Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.
Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.
Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: KAMPUS DIGEGERKAN KABAR ITU
Ruang seminar lantai dua dipenuhi mahasiswa dari dua kelas paralel, kursi kursi tersusun rapi menghadap layar proyektor besar tempat setiap kelompok akan mempresentasikan hasil kerja mereka. Kirana berdiri di depan bersama anggota kelompoknya, jantungnya berdebar kencang menatap deretan wajah yang menunggu, termasuk beberapa dosen penguji tambahan yang duduk di barisan depan.
"Kir, kamu udah siap kan?" bisik Nadia, menyenggol lengannya pelan sebelum giliran kelompok mereka tiba.
"Siap, semoga aja lancar," jawab Kirana, menarik napas dalam dalam untuk menenangkan diri.
Kelompok sebelum mereka baru saja selesai presentasi, dan sekarang giliran kelompok gabungan Kirana yang dipanggil maju ke depan. Mereka berjalan bersama, menempati posisi masing masing sesuai pembagian tugas presentasi yang sudah mereka latih semalam.
"Selamat pagi," Kirana membuka presentasi, suaranya lebih mantap dari yang dia kira, mengingat persiapan matang yang sudah mereka lakukan meski di tengah tekanan waktu yang singkat. "Kami akan mempresentasikan hasil analisis strategi ekspansi bisnis untuk studi kasus yang diberikan."
Presentasi berjalan lancar, setiap anggota kelompok menyampaikan bagiannya dengan percaya diri, hasil dari kerja keras dan pembagian tugas yang lebih adil setelah kejadian di toilet kemarin. Kirana menyampaikan bagian analisis finansialnya dengan detail, menjawab beberapa pertanyaan dari dosen penguji dengan lancar.
Di barisan depan, Alden duduk sebagai salah satu penguji, wajahnya menunjukkan ekspresi profesional seperti biasa, meski sesekali Kirana bisa menangkap kilasan kebanggaan di matanya ketika mendengarkan presentasi mereka yang berjalan begitu baik.
"Pertanyaan terakhir," salah satu dosen penguji lain angkat bicara setelah presentasi selesai, "bagaimana kalian mempertimbangkan risiko fluktuasi ekonomi makro dalam proyeksi lima tahun ini?"
Kirana yang bertanggung jawab atas bagian itu maju sedikit, menjelaskan dengan percaya diri. "Kami sudah memasukkan sensitivity analysis untuk tiga skenario ekonomi, optimis, moderat, dan pesimis, dengan mempertimbangkan variabel inflasi dan suku bunga acuan."
Jawaban itu tampak memuaskan dewan penguji, dan setelah beberapa pertanyaan tambahan, sesi presentasi kelompok mereka pun berakhir dengan hasil yang terlihat memuaskan dari raut wajah para penguji.
"Terima kasih atas presentasinya," kata dosen penguji utama, mengangguk puas. "Hasil kerja kalian cukup komprehensif."
Kelompok Kirana kembali ke tempat duduk mereka dengan perasaan lega, saling bertukar senyum kecil sebagai tanda syukur atas kerja keras yang akhirnya membuahkan hasil baik.
Setelah semua kelompok selesai presentasi dan sesi seminar resmi ditutup, suasana ruang seminar berubah menjadi lebih santai, mahasiswa mulai berbincang bincang sambil menunggu pengumuman hasil resmi yang akan diumumkan minggu depan.
Kirana sedang merapikan laptopnya ketika dia mendengar bisik bisik ribut di sudut ruangan, beberapa mahasiswa berkumpul mengelilingi seseorang yang tampak sedang menunjukkan sesuatu di layar ponselnya.
"Woy, ada yang liat ini nggak?" salah satu mahasiswa berseru, menunjukkan layar ponselnya ke teman temannya, suaranya cukup keras untuk terdengar oleh sebagian besar ruangan.
Kirana penasaran, mendekat bersama Nadia dan Dinda untuk melihat apa yang sedang menjadi pusat perhatian itu. Di layar ponsel yang ditunjukkan, terpampang sebuah postingan media sosial dari akun anonim kampus, berisi foto yang membuat jantung Kirana serasa berhenti.
Foto itu menampilkan dirinya dan Alden, duduk berdampingan di bangku taman pagi tadi, momen ketika mereka minum kopi bersama sebelum sesi presentasi. Meski foto itu diambil dari kejauhan dan tidak menunjukkan apa apa yang eksplisit, caption yang menyertainya cukup mengejutkan.
