Tiga siswa SMA biasa tidak pernah membayangkan hidup mereka akan berubah hanya karena sebuah buku fiksi misterius di perpustakaan sekolah.
Buku itu terbang ke atas air dan membentuk sebuah portal bercahaya tiba-tiba muncul dan menyeret mereka ke masa lalu, tepatnya ke sebuah dinasti Jepang kuno yang sedang berada di ambang kehancuran.
Negeri itu tidak hanya diguncang oleh perebutan kekuasaan di istana, tetapi juga diteror oleh Makhluk Kutukan, entitas mengerikan yang lahir dari kebencian, dendam, dan ambisi manusia. Kehadiran mereka membuat rakyat hidup dalam ketakutan, sementara para bangsawan sibuk saling menjatuhkan demi takhta.
Namun semakin dalam mereka terlibat, semakin mereka menyadari bahwa musuh terbesar bukanlah para monster yang berkeliaran di luar tembok istana, melainkan kegelapan yang bersemayam di hati manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kyc_ibell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
Mereka akhirnya tiba di istana.
Di hadapan gerbang megah yang menjulang, Kazura berhenti sejenak. Dia menatap bangunan itu dalam-dalam, seolah merasakan beban takdir yang baru saja mulai menempel di pundaknya.
“Awal dari perjalananku telah dimulai” gumam Kazura dalam hati.
Dengan langkah pertama yang ragu namun pasti, dia memasuki area istana untuk pertama kalinya. Haru berjalan di depannya, memimpin jalan melewati lorong dan halaman yang dijaga ketat. Sikap Haru yang begitu perhatian terhadap Kazura tak luput dari perhatian Yua.
Yua menatap mereka berdua sekilas.
“Ayo masuk.” ucap Ryujin kepada Yua.
---
Di aula utama istana, Master Seijun bersama para pemburu telah berdiri di hadapan Kaisar. Suasana ruangan terasa berat, dipenuhi tatapan para menteri yang mengamati dari sisi-sisi aula.
Tanpa mampu menahan rasa bersalah, Master Seijun langsung berlutut. Para pemburu lainnya mengikuti dengan cepat.
“Mohon ampun, Kaisar..” ucapnya penuh penyesalan. “Kami pantas dihukum mati.
"Kami gagal menyelamatkan mereka..”
Suara itu menggema di ruang istana yang hening.
Para menteri saling bertukar pandang, menyaksikan adegan tersebut tanpa berani memotong. Di antara mereka, Tuan Yamato berdiri dengan tenang. Bibirnya membentuk senyum tipis seolah ada kepuasan tersembunyi yang hanya dia sendiri yang memahami maknanya.
“Aku turut berduka atas gugurnya rakyatku.”
Kaisar menutup matanya perlahan. Untuk sesaat, ruangan terasa sunyi bukan karena heningnya suasana, tetapi karena beban yang ia tanggung sendiri. Di balik ketenangan wajahnya, pikirannya bergejolak.
Pengkhianat itu masih ada di dalam istana ini. Sebuah pikiran yang tidak pernah benar-benar pergi dari benaknya sejak insiden pertama terjadi.
Namun dia tidak memperlihatkan sedikit pun kegelisahan itu di hadapan para pemburu dan para menteri. Ketika matanya kembali terbuka, sorotnya kembali tenang, tajam, dalam, dan berwibawa seperti baja yang ditempa waktu.
“Tragedi seperti ini adalah luka bagi kerajaan. Dan setiap luka akan selalu meninggalkan jejak yang harus dihapus dengan kehati-hatian.”
Suaranya terdengar stabil, namun ada tekanan halus di baliknya, seolah setiap kata telah diperhitungkan dengan sangat cermat.
Dia menatap satu per satu orang di hadapannya, seakan sedang membaca sesuatu yang tak terlihat.
“Aku tidak akan membiarkan kejadian ini terulang kembali.”
Sejenak dia berhenti. Di balik ketenangan itu, pikirannya kembali berbisik. Jika pengkhianat itu bergerak lagi maka istana ini bisa runtuh dari dalam.
