ada santet di zaman sekarang!"

Dia bentak keras pertama kalinya. Salsa di kamar sampai menggeliat kaget.

Tapi matanya tidak bisa bohong. Ada ketakutan besar disembunyikan dua tahun.

"Aku capek. Mau tidur. Jangan tanya lagi soal Mira," katanya lalu berbaring di atas karung goni membelakangiku.

Aku kembali ke kamar tidak bisa tidur.

Dua misteri berputar di kepala.

Pertama, Rendo adik Arga. Mantan pacarku adalah adik iparku sekarang. Gimana kalau Rendo kembali minta anak ini?

Kedua, kematian Mira. Kenapa Arga sensitif, marah, ketakutan saat ditanya? Apa yang terjadi dua tahun lalu? Kenapa Bu Minah bilang disantet? Apakah aku sebagai istri keduanya yang juga hamil akan alami nasib sama? Apakah aku juga akan disantet?

Aku elus perut rata. "Nak, Mama takut. Mama diasingkan ke sini karena kamu, tapi tempat pengasingan Mama simpan rahasia lebih mengerikan daripada diusir. Mama masuk keluarga penuh rahasia."

Di luar anjing desa melolong panjang. Dari arah kebun karet gelap belakang rumah terdengar lagi langkah mengendap menginjak daun kering.

Kresek... kresek... kresek...

Pelan, berat, kelilingi rumah.

Rendo kembali? Atau seseorang... atau sesuatu yang selama ini teror keluarga Arga?

---

1
Hasan Basri
alur cerita gx jelas
Ve Love: wah dibagian mana ini, aku suka kritiknya 🙏
total 1 replies
evana gusani
baru mampir
Ve Love: makasih ya udah mau mampir 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!