Seorang driver ojol tampan tapi bernasib sial mendapatkan sistem aplikasi "Godjek" misterius, di mana setiap orderan absurd dari pelanggan cantik memberinya hadiah kekuatan aneh yang bikin geleng-geleng kepala.
Bertahun-tahun lalu, sebelum jadi ojol, Raka memiliki seorang adik perempuan yang sangat dia sayangi. Suatu hari, adiknya memesan ojek online malam-malam untuk pulang. Raka yang saat itu sibuk, tidak bisa menjemputnya sendiri.
Malam itu, ojol yang ditumpangi adiknya mengalami kecelakaan fatal.
Kata-kata terakhir adiknya di telepon sebelum kecelakaan adalah: "Mas, aku udah jalan ya, ojolnya baik banget." Raka tidak pernah memaafkan dirinya sendiri. Dia menjadi ojol yang baik untuk "menebus Dosa" dan penyesalan di dasar hatinya setelah adiknya pergi untuk selama-lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lihazel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rezeki
Arya melangkah dengan cepat mendekati ibunya yang sedang berdiri di pinggir trotoar sambil mencoba membetulkan posisi genggaman tangannya pada kantong plastik belanjaan yang mulai robek karena terlalu berat. Keringat tampak membasahi kening Bu Aminah yang tertutup sehelai kerudung instan sederhana berwarna abu-abu.
"Ibu! Sini biar Arya yang bawa semuanya," kata Arya lembut, langsung mengambil alih kedua tas plastik besar itu dari tangan ibunya dengan satu gerakan mudah. Otot-otot lengannya yang kencang dan terlatih akibat bertahun-tahun membantu mengangkat galon air isi ulang di rumah tampak menyembul di balik lengan jaket premium barunya saat mengangkat beban belanjaan tersebut seolah-olah barang itu seringan kapas.
Bu Aminah terkejut sejenak melihat kedatangan anaknya yang tiba-tiba, namun senyuman penuh rasa syukur langsung mengembang di wajah tuanya yang teduh. Beliau mengelus pundak Arya dengan tangannya yang kasar akibat terlalu sering mencuci dan memasak. "Eh, Arya... makasih ya, Le. Ini Ibu tadi sekalian beli beras sama minyak goreng agak banyakan di pasar grosir, mumpung uang belanja yang kamu taruh di bawah taplak meja makan tadi pagi masih ada sisanya."
Namun, saat pandangan mata Bu Aminah turun meneliti pakaian yang dikenakan anak laki-lakinya, keningnya langsung berkerut heran. "Lho, Arya... ini jaket apa yang kamu pakai? Kok warnanya hijau mengkilap bagus banget begini? Jahitannya juga rapi... ini kamu gak beli jaket baru pakai uang tarikan kemarin kan? Uangnya kan harusnya buat tabungan bayar kontrakan rumah kita bulan depan, Le."
Arya tersenyum hangat, menatap mata ibunya dengan pandangan penuh ketulusan. "Kagak, Bu. Ini hadiah gratis dari kantor pusat karena performa kerja Arya dinilai bagus dan gak pernah dapet komplain dari penumpang. Malahan... siang ini Arya punya kejutan buat Ibu."
Arya mengajak ibunya berjalan masuk ke dalam gang sempit pemukiman padat menuju rumah mereka yang berukuran kecil. Sepanjang perjalanan di gang yang hanya selebar satu setengah meter itu, para tetangga wanita—mulai dari ibu-ibu pengajian sampai anak-anak gadis remaja yang sedang menjemur pakaian—langsung menghentikan aktivitas mereka begitu melihat Arya lewat. Jaket premium barunya yang memancarkan aura elit dipadukan dengan struktur wajah tampannya yang sempurna benar-benar membuat Arya terlihat seperti seorang pangeran kraton yang sedang berjalan di tengah perkampungan kumuh.
"Aduh, Bu Aminah... itu si Arya makin hari kok kelihatan makin ganteng aja sih? Itu jaketnya baru ya? Kelihatan gagah banget kayak artis sinetron yang di televisi!" seru Bu RT yang sedang menyapu teras rumahnya.
Bu Aminah hanya bisa membalas dengan senyuman ramah penuh rasa bangga yang tak bisa disembunyikan. "Ah, biasa aja, Bu RT. Ini jaket jatah dari kantornya katanya."
Begitu mereka sampai di teras rumah yang hanya berukuran tiga kali tiga meter itu, Pak Surya—bapak Arya—masih tampak setia duduk di kursi kayu bututnya sambil menatap burung perkututnya yang digantung di langit-langit teras. Pria tua itu menoleh, matanya yang mulai rabun menatap jaket baru Arya dengan pandangan menilai yang tajam.
"Le... jaketmu baru?" tanya Pak Surya dengan suaranya yang serak dan berwibawa. "Bagus warnanya. Tapi ingat pesan Bapak tadi pagi. Pakaian bagus itu cuma hiasan luar. Yang bikin kamu jadi laki-laki sejati itu caramu memperlakukan ibumu dan caramu mencari nafkah yang halal. Jangan sampai jaket bagus ini bikin kamu jadi sombong di jalanan."
"Iya, Pak. Arya selalu inget pesan Bapak," jawab Arya hormat sambil meletakkan tas belanjaan plastik di atas meja teras.
Arya kemudian merogoh kantong celana jinsnya, mengambil dompet kulitnya yang sudah jebol di bagian sudutnya. Dengan gerakan yang sengaja dibuat tidak mencolok agar tidak membuat bapaknya kaget, Arya mengeluarkan lima lembar uang pecahan seratus ribu rupiah yang baru saja ia tarik dari mesin ATM swalayan menggunakan saldo bonus sistem Godjek-nya.
