Menumpahkan es kopi ke baju Kenzo—si cowok genius anak pemilik yayasan—di hari pertama sekolah adalah awal dari bencana bagi Callista. Apalagi setelah mereka dipaksa jadi ketua dan sekretaris kelas. Perang dingin pun pecah, namun percikan benci perlahan berubah jadi cinta.
Sayangnya, realitas menghantam keras. Kenzo adalah seorang Kristen taat, sementara Callista beragama Buddha. Mereka sadar, sekuat apa pun perasaan itu, ada tembok keyakinan yang mustahil diseberangi.
Di saat hubungan itu mulai retak, ada Sean. Sahabat masa kecil Callista yang diam-diam memendam rasa, yang selalu menemaninya ke Vihara, dan memegang kunci dari doa yang sama di altar yang sama.
Ketika melangkah maju hanya menabrak dinding, akankah Callista tetap bertahan pada Kenzo, atau berbalik arah pada sahabat yang selama ini selalu berjalan seiringan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Langit Kampus Kent Ridge
Pagi di kampus National University of Singapore (NUS) diawali oleh deru halus bus kampus yang melintas di antara pepohonan rindang. Kompleks Kent Ridge yang seluas puluhan hektar itu tampak megah dengan perpaduan arsitektur kaca modern dan lanskap hijau teratur. Bagi Callista dan Kenzo, hari pertama lokakarya intensif di ruang seminar utama Faculty of Arts and Social Sciences menghadirkan ritme belajar yang jauh lebih cepat dibanding yang biasa mereka jalani di SMA Wijaya.
Di dalam ruangan berundak yang luas itu, pendingin udara berembus dingin. Puluhan delegasi dari sepuluh negara Asia duduk menghadap podium utama, tempat Dr. Eleanor Vance—seorang profesor dalam bidang Kebijakan Publik—sedang memberikan kuliah pengantar.
"Kepemimpinan di Asia tidak lagi hanya soal angka pertumbuhan ekonomi," tegas Dr. Vance dengan bahasa Inggris bersenandung aksen Britania yang fasih. "Kalian di sini ditantang untuk merancang solusi konkret bagi ketimpangan sosial dan isolasi antargenerasi. Setiap kelompok akan digabungkan dengan delegasi dari negara lain untuk menyelaraskan gagasan kalian."
Sesi pembagian kelompok pun dimulai. Callista dan Kenzo yang mewakili Indonesia digabungkan dengan dua delegasi lain: Mei-Ling, siswi berpenampilan serba rapi dari Raffles Institution Singapura, serta Hiroto, siswa dari Tokyo yang memiliki latar belakang kuat di bidang analisis data.
Empat remaja itu berkumpul mengelilingi meja bundar kecil di sudut ruangan.
"Gue udah baca sekilas draf proposal kalian dari Indonesia," ujar Mei-Ling membuka percakapan dengan nada tegas dan efisien. "Pendekatan 'Bridge of Generations' kalian untuk lansia sangat humanis. Tapi kalau mau diterapkan dalam skala regional, kalian butuh sistem integrasi data yang lebih terstruktur."
Hiroto mengangguk setuju sambil menggeser tabletnya. "Saya bisa bantu merancang algoritma pemetaan kebutuhan lansia berdasarkan zonasi tempat tinggal."
Callista tersenyum ramah, merespons gagasan kedua rekan barunya. "Itu penyempurnaan yang sangat bagus, Mei-Ling, Hiroto. Konsep utama kami memang fokus pada ikatan emosional dan pendampingan sosial, jadi integrasi data dari kalian bakal bikin proyek ini jauh lebih realistis."
Kenzo menimpal dengan lugas, menyusun pembagian tugas kelompok dengan sangat teratur. "Artinya, kita bagi dua fokus utama: Callista dan Mei-Ling menyusun indikator dampak sosial serta kurikulum pendampingan, sementara saya dan Hiroto menyelesaikan arsitektur sistem dan estimasi alokasi sumber daya."
Kerja sama lintas negara itu berjalan sangat dinamis. Di bawah bimbingan Kenzo dan Callista, perbedaan latar belakang dan pendekatan tidak menjadi hambatan, melainkan kekayaan ide yang saling melengkapi.
Saat jam istirahat makan siang tiba, para peserta berjalan menuju area kantin The Deck yang luas. Bau harum hidangan khas Asia—mulai dari Hainanese chicken rice, laksa, hingga roti prata—memenuhi udara.
