NovelToon NovelToon
Setelah Taksi Itu Berlalu

Setelah Taksi Itu Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:19.4k
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.

Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.




#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 : Pindah Kamar (Bagian Kedua)

Udara di dalam kamar pojok lantai bawah itu terasa begitu senyap, seolah terisolasi dari seluruh kehidupan yang berdenyut di bagian lain rumah besar keluarga Pratama. Suara langkah kaki Arka yang menjauh perlahan di atas lantai marmer koridor terdengar menggema samar, membawa serta getaran berat dari sebuah konfrontasi bisu yang baru saja usai, sebelum akhirnya benar-benar lenyap ditelan keheningan malam yang mulai merayap turun menyelimuti seluruh bangunan megah tersebut.

Kirana tidak bergeming sedikit pun dari posisinya di dekat lemari kayu jati kecil yang menempel di sudut ruangan. Ia menatap lurus ke arah pintu yang kini telah kosong, tempat di mana bayangan suaminya baru saja lenyap membawa serta sisa-sisa kewibawaan, ego, dan keangkuhan yang selama bertahun-tahun menjadi perisai bagi pria itu. Di dalam rongga dadanya, tidak ada rasa bersalah yang bergejolak. Tidak ada setitik pun keraguan atau rasa penyesalan yang menyelinap di balik keputusan nekatnya memindahkan seluruh barang pribadi, koper pakaian, serta kenangan hidupnya ke ruangan sempit ini tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada sang pemilik rumah.

Bagi Kirana, meminta izin kepada Arka untuk sekadar pindah kamar adalah sebuah bentuk pengkhianatan terhadap luka batinnya yang belum sepenuhnya kering. Untuk apa ia meminta restu, persetujuan, atau sekadar sekadar kejelasan dari seseorang yang selama ini telah membiarkan jiwa dan raganya mati kelaparan di tengah kemewahan harta benda? Kamar sempit di lantai bawah ini, dengan segala keterbatasannya, jauh lebih terhormat dibandingkan kamar utama di lantai atas yang menyimpan terlalu banyak memori tentang pengabaian dan air mata yang tak pernah dianggap penting.

Dengan gerakan yang sangat tenang, terukur, dan penuh kesadaran diri, Kirana melanjutkan sisa pekerjaannya yang sempat tertunda. Ia mengambil beberapa lembar pakaian rumahannya yang tersisa dari dalam koper terbuka yang tergeletak di atas lantai, lalu menyusunnya dengan rapi ke dalam rak lemari kayu yang mengeluarkan derit halus setiap kali pintunya dibuka tutup. Setiap lipatan kain, setiap helai sweter rajut hangat yang menemaninya melewati malam-malam panjang penuh kesendirian, dan setiap barang kecil miliknya diletakkan dengan presisi yang sempurna, seolah ia sedang membangun benteng pertahanan terakhirnya di atas reruntuhan hidupnya sendiri. Ia ingin memastikan bahwa ruang kecil ini sepenuhnya menjadi wilayah kekuasaannya, tempat di mana tidak ada seorang pun yang bisa masuk untuk merusak ketenangan rapuh yang baru saja ia bangun.

Di luar kamar pojok, di balik pintu kayu yang tertutup rapat namun tidak kedap suara, Bi Inah masih berdiri terpaku di dekat dinding koridor yang remang-remang. Wanita tua itu tidak berani beranjak dari tempatnya, meskipun ia sangat tahu bahwa tugas-tugas rumah tangganya sebagai kepala pelayan menanti untuk diselesaikan di lantai atas. Air mata masih menggenang di pelupuk matanya yang keriput, mencerminkan kepedihan mendalam yang dirasakannya melihat kehancuran rumah tangga yang telah ia saksikan sejak hari pertama Arka dan Kirana menempati rumah besar tersebut. Sebagai seseorang yang telah merawat Arka sejak kecil dan melihat bagaimana Kirana datang dengan senyuman tulus, Bi Inah merasakan kepedihan itu menghujam ulu hatinya secara berlapis-lapis.

"Nyonya..." panggil Bi Inah dengan suara bergetar sangat halus, begitu pelan seolah takut suaranya akan memecahkan kaca jendela. Wanita tua itu melangkah mendekat perlahan dengan langkah tertatih ke ambang pintu kamar pojok, diliputi rasa takut yang amat sangat akan penolakan. Ia sama sekali tidak ingin mengusik privasi Kirana yang sedang berduka, namun nuraninya sebagai seorang figur ibu di rumah itu tidak tahan melihat kondisi nyonya mudanya yang tampak begitu kurus, rapuh, dan menanggung beban terlampau berat seorang diri. "Apa... apa perlu Bibi bantu merapikan sisa barang-barangnya? Atau... atau Bibi siapkan air hangat dan makanan khusus di sini, supaya Nyonya bisa sedikit lebih tenang?"

