NovelToon NovelToon
Broken Home

Broken Home

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:467
Nilai: 5
Nama Author: kiara lily

Lily seorang anak yang ditinggal berpisah oleh kedua orang tua nya. tetapi suatu saat, kedua ortunya saling menikah lagi. saat itu ia ikut dengan ibunya, suatu hal yang tak disangka oleh Lily. Ayah tiri nya ternyata mempunyai niat buruk pada nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unaa, isi konten hanya pandangan pribadi pembuatnya tidak mewakili NovelToon sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiara lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan di Balik Cahaya

Dua bulan telah berlalu sejak kelahiran Aisyah. Rumah yang dulu tenang kini dipenuhi oleh tangisan bayi, suara mesin pompa ASI, dan tumpukan popok bekas yang menumpuk di sudut kamar mandi. Ratna dan Budi tenggelam dalam euforia menjadi orang tua baru. Mereka lelah, tentu saja, namun kelelahan itu dibalut dengan kebahagiaan murni melihat senyuman mungil Aisyah setiap pagi. Namun, di tengah kesibukan yang padat itu, ada satu sosok yang perlahan-lahan tersisih ke dalam bayang-bayang: Lily.

Lily, yang berusia lima belas tahun dan sedang memasuki masa-masa krusial remaja, mulai merasakan perubahan dinamika keluarga. Dulu, ia adalah pusat perhatian ibunya. Dulu, Budi selalu menyempatkan waktu untuk mengobrol dengannya setelah pulang kerja. Namun kini, fokus mereka berdua seolah teralih sepenuhnya pada si bungsu.

Malam itu, hujan deras mengguyur atap rumah. Lily duduk di meja belajarnya, menatap buku Sejarah yang terbuka di hadapannya. Ada tugas esai yang harus dikumpulkan besok pagi, namun pikirannya sulit berkonsentrasi. Dari kamar sebelah, terdengar suara Aisyah menangis rewel. Ratna dan Budi segera bergegas masuk, suara mereka terdengar lembut dan penuh perhatian.

"Sshh, sayang... Mama di sini. Papa gantiin popoknya ya," suara Ratna terdengar jelas melalui dinding tipis.

"Oke, Sayang. Ambil bedak itu, Rat. Kakinya merah sedikit," sahut Budi.

Lily menghela napas panjang. Ia sudah mencoba memanggil ibunya dua kali sebelumnya untuk meminta bantuan memahami materi sejarah, namun Ratna hanya menjawab singkat, "Tunggu sebentar ya, Lil, Adek lagi nangis," dan kemudian lupa sama sekali.

Dengan hati yang berat, Lily bangkit dari kursinya. Ia berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih. Di sana, ia melihat Nenek Surti sedang duduk sendirian di kursi goyang, menyuapi bubur kacang hijau yang sudah dingin.

"Nek, kenapa Nenek makan sendiri?" tanya Lily pelan.

Nenek menoleh, wajahnya tampak sedih. "Nggak apa-apa, Cucu. Mama kamu dan Papa Budi masih sibuk sama Aisyah. Mereka lupa kalau belum makan malam. Nenek nggak mau ganggu, jadi Nenek makan duluan."

Lily merasa dadanya sesak. Ia mengambil mangkuk lain, mengisi dengan bubur dari panci, dan duduk di samping Nenek. "Aku juga belum makan, Nek. Sepertinya kita berdua yang terlupakan hari ini."

Nenek mengusap punggung Lily. "Sabar ya, Lil. Bayi baru lahir memang butuh perhatian ekstra. Mama kamu mungkin kelelahan. Dia bukan sengaja mengabaikanmu."

"Aku tahu, Nek," jawab Lily, suaranya bergetar menahan emosi. "Tapi rasanya... rasanya aku jadi tidak terlihat. Dulu, sebelum Adek lahir, Papa Budi selalu tanya tentang sekolahku. Mama selalu dengerin ceritaku. Sekarang? Aku cuma jadi 'Kakak Lily' yang disuruh ambilkan popok atau diam supaya nggak berisik."

Sebelum Nenek bisa menjawab, pintu dapur terbuka. Ratna masuk dengan wajah lelah, rambutnya acak-acakan, dan ada noda susu di bajunya. Budi mengikuti di belakangnya, membawa botol susu yang sudah disterilkan.

"Eh, kalian belum makan?" tanya Ratna terkejut, melihat Lily dan Nenek sedang makan bubur. "Maaf ya, Ma, Lil. Tadi Aisyah kolik banget, susah banget ditidurin. Kami sampai lupa waktu."

Lily menatap ibunya. Ia ingin marah, ingin berteriak bahwa ia juga punya masalah, ia juga butuh perhatian. Namun, melihat wajah lelah Ratna, kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.

"Nggak apa-apa, Ma," jawab Lily datar. "Aku udah makan sama Nenek."

Budi mendekati Lily, mencoba bersikap akrab. "Gimana sekolahnya, Lil? Ada PR susah nggak?"

