NovelToon NovelToon
Paradoks Waktu

Paradoks Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Sci-Fi / Misteri
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.

Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Tak ada seorang pun yang beranjak dari depan layar. Kaset memang telah selesai diputar, tetapi mereka bertiga masih saja memandangi layar biru kamera tua itu, seolah berharap rekaman misterius tersebut tiba-tiba berlanjut dengan sendirinya.

Namun tidak. Dokumen visual itu memang hanya sampai di sana.

Ardi menjadi orang pertama yang memecah keheningan murni di ruangan itu. "Prof..."

"Ya?"

"Durasi kasetnya berapa lama?"

Profesor Surya melirik label yang tertera di sisi kaset. "Enam puluh menit."

Ardi lantas menekan tombol menu pada kamera tua itu untuk memeriksa detail media. "Rekaman yang baru saja kita tonton... durasinya cuma lima puluh sembilan menit lima puluh empat detik."

Profesor seketika menoleh tajam. "Ulangi."

Ardi menghitung angkanya sekali lagi pada layar digital. "Kurang enam detik, Prof."

Ruangan kembali diselimuti kesunyian yang pekat. Kaset itu... ternyata kehilangan durasi tepat selama enam detik.

"Mungkin pitanya rusak karena termakan usia?" cetus Zain menerka.

"Itu kemungkinan pertama," jawab Profesor tenang. "Tapi kita harus memastikannya dulu."

Mereka memutar ulang kaset tersebut. Kali ini jauh lebih teliti, memperhatikan penghitung waktu detik demi detik. Tepat ketika gangguan gambar dan suara dengungan muncul di layar, angka timecode di sudut kamera tiba-tiba meloncat.

[59:12]

Lalu mendadak berubah menjadi:

[59:18]

Enam detik. Hilang begitu saja tanpa jejak.

Ini bukan berarti rekamannya telah dipotong atau disunting secara manual. Namun seolah-olah kamera itu sendiri tidak sempat merekam apa pun selama interval enam detik tersebut.

Profesor Surya menarik napas panjang, mencoba mengurai kejanggalan mekanis ini. "Kamera analog tua seperti ini... tidak mungkin melompati waktu saat merekam."

Ardi mengangguk setuju. "Benar. Kalau pitanya rusak atau berjamur, gambarnya akan pecah atau bergaris. Bukannya waktu rekamannya yang mendadak melompat hilang."

Bulu kuduk Zain mulai merinding. "Jadi... enam detik itu ke mana?"

Tak ada seorang pun yang bisa menjawabnya.

Profesor kembali meraih buku catatan Proyek Kronos yang ada di meja. Ia membolak-balik halaman demi halaman yang tersisa hingga matanya terhenti pada sebuah coretan kecil di tepi kertas. Tulisan tangan itu tampak samar dan ditulis dengan sangat terburu-buru:

[Anomali berlangsung ±6 detik.]

Profesor memejamkan matanya rapat-rapat. "Enam detik lagi..." gumamnya lirih.

Ardi ikut memajukan badannya menatap coretan tersebut. "Berarti angka ini sebenarnya sudah diketahui sejak dulu. Tapi kenapa tidak ada penjelasan detailnya di sini?"

Profesor menunjuk ke batas halaman berikutnya—halaman yang terlihat jelas bekas disobek secara paksa. "Mungkin... jawabannya ada di halaman yang hilang ini."

Malam semakin larut menembus dini hari. Mereka mulai membereskan meja kerja yang berantakan. Hanya Profesor Surya yang masih berdiri mematung, menatap lekat ke arah motor prototipe milik Zain yang terparkir di tengah ruangan.

Zain melangkah menghampirinya. "Masih memikirkan rekaman tadi, Prof?"

Profesor mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya. "Selama ini... aku selalu menganggap Proyek Kronos baru benar-benar dimulai ketika kita berhasil memasang Inti Resonansi."

"Ternyata?"

"Ternyata semuanya mungkin sudah terpicu jauh sebelum itu," sahut Profesor berbisik. "Bahkan... sebelum kamu cukup besar untuk bisa mengingatnya."

