NovelToon NovelToon
Aversion To You

Aversion To You

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Dark Romance / Cintapertama
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan Aurora dengan Jonathan Carser—menjadi neraka saat ia menjadi korban pengkhianatan dan manipulasi.

Puncaknya, ia dipaksa menghadapi keraguan sang suami atas bayi laki-laki nya yang terlahir dengan paras begitu mirip dengan mantan kekasih masa lalunya, Braxley Valerio-Desmon.

Ketika kebenaran mulai terkuak dan Jonathan semakin brutal meluapkan amarahnya, Siapkah Aurora menghadapi kenyataan pahit, menerima kebenaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

002

Ruangan privat di restoran The Obsidian itu terasa begitu menyesakkan, meski sistem pendingin udaranya bekerja sempurna.

Lampu kristal yang menggantung di tengah ruangan membiaskan cahaya keemasan yang mewah, namun bagi Aurora, cahaya itu terasa seperti lampu interogasi yang memanjangkan bayang-bayang ketakutannya.

Di seberang meja bundar itu, duduklah pria yang pernah menjadi seluruh dunianya.

Braxley Valerio-Desmon.

Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang melekat sempurna pada bahunya yang lebar. Rambutnya ditata rapi ke belakang, mempertegas rahangnya yang kokoh dan garis wajahnya yang semakin matang. Namun, yang paling menyakitkan bagi Aurora bukanlah penampilannya, melainkan matanya.

Mata biru kelabu yang dulu selalu berbinar dan mencari sosok Aurora di tengah keramaian high school hingga jenjang universitas, kini telah tiada.

Saat mata mereka bersinggungan, Braxley hanya menatapnya dengan pandangan dingin, kosong, dan asing—seolah Aurora hanyalah sekadar ornamen di ruangan itu, atau mungkin hanya istri dari kolega bisnis yang membosankan.

Tidak ada sapaan hangat, tidak ada getaran rindu, bahkan tidak ada benci yang nyata. Hanya kehampaan yang luar biasa.

Aurora menarik napas dalam-dalam, mencoba mempertahankan harga dirinya. Ia tidak akan membiarkan dirinya terlihat hancur di depan semua orang, terutama di hadapan pria yang pernah melihatnya di titik paling rapuh. Ia memaksa fokus pada pembicaraan bisnis yang mengalir.

Sebagai lulusan komunikasi bisnis di Los Angeles, istilah-istilah tentang akuisisi, merger, dan persentase saham bukanlah hal asing baginya.

"Saya rasa, perluasan pasar ke wilayah Asia Tenggara akan lebih stabil jika Desmon Group menggunakan infrastruktur logistik yang sudah dibangun oleh Carser," ujar Aurora tiba-tiba, menyela pembicaraan teknis antara Jonathan dan Clark–Asisten kepercayaan Braxley.

Jonathan tampak sedikit terkejut istrinya berani bicara, namun ia tersenyum tipis—sebuah senyuman yang menyembunyikan kekesalan.

"Istriku selalu memiliki insting yang tajam," sahut Jonathan, walau nada suaranya terdengar seperti sedang memuji pajangan yang pintar bicara.

Braxley bahkan tidak menoleh ke arah Aurora saat ia merespons. "Kita lihat datanya nanti, Clark," ucapnya singkat.

Suaranya berat dan rendah, mengirimkan gelombang nostalgia yang menyakitkan langsung ke ulu hati Aurora.

Di tengah ketegangan itu, atmosfer di dalam ruangan mendadak bergeser menjadi makin ganjil.

Di sisi kiri Jonathan, duduk Berenda—asisten pribadi suaminya. Berenda mengenakan gaun yang sedikit terlalu berani untuk acara makan malam bisnis, dan wanita itu duduk sangat dekat dengan Jonathan, menyisakan jarak yang nyaris tak bertuan.

Aurora menatap Berenda dengan perasaan campur aduk.

Berenda adalah temannya saat masa-masa sulit di tempat kerjanya dulu. Aurora pulalah yang merekomendasikan Berenda kepada Jonathan saat wanita itu membutuhkan pekerjaan beberapa bulan lalu. Namun sekarang, melihat bagaimana Jonathan sesekali berbisik pada Berenda atau bagaimana Berenda dengan cekatan menuangkan air ke gelas Jonathan sebelum Aurora sempat melakukannya, sebuah kecurigaan pahit mulai tumbuh dan menggerogoti dadanya.

