NovelToon NovelToon
Kutukan Jiwa Niskala 2

Kutukan Jiwa Niskala 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Fantasi
Popularitas:315
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Disarankan untuk baca season pertamanya dulu ya!

****

Tiga tahun setelah bangkit dari kematian dengan kekuatan Batu Es yang terkutuk, Han Seol menjelma menjadi penyihir terkuat yang ditakuti sekaligus kesepian. Di tengah bayang-bayang arwah jahat dan luka masa lalu atas hilangnya Seol Ah, ia dipertemukan kembali dengan Jin So Hwa—putri sulung rahasia dari Jinyowon yang jiwanya menyimpan misteri besar.
Demi lolos dari kurungan ibunya, So Hwa nekat mengajukan pernikahan gila kepada Han Seol. Dan demi membungkam seisi kerajaan, sebuah kebohongan konyol terucap: "Saksi pernikahan kami adalah anak di dalam perutku!"
Saat takdir lama mulai terajut kembali dengan identitas baru, akankah es di hati Han Seol mencair, ataukah rahasia tiga tahun lalu justru akan menghancurkan mereka sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Perjamuan Ilusi dan Rahasia Cacing Darah

"Kau pikir bisa membodohiku dengan topeng itu, Jin Wu?" gumam Han Seol dingin.

Sringgg... Jleb!

Dengan sekali sentakan pedang pembunuh bayangannya, sihir biru terang melesat secepat kilat, memotong udara malam dan langsung menembus punggung si pemindah jiwa palsu dari belakang hingga makhluk itu tewas mengenaskan dan berubah menjadi batu.

Eksekusi cepat di atas jembatan itu disaksikan langsung oleh banyak penjaga malam dan warga sekitar, yang kemudian menyebarkan berita sahih ke seluruh kota bahwa "hantu Nara" telah benar-benar dilenyapkan secara permanen oleh sang Penyihir Agung.

Setelah seluruh huru-hara malam itu mereda, Han Seol berdiri sendirian menatap pedangnya. Mengingat nasihat dan teguran keras dari Do Kwang siang tadi, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, Han Seol akhirnya memantapkan langkah kakinya menuju ke tempat di mana Seol Ah dulu jatuh dan mengakhiri hidupnya: Danau Cheon Gi.

Di tepi danau yang berkabut tebal dan sunyi itu, runtuhlah seluruh pertahanan dingin sang Penyihir Agung. Di bawah kesaksian air danau yang membeku, Han Seol berlutut. Bahunya berguncang hebat saat ia meluapkan seluruh kesedihan, rasa bersalah, dan duka mendalam yang selama tiga tahun ini ia kunci rapat di dalam dadanya. Ia menangis tersedu-sedu, meratapi kematian kekasih hatinya, Seol Ah alias Nara, membiarkan air matanya jatuh menyatu dengan air danau yang dingin.

****

Sementara itu, di sudut kumuh Desa Gaima, ketegangan lain sedang berlangsung. Yoo Ha Jin yang ditugaskan melakukan penggerebekan telah sampai di markas judi milik Soi. Begitu ia mendobrak masuk demi mencari keberadaan Byeong Gu, ia langsung mendapat perlawanan sengit dari para tukang pukul bayaran di sana.

Brak! Kelontang!

Ha Jin harus memutar pedangnya berkali-kali, menghadapi keroyokan para pengawal judi yang mencoba menahannya. Di tengah riuhnya keributan di dalam ruangan tersebut, Soi memanfaatkan momentum untuk menyambar lengan Byeong Gu, bersiap melarikan diri lewat pintu rahasia di halaman belakang.

Namun, begitu Soi berhasil melompat keluar ke gang sepi yang gelap, langkahnya mendadak terkunci. Sebuah tangan kokoh mencengkeram pergelangan tangannya dengan sangat kuat dari balik kegelapan.

"Lepaskan!" jerit Soi panik.

Begitu sosok itu melangkah ke bawah temaram lampu jalan, jantung Soi seolah berhenti berdetak. Pria yang sedari tadi sudah mengintai dan menunggu di luar tanpa diduga langsung menyergapnya adalah Baek Seo Jun. Pemuda itu menatapnya dengan tatapan tajam yang menuntut jawaban interogasi.

Mengetahui bahwa dirinya sudah tersudut dan sangat yakin di dalam hatinya bahwa Baek Seo Jun tidak akan pernah tega menyakiti fisiknya, Soi mendengus pasrah. Dengan gurat kelicikan yang tersisa, ia langsung mengakui segalanya tanpa beban.

"Ya, akulah yang mengarang seluruh isu hantu pembunuh bayangan itu, Seo Jun," aku Soi sembari melipat tangan di dada. "Tujuanku hanya untuk melariskan jimat penangkal Nara buatan Desa Gaima agar aku dapat uang banyak. Jika kau mau, tangkap saja aku sekarang. Aku tidak akan melawan."

Akan tetapi, Baek Seo Jun sama sekali tidak memedulikan masalah jimat atau sayembara tersebut. Ia melangkah maju, mempersempit jarak di antara mereka, lalu menyinggung perihal botol-botol obat khusus yang selama ini selalu Soi kirimkan secara rahasia kepadanya melalui pemilik Rumah Mawar.

