Beberapa hubungan berakhir bukan karena rasa cinta yang pudar, melainkan karena rahasia yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.
Diputus sepihak oleh Putri membuat Alex terjebak dalam labirin pertanyaan tanpa jawaban. Rasa patah hati membawanya pada titik terendah, memaksa Alex merangkak bangkit dan menata ulang takdirnya lewat kata demi kata yang ia tulis.
Kehadiran Syafa seperti cahaya senja yang tenang—menghangatkan hatinya yang beku dan membantunya menyembuhkan luka. Namun, saat batas antara masa lalu dan masa depan semakin kabur, Alex dihadapkan pada kenyataan pahit yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Setelah Kata Usai" adalah perjalanan emosional tentang bagaimana menyembuhkan diri dari pengkhianatan, memahami arti melepaskan, dan menemukan cinta sejati di tempat yang paling tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahri Sohil Munawar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12 Retak
Pagi mulai menyambut. Sinar matahari masuk melalui celah jendela tanpa izin, menyinari mata Alex yang masih tertidur. Pagi ini, tidur Alex sebenarnya lumayan nyenyak, namun mimpi semalam menyisakan kebingungan besar. Di mimpinya, ia harus memilih antara Putri atau seorang wanita lain yang wajahnya tidak bisa ia ingat sama sekali. "Apakah ini petunjuk dari Tuhan?" ucap Alex lirih dalam hati.
Tanpa menghiraukan mimpi itu, ia menjalankan rutinitas pagi: berolahraga. Ia berlari mengelilingi kompleks perumahannya. Kali ini, ia bisa berlari dengan tenang, tidak seperti satu minggu yang lalu saat ia masih dikejar-kejar bayang-bayang kejelasan hubungannya.
Selesai berolahraga, Alex membersihkan badan dan bersiap untuk kuliah. Saat di perjalanan menuju kampus, pandangannya tertambat pada pasangan baru dari kejauhan. Sosok yang dulu selalu ia jemput, kini sudah tak ia jemput lagi. Tugasnya kini telah digantikan oleh sahabatnya sendiri. Ya, pasangan itu adalah Marko dan Putri.
Meski hatinya terasa sangat sakit melihat kebersamaan mereka, Alex berusaha tegar. Ia memaksakan dirinya untuk ikhlas agar sahabatnya itu bisa merasakan kebahagiaan yang dulu pernah Alex rasakan. Sesampainya di kampus, ia sudah ditunggu oleh Umam.
"Gimana, Lex? Lo udah ikhlas?" tanya Umam khawatir. "Kalau belum, mending jangan temuin si Marko dulu deh. Gue takut emosi Lo pancing."
"Aman, Mam. Gue udah ikhlas kok. Cuma... ya, masih rada sedikit sakit aja," ucap Alex jujur.
Namun, saat mereka berdua berpapasan dengan Marko, harapan Alex untuk berdamai pupus. Marko sama sekali tidak menyapa. Ia justru memandang Umam dan Alex dengan tatapan sinis, seolah menganggap mereka berdua adalah musuh.
Karena hari masih pagi, Alex tak mau cari ribut. Ia menahan Umam yang terlihat mulai terpancing emosi.
"Santai, Mam. Udah, biarin aja," Alex menenangkan.
"Tapi ini gak bisa, Lex! Dia udah merebut pacar Lo, terus sekarang belagu!" gerutu Umam
.
"Udah, tenang, Mam. Urusan gua ntar," ucap Alex dingin.
Mereka pun masuk ke kelas untuk memulai jam pelajaran. Suasana di dalam kelas terasa sangat berbeda. Biasanya mereka bertiga selalu berkumpul, namun kali ini Marko menjauh dan membuat sirkel baru dengan teman-teman lain.
Anehnya, teman-teman sekelas yang biasanya menyapa Alex setiap pagi, kali ini memandang Alex dengan tatapan sinis dan memusuhi. Hanya Umam yang tetap berada di sisi Alex.
Alex sebenarnya mencoba menghiraukan hal itu, namun Umam merasa ada yang tidak beres. Di pikiran Umam, Marko pasti sudah menyebarkan cerita bohong ke teman-teman sekelas sampai-sampai semua menjauh dari Alex. Tapi karena melihat Alex sedang merenung, Umam mengurungkan niat untuk memprovokasi sahabatnya itu. Ia tahu kalau dia bilang sekarang, Alex pasti bakal bodo amat dan malah makin kepikiran.
Jam pulang tiba. Alex dan Umam tidak langsung pulang, melainkan mampir untuk ngopi sebentar di kafe tempat mereka biasa nongkrong. Saat itulah, Umam akhirnya menyampaikan kegelisahannya.
"Lo ngerasa gak sih, Lex? Si Andre, Kamal, Exel, sama si Vino malah lebih milih Marko daripada Lo? Mereka tahu yang terjadi sebenarnya gak sih, Lex?" ujar Umam gemas.
"Jangankan dia, gua aja gak tahu, Mam,"
jawab Alex pasrah. "Ya udah lah, biarin. Nggak ngerugiin kita juga."
Di tengah obrolan mereka, Andre tiba-tiba datang dan meminta izin untuk bergabung.
"Oy, berduaan aja. Boleh gabung nggak?" tanya Andre.
Alex hanya diam dingin dan menyeruput kopi Americano-nya, namun Umam langsung mengizinkan Andre bergabung. Tanpa basa-basi, Andre langsung membuka obrolan tentang cerita yang ia dengar dari Marko pagi tadi.
