Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.
Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.
#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : Pindah Kamar (Bagian Kedua)
Udara di dalam kamar pojok lantai bawah itu terasa begitu senyap, seolah terisolasi dari seluruh kehidupan yang berdenyut di bagian lain rumah besar keluarga Pratama. Suara langkah kaki Arka yang menjauh perlahan di atas lantai marmer koridor terdengar menggema samar, lalu lenyap ditelan keheningan malam yang mulai merayap turun.
Kirana tidak bergeming dari posisinya di dekat lemari kayu jati kecil. Ia menatap lurus ke arah pintu yang kini telah kosong, tempat di mana bayangan suaminya baru saja lenyap membawa serta sisa-sisa kewibawaan dan keangkuhannya. Tidak ada rasa bersalah di dada Kirana. Tidak ada setitik pun keraguan yang menyelinap di balik keputusan nekatnya memindahkan seluruh barang pribadi ke ruangan sempit ini tanpa izin.
Bagi Kirana, meminta izin kepada Arka adalah sebuah bentuk pengkhianatan terhadap luka yang belum kering. Untuk apa meminta restu dari seseorang yang telah membiarkan jiwanya mati kelaparan di tengah kemewahan?
Dengan gerakan tenang dan terukur, Kirana melanjutkan sisa pekerjaannya. Ia mengambil beberapa lembar pakaian rumahannya yang tersisa dari koper terbuka, menyusunnya rapi ke dalam rak lemari yang berderit halus setiap kali pintunya dibuka. Setiap lipatan kain, setiap helai sweter rajut, dan setiap barang kecil miliknya diletakkan dengan presisi yang sempurna, seolah ia sedang membangun benteng pertahanan terakhirnya di atas reruntuhan hidupnya sendiri.
Di luar kamar pojok, Bi Inah masih berdiri terpaku di dekat dinding koridor. Wanita tua itu tidak berani beranjak, meskipun ia tahu tugas-tugas rumah tangganya menanti di lantai atas. Air mata masih menggenang di pelupuk matanya yang keriput, mencerminkan kepedihan mendalam yang dirasakannya melihat kehancuran rumah tangga yang telah ia saksikan sejak hari pertama Arka dan Kirana menempati rumah ini.
"Nyonya..." panggil Bi Inah dengan suara bergetar sangat halus, melangkah mendekat perlahan ke ambang pintu kamar pojok dengan rasa takut yang amat sangat. Ia tidak ingin mengusik, namun nuraninya sebagai seorang ibu angkat di rumah itu tidak tahan melihat kondisi nyonya mudanya. "Apa... apa perlu Bibi bantu merapikan sisa barang-barangnya? Atau... atau Bibi siapkan air hangat dan makanan khusus di sini?"
Kirana menghentikan gerakannya sejenak. Ia menoleh perlahan ke arah pintu, menatap wanita paruh baya yang selama ini selalu memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Di dalam mata Bi Inah, terpancar ketulusan yang murni—sesuatu yang sangat kontras dengan kepalsuan dunia luar yang baru saja menghancurkan hidupnya.
Meskipun tembok es telah membeku di sekeliling hati Kirana, tatapannya kepada Bi Inah sedikit melunak, meskipun tetap menyisakan jarak yang teramat jauh.
"Tidak perlu, Bi," jawab Kirana dengan nada suara yang jauh lebih lembut daripada saat ia berbicara kepada Arka, namun tetap terdengar sangat datar dan berjarak. "Bibi tidak perlu repot-repot. Saya bisa membereskan semuanya sendiri. Dan untuk makanan... saya sedang tidak ingin makan apa-apa malam ini. Tolong... biarkan saya istirahat."
Mendengar penolakan yang begitu halus namun tegas itu, Bi Inah mengangguk pasrah. Ia tahu, memaksakan kehendak hanya akan membuat Kirana semakin menarik diri ke dalam cangkang pertahanannya.
"Baiklah, Nyonya... Bibi mengerti," cicit Bi Inah pelan dengan suara tercekat. "Kalau nanti malam atau besok pagi Nyonya butuh apa pun... panggil Bibi ya. Pintu Bibi selalu terbuka untuk Nyonya."
"Terima kasih, Bi," balas Kirana singkat.
Bi Inah membalikkan badannya dengan langkah berat dan bahu merosot, meninggalkan kamar pojok tersebut dan menarik pintu hingga tertutup rapat, menyisakan Kirana seorang diri di dalam ruangan sempit yang kini menjadi satu-satunya tempat aman baginya di rumah besar itu.
---
Sementara itu, di lantai atas, Arka berdiri terpaku di tengah kamar tidur utama yang luas.
Ruangan berseprai sutra putih itu kini terasa bagaikan sebuah kuburan megah. Ketiadaan barang-barang Kirana—tidak ada lagi botol parfum di atas meja rias, tidak ada lagi sandal tidur berbulu lembut di sisi ranjang, tidak ada lagi sisa-sisa aroma wangi tubuh istrinya yang biasa menguar di udara—membuat seluruh kemewahan kamar itu terasa hampa dan menyesakkan dada.
Arka melangkah perlahan ke arah jendela kaca besar yang menghadap langsung ke taman belakang. Langit malam di luar tampak gelap gulita tanpa bintang, diselimuti awan kelabu yang menggantung rendah. Bayangan dirinya terpantul di permukaan kaca jendela—pria berantakan dengan kemeja kusut, mata merah menyala, dan ekspresi kekalahan mutlak yang terukir di setiap garis wajahnya.
Ia mengambil segelas air di atas meja nakas, namun tangannya bergemetar begitu hebat hingga air di dalam gelas itu terpapar riak gelombang kecil. Ingatannya berputar kembali ke masa-masa beberapa bulan lalu, ketika ia masih beranggapan bahwa kesibukan kantor, kontrak miliaran rupiah, dan ambisi kariernya adalah segalanya. Ia mengira bahwa pernikahan adalah sebuah status formal yang akan selalu berjalan otomatis tanpa perlu dirawat dengan perhatian, kehangatan, dan kehadiran emosional.
Ia mengira Kirana akan selamanya berada di sana—menunggu dengan senyuman sabar, membawakan rantang makanan hangat, dan memaafkan setiap kebisuan serta pengabaian yang ia lakukan.
Namun malam ini, kebodohan itu telah merenggut segalanya. Anak yang mereka nantikan telah tiada, rahim istrinya terluka parah oleh benturan maut, dan jiwa wanita yang dulu begitu mencintainya kini telah dikunci rapat-rapat di sebuah kamar sempit paling pojok di lantai bawah, jauh di luar jangkauan pelukannya.
"Aku sudah menghancurkan segalanya..." bisik Arka pada bayangannya sendiri di kaca jendela, suaranya parau tertelan oleh kesunyian malam yang pekat. Air mata panas kembali menuruni pipinya, jatuh menetes ke lantai kayu tanpa ada seorang pun yang peduli atau datang menghapus.
Di lantai bawah, di atas ranjang *single* berseprai katun putih polos di kamar pojok yang sempit, Kirana berbaring memejamkan matanya dalam gelap. Tidak ada isak tangis yang keluar dari bibirnya. Di dalam rongga dadanya, rasa sakit fisik akibat kecelakaan berangsur-angsur mereda, digantikan oleh mati rasa yang permanen. Ia menarik selimutnya hingga menutupi bahu, memeluk dirinya sendiri dalam kesendirian yang dingin, dan bersiap menyambut hari esok sebagai orang asing di dalam rumah suaminya sendiri.