Tepat saat Zain hendak melangkah menuju sakelar untuk mematikan lampu laboratorium, gelang di pergelangan tangannya mendadak bergetar dan berbunyi.

Bip...

Sontak semua orang meremang dan refleks menoleh. Monitor utama yang tadi sudah dimatikan total... tiba-tiba menyala sendiri!

Bukan karena ada korsleting listrik, dan bukan pula karena ada yang menekan tombol dayanya. Layar hitam yang tadinya mati itu perlahan-lahan memancarkan sinar redup dan menampilkan sebuah angka digital:

[00:00:06]

Enam detik.

Angka tersebut berkedip pelan sebanyak tiga kali, lalu layar perlahan kembali gelap gulita.

Ruangan laboratorium seketika membeku. Tak seorang pun berani bergerak. Tak ada yang berani menyentuh monitor.

Profesor Surya menatap layar kosong itu dengan raut wajah yang belum pernah dilihat oleh Zain sebelumnya. Itu bukanlah ekspresi seorang ilmuwan yang baru saja menemukan variabel data baru... melainkan raut wajah seseorang yang baru saja menyaksikan sesuatu yang seharusnya mustahil secara hukum alam.

Perlahan, Profesor berbisik dengan suara gemetar, "Sepertinya... dia mulai merespons."

"Siapa?" tanya Zain pelan, menahan napas.

Profesor Surya tidak langsung menjawab. Sebab baru kali ini dalam karier ilmiahnya... ia sendiri tidak yakin apakah yang sedang mereka hadapi saat ini adalah sebuah mesin biasa, ataukah sesuatu yang lain.

Ruangan laboratorium kembali sepi. Monitor utama yang baru saja berkedip misterius kini telah kembali gelap gulita.

Ardi menjadi orang pertama yang tersadar dari keterpakuannya. Ia bergerak cepat memeriksa panel listrik utama di sudut ruangan. "Semua sirkuit normal, Prof. Tidak ada lonjakan daya."

Sementara itu, seorang teknisi lain sibuk membuka log aktivitas sistem melalui terminal terpisah. "Sama sekali tidak ada perintah masuk untuk menyalakan monitor."

Profesor Surya mendekat dan memeriksa kabel konektor monitor tersebut secara langsung. Kabel dayanya bahkan masih terlepas dari port komputer utama.

"Lalu..." gumam Ardi bingung, "...dari mana datangnya tampilan angka tadi?"

Tak ada seorang pun di ruangan itu yang mampu menjawabnya.

Profesor Surya segera mengambil keputusan tegas. "Jangan sentuh alat apa pun dulu. Foto seluruh posisi instrumen, salin seluruh log sistem malam ini, dan..." Ia menatap tajam ke arah layar monitor yang membisu, "...jangan sekali-kali menyalakan layar itu kembali."

Semua staf bergerak cekatan. Sebagai para peneliti, mereka sudah terbiasa dengan prosedur ini: saat menghadapi fenomena yang tak terpahami, fokus utama bukanlah terburu-buru mencari penjelasan, namun memastikan tidak ada satu pun data yang luput atau hilang.

Di tengah kesibukan itu, Zain masih berdiri mematung memandangi monitor. Angka [00:00:06] seolah terpatri kuat di ingatan penglihatannya. Enam detik. Sama persis dengan durasi kaset yang melompat hilang. Sama persis dengan catatan misterius di Proyek Kronos. Terlalu banyak kebetulan yang saling tertaut, hingga rasanya tak masuk akal lagi jika hanya dianggap sebagai ketidaksengajaan belaka.

Keesokan paginya, Ardi tiba paling awal di laboratorium. Tanpa membuang waktu, ia langsung menyalakan komputer utama untuk memeriksa ulang seluruh log aktivitas sistem. Satu per satu baris data ia sisir dengan teliti.

Awalnya tidak ada yang aneh, sampai akhirnya ia menelusuri riwayat sinyal monitor.