Kirana menghentikan gerakannya sesaat. Lembaran kain di tangannya terdiam di udara. Ia menoleh perlahan ke arah pintu yang terbuka sedikit, menatap wanita paruh baya berwajah teduh yang selama ini selalu memperlakukannya dengan penuh kasih sayang tulus di tengah dinginnya keluarga besar Pratama. Di dalam sorot mata Bi Inah, terpancar ketulusan yang murni tanpa pamrih, sesuatu yang sangat kontras dengan kepalsuan dunia luar, tekanan korporat, dan keangkuan Arka yang baru saja menghancurkan hidupnya berkeping-keping.

Meskipun tembok es yang tebal telah membeku dengan sempurna di sekeliling hati Kirana, tatapannya kepada Bi Inah sedikit melunak, meskipun tetap menyisakan jarak emosional yang teramat jauh akibat trauma yang belum terobati.

"Tidak perlu, Bi," jawab Kirana dengan nada suara yang jauh lebih lembut daripada saat ia berbicara kepada Arka beberapa menit lalu, namun tetap terdengar sangat datar, dingin, dan berjarak. "Bibi tidak perlu repot-repot memikirkan saya. Saya bisa membereskan semuanya sendiri perlahan-lahan. Dan untuk masalah makanan... saya sedang tidak ingin menelan apa pun malam ini. Perut saya terasa penuh oleh rasa lelah. Tolong... biarkan saya istirahat dengan tenang di sini."

Mendengar penolakan yang disampaikan dengan begitu halus namun menyisakan ketegasan mutlak itu, Bi Inah hanya bisa mengangguk pasrah. Wanita tua itu tahu betul bahwa memaksakan kehendak atau menawarkan bantuan lebih jauh hanya akan membuat Kirana semakin menarik diri ke dalam cangkang pertahanannya yang keras.

"Baiklah, Nyonya... Bibi mengerti," cicit Bi Inah pelan dengan suara tercekat di tenggorokan, menahan isak tangis yang mendesak keluar. "Kalau nanti malam atau besok pagi Nyonya butuh apa pun... jangan sungkan untuk memanggil Bibi ya. Pintu kamar Bibi selalu terbuka untuk Nyonya, kapan pun."

"Terima kasih, Bi," balas Kirana singkat, menutup percakapan itu dengan sebuah anggukan kepala yang kaku.

Bi Inah membalikkan badannya dengan langkah berat dan bahu yang merosot lesu, meninggalkan kamar pojok tersebut dengan hati yang hancur. Ia menarik daun pintu hingga tertutup rapat kembali, menyisakan Kirana seorang diri di dalam ruangan sempit yang kini menjadi satu-satunya tempat berlindung paling aman baginya di seluruh penjuru rumah besar milik suaminya sendiri.

---

Sementara itu, di lantai atas, Arka berdiri terpaku bagaikan patung batu di tengah kamar tidur utama yang sangat luas dan megah.

Ruangan berseprai sutra putih impor itu kini terasa bagaikan sebuah kuburan megah yang hampa dan menyesakkan dada. Ketiadaan barang-barang Kirana, tidak ada lagi botol-botol kecil parfum beraroma bunga di atas meja rias marmer, tidak ada lagi sandal tidur berbulu lembut di sisi kiri ranjang king-size, tidak ada lagi sisa-sisa aroma wangi tubuh istrinya yang biasa menguar di udara setiap kali pagi menjelang, membuat seluruh kemewahan kamar itu mendadak kehilangan jiwanya. Ruangan ini kini hanya menyisakan dingin yang menusuk tulang dan gema dari kebodohannya sendiri.

Arka melangkah dengan gontai perlahan ke arah jendela kaca besar berukuran dari lantai ke langit-langit yang menghadap langsung ke arah taman belakang yang gelap gulita. Langit malam di luar tampak pekat tanpa hiasan bintang sedikit pun, diselimuti oleh gumpalan awan kelabu yang menggantung rendah seolah hendak menumpahkan badai kesedihan. Bayangan tubuhnya sendiri terpantul dengan jelas di permukaan kaca jendela yang dingin, seorang pria berantakan dengan kemeja kantor yang kusut masai, mata merah menyala akibat kurang tidur dan menangis, serta ekspresi kekalahan mutlak yang terukir nyata di setiap garis wajahnya yang dulu dikenal angkuh.