Namun dia segera menyingkirkan pikiran itu ke dasar benaknya.
“Namun karena kalian telah menunjukkan keberanian dan pengabdian di saat genting. Oleh karena itu.. aku mengampuni kalian.”
Nada suaranya tetap tenang, tetapi keputusan itu terasa mutlak seperti hukum yang tidak bisa dibantah. Di balik wibawanya yang tak tergoyahkan, pikirannya masih menyimpan satu kecurigaan yang belum menemukan bentuknya tentang pengkhianat yang bersembunyi di dalam istana.
Para pemburu kembali menundukkan kepala, berlutut dengan penuh hormat di hadapan Kaisar.
“Terima kasih atas pengampunan engkau, Yang Mulia,” ucap mereka serempak, suara mereka menggema di aula yang luas.
Kaisar hanya mengangguk pelan. Tatapannya tetap tenang, namun menyimpan sesuatu yang tidak diucapkan. Sebuah beban yang hanya dia sendiri yang benar-benar pahami.
Tak lama setelah itu, para pemburu bersama Master Seijun meninggalkan aula utama. Langkah mereka mantap, menyusuri koridor panjang istana yang diterangi cahaya obor dan kristal sihir.
Tujuan mereka jelas, Aula Sihir Para Pemburu.
Di sana, mereka akan melanjutkan penyelidikan terhadap Makhluk Kutukan Harimau Putih, sosok berbahaya yang menjadi kunci dari rangkaian kejadian yang mengguncang istana. Suasana di antara mereka terasa lebih serius dari sebelumnya, seolah setiap langkah yang mereka ambil membawa mereka semakin dekat pada kebenaran yang belum terungkap.
Para pemburu berlutut dan berterimakasih atas pengampunan Kaisar. Setelah itu, para pemburu dan Master Seijun menuju aula sihir para pemburu. Mereka akan menginvestigasi Makhluk Kutukan harimau putih.
Saat rombongan hendak berangkat menuju Aula Sihir Para Pemburu, Kazura tiba-tiba melangkah maju.
“Master Seijun, izinkan saya ikut,” ucapnya tenang namun tegas.
Master Seijun menatapnya sejenak. Setelah hening singkat, dia mengangguk.
“Baik. Kau boleh ikut.”
Kazura pun bergabung dengan barisan para pemburu.
Di tengah perjalanan, Yua melirik ke arah Kazura. Perhatiannya tertuju pada sebuah cincin indah yang melingkar di jari manis pemuda itu. Cahaya istana memantul lembut di permukaannya.
“Cincinmu indah sekali” ujar Yua, suaranya datar namun penuh rasa ingin tahu.
“Pasti dari kekasihmu, ya?”
Kazura menoleh sekilas, lalu mengangkat tangannya sedikit seolah memastikan cincin itu tetap berada di tempatnya.
“Oh.. ini adalah cincin pemberian nenekku,” ucapnya pelan.
“Beliau orang yang sangat aku sayangi,” lanjut Kazura sambil menatap cincin itu sejenak lebih lama dari biasanya.
“Karena itu aku selalu menjaganya baik-baik. Aku tidak ingin kehilangan satu-satunya peninggalan darinya.”
Yua terdiam sejenak, lalu mengalihkan pandangannya tanpa banyak komentar.
Tak lama kemudian, mereka tiba di tujuan.
Haru melangkah di samping Kazura dan mulai menjelaskan, “Ini adalah Aula Sihir. Ruangan khusus di dalam istana untuk keperluan penting. Di sini para pemburu menangani artefak, segel, dan benda-benda sihir berbahaya.”
“Terima kasih sudah menjelaskannya,” jawab Kazura singkat.
Begitu memasuki ruangan, tatapan Kazura bergerak cepat menyapu sekeliling.
"Banyak sekali benda sihir di sini… aku harus berhati-hati," batinnya.