"Aku tidak peduli dengan jimat sampahmu, Soi," ucap Baek Seo Jun dengan suara rendah namun bergetar menahan sesuatu.

"Aku datang untuk mengatakan hal ini kepadamu... bahwa tidak ada satu pun obat pereda nyeri pemberianmu yang masuk ke dalam mulutku. Aku tidak meminumnya sama sekali."

Mendengar pengakuan horor dari Seo Jun, wajah Soi seketika memucat. Matanya membelalak penuh kengerian.

Sebagai orang yang sudah pernah merasakan sendiri betapa biadabnya rasa sakit ketika parasit cacing darah merongrong dan menghisap energi kehidupan dari dalam tubuh, Soi benar-benar tak habis pikir. Ia tidak bisa membayangkan betapa dahsyatnya penderitaan dan rasa sakit yang ditahan oleh Baek Seo Jun selama tiga tahun ini karena menolak meminum cairan pereda rasa sakit yang ia kirimkan.

****

Kembali ke kedemian keluarga Han. Waktu telah menunjukkan sepertiga malam ketika Han Seol berjalan pulang dari Danau Cheon Gi dengan tubuh yang lelah dan batin yang telah terkuras habis oleh air mata duka.

Begitu ia melangkah masuk ke dalam kamarnya, Jin So Hwa yang asli sudah duduk menantinya dengan raut wajah penuh kehangatan dan kecemasan.

Tanpa sepatah kata pun, Han Seol melangkah mendekat, lalu menjatuhkan tubuhnya yang lelah ke atas ranjang. Di bawah kehangatan selimut, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun yang penuh dengan siksaan arwah jahat dan mimpi buruk, Han Seol akhirnya bisa memejamkan mata dan tertidur dengan sangat nyenyak, tenang, dan damai di dalam dekapan pelukan hangat Jin So Hwa.

Sementara itu, di gang gelap Desa Gaima, air mata Soi akhirnya menetes karena tak kuasa membayangkan rasa sakit yang dialami pria yang dicintainya. Dengan bibir gemetar, ia akhirnya terpaksa membuka rahasia terbesar yang ia simpan rapat selama tiga tahun ini.

"Kau bodoh, Baek Seo Jun!" tangis Soi pecah, mencengkeram jubah pemuda itu. "Obat itu adalah satu-satunya penahan rasa sakitmu! Makhluk yang berada di dalam tubuhmu saat ini bukan penyakit biasa... itu adalah cacing darah terkutuk!"

Soi terengah-engah, menjelaskan dengan penuh penyesalan. "Tiga tahun lalu, saat kau sekarat di ambang kematian, aku terpaksa memasukkan cacing darah itu dari tubuhku ke dalam tubuhmu karena aku mengira kekuatan magis parasit itu bisa menopang energi kehidupanmu dan menyelamatkan nyawamu. Namun aku salah... cacing itu ternyata malah bertindak sebagai racun yang membuat keadaan dalam tubuhmu semakin parah dari hari ke hari!"

Soi memegangi dadanya sendiri dengan gurat frustrasi. "Dan yang paling mengerikan... karena cacing darah itu sekarang sudah masuk terlalu dalam dan bersarang di dalam pusat sumber energi utama spiritualmu (gichul), makhluk itu tidak akan bisa dikeluarkan lagi dengan metode pemindahan sihir yang sama seperti yang kulakukan tiga tahun lalu. Kau terikat dengannya seumur hidup!"

Mendengar rentetan penjelasan emosional dari Soi, Baek Seo Jun terdiam sejenak, mencerna setiap informasi mistis tersebut. Namun, dari alur percakapan mendalam dengan Soi malam itu, kecerdasan Seo Jun akhirnya berhasil menyatukan titik-titik konspirasi yang lebih besar.

Ia akhirnya tahu secara mutlak tentang keterlibatan Jin Wu dengan seluruh isu kemunculan hantu Nara yang disebarkan Soi di pasar, serta fakta bahwa obat penawar yang dikirimkan Soi selama ini sebenarnya bersumber dari pasokan Cheonbugwan milik Jin Wu untuk mengendalikannya.

Tapi, di balik segala penderitaan fisik yang ia tanggung, sebuah keberuntungan besar masih berpihak pada mereka. Fakta krusial mengenai parasit cacing darah yang telah berpindah ke dalam tubuh Baek Seo Jun sampai detik ini terbukti belum ada satu pun orang luar yang tahu, bahkan Jin Wu sekalipun masih mengira cacing itu berada di tubuh Soi.

Oleh karena itu, sebelum mereka berdua berpisah malam itu di bawah kegelapan gang, Baek Seo Jun memegang pundak Soi dengan erat, menatapnya dengan pandangan penuh perintah yang mutlak.

"Jin Wu tidak boleh tahu tentang hal ini, Soi. Jadi sebelum kita berpisah, aku memintamu dengan sangat... tetap jaga rahasia kepindahan cacing darah ini di antara kita berdua saja. Jangan sampai Cheonbugwan menciumnya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!