Selama dua puluh tahun, Aisha mengira dia adalah gadis paling beruntung karena diadopsi oleh keluarga kaya. Namun, segalanya berubah saat anak kandung keluarga tersebut, Clara, yang sempat hilang, akhirnya ditemukan. Seketika, posisi Aisha bergeser menjadi "pembantu" tak kasat mata.
Puncaknya terjadi ketika Clara terjerat hutang miliaran rupiah pada jaringan mafia kejam akibat gaya hidupnya yang liar. Enggan mengorbankan putri kandung mereka, orang tua angkat Aisha tega menumbalkannya. Aisha dipaksa menikah dengan Devan Alister, putra mahkota dari keluarga mafia terbesar sekaligus CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Aisha mengira hidupnya akan berakhir di neraka. Devan menyambutnya dengan tatapan tajam dan peringatan keras agar Aisha tidak berharap lebih dari pernikahan kontrak ini. Namun, di balik sikap galak dan dinding es yang dibangun Devan, perlahan Aisha menemukan sisi lain dari sang CEO, kepedulian diam-diam yang mulai mengikis luka di hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arraziq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cari Muka
Langkah kaki Catherine terdengar halus di atas jalan setapak batu menyusuri taman belakang. Wanita muda itu tampil sangat mempesona dengan gaun terusan warna soft pink yang pas di tubuhnya, dipadukan dengan selendang sutra tipis. Di tangannya, dia membawa sebuah kotak kayu berukir indah, kotak obat herbal langka yang disebutkan Pak Usman tadi.
Namun, begitu Catherine melangkah masuk ke dalam gazebo kaca, senyuman manis di wajahnya sempat membeku sejenak saat melihat Devan duduk sangat rapat di samping Aisha, dengan tangan Devan yang masih merengkuh santai bahu istrinya.
"Selamat pagi, Madam Rosalia," sapa Catherine cepat menguasai ekspresinya, membungkuk sopan dan penuh kehangatan.
"Maafkan saya jika kedatangan saya yang mendadak ini mengganggu waktu istirahat Anda."
Madam Rosalia menyandarkan tubuhnya di kursi rotan, menatap Catherine dengan binar mata seorang nyonya tua yang penuh perhitungan.
"Selamat pagi, Catherine. Senang melihatmu, tapi bukankah kamu seharusnya berada di Singapura mengurus persiapan peresmian proyek minggu depan?"
Catherine tersenyum anggun, meletakkan kotak kayu itu di meja.
"Ayah saya sengaja mengutus saya kembali ke Jakarta pagi ini untuk menyerahkan dokumen amandemen investasi secara langsung kepada Devan, Madam. Sekaligus, Ayah menitipkan racikan ginseng langka ini dari kedutaan khusus untuk kesehatan Anda."
"Terima kasih atas perhatian ayahmu," sahut Madam Rosalia datar, hanya melirik kotak obat tersebut tanpa niat menyentuhnya.
"Tapi seperti yang kamu lihat, hari ini adalah hari keluarga. Cucu dan cucu menantuku sedang berkunjung."
Catherine melirik Aisha yang duduk tenang di samping Devan. Tatapan matanya berkilat tipis sebelum dia melemparkan senyuman formal.
"Tentu saja, Madam. Selamat pagi, Devan, Aisha."
"Selamat pagi, Nona Catherine," balas Aisha halus, suaranya tetap tenang dan bermartabat, meski ada sedikit rasa tidak nyaman yang merayap di dadanya.
Devan tidak menyambut sapaan itu dengan kehangatan sedikit pun. Mata elangnya menatap Catherine dengan sangat dingin.
"Catherine, jika ini soal berkas amandemen Lim Corporation, kamu bisa menyerahkannya pada Asisten Arya di kantor besok pagi. Kamu tidak perlu repot-repot menyusulku sampai ke rumah Nenek." Tegas Devan dengan sangat dingin.
Mendengar teguran langsung dan dingin dari Devan, sudut bibir Catherine sedikit menegang. Namun, sebagai putri dari keluarga pebisnis kelas atas, ketahanannya cukup tebal.
"Maafkan aku, Devan. Berkas ini memiliki hal rahasia yang meminta persetujuan langsung darimu sebelum draf utamanya dicetak malam ini," kilah Catherine santai, lalu menarik sebuah kursi rotan kosong di seberang meja tanpa ragu.
"Lagipula, aku pikir tidak ada salahnya menyapa Madam Rosalia sebentar."
