Novel ini aku tulis berdasarkan kisah nyata dari seseorang, tapi disini aku menambahkan sedikit ceritanya..
Namaku Melati, aku memiliki seorang sahabat , Lani namanya, yang sudah ku anggap seperti saudara sendiri.
Tapi Lani dengan teganya mengkhianati aku. Ia menikah dengan suamiku secara diam diam.
Marah... benci dan kecewa... itu yang aku rasakan ketika aku mengetahui pengkhianatan suami dan sahabatku.
Aku mencoba bertahan dengan menerima Lani sebagai maduku karena ia lagi mengandung anak dari suamiku.
Akankah aku sanggup bertahan selamanya atau aku pergi meninggalkan suami dan sahabatku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga puluh Empat
Dokter dan Perawat masuk dengan tergesa, ia langsung memegang tangan Melati yang berdarah.
"Lepas dok... aku mau pulang, aku nggak sakit"ucap Melati sambil meronta ketika kedua tangannya dipegang oleh dokter dan perawat.
"Ibu Melati harus istirahat dulu, sampai ibu benar benar sembuh"
Dokter memberikan suntik penenang buat Melati karena ia yang masih meronta.
Setelah diberi suntik barulah Melati agak sedikit tenang.
"Dokter... aku mau pulang.. "
"Ibu akan pulang jika telah sembuh, untuk itu ibu jangan banyak pikiran. "ujar dokter
Melati kembali memejamkan matanya karena pengaruh suntik penenang itu.
"Willy.. ibu bukannya ingin ikut campur urusan rumah tangga kamu dan Melati,tapi melihat sakitnya Melati saat ini, ada baiknya kamu menuruti dulu apa yang diinginkan Melati agar tidak menambah beban pikirannya"
"Ya bu. Kalau begitu saya minta tolong jaga Nabila. Maaf ya merepotkan ibu. Saya nggak tahu apa yang membuat Melati tidak percaya dengan mama saya."
"Itu mungkin karena pikiran Melati yang lagi nggak stabil "
"Mungkin bu.. tapi maaf , bisa ibu bawa Nabila sekarang, saya takut nanti jika ibu saya sudah datang, alasan apa yang akan saya berikan buat ibu saya"
"Baiklah,kalau begitu ibu dan Rangga pamit dulu. "
Baru beberapa saat Mami Rangga pergi, mama Willy masuk keruang rawat Melati.
"Sakit apa Melati"
"Psikosomatis..."
"Sakit apa itu... "
"Sakit yang dikarenakan terlalu banyak pikiran dan akhirnya mengakibatkan sakit fisik juga seperti Melati saat ini"
"Apa lagi sih yang dipikirkan Melati, kamu sudah memberi ia nafkah. Jika ia tak sanggup diduakan, mengapa tidak pisah aja"
"Ma.. aku yang tak akan pernah ceraikan Melati, kita sudah bicarakan ini dan sudah sepakat jika mama tak akan mencampuri urusan rumah tanggaku dengan Melati lagi asal aku menuruti mau mama "
"Sudah lah.. kamu selalu saja membela Melati. Mana Nabila.. "
"Ia aku titipkan dengan tetangga Melati yang dekat rumah bundanya dulu"
"Tadi kamu bilang mama yang akan menjaganya, jangan bilang kalau Melati yang tak izinkan mama merawat anakmu, sebenarnya apa maunya Melati itu"ucap Mama dan akan mendekat keranjang Melati
"Melati sedang istirahat ma.. baru saja ia tertidur. Mama sebaiknya pulang saja"
"Kamu tuh terlalu baik dengan Melati, makanya tuh anak ngelunjak. Baiklah mama akan pergi, ingat ya sepuluh hari lagi acara syukuran kelahiran putra kamu Bobby.. . jangan sampai lupa... mama akan datang menjemput kamu jika kamu lupa"
"Ya... ma. Aku tak akan lupa"
Mama Willy meninggalkan ruangan itu dengan kesal.
#####################
Seminggu sudah Melati di rawat, hari ini ia telah kembali kerumahnya lagi. Nabila juga sudah di bawa sekalian.
Selama ia dirawat di rumah sakit, Rangga akan datang dengan mamanya ketika Willy pergi kerja.