Pertanyaan itu terasa hampa bagi Lily. Itu hanyalah basa-basi otomatis, bukan ketertarikan tulus seperti dulu. Lily mengangkat bahu. "Biasa aja, Pa. Nggak ada yang spesial."

Ratna menarik kursi dan duduk di hadapan Lily. "Lil, Mama minta maaf ya kalau akhir-akhir ini kurang perhatiin kamu. Kamu tahu kan, Adek masih kecil, Mama harus nyusuin tiap dua jam. Tapi Mama sayang sama kamu. Kamu kakak yang hebat."

"Hebat?" ulang Lily, nada suaranya sedikit meninggi, sebuah protes halus yang akhirnya lolos. "Kalau hebat artinya diem-diem aja, ngurus diri sendiri, dan nggak boleh ganggu orang tua saat mereka sibuk sama bayi baru, iya deh, aku hebat."

Hening. Ruangan dapur mendadak terasa sangat sunyi, hanya terdengar suara hujan di luar. Ratna dan Budi saling berpandangan, menyadari bahwa ada sesuatu yang salah. Mereka terlalu larut dalam peran baru mereka sebagai orang tua bayi hingga lupa bahwa mereka juga masih memiliki anak remaja yang sedang bertumbuh.

"Lily..." panggil Budi lembut, nadanya serius. "Apakah kamu merasa kami mengabaikanmu?"

Lily menunduk, memainkan sendoknya. Air matanya mulai menetes, jatuh ke dalam mangkuk bubur. "Aku nggak marah, Pa. Aku cuma... kangen. Kangen waktu kita bertiga sering ngobrol sampai malam. Kangen waktu Mama bantu aku kerjain PR. Sekarang, aku merasa seperti tamu di rumah sendiri. Aku takut kalau nanti aku punya masalah, nggak ada yang dengerin karena semua orang sibuk sama Adek."

Ratna merasa hatinya diremas. Ia meraih tangan Lily erat-erat. "Oh, Sayang... Maafkan Mama. Mama egois. Mama pikir kamu sudah besar, sudah mandiri, jadi Mama fokus ke Adek. Tapi Mama lupa, sebesar apapun kamu, kamu tetap anak Mama yang butuh perhatian. Mama salah."

Budi ikut memegang tangan Lily yang lain. "Papa juga minta maaf, Lil. Papa kira dengan memberimu kebebasan, itu bentuk kepercayaan. Tapi ternyata, kamu butuh kehadiran kami, bukan sekadar kebebasan. Mulai sekarang, Papa janji akan luangkan waktu khusus buat kamu. Mungkin seminggu sekali, kita jalan-jalan bertiga, tanpa Adek. Atau setiap malam sebelum tidur, Papa cek PR kamu. Deal?"

Lily menatap ayahnya, lalu ibunya. Ia melihat penyesalan tulus di mata mereka. Kemarahannya perlahan luntur, digantikan oleh rasa lega karena akhirnya suaranya didengar.

"Deal," bisik Lily. "Tapi jangan cuma janji, Pa. Buktiin."

"Pasti," jawab Budi tegas.

Ratna mencium kening Lily. "Terima kasih sudah mengingatkan kami, Lil. Kamu benar. Keluarga itu bukan cuma soal siapa yang paling kecil dan butuh perlindungan, tapi juga soal siapa yang paling butuh didengar. Mama berjanji akan seimbang. Adek butuh susu, tapi Kakak butuh cerita."

Nenek Surti tersenyum lega dari sudut ruangan. "Syukurlah. Komunikasi itu kunci, Nak. Jangan dipendam."

Malam itu, setelah Aisyah tertidur pulas, Ratna dan Budi duduk di ruang tengah bersama Lily. Mereka tidak menonton televisi. Mereka hanya duduk melingkar, minum teh hangat, dan Lily bercerita tentang teman-temannya di sekolah, tentang guru galaknya, dan tentang mimpinya ingin menjadi penulis. Ratna dan Budi mendengarkan dengan saksama, tanpa interupsi, tanpa mengecek ponsel, tanpa memikirkan popok atau susu.

Bagi Lily, momen sederhana itu lebih berharga daripada hadiah mahal mana pun. Ia menyadari bahwa orang tuanya tidak berhenti mencintainya; mereka hanya kehilangan arah sementara. Dan dengan kejujuran, arah itu ditemukan kembali.

Di kamar sebelah, Aisyah tidur nyenyak, tidak menyadari bahwa kelahirannya telah mengajarkan keluarganya pelajaran penting: cinta tidak boleh dibagi secara hierarki, melainkan harus dialirkan secara adil kepada setiap anggota keluarga, sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. Dan malam itu, aliran cinta itu kembali menemukan jalurnya yang seimbang, menyirami hati Lily yang sempat kering, membuatnya mekar kembali dengan harapan baru.

1
Unaa
maafkan yaa kalo banyak typo nyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!