"Maaf, saya izin ke toilet sebentar," ujar Berenda dengan suara lembut yang dibuat-buat, sambil melirik Jonathan dengan tatapan yang sangat dikenal Aurora: tatapan memuja.

"Tentu," jawab Jonathan halus. "Oh, sekalian saja. Saya dengar restoran ini baru saja mendatangkan Vintage Bordeaux dari tahun 2005. Aku akan pergi ke gudang anggur mereka sebentar untuk memastikan mereka menyajikannya dengan benar untuk tamu kehormatan kita. Braxley, kau tidak keberatan menunggu sebentar?"

Braxley hanya mengangguk kecil, masih tanpa ekspresi.

Begitu Jonathan dan Berenda melangkah keluar dari ruangan, keheningan yang mencekam langsung menyergap.

Di meja itu kini hanya tersisa Aurora, Braxley, Clark, dan seorang wanita cantik di sebelah Braxley yang sejak tadi diam mengamati.

Baxeena Valerio-Desmon.

Kakak kandung Braxley itu menatap Aurora dengan binar mata yang sangat berbeda dari adiknya.

Apartemen Xeena adalah saksi bisu bagaimana seringnya Braxley menemani Aurora sejak mereka di bangku high school. Xeena tahu segalanya—tentang tawa mereka, pertengkaran kecil, hingga kehancuran yang menyisakan luka mendalam.

"Lama tidak bertemu, Aurora," Xeena memecah kesunyian. Suaranya hangat, sangat kontras dengan aura dingin adiknya.

"Lama tidak bertemu, Kak Xeena," jawab Aurora dengan senyum kaku. Ia bisa merasakan tatapan Braxley yang kini tertuju pada gelas anggurnya, seolah benda kaca itu jauh lebih menarik daripada keberadaan Aurora di sana.

"Kau beruntung cepat menikah," Xeena melanjutkan, mencoba mencairkan suasana. "Dan kudengar juga kau baru saja melahirkan? Berita itu sampai ke telingaku."

Aurora mengangguk pelan. "Ya, baru beberapa bulan yang lalu."

"Oh, congratulations!" Xeena tersenyum tulus. "Laki-laki atau perempuan? Siapa namanya? Aku selalu membayangkan kau akan memiliki anak-anak yang cantik."

Mendengar pertanyaan itu, Aurora merasa tenggorokannya tercekat seketika. Ia sempat melirik ke arah Braxley.

Untuk sepersekian detik, tangan Braxley yang memegang batang gelas tampak menegang hebat hingga buku-buku jarinya memutih, namun wajahnya tetap keras bagaikan pahatan batu es.

"Laki-laki," jawab Aurora lirih. "Namanya... Draco."

"Draco," Xeena mengulangi nama itu dengan nada manis. "Nama yang kuat. Apakah dia mirip dengan ayahnya? Jonathan pasti sangat bangga."

Pertanyaan basa-basi itu terasa seperti sabetan sembilu bagi Aurora.

Apakah dia mirip ayahnya?

Di kepalanya, terbayang wajah Draco yang tadi terbaring kejang dan dehidrasi, wajah bayi yang memiliki bentuk mata dan garis rahang yang persis dengan pria yang kini duduk di depannya—pria yang berpura-pura tidak mengenalnya.

"Dia... dia anak yang tampan," Aurora menjawab dengan suara tersendat, sebisa mungkin menghindari jawaban tentang kemiripan.

Klunting!

Braxley tiba-tiba meletakkan gelasnya ke atas meja dengan denting nyaring yang mengejutkan.

"Kak Xeena, kita di sini untuk bisnis, bukan untuk membicarakan urusan pribadi orang lain," potong Braxley tajam, suaranya mengandung nada memperingatkan.

Xeena mendengus pelan, tidak sedikit pun gentar pada gertakan adiknya. "Ayolah, Brax. Kita sudah lama tidak bertemu Aurora. Tidak ada salahnya bertanya tentang bayinya."