Melati merasa senang sekali karena akhirnya dapat merasakan empuk kasur kamarnya
"Mela.. kamu mau mas masakin apa buat sarapan dan makan siang"
"Nggak usah... aku bisa masak sendiri"
"Mela... kamu masih sakit, bagaimana kamu bisa masak "
"Nggak apa mas.. aku masih kuat jika hanya sekadar masak buat diriku sendiri"
"Jangan keras kepala Melati"
"Aku nggak mau merepotkan mas dan juga aku tak mau berhutang budi terlalu banyak karena kamu sudah merawat dan menjaga aku selama sakit"
"Melati... "teriak Willy
"Telinga aku masih berfungsi...mas nggak perlu teriak teriak"
"Aku tak mengerti kamu lagi Mela. Kamu yang dulu aku kenal sangat lembut dan penurut "
"Aku juga tak mengerti kamu mas... Mas Willy yang aku kenal saat pertama bertemu, lelaki yang pernah berjanji tak akan pernah menyakiti hatiku"
"Mela.. harus berapa kali aku katakan. Aku akui,jika aku memang selalu menyakiti hatimu, tapi ini sudah terjadi, seharusnya kita dapat menghadapi dan menjalaninya dengan ikhlas"
"Kamu bisa saja ikhlas.. tapi aku sebagai korban bagaimana bisa ikhlas"
"Sudah Mela... kamu baru sembuh, aku tak mau bertengkar lagi. Aku pamit... "ucap Willy meninggalkan Melati dan pergi kerja
"Melati yang dulu lembut sudah hilang mas.. ... aku tak mau tersakiti terus.. jika kamu tidak bisa menerima aku yang saat ini, pasti nanti kamu sendiri yang akan minta pisah.. jika aku tak bisa minta cerai, aku akan membuat kamu yang akan menceraikan aku"
################
Sejak pulang dari rumah sakit, sikap Melati memang berubah. Walau ia tetap memasak buat Willy tapi ia tak pernah mau melayaninya baik ketika makan atau ketika di kamar.
"Aku tak tahu kemana kamu menyalurkan nafsu mu saat ini. Aku tahu ini dosa.... karena aku tak melayani kamu.. tapi hatiku sudah terlanjur sakit..aku harus membalas sedikit perbuatanmu"
Willy sering pulang tengah malam. Melati tidak pernah bertanya kemana ia pergi atau apa yang ia perbuat. Melati sudah tak mau tahu apapun yang dilakukannya.
Pagi pagi Melati bangun dan kedapur memasak sarapan buat Willy. Tiba tiba ia merasa ada tangan memeluk pinggangnya. Ia tahu itu Willy.
"Mela.. sudah cukup kamu acuhkan aku. Maafkan semua salahku Mela, jangan diamkan aku seperti ini lagi. Aku tak sanggup Mela"
Willy tiba tiba berlutut dan memegang kaki Melati, bersujud.
"Melati maafkan aku.. apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa kembali lagi seperti Melati yang aku kenal dan aku cintai"
Melati memegang bahu Willy dan membantunya berdiri.
"Sudah mas... aku juga sudah sering berkata, aku bukan Tuhan tempat kamu bersujud, jadi jangan bersujud padaku"
"Aku tidak akan bohong lagi, aku akan berkata jujur kemana aku pergi. Tapi aku harap kamu jangan marah lagi"
"Mas.. sarapanlah.. "
"Kamu temani aku sarapan"ucap Willy dengan air mata yang masih mengalir.
Melati duduk berhadapan dengan Willy menemani nya sarapan.
"Kamu nggak ikut sarapan.. sayang"
"Aku masih kenyang... nanti saja sarapannya"
"Mela... jangan pernah acuhkan aku lagi. Aku tak sanggup.. nanti mas transfer lagi ya uang belanja mu"
"Mas... kamu pikir dengan uangmu dapat mengobati sakit hatiku. Dan kamu pikir aku akan berubah setelah mendapat uang darimu. Jika pun aku menerima semua uang yang kamu berikan karena aku ingin menabung buat masa depan anakku Nabila. Aku masih tetap bertahan disisimu juga hanya karena Nabila. Kamu berusaha merayu aku saat ini ,karena kamu ingin pergi ke acara syukuran kelahiran putramu.. Aku ini sudah tahu semuanya mas.. tapi aku hanya pura pura nggak tahu dan tak peduli saja karena aku tidak mau terluka lagi. Lebih baik aku menganggap tidak pernah ada sahabat atau maduku yang bernama Lani.. mulai hari ini aku sudah menganggap Lani sudah mati. Aku akan menjalani semua ini seolah tak pernah terjadi apa apa antara kamu dan Lani"
***************************
Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini
ternyata ada ya, kisah nyata yg mirip kisah halu di dunia pernovelan..
ternyata main ku kurang jauh, hehehe..
semua memang telah ditakdirkan dan kita hanya tinggal menjalankan..
tetapi dalam menjalani kehidupan, kita jg diberi kesempatan untuk memilih mana jalan yg akan kita tempuh..
jadi walau semua telah ditakdirkan, tetapi kita jg tetap punya andil dalam memilih jalan yg akan dilalui..
rasanya bener2 gak habis pikir, sekeluarga dipenuhi dg laki2 yg suka mendua bahkan lebih..
semua perbuatan pasti ada balasannya..
dan semua tokoh telah mendapatkan balasannya sesuai dg perbuatan masing2..
semoga kita bisa menjadi pribadi yg selalu bersyukur dg apa yg kita punya dan terhindar dari penyakit hati, salah satunya iri dengki..
manusia memang tempatnya salah dan lupa..
tapi dengan belajar ilmu agama, kita bisa memilih jalan benar untuk ditempuh..
keren banget ceritanya mam..
kadang ikut kesel jg sama mama Elly terutama..
kok ada orang sesombong dan se-egois itu..
maunya menang sendiri dan gak mau disalahkan..
selalu berprasangka buruk dan keinginannya harus selalu dituruti..
oke deh mama, semoga sehat terus yaa..
tetap semangat berkarya dan semoga sukses selalu..
💪🏻🙏🏻😘🥰😍🤩💕💕💕
cuss lanjut novel berikutnya.. 🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️