Di tengah ruangan, Master Seijun membuka sebuah kotak khusus yang dipenuhi segel kuno.
“Aku tidak akan membiarkan makhluk itu berbicara,” batin Kazura dingin.
Segel itu akhirnya dilepaskan.
Kaca pelindung pecah seketika, dan asap hitam pekat menyembur keluar. Dari dalamnya, Makhluk Kutukan Harimau Putih muncul sambil tertawa keras, menggema di seluruh ruangan.
“Para pemburu.. bagaimana dengan mahakarya yang kubuat untuk kalian kemarin? hahaha!”
Namun tawanya mendadak terhenti. Matanya menangkap sosok Kazura di antara para pemburu. Sorotnya berubah tajam.
Tanpa menunggu lebih lama, dia melancarkan serangan brutal ke arah mereka.
Namun, sebuah dinding transparan muncul dalam sekejap, menahan seluruh serangan tanpa celah. Energi makhluk itu terpental, membuatnya sadar bahwa ia kini terperangkap dalam ruang sihir yang membatasi kekuatannya.
Master Seijun bergerak cepat. Katana terhunus, dia melesat dan menebas Makhluk Kutukan dari luar batas penghalang. Serangan itu mengenai sasaran dengan telak.
“Tidak mungkin…” batin Makhluk Kutukan.
“Mereka bisa menyerangku dari luar, tapi aku tidak bisa membalas…”
Dengan tenang, Master Seijun berkata, “Kekuatanmu tidak sebanding dengan kami.”
Tak lama, Yua, Ryujin, dan Haru ikut maju. Serangan demi serangan tingkat Elite menghantam tubuh Makhluk Kutukan tanpa henti. Dia terdesak, tak mampu melawan.
“Cukup… hentikan!! Kalian curang!!” teriaknya penuh amarah.
Ryujin kemudian melepaskan tebasan api biru yang menghantamnya keras hingga tubuh Makhluk Kutukan terpental dan jatuh tak berdaya.
Master Seijun melangkah mendekat dan mulai menginterogasi.
“Apa yang membuatmu seperti ini?”
Makhluk itu terdiam, lalu tertawa pelan tanpa menjawab.
“Siapa tuanmu?”
“Kau ingin tahu?” jawab Makhluk Kutukan itu dengan senyum sinis yang semakin menajam. Dia menatap satu per satu para pemburu di hadapannya, seolah meremehkan keadaan yang sedang menjeratnya.
“Apa untungnya bagiku jika aku menjawabnya?” lanjutnya pelan, nada suaranya penuh ejekan.
“Kalian pikir aku akan dengan mudah membuka semua yang kalian inginkan hanya karena sudah berhasil menjebakku di sini?”
Master Seijun menatapnya tanpa berkedip. “Kau sudah tidak berada dalam posisi untuk menawar. Yang tersisa hanya dua pilihan, berbicara atau hancur bersama rahasiamu.”
Namun sebelum jawaban itu keluar, Kazura mengangkat tangannya sedikit.
Dalam sekejap, energi transparan kembali menyelimuti Makhluk Kutukan. Kesadarannya runtuh, lalu dia terlelap dalam tidur yang dalam. Ilmu itu adalah ajaran dari gurunya, Master Genjiro.
Tubuh Makhluk Kutukan kembali melemas, tidur pulas layaknya seekor kucing.
Para pemburu terkejut.
“Makhluk itu mempermainkan kita?” gumam Yua pelan.
Namun sebelum keadaan kembali tenang.
“Master..!” Fumiro datang berlari dengan wajah panik.
“Istana diserang!”
Mereka semua terkejut mendengar laporan itu. Tanpa berpikir panjang, seluruh pemburu segera bergegas keluar dari ruangan untuk menghadapi serangan di luar istana.
Kazura ikut keluar bersama yang lain, melangkah menyatu dengan kekacauan yang terjadi di istana. Ekspresinya tetap tenang, seolah dirinya hanyalah salah satu pemburu yang bersiap menghadapi serangan.