Madam Rosalia menyesap tehnya perlahan, memperhatikan alur di antara ketiga anak muda di depannya. Beliau tidak mengusir Catherine, namun tidak juga memberinya panggung.
"Karena kamu sudah di sini, Catherine," suara Madam Rosalia memecah ketegangan.
"Kami tadi sedang membahas rencana pembangunan Risa Dirgantara Foundation yang dirancang oleh Aisha. Sebuah yayasan seni dan rumah singgah untuk anak-anak panti asuhan."
Catherine menaikkan alisnya, melirik map rancangan yayasan di atas meja.
"Ah... kegiatan amal?" tanyanya dengan nada halus, namun tersirat kesan meremehkan yang sangat tipis.
"Sangat mulia sekali, Aisha. Di lingkaran pebisnis Singapura, para istri pejabat memang sering mengisi waktu luang mereka dengan proyek-proyek kemanusiaan seperti ini untuk pengalihan pajak atau sekadar kegiatan sosial."
Mendengar kalimat 'mengisi waktu luang', rahang Devan seketika menegang keras. Dia hendak bersuara, tetapi Aisha memegang pelan lutut Devan di bawah meja, menghentikan suaminya.
Aisha menatap Catherine dengan senyuman yang sangat anggun dan mata yang jernih.
"Ini bukan sekadar pengisi waktu luang bagi saya, Nona Catherine," sahut Aisha tegas namun tetap menjaga kesopanan tingginya.
"Yayasan ini adalah amanah dan peninggalan dari almarhum orang tua saya. Bagi Alister Group, ini mungkin proyek non-profit, tapi bagi saya dan Devan, ini adalah investasi masa depan untuk jiwa anak-anak yang membutuhkan."
Madam Rosalia menyunggingkan senyum tipis yang sangat puas mendengar jawaban Aisha.
Wanita tua itu mengangguk-angguk kecil.
"Benar sekali. Dan aku sendiri yang akan memimpin lelang koleksi lukisan kunoku untuk mendanai pembangunan utamanya."
Wajah Catherine mendadak berubah kaku. Dia tidak menyangka bahwa Madam Rosalia, yang terkenal sangat selektif dan sulit disentuh, turut campur dan turun tangan secara pribadi dalam proyek milik Aisha.
"M-Maksud saya... itu sangat luar biasa, Madam," aku Catherine agak terbata, menyadari bahwa dia baru saja salah melangkah di depan sang Nyonya Besar Alister.
"Ya, sangat luar biasa," potong Devan dingin, berdiri dari kursinya lalu mengulurkan tangan pada Aisha.
"Nenek, berkas yayasan ini sudah kita bahas semua. Udara di luar mulai agak dingin, aku ingin mengajak Aisha jalan-jalan di taman bunga mawar sebentar."
Madam Rosalia melambaikan tangannya pelan.
"Pergilah. Bawa cucu menantuku menikmati taman."
"Mari, Nenek, Nona Catherine," pamit Aisha sopan seraya menerima genggaman tangan Devan.
Devan menuntun Aisha melangkah keluar dari gazebo kaca tanpa berpaling lagi pada Catherine.
Di dalam gazebo, Catherine mengepalkan tangannya rapat-rapat di bawah meja. Rasa hangat dari sambutan Madam Rosalia pada Aisha, serta sikap dingin Devan yang begitu protektif pada istrinya, membakar rasa dengki yang mulai membesar di dalam dadanya.
Saat Devan dan Aisha menyusuri jalan setapak di antara hamparan bunga mawar merah, Devan menghentikan langkahnya dan menggenggam kedua tangan Aisha.
"Maafkan aku soal kedatangan Catherine tadi," kata Devan pelan, matanya menatap Aisha penuh rasa penyesalan.
Aisha mendongak, tersenyum tulus.
"Tidak apa-apa, Devan. Aku tahu dia datang untuk urusan pekerjaan, walau mungkin ada alasan lain."
Devan terkekeh pelan, menundukkan wajahnya dan mengecup kening Aisha dengan durasi yang lama.
"Dia tidak akan pernah punya kesempatan, Aisha. Bagiku, di dunia ini cuma ada kamu."
Namun, di balik kehangatan taman bunga mawar Bogor siang itu, sebuah berkas kerja sama yang dibawa Catherine dari Singapura ternyata menyimpan hal khusus yang sengaja dirancang untuk memaksa Devan meninggalkan Jakarta dalam waktu dekat.