Lyana Shaqiera, mahasiswi fakultas hukum.
Di tahun keduanya menempuh pendidikan, Qiera justru mendapat gelar baru. Bukan gelar Sarjana Hukum, melainkan "istri" dari dosennya, tepatnya dosennya yang sangat menyebalkan, Ravian Aryasatya?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syshy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAL14. Pasien Paling Keras Kepala
Qiera tidak pernah menyangka bahwa tiga hari bisa terasa begitu panjang. Sejak Ravi dibawa ke rumah sakit, hidupnya seolah hanya berputar di sekitar ruang perawatan, bunyi langkah perawat di lorong, dan pintu yang sesekali terbuka untuk memberikan kabar tentang kondisi suaminya.
Ia nyaris tidak memikirkan hal lain. Bahkan ketika ponselnya berkali-kali bergetar karena pesan dari teman-teman kampus, pikirannya tetap tertuju pada pria yang terbaring dengan luka di punggung dekat bahu itu.
Pagi pertama setelah Ravi mendapatkan perawatan, dokter menyampaikan bahwa kondisinya cukup stabil. Luka tersebut membutuhkan pemantauan dan istirahat yang memadai, sementara Ravi dilarang melakukan aktivitas berat sampai kondisinya benar-benar pulih.
Qiera mendengarkan setiap penjelasan dengan serius, mengangguk berkali-kali seolah sedang mengikuti kuliah paling penting sepanjang hidupnya. Ia bahkan mencatat beberapa hal di ponsel, mulai dari jadwal obat hingga hal-hal yang harus dihindari Ravi selama masa pemulihan.
Ravi yang memperhatikannya dari ranjang hanya bisa menghela napas. “Lily, dokter menjelaskan semuanya kepada saya juga.”
“Aku tahu. Tapi aku mau memastikan Mas benar-benar ingat.”
“Saya bukan anak kecil.”
“Kalau begitu, jangan bertingkah seperti anak kecil yang harus diawasi terus.”
Ravi mengangkat alis. “Menarik. Pasiennya baru sadar, tetapi sudah dimarahi.”
“Bagus kalau Mas sudah sadar. Berarti bisa mendengarkan aku.”
Ia lalu merapikan selimut Ravi, memastikan bantalnya berada pada posisi yang nyaman tanpa membuat punggungnya semakin sakit. Gerakannya masih sedikit kaku karena takut menyentuh bagian yang terluka, tetapi ia tetap melakukannya dengan hati-hati.
Ravi memperhatikan wajah serius itu dalam diam. Sejak kemarin, Qiera hampir tidak pernah meninggalkan sisinya kecuali untuk mengambil makanan atau ketika perawat memintanya keluar sebentar.
Ketika Ravi menyuruhnya pulang untuk beristirahat, jawabannya selalu sama.
“Aku di sini saja.”
Awalnya Ravi mengira Qiera hanya keras kepala selama satu atau dua jam. Ternyata, ia jauh lebih keras kepala daripada perkiraannya.
...🌵🌵🌵...
Pada hari kedua, kedua orang tua Ravi datang bergantian untuk memastikan kondisinya. Namun, kesibukan di rumah sakit tidak hanya menyangkut dirinya. Kakek Ravi masih membutuhkan perawatan, sehingga Mama Ravi harus lebih banyak mendampingi sang kakek. Sementara itu, Papa Ravi memiliki urusan pekerjaan yang tidak dapat terus-menerus ditinggalkan.
Setelah memastikan Ravi mendapatkan perawatan yang baik dan mendengar dokter kembali menyatakan kondisinya stabil, mereka akhirnya memutuskan untuk membagi waktu dengan lebih teratur.
“Qiera, kamu tidak harus menjaga Ravi sepanjang waktu,” kata Mama Ravi lembut ketika mereka berbincang di ruang perawatan. “Mama bisa meminta perawat membantu kalau ada apa-apa. Kamu juga perlu kuliah.”
Qiera menggeleng. “Tidak apa-apa, Ma. Aku bisa menjaga Mas Ravi.”
Ravi yang sedang menyandarkan kepala di bantal langsung menyela, “Justru itu yang Ravi khawatirkan, Ma. Sepertinya Ravi tidak akan punya kesempatan bergerak sedikit pun selama dia di sini.”
Qiera menoleh tajam. “Mas mau bergerak ke mana?”
“Tidak ke mana-mana. Saya cuma menggerakkan bahu.”
“Jangan!”
Ravi terdiam, lalu menatap mamanya seolah meminta bantuan. Namun, Mama Ravi malah tertawa kecil melihat tingkah mereka.
“Baiklah. Kalau begitu, Mama titip Ravi kepadamu sebentar, ya. Mama harus kembali menemani Kakek, sedangkan Papa harus mengurus pekerjaan di kantor. Kalau ada perubahan kondisi, langsung hubungi kami.”
Qiera mengangguk mantap. “Iya, Ma. Aku akan mengabari Mama.”
Setelah orang tua Ravi berpamitan, ruang perawatan terasa lebih lengang. Qiera kembali duduk di kursi dekat ranjang, sementara Ravi memandangnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
“Apa?” tanya Qiera ketika menyadari tatapan itu.
“Tidak ada.”
“Mas ngeliatin aku seperti aku baru saja melakukan kejahatan.”
“Saya sedang berpikir bagaimana caranya membujuk istri saya supaya pulang dan tidur dengan benar.”
Qiera pura-pura tidak mendengar. Ia malah mengambil botol air minum dan memeriksa apakah isinya masih cukup.