"Gosip terbaru: dosen killer kita ternyata deket banget sama mahasiswinya sendiri? Siapa nih yang beruntung? #KampusKita #GosipTerbaru"
"Kir," Nadia berbisik pelan, wajahnya pucat melihat foto itu, "ini kan kamu sama Pak Alden?"
Kirana merasakan dunia seolah berhenti berputar sejenak, tangannya gemetar menatap layar ponsel yang masih ditunjukkan oleh mahasiswa yang tidak dia kenal itu.
"Itu... itu cuma lagi ngobrol biasa, kok."
Tapi kata katanya tenggelam di tengah bisik bisik yang semakin ramai di sekitarnya, beberapa mahasiswa mulai memperhatikan ke arahnya dengan tatapan penasaran, bahkan ada yang mulai membisikkan namanya ke teman temannya sambil menunjuk nunjuk.
"Itu Kirana yang di foto kan? Yang jadi koordinator kelompok gabungan?" seseorang berbisik, tidak cukup pelan untuk tidak terdengar oleh Kirana sendiri.
Dinda yang berdiri di sebelah Kirana mencoba melindunginya, mengarahkan tubuhnya untuk menghalangi pandangan mahasiswa lain.
"Kir, kita keluar dari sini dulu yuk."
Tapi sebelum mereka sempat bergerak, suara riuh di ruangan semakin membesar, foto itu sepertinya sudah menyebar cepat lewat grup chat mahasiswa, membuat hampir seluruh ruangan mulai membicarakan hal yang sama.
Kirana melirik ke arah barisan depan, tempat Alden masih duduk bersama dosen penguji lain, dan menyadari raut wajah Alden yang berubah tegang begitu dia juga menyadari keributan yang terjadi di antara mahasiswa. Mata mereka bertemu sejenak dari kejauhan, dan Kirana bisa melihat kekhawatiran yang sama besarnya tercermin di wajah dosen itu.
"Kir, ayo kita keluar," Nadia menarik lengannya, mencoba membawanya menjauh dari kerumunan yang semakin ramai membicarakan foto itu.
Mereka berjalan cepat menuju pintu keluar, tapi bisik bisik dan tatapan penasaran terus mengikuti langkah Kirana sepanjang jalan, membuat dia merasa seperti berada di bawah sorotan yang tidak pernah dia inginkan.
Begitu sampai di koridor yang lebih sepi, Kirana berhenti sejenak, bersandar ke dinding sambil mencoba menenangkan napasnya yang terasa berat. "Nad, gimana ini? Kalau ini beneran nyebar ke mana mana..."
"Kir, tenang dulu," Nadia mencoba menenangkan, meski suaranya sendiri terdengar khawatir. "Foto itu kan cuma nunjukkin kalian lagi minum kopi bareng. Nggak ada yang aneh aneh keliatannya."
"Tapi caption-nya, Nad. Itu udah bikin orang mikir macem macem," Kirana menjawab, suaranya mulai bergetar menahan panik yang mulai menguasai pikirannya.
Tesa yang baru saja mendengar kabar itu dari mahasiswa lain berlari mendekat, wajahnya penuh kekhawatiran begitu melihat kondisi Kirana. "Kir! Aku baru denger, kamu nggak apa apa?"
"Aku takut, Tes," Kirana akhirnya mengakui, air matanya mulai menggenang menahan berbagai emosi yang bercampur aduk. "Kalau ini beneran jadi masalah besar, gimana nasib Pak Alden? Gimana nasib aku sebagai mahasiswa?"
Tesa merangkulnya erat, mencoba memberikan ketenangan meski situasi yang mereka hadapi terasa begitu tidak pasti. "Kita cari cara buat ngatasin ini bareng bareng, Kir. Kamu nggak sendirian."
Dari kejauhan, Kirana melihat Alden keluar dari ruang seminar, wajahnya terlihat tegang saat berjalan cepat menuju arah ruang dosen, sepertinya berusaha menjauh dari keramaian yang mulai terbentuk di sekitar ruang seminar. Sebelum menghilang di balik pintu, dia sempat melirik sekilas ke arah Kirana, dan dalam tatapan singkat itu, Kirana bisa melihat campuran antara kekhawatiran mendalam dan permintaan maaf yang tidak terucap.
Kabar itu terus menyebar cepat sepanjang siang, dari satu grup chat ke grup chat lain, dari satu mulut ke mulut lainnya, mengubah apa yang seharusnya menjadi hari kebanggaan atas presentasi yang sukses menjadi hari yang penuh kecemasan dan ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi selanjutnya, baik bagi Kirana maupun bagi Alden yang reputasinya sebagai dosen kini dipertaruhkan oleh sebuah foto yang diambil tanpa mereka sadari sepenuhnya.