Callista dan Kenzo membawa baki makan siang mereka menuju meja kayu panjang di tepi balkon luar yang menghadap ke arah bukit hijau kampus.
"Gimana impresi hari pertama lo, Cal?" tanya Kenzo seraya meletakkan cangkir teh tariknya.
Callista meminum air mineralnya perlahan, lalu tersenyum puas. "Menantang banget, Nzo. Cara pandang Mei-Ling sama Hiroto bener-bener ngebuka wawasan baru. Gue ngerasa proposal kita berkembang jauh lebih cepat di sini."
Kenzo mengangguk pelan. "Itu karena dasar yang lo bangun dari awal udah kuat, Callista. Lo punya kepekaan sosial yang gak semua orang punya."
"Makasih, Kenzo," balas Callista tulus. Ia menatap Kenzo yang sedang merapikan beberapa catatan di buku agendanya. "Lo sendiri gimana? Bimbingan mandiri dari persiapan universitas lo lancar?"
Kenzo terdiam sejenak. Sorot matanya menatap kejauhan, ke arah bayangan gedung-gedung tinggi Singapura yang membias di balik pepohonan. "Bapak tetap minta laporan berkala setiap malam. Tapi berada di sini, fokus sama proyek ini, bikin gue merasa punya ruang buat bernapas dari tekanan itu."
Callista menatap Kenzo dengan empati yang mendalam. Ia paham betul bahwa di balik ketenangan luar biasa yang selalu diperlihatkan Kenzo, ada beban ekspektasi besar yang harus dipikul cowok itu sendirian.
"Lo berhak menikmati proses ini, Kenzo," tutur Callista pelan dan hangat. "Lo gak harus selalu memikirkan langkah sepuluh tahun ke depan. Hari ini, lo udah melakukan yang terbaik."
Kenzo menoleh, menatap Callista dengan tatapan teduh. Dinding pertahanan dingin yang biasanya ia bangun di hadapan orang lain perlahan mencair. "Terima kasih, Callista. Kata-kata lo selalu bisa bikin semuanya terasa lebih ringan."
Sore harinya, setelah sesi diskusi kelompok pertama selesai pukul lima sore, hujan gerimis tipis menyiram kawasan Kent Ridge. Bau segar dedaunan basah menyeruak di udara sore yang sejuk.
Callista berjalan sendirian menuju koridor pelataran perpustakaan utama NUS, menunggu jemputan bus asrama. Ia merogoh saku blazernya, mengeluarkan ponsel, dan mendapati sebuah pemberitahuan pesan masuk.
Sean: Gimana hari pertama di NUS, Bu Perwakilan? Jangan lupa makan siang, di sana makanannya cocok gak sama lidah lo?
Callista tersenyum manis, jemarinya bergerak cepat membalas pesan tersebut.
Callista: Lancar banget, Sean! Tadi cobain chicken rice di kantin kampus, enak tapi tetep kangen sambal buatan rumah haha. Diskusi kelompoknya seru banget!
Tak butuh waktu lama, ponselnya bergetar kembali. Kali ini sebuah foto masuk.
Foto itu memperlihatkan lapangan basket SMA Wijaya di Jakarta yang basah setelah diguyur hujan sore. Di tengah lapangan, Sean berdiri memegang bola basket dengan kaos tim yang basah oleh keringat, menyunggingkan senyum leburnya ke arah kamera.
Sean: Lapangan Wijaya lagi basah nih. Sepi gak ada yang nungguin di pinggir lapangan sambil minum teh botol. Cepat pulang ya, Bu Perwakilan. Doa gue selalu ikut terbang ke sana.
Membaca pesan dan melihat foto sederhana itu, dada Callista berdesir hangat. Air mata haru hampir menyelinap di sudut matanya. Di tengah megahnya kampus internasional dan persaingan ketat para calon pemimpin muda Asia, kepedulian tulus dan kehadiran Sean adalah rumah yang tidak pernah bergeser sedikit pun dari jiwanya.
Callista meremas kantong kain merah pemberian Mama Sean yang selalu tersimpan rapi di dalam tasnya. Ia menatap langit sore Singapura yang perlahan berubah menjadi keunguan.
Ia tahu, perjalanan karantina dan lokakarya ini masih panjang. Tantangan persaingan akan makin ketat di hari-hari mendatang. Namun dengan keteguhan hati, sinergi hebat bersama Kenzo, dan doa tulus yang selalu dikirimkan Sean dari seberang lautan, Callista siap melangkah lebih jauh mengejar impian masa depannya.