Ia mengambil segelas air putih yang tersimpan di atas meja nakas di samping tempat tidur, berniat membasahi tenggorokannya yang terasa kering seperti terbakar. Namun, begitu tangannya meraih gelas tersebut, jemarinya bergemetar begitu hebat hingga air di dalam gelas itu terpapar riak gelombang kecil yang tumpah sebagian ke atas permukaan meja. Ingatannya berputar liar kembali ke masa-masa beberapa bulan lalu, ketika ia masih hidup dalam delusi bahwa kesibukan kantor yang padat, kontrak bisnis bernilai miliaran rupiah, dan ambisi kariernya yang tak berujung adalah segalanya di dunia ini. Ia dulunya dengan sangat naif mengira bahwa pernikahan hanyalah sebuah status formalitas di atas kertas yang akan berjalan otomatis tanpa perlu dirawat dengan perhatian, kehangatan, komunikasi, dan kehadiran emosional yang nyata.

Ia dengan jumawanya mengira bahwa Kirana akan selamanya berada di posisinya, menunggu dengan senyuman sabar di balik meja makan yang kosong, membawakan rantang makanan hangat tanpa pernah menuntut waktu, dan memaafkan setiap kebisuan serta pengabaian emosional yang ia lakukan demi rapat-rapat penting di luar negeri.

Namun malam ini, kebodohan dan kesombongan masa lalunya telah merenggut segalanya tanpa ampun. Anak pertama yang sangat mereka nantikan dalam sunyi telah tiada direnggut maut, rahim istrinya terluka parah oleh hantaman kecelakaan tragis akibat kelalaiannya, dan jiwa wanita yang dulu begitu tulus mencintainya kini telah dikunci rapat-rapat di sebuah kamar sempit paling pojok di lantai bawah, berjarak galaksi dari jangkauan pelukannya.

"Aku benar-benar sudah menghancurkan segalanya dengan tanganku sendiri..." bisik Arka pada bayangannya sendiri di balik pantulan kaca jendela yang dingin, suaranya parau, pecah, tertelan oleh kesunyian malam yang pekat tanpa jawaban. Air mata panas kembali menuruni pipinya yang tirus, jatuh menetes ke atas lantai kayu tanpa ada seorang pun di dunia ini yang peduli atau datang menghapus jejak kepedihannya.

Di lantai bawah, jauh di dalam kamar pojok yang sempit, di atas ranjang single berseprai katun putih polos yang sederhana, Kirana berbaring memejamkan matanya dalam balutan kegelapan total. Tidak ada isak tangis yang keluar dari bibirnya; kantong air matanya seolah telah kering terserap oleh penderitaan yang bertubi-tubi. Di dalam rongga dadanya, rasa sakit fisik akibat sisa-sisa kecelakaan berangsur-angsur mereda, digantikan oleh mati rasa emosional yang permanen, sebuah mekanisme pertahanan diri agar ia tidak lagi merasakan sakit yang sama. Ia menarik selimut tipisnya hingga menutupi dagu, memeluk tubuhnya sendiri dalam kesendirian yang membeku, dan bersiap menyambut hari esok sebagai orang asing yang tinggal di bawah atap yang sama dengan suaminya sendiri.

1
Dokkan Battle
bacot awokawok lemah jir
.. mending pretty cure
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Dokkan Battle
haha CEWEK LEMAH ANYING... ANAK LO NOH KECEWA GOBLOK
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Dokkan Battle
ah goblok malah balikan awokawok masokis juga ya ternyata 🤣🤣🤣🤣
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir ♥️
total 1 replies
putmelyana
semangat thor 💪
Selie Noris: Kak, terima kasih ya.... ♥️
total 1 replies
Selie Noris
♥️♥️♥️
Sulicungliieee
ડɑ𝗍υ ƙɑ𝗍ɑ υ𐓣𝗍υƙოυ ɑ𝗋ƙɑ.......ડυ𝗈𝗈ƙ𝗈𝗋𝗋𝗋𝗋𝗋.....
Selie Noris: Kak, makasih sudah mampir....
total 1 replies
Yusria Mumba
seorang wanita kalau sudah sakit hatiny, susah d, obati,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
nyesalkan sudah terlambat,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
ti galon ajasumi kaya gitu,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!