Namun di dalam pikirannya, dia menghitung sesuatu dengan dingin.
Setelah beberapa langkah, dia benar-benar bergabung dengan rombongan para pemburu yang bergerak menjauh dari Aula Sihir. Hingga akhirnya, seluruh perhatian mereka tersedot pada serangan ribuan anak panah yang menghujani istana.
Tidak ada lagi yang memperhatikan Kazura.
Kesempatan itu tidak disia-siakannya.
Sebelum pergi, Fumiro sempat menatap Kazura sekilas. Tatapannya tajam, namun penuh isyarat tersembunyi seolah ada sesuatu yang hanya bisa dipahami oleh mereka berdua.
Dia perlahan mengubah arah langkahnya, memisahkan diri secara halus dari keramaian tanpa menarik perhatian sedikit pun. Seolah hanya bayangan di antara mereka.
Beberapa saat kemudian, Kazura sudah kembali berada di dekat Aula Sihir. Kali ini tanpa siapa pun di sekitarnya.
Dia berhenti di depan pintu ruangan itu, memastikan sekali lagi bahwa semua pemburu benar-benar telah pergi dan tidak ada yang tertinggal.
Hening.
Barulah Kazura melangkah masuk kembali.
Di dalam aula yang kosong, dia berdiri didepan makhluk kutukan yang tertidur itu. Dia berdiri diam sejenak, memastikan tidak ada lagi yang mengawasi
Tangannya perlahan terangkat, bersiap melanjutkan apa yang sebelumnya tertunda tanpa satu pun mata yang mengawasi.
Dengan gerakan halus, dia melepas cincin yang sebelumnya melingkar di jari manisnya.
Dalam sekejap, energi transparan kembali berputar di sekitar cincin itu. Dinding penghalang yang sebelumnya menjaga Makhluk Kutukan di dalam ruang segel perlahan terurai, lalu tersedot masuk ke dalam ruang kecil di dalam cincin tersebut, tersegel rapat tanpa jejak.
Kazura menatap cincin itu sejenak.
“Seperti yang sudah direncanakan..” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.
Setelah itu, dia mengenakan kembali cincin tersebut tanpa ekspresi. Lalu berjalan pergi meninggalkan Aula Sihir, menyatu dengan hiruk-pikuk istana yang kini berada dalam kekacauan.
---
Sementara itu, langit istana telah berubah menjadi medan pertempuran.
Ribuan anak panah menghujani area istana tanpa henti. Korban mulai berjatuhan, jeritan terdengar di berbagai sisi.
Yua segera mengangkat tangannya.
“Semua menjauh!”
Sebuah dinding sihir raksasa terbentang di atas langit istana, menahan hujan anak panah yang turun seperti badai kematian. Serangan itu berhenti menghantam warga istana, namun tekanan sihirnya membuat Yua harus fokus penuh.
“Ini bukan serangan biasa..” gumamnya.
Ryujin dan Haru bergerak cepat, diikuti para pemburu lainnya, menelusuri sumber serangan. Mereka akhirnya menemukan sekelompok orang berjubah hitam di udara melepaskan anak panah dari ketinggian.
Tanpa ragu, Haru mengayunkan kekuatan anginnya, menyapu sebagian besar dari mereka dalam sekejap.
Namun anehnya, saat terkena serangan, tubuh mereka tidak jatuh berdarah atau terluka. Mereka justru menghilang seperti bayangan yang tersapu angin.
“Apa maksud semua ini?” geram Haru.
Ryujin menyipitkan mata. Di antara kerumunan itu, dia melihat satu sosok berbeda. Jubah hitam dengan corak emas yang samar berkilau di tengah kekacauan.
“Dia…” gumam Ryujin. “Pemimpinnya.”
Dengan tebasan naga sucinya, Ryujin melesat mengejar sosok itu.
---
Di sisi lain istana, Tuan Yamato duduk tenang di dalam ruangan, menyeruput teh seolah tidak terganggu oleh kekacauan di luar.
“Untuk saat ini, kau jangan keluar,” ucapnya datar.