"Lex, izin nih. Gue dapat info dari si Marko. Dia bilang Lo putus sama Putri gara-gara Lo balikan sama Angel dan Lo jalan berdua?" ucap Andre.
Sontak Alex tersedak kopi Americano-nya, dan Umam kaget setengah mati mendengarnya.
"Lo dapet cerita itu dari mana?!" ucap Umam, nada bicaranya meninggi.
"Mmm... itu kata si Marko tadi. Dia cerita gitu ke anak-anak, makanya anak-anak ngejauhin Lo, Lex. Di mata anak-anak sekarang, Lo itu gila cewek, padahal belum selesai hubungan Lo sama Putri. Marko juga ngasih bukti foto..." Andre ragu sejenak. "...Foto tangan Lo sama Angel, pake gelang couple Lo sama Putri dulu."
Mendengar cerita tersebut, emosi Alex meledak. Tangan kepal erat, bayangan pukulan sudah melayang di kepalanya. Mungkin kalau Marko ada di depannya saat ini, wajahnya sudah habis babak belur dipukul Alex.
Fakta ini terlalu menyakitkan. Marko tidak hanya merebut, tapi juga memutarbalikkan fakta dengan fitnah kejam dan bukti palsu dari masa lalu. Tanpa bicara sepatah kata pun, Alex langsung bangkit dari kursinya dan cabut dari kafe untuk mencari sosok yang paling ia benci saat ini. Umam dan Andre panik dan langsung mengejarnya dari belakang.
Mungkin alam memang berpihak pada kemarahan Alex. Pas di jalan, Marko dan Putri melintas di hadapan mereka. Sontak Alex langsung mengejar motor mereka. Marko, yang menyadari dirinya dikejar Alex, pun berhenti dan niat mau menanyakan ada apa. Namun, sebelum Marko sempat membuka mulut, sebuah pukulan keras sudah mendarat di wajahnya.
BRUGG!
"Maksud Lo apa, bangsat?!" teriak Alex, emosinya sudah tidak terkontrol.
Tergulirlah perkelahian di pinggir jalan. Putri berteriak histeris berusaha memisahkan, dibantu oleh Umam dan Andre yang mencoba menarik Alex.
"Woy, anak anjing! Lo nggak usah ganggu gua lagi, bangsat! Dan Lo nggak usah ngajak ribut pacar gua!" teriak Putri dengan nada histeris, menunjuk Alex dengan wajah penuh amarah.
"Gua nggak peduli! Gua benci sama Lo, Lex! Kalau Lo belum bisa lupain masa lalu Lo, nggak usah pacaran lagi ya, anjing! Sakit hati gua, bangsat! Cuma Marko yang bisa nenangin gua!"
Ucapan Putri benar-benar menusuk hati Alex. Rasa sakit dikhianati dan fitnah Marko bercampur dengan ucapan kasar Putri, membuat akal sehat Alex hilang. Karena kepalang emosi dan tidak terima dengan kata-kata kasar Putri, Alex melayangkan pukulan ke arah Putri.
Pukulan itu nyaris mendarat, namun beruntung atau sial Marko dengan sigap menangkisnya. Alex, yang tidak siap dengan tangkisan itu, terhuyung, dan Marko langsung membalas dengan pukulan telak ke bagian perut yang membuat Alex langsung terkapar di tanah, mengerang kesakitan.
Sambil berdiri di atas tubuh Alex yang terkapar, Marko dengan nada tinggi melontarkan kata-kata menyakitkan.
"EH, BEGO! NGAPAIN LO MAU MUKUL PUTRI? LO LAKI TAPI SAMA CEWEK BERANINYA? GAK USAH BELAGU JADI PAHLAWAN KESIANYAN YA, ANJING! PUTRI SEKARANG CEWEK GUA, BUKAN CEWEK LO LAGI! GUA YANG BAKAL JAGA DIA, BUKAN SAMPAH KAYA LO!"
Setelah meluapkan amarahnya, Marko menggandeng tangan Putri yang sudah menangis dan meninggalkan mereka bertiga. Umam sebenarnya mau membalas, tapi ia melihat Putri sudah menangis histeris. Ia memilih untuk membiarkan mereka pergi dan lebih fokus membantu Alex yang masih kesakitan.
"Sabar, Lex. Besok kita balas si Marko itu," kata Umam, mencoba menenangkan Alex.
Tanpa disadari oleh Alex, Umam, dan Andre, sedari tadi ada seorang sosok wanita yang mengawasi mereka dari kejauhan. Tanpa sengaja juga, Alex sempat melihat sosok tersebut. Meskipun pandangannya kabur, hatinya berdegup kencang. Ia tak bisa mengenali siapa wanita itu.
Apakah itu Angel? Apa maksud Angel dari semua ini?
Padahal, empat tahun lalu, Angel-lah yang meninggalkan Alex demi cowok yang ia sukai saat itu. Apakah ini semua ulah Angel?
judul dan tagar tidak nyambung " dusta yang sempurna" tema balas dendam, romansa fantasi tapi deskripsi nya hanya berbicara putus cinta dan trauma tidak ada unsur kebohongan, fantasi, atau persaingan.
tidak memancing penasaran.
kurang emosi yang terasa
dan cover tulisan belum menyatu
kurang memikat mata
belum ada menggambar isi cerita