Ravi menggeleng pelan. Ia sudah terbiasa menghadapi Qiera yang suka membantah di rumah, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Di balik omelannya, ia bisa melihat kecemasan yang belum sepenuhnya hilang dari kedua manik perempuan itu.
Menjelang siang, orang tua Qiera datang menjenguk. Mama dan Papa Qiera tampak lega ketika melihat Ravi sudah bisa duduk sedikit lebih tegak dengan bantuan bantal. Namun, kelegaan itu segera bercampur dengan rasa khawatir saat mereka mengingat bagaimana putri mereka menceritakan kejadian di kampus melalui telepon.
“Ravi, kami sungguh berterima kasih,” ujar Papa Qiera setelah menanyakan kondisi menantunya. Suaranya terdengar berat oleh emosi yang ditahannya. “Kalau waktu itu kamu tidak bergerak melindungi Qiera, kami tidak tahu apa yang mungkin terjadi pada anak kami.”
Ravi menggeleng pelan. “Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan, Pa. Yang terpenting, Qiera tidak terluka.”
Mama Qiera menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia kemudian menggenggam tangan Ravi dengan penuh rasa terima kasih.
“Tetap saja, Nak. Kami tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau sesuatu terjadi pada kalian. Kami tahu kamu bertanggung jawab, tetapi melihat sendiri bagaimana kamu melindungi Qiera membuat Mama semakin tenang. Kami percaya kamu bisa menjaga putri kami.”
Ravi terdiam sesaat. Ada kehangatan yang sulit dijelaskan ketika mendengar kepercayaan itu diucapkan secara langsung. Ia tahu betapa besar arti Qiera bagi kedua orang tuanya, dan ia tidak pernah menganggap tanggung jawab sebagai suami sebagai sesuatu yang bisa dijalankan setengah hati.
“Saya akan berusaha menjaga Qiera sebaik mungkin, Pa, Ma,” jawabnya tulus. “Saya tidak bisa menjanjikan bahwa semuanya akan selalu berjalan mudah, tetapi saya akan memastikan dia tidak harus menghadapi semuanya sendirian.”
Qiera yang sejak tadi duduk di sisi ranjang mendadak menunduk. Entah mengapa, mendengar Ravi berbicara seperti itu di hadapan Papa dan Mamanya membuat dadanya terasa hangat. Ia sibuk merapikan ujung selimut yang sebenarnya sudah rapi, berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah.
Mama Qiera memperhatikan putrinya, lalu tersenyum tipis. “Kamu dengar sendiri, kan, Qie? Jadi, jangan terlalu sering membuat suamimu pusing.”
Qiera langsung mengangkat kepala. “Ma! Kenapa malah aku yang disalahkan?”
“Karena Mama tahu kamu juga keras kepala.”
“Mas Ravi lebih keras kepala!”
Ravi menoleh santai. “Saya tidak merasa sedang berdebat dengan siapa pun.”
“Nah, itu! Dia selalu begitu!”
Tawa kecil memenuhi ruangan, membuat suasana yang semula penuh kekhawatiran terasa lebih ringan. Papa Qiera bahkan sempat menggoda Ravi bahwa putrinya memang suka mengomel kalau sedang khawatir.
Qiera hanya bisa menutup wajah dengan kedua tangan, sementara Ravi tampak menikmati kenyataan bahwa kali ini bukan dirinya yang menjadi sasaran utama.
Setelah hampir satu jam berbincang, orang tua Qiera berpamitan. Mereka sempat mengingatkan putrinya agar tetap menjaga kesehatan dan tidak melupakan kewajiban kuliahnya.
Qiera mengangguk, meskipun dalam hati ia sudah memutuskan bahwa untuk sementara waktu, tidak ada hal yang lebih penting daripada memastikan Ravi benar-benar pulih.
Keputusan itu terbukti pada hari berikutnya.
Qiera absen kuliah selama tiga hari berturut-turut.
Pesan dari Nisa dan Arga menumpuk di ponselnya. Ia tahu mereka khawatir karena biasanya ia tidak pernah menghilang dari kegiatan BEM tanpa kabar.
Namun, ia belum siap menjelaskan semuanya melalui pesan singkat. Ia hanya memberi tahu bahwa ada urusan keluarga yang harus ditangani dan berjanji akan menjelaskan ketika keadaan memungkinkan.
...🌵🌵...
Pada hari ketiga, dokter akhirnya mengizinkan Ravi pulang dengan sejumlah catatan perawatan dan jadwal kontrol. Qiera menyimak penjelasan itu dengan saksama, memastikan ia memahami semua instruksi sebelum membantu Ravi bersiap meninggalkan rumah sakit.
Sepanjang perjalanan menuju apartemen, ia berkali-kali mengingatkan suaminya agar tidak bergerak terlalu banyak.
“Mas, pelan-pelan. Jangan membungkuk begitu.”
“Saya hanya mengambil ponsel.”
“Bilang saja kalau butuh bantuan.”
“Ponselnya ada di saku celana saya, Lily. Masa saya harus meminta bantuan untuk mengambil ponsel sendiri?”
“Kalau memang harus, ya, harus!”
Ravi memalingkan wajah ke jendela, menahan senyum. Ia sudah menduga kehidupan setelah pulang dari rumah sakit tidak akan jauh berbeda dari kehidupan di ruang perawatan. Hanya saja, ia belum menyadari bahwa Qiera telah menyiapkan aturan yang jauh lebih ketat.
.
.
To be continued
See you🍀
saling support yuk,
biar semangat nulisnya😊