Braxley akhirnya mengangkat kepalanya. Matanya yang tajam menembus lurus, memotong udara tipis di antara mereka hingga bertemu tepat dengan mata Aurora.

Untuk pertama kalinya malam itu, ada kilatan emosi di sana—bukan cinta, melainkan sesuatu yang menyerupai amarah yang ditekan sedalam mungkin di balik samudra benci.

"Nama yang bagus," ujar Braxley dingin, suaranya pelan namun menusuk. "Semoga anak itu tidak mewarisi sifat ibunya yang... sulit diprediksi."

Aurora merasa napasnya tertahan di dada. Kata-kata itu adalah serangan terbuka.

Braxley masih menyimpan dendam atas bagaimana Aurora mengakhiri hubungan mereka secara brutal bertahun-tahun lalu.

Sebelum Aurora sempat menghimpun kata-kata untuk membalas, pintu ruangan privat itu terdorong terbuka.

Jonathan masuk bersama Berenda. Mereka tampak sedikit terengah-engah, dan matanya yang jeli menangkap noda lipstik yang sedikit berantakan di sudut bibir Berenda—yang segera dihapus oleh wanita itu dengan gerakan mengusap yang cepat dan canggung.

"Anggurnya akan segera datang," ujar Jonathan dengan nada riang yang terdengar begitu palsu dan berisik di telinga Aurora.

Aurora memandang suaminya yang bersikap seolah tak terjadi apa-apa, lalu beralih menatap Berenda yang menunduk berpura-pura sibuk dengan ponselnya, dan terakhir menatap Braxley yang kembali memasang topeng dinginnya.

Ia terjebak di dalam panggung perjamuan yang dipenuhi pengkhianatan dan masa lalu yang belum usai.

Jonathan dengan skandal terselubungnya, Braxley dengan kebencian dan dendam yang berkobar, dan dirinya sendiri—seorang wanita yang gemetar memegang rahasia paling berbahaya tentang siapa sebenarnya ayah kandung dari bayi mungil yang ia tinggalkan di rumah.

Malam itu, Aurora menyadari satu hal: Braxley tidak hanya menganggapnya asing. Braxley sedang menghukumnya dengan cara yang paling kejam—dengan berpura-pura bahwa masa Lima tahun mereka tidak pernah ada, seolah-olah Aurora hanyalah debu yang tidak sengaja menempel di sepatunya yang mahal.

Namun, di balik sikap dingin itu, Aurora tahu. Kenapa Braxley tampak begitu terluka saat nama "Draco" diucapkan?

1
Astrid Kucrit
lyn,cuma kamu yang draco inginkan
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak🙏🏻
total 1 replies
Siti Kamisah Hasnul
Linzy ternyata anak Jonathan...wahhhhh...kacau ini
Rosdianah 🌷: jangan kacau dulu kak🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
gak nyangka udah di tahap baca ceritanya anaknya AJ brarti si braxley ini cucunya vexana sama landon 🤣
Rosdianah 🌷: hehe iya kak, kembarannya Braxton disebelah kak🤭
total 1 replies
Mia Camelia
jonathan harus di kasih pelajaran tambahan nih 🤣🤣🤣tuh orang gak ada takut nya
😔
Rosdianah 🌷: Wajib digoyeng 🤣🤭
total 1 replies
Ainun Mahya
nggk up nih kak?
Rosdianah 🌷: huhu besok author Double Up 🫶🙏🏻
total 1 replies
Ainun Mahya
vote meluncur🤭🤭
Rosdianah 🌷: uhuy ma'aciww kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
widieww....braxley tipe2 blackflag banget gak sih🤔🤣😂
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
selamat thor udah meluncur karya baru lagi🥳🥳🥳
makin prokdutif banget thor bulan ini udh baru lgi muncul🥳
Rosdianah 🌷: Huhu🫶 Ma'aciww kak, Dan ma'aciww juga asas setiap Jejak Nya selama ini. semoga cerita nya. happy reading 🥰
total 1 replies
Hennyy exo
wow karya mu emang bagus thor
Rosdianah 🌷: ma'aciw kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!