Arya menyerahkan uang lima ratus ribu rupiah itu langsung ke telapak tangan ibunya yang sedang bersiap membawa sayuran ke dalam dapur. "Bu... ini ada rezeki tambahan lagi dari tarikan premium siang ini. Tolong disimpan buat tambahan beli beras kualitas bagus sama daging sapi. Siang ini kita makan rendang ya, Bu? Biar Bapak juga bisa makan enak."
Bu Aminah tertegun menatap lima lembar uang merah yang bersih di telapak tangannya. Matanya mendadak berkaca-kaca, dipenuhi binar haru yang luar biasa besar. Beliau menatap wajah Arya dengan pandangan penuh rasa syukur sekaligus doa yang tak terputus di dalam hatinya. "Arya... banyak banget ini, Le? Kamu beneran gak dapet uang ini dari jalan yang aneh-aneh kan? Ibu gak mau terima kalau uangnya gak berkah, Nak."
Arya melangkah mendekat, lalu mencium kening ibunya dengan lembut dan penuh rasa hormat. "Halal seratus persen, Bu. Ini bonus resmi dari penumpang kaya yang tadi Arya tolong anterin selamat sampai tujuan. Ibu tenang aja, Arya gak akan pernah melanggar didikan Ibu dan Bapak."
Pak Surya yang melihat kejadian itu dari kursi kayunya tampak menganggukkan kepala dalam-dalam. Sebuah senyuman tipis yang sangat jarang diperlihatkannya akhirnya muncul di wajah tuanya yang keras. Beliau menepuk pundak tegap Arya dengan tangannya yang kasar. "Anak pintar. Itu baru anak lanang kebanggaan Bapak."
KUKURUBUUUUK... TEEEOOOK!
Mendadak, sebuah suara ketukan kicauan yang sangat nyaring, merdu, dan panjang bergema dari dalam sangkar burung perkutut di atas langit-langit teras. Burung perkutut milik Pak Surya yang sudah tiga tahun membisu total tanpa mengeluarkan suara satu ketukan pun, tiba-tiba berkicau dengan sangat indahnya seolah-olah ikut merayakan berkah rezeki halal yang dibawa pulang oleh Arya siang itu.
Pak Surya langsung berdiri dari kursinya dengan mata terbelalak kaget bercampur girang luar biasa. "Hah?! Perkututku?! Bunyi dia, Bu! Akhirnya bunyi setelah tiga tahun gagu! Wah, ini beneran pertanda kalau rezeki anak kita ini emang beneran Berkah Bu!" seru pria tua itu dengan wajah yang mendadak ceria seperti anak kecil dapet mainan baru, langsung sibuk mengambil jangkrik untuk memberi makan burung kesayangannya.
Arya dan Bu Aminah tertawa bersama melihat tingkah laku jenaka Pak Surya. Kehangatan dan kedamaian sebuah keluarga miskin namun bahagia di sudut gang sempit Tambora terukir dengan sangat indahnya siang itu, menjadi penawar lelah yang paling mujarab bagi Arya setelah menghadapi kegilaan sistem aplikasi gaibnya.
Namun, kedamaian di gang Tambora itu tampaknya tidak akan bertahan lama. Sementara Arya sedang menikmati momen bahagianya bersama keluarga, beberapa kilometer dari sana, tepatnya di kawasan perkantoran mewah SCBD, badai kesalahpahaman tingkat tinggi sedang berkumpul dengan kecepatan penuh.
Di dalam kabin belakang mobil Mercedes-Maybach miliknya yang sedang berjalan membelah aspal Sudirman, Citra Kirana sedang mendengarkan laporan dari sekretaris pribadinya melalui sambungan telepon nirkabel.
"Jadi, kamu sudah menemukan wilayah operasinya?" tanya Citra dengan nada suara dingin namun menyiratkan ketegasan yang tak terbantahkan.
"Sudah, Nona Citra," jawab suara sekretaris di seberang telepon. "Berdasarkan pelacakan ID aplikasi mitra, driver bernama Arya Prasetya itu paling sering mengaktifkan aplikasinya di sekitar pangkalan ojol gang Tambora, Jakarta Barat. Kami juga menemukan bahwa ia adalah anak dari seorang ibu rumah tangga yang berjualan nasi timbel di lingkungan tersebut."
Citra tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kemenangan yang memancarkan aura kekuasaan mutlak seorang ratu bisnis. "Bagus. Siapkan kontrak eksklusif sebagai driver operasional pribadi untukku dengan nilai remunerasi lima puluh juta rupiah per bulan. Kita datangi pangkalan ojolnya besok pagi. Aku ingin melihat bagaimana reaksi pria tampan itu saat aku membawa seluruh armada mobil perusahaanku ke gang sempitnya."
Sementara itu, di tempat terpisah, di dalam perpustakaan kampus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Salemba, Alya Nindita sedang menatap layar laptopnya dengan wajah yang merona merah. Jari-jari lentiknya sedang membuka peta digital, menandai area Tambora berdasarkan informasi yang berhasil ia korek dari riwayat perjalanan ojolnya kemarin sore saat ia diselamatkan dari kepungan tawuran warga.
"Arya Prasetya... besok aku gak ada jadwal kuliah klinik," bisik Alya pelan dengan senyuman manis yang penuh dengan tekad asmara seorang gadis muda yang sedang kasmaran setengah mati. "Aku akan pergi ke Tambora secara langsung untuk mencarimu. Aku harus berterima kasih dengan layak pada pria gagah yang sudah menyelamatkan nyawaku kemarin."