“Baik,” jawab Jinsei sambil tersenyum tipis.
Namun dari balik jendela, Jinsei melihat lapisan pelindung sihir raksasa terbentuk di atas istana menahan hujan anak panah yang terus menghujan.
Senyumnya makin tipis.
“Mereka benar-benar bergerak..” gumamnya pelan.
---
Di sisi lain, Ryujin berhasil menyusup hingga jarak dekat dengan sosok berjubah hitam emas itu.
“Tunjukkan wajahmu!” tegas Ryujin, matanya tajam penuh amarah.
“Hahaha… kau benar-benar pemberani,” jawab sosok itu pelan, suaranya dingin namun sarat ejekan.
Dalam sekejap, dia menghunuskan katana.
BANG!
Ryujin nyaris tidak sempat bereaksi, namun insting bertarungnya membuat dia berhasil menghindar di detik terakhir. Ujung katana hanya menggores udara di sampingnya.
Pertarungan pun meledak.
Ryujin menyerang balik, berusaha meraih dan merobek penutup wajah lawannya, namun sosok itu bergerak terlalu cepat. Setiap gerakannya presisi, seperti sudah membaca alur serangan sejak awal.
“Orang ini.. kuat sekali,” batin Ryujin.
Dia kemudian melepaskan api biru, menyapu area di sekitarnya dengan ledakan panas yang membakar udara.
“Menyerahlah!” teriak Ryujin.
Namun sosok berjubah itu hanya tertawa kecil.
“Siapa kau.. berani mengaturku?”
“Baiklah kalau begitu terima ini” jawab dingin Ryujin.
Aura kekuatan meledak dari tubuhnya. Katana di tangannya bersinar terang, dialiri energi sihir yang jauh lebih padat dari sebelumnya.
Dalam sekejap, dia melesat.
Kecepatan itu melampaui reaksi normal. Ryujin sempat menahan, namun tebasan demi tebasan mulai mengenai tubuhnya. Luka kecil berubah menjadi tekanan besar yang membuatnya kehilangan keseimbangan.
“Ugh…!” Ryujin menggeram, mencoba bertahan.
Namun akhirnya, Katana di tangannya terlepas, jatuh ke tanah.
“Sudah berakhir,” suara dingin itu terdengar.
Sosok berjubah hitam emas itu mengangkat katananya. Asap hitam mulai menyelimuti bilah katana, membentuk tekanan sihir yang menyesakkan udara. Dalam satu gerakan cepat, dia melesat untuk menusuk Ryujin.
Serangan itu meluncur.
“Ryujin, mundur!”
Yua melesat dari sisi langit yang lain. Tanpa ragu sedikit pun, dia memotong jalur serangan itu dan membentuk lapisan sihir tipis namun padat di depan Ryujin.
BOOM!
Benturan keras mengguncang udara. Lapisan sihir Yua hancur sebagian, tetapi cukup untuk menggeser arah serangan sehingga tidak langsung menembus Ryujin.
Namun Yua tidak berhenti di situ.
Dalam satu gerakan cepat, dia menarik Ryujin ke belakangnya, menggantikan posisi itu sepenuhnya. Kini dialah yang berdiri di garis depan, berhadapan langsung dengan serangan berikutnya.
Tepat saat itu, tekanan kekuatan lawan kembali meningkat. Yua mengangkat tangannya, membentuk teknik bayangan yang belum sepenuhnya sempurna, tetapi cukup untuk menahan ruang di sekitarnya.
Pria jubah hitam emas itu mengamati Yua.
Matanya sedikit membesar.
"Gadis itu. Dia tidak ragu sama sekali untuk berdiri di depan serangan mematikan seperti itu.”gumamnya pelan, nyaris tak percaya.
Tatapannya tetap mengikuti Yua yang berdiri tegak melindungi Ryujin, meski tekanan sihir di sekelilingnya terus meningkat.
“Keberanian tanpa perhitungan berlebihan.. bukan, ini bukan sekadar nekat.”