"Prof!" panggil Ardi setengah berteriak.

Profesor Surya yang baru saja melangkah masuk segera menghampiri meja kerja Ardi. "Ada apa?"

Ardi menunjuk baris baris data di layarnya. "Tadi malam... monitor memang sempat aktif."

"Berapa lama?"

"Tepat enam detik."

Profesor mengangguk pelan. "Soal itu kita sudah tahu."

"Bukan sekadar itu, Prof." Ardi memperbesar baris data terkait. "Selama enam detik itu, monitor sama sekali tidak menerima lalu lintas sinyal dari komputer mana pun."

"Lalu dari mana gambarnya berasal?"

"Itulah masalah utamanya. Tidak ada data masukan sama sekali."

Zain yang baru tiba ikut membaca laporan di layar Ardi. Meski ia kurang memahami jargon teknisnya, ia mengerti inti masalahnya: monitor itu mendadak menyala tanpa sumber sinyal maupun kiriman gambar. Seolah-olah angka digital itu terpancar dari dalam monitor itu sendiri.

Profesor Surya berjalan mondar-mandir menyeberangi ruangan. Sudah lama Zain tidak melihat sang profesor tampak begitu gelisah dan tak tenang.

Akhirnya, Profesor menghentikan langkahnya. "Ardi."

"Iya, Prof?"

"Siapkan ruang uji coba. Kita ulangi eksperimen ini nanti malam dengan kondisi yang sama persis."

Ardi mengangguk paham. "Tanpa ada perubahan variabel?"

"Tidak ada. Jika hasilnya berbeda, berarti kejadian semalam hanyalah kebetulan sinyal abnormal. Namun, jika hasilnya sama..." Profesor menggantungkan kalimatnya. Semua orang di ruangan itu paham betul arah pemikirannya.

Malam pun tiba. Suasana laboratorium kembali diatur agar sama persis dengan kondisi malam sebelumnya. Posisi motor milik Zain, tata letak monitor, bahkan letak kursi dan meja tidak digeser sedikit pun.

Jam dinding menunjukkan pukul 21.47—waktu yang hampir presisi dengan kejadian semalam. Seluruh pencahayaan utama dimatikan, meninggalkan lampu darurat yang memancarkan cahaya redup remang-remang.

Zain berdiri di samping motor prototipenya, sementara Profesor memperhatikan detik demi detik jam tangannya.

Satu menit berlalu...

Dua menit...

Tiga menit...

Tak terjadi apa-apa. Hening.

Ardi menghela napas panjang, mencoba mencairkan ketegangan. "Mungkin memang cuma kebetulan semata—"

Belum sempat Ardi menuntaskan ucapannya...

Tit...

Monitor utama kembali menyala! Semua orang meremang dan menoleh serentak.

Namun kali ini, bukan lagi angka digital yang muncul. Melainkan sebuah kalimat pendek berwarna putih tegas yang terpampang di atas layar hitam:

[JANGAN ULANGI KESALAHAN YANG SAMA]

Ruangan laboratorium seketika membeku. Ardi dengan tangan gemetar segera meneliti komputernya—masih mati, tak terhubung, dan tidak ada akses jaringan. Mustahil ada orang luar yang meretas atau mengiri pesan tersebut.

Profesor Surya melangkah perlahan mendekati monitor. Tangannya tampak sedikit bergetar. Kalimat pendek itu bukan sekadar pesan misterius biasa... tapi terdengar seperti peringatan nyata dari seseorang yang tahu persis apa yang sesungguhnya terjadi hampir tiga puluh tahun lalu.

1
Aegis
dan si kakek mentransfer dia ke masa lalu🥴
DeZigur: kalo mao skip langsung bab 20 aja. misterinya mulai
total 2 replies
Aegis
👍
Aegis
masalah psikotis tuh maksudnya apa bang?
DeZigur: ya kalo orangnya parnoan garaw pas bangun udah di dimensi lain terus ga bisa balik lagi ke kenyataan gimana?
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!