Genjiro terdiam sejenak, lalu ekspresinya berubah lebih serius sekaligus sedikit terpana.
“Dia benar-benar melindungi orang lain, bahkan ketika dirinya sendiri berada dalam bahaya paling besar.”
Tepat saat serangan itu hendak mengenai Ryujin. Yua muncul didepan Ryujin dan tubuhnya tertusuk dalam sekejap.
“Tidak!!” teriak Ryujin.
Namun sebelum emosi sempat menguasai keadaan, sosok itu menghilang dalam cahaya, seperti bayangan yang lenyap tanpa jejak.
"Dia melarikan diri!." ucap Ryujin
Dan di detik berikutnya,
“Tenang saja,” suara Yua terdengar dari depan Ryujin.
“...Teknik bayangan,” lanjut Yua santai.
Sosok yang tertusuk tadi hanyalah tiruan.
“Aku kira kau benar-benar..” suaranya tercekat.
Yua terdiam sejenak, lalu mendengus pelan. “Kita harus saling melindungi satu sama lain.”
Master Seijun tiba di tempat itu bersama Haru.
“Siapa dia?” tanya Master Seijun tajam.
“Maaf, Master. Sayangnya aku tidak berhasil merobek penutup wajahnya, maaf Master. Sepertinya dialah pemimpinnya." jawab Ryujin.
Haru mengerutkan kening. “Ini terlalu terencana.. mereka datang, menyerang, lalu menghilang begitu saja.”
Lalu wajahnya berubah tegang.
“Gawat! kita meninggalkan Makhluk Kutukan sendirian.”
Mereka bergegas kembali ke Aula Sihir.
Namun kekhawatiran itu menjadi kenyataan.
Ruang segel telah hancur. Dinding penghalang sirna. Dan kini Makhluk Kutukan Harimau Putih telah hilang tanpa jejak.
“Siapa yang membantu dia keluar?” gumam Yua tajam.
Haru mengepalkan tangan. “Serangan di istana.. Makhluk itu hilang di saat yang sama. Ini bukan kebetulan.”
Master Seijun terdiam lama, matanya mengeras.
“Apa ada.. orang lain di balik semua ini?”
---
Di sisi lain, di dalam sebuah ruangan tenang di istana, Tuan Yamato duduk dengan santai sambil menikmati secangkir teh hangat. Uap tipis perlahan naik dari cangkirnya, kontras dengan suasana luar yang sedang kacau oleh serangan mendadak.
Dia tampak seolah sedang menunggu sesuatu atau seseorang. Tak lama kemudian, ketukan terdengar di pintu.
Tok… tok…
Jinsei segera melangkah dan membuka pintu.
Di ambang pintu, Kazura berdiri dengan sikap tenang. Dia langsung memberi hormat singkat tanpa banyak kata.
“Selamat datang Kazura,” sambut Tuan Yamato dengan nada ringan namun penuh kendali, seolah kehadiran itu memang sudah dia perkirakan sejak awal.
Kazura tidak menjawab panjang. Dia hanya melangkah masuk, lalu tanpa basa-basi melepaskan cincin yang tersemat di jarinya dan meletakkannya di atas meja.
“Cukup kau serahkan ini kepada Master Genjiro,” ucap Kazura datar.
Ruangan itu hening sesaat.
Tuan Yamato menatap cincin tersebut beberapa detik, lalu dengan tenang mengambilnya dan memasukkannya ke dalam sebuah kotak kecil khusus, seolah benda itu memang sudah menjadi bagian dari rencana yang lebih besar.
Kazura kemudian memberi hormat singkat, lalu berbalik dan meninggalkan ruangan tanpa menoleh kembali.
Begitu pintu tertutup, Jinsei mengambil kotak itu dan mengangkatnya sedikit, senyum tipis muncul di wajahnya.
“Sekarang.. mereka tidak akan mendapatkan jawaban apa pun.” gumam Jinsei pelan
Senyumnya melebar sedikit.
“Hahaha..”