hai semua ini novel pertama Rayas ya🤭
kalau ada saran atau komentar boleh tulis di kolom komentar ya. lopyouuuu 😘😘
Dalam keputusasaan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya di tahun 2025. Namun, maut ternyata bukan akhir. Safira terbangun di tubuhnya yang berusia 17 tahun, kembali ke tahun 2020—tepat di hari di mana ia dikhianati oleh adik tirinya dan diabaikan oleh saudara kandungnya hingga hampir tenggelam.
Berbekal ingatan masa depan, Safira memutuskan untuk berhenti. Ia berhenti menangis, berhenti memohon, dan yang terpenting—ia tak lagi berharap pada cinta keluarga Maheswara.
kalau penasaran jangan lupa mampir ke novel pertama Rayas 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Bayang-Bayang di Balik Pesta
Malam itu, setelah pulang dari mall, Safira duduk di tepi tempat tidurnya. Di tangannya terdapat sapu tangan sutra berwarna abu-abu gelap dengan inisial 'A.B'. Aroma maskulin yang tertinggal di kain itu entah mengapa memberikan ketenangan yang asing bagi Safira. Ia menyimpannya di dalam laci paling bawah, terkunci rapat bersama rahasia-rahasianya yang lain.
Keesokan paginya, kediaman Maheswara sudah seperti zona perang dekorasi. Para pelayan berlarian, desainer interior sibuk memasang ornamen kristal di ruang tengah, dan suara Ratih yang melengking memberikan perintah terdengar hingga ke lantai dua. Semua ini demi satu tujuan: pesta ulang tahun ke-17 Maya yang akan diadakan dua hari lagi.
Safira turun untuk mengambil kopi di dapur. Langkahnya yang tenang terhenti saat Ratih menghadangnya di lorong dengan wajah penuh amarah.
"Safira! Kamu ke mana saja kemarin? Desainer sudah datang untuk mengukur gaun seragam keluarga, dan kamu malah keluyuran!" bentak Ratih.
Safira menyesap kopinya perlahan, matanya yang jernih menatap Ratih tanpa kedip. "Aku tidak pernah meminta untuk dibuatkan gaun. Pakai saja kain itu untuk tambahan dekorasi Maya. Bukankah dia suka barang-barang berlebihan?"
"Kamu—!" Ratih mengangkat tangannya, namun tiba-tiba suara langkah kaki berat terdengar dari arah tangga.
Raka muncul dengan setelan kantornya. Wajahnya tampak kuyu, ada lingkaran hitam di bawah matanya. Sejak mendengar kalimat Safira tentang "orang mati tidak punya alasan untuk berharap", Raka tidak bisa tidur dengan nyenyak.
"Ma, sudah," potong Raka dingin. "Kalau dia tidak mau, jangan dipaksa. Lagipula, kehadiran Safira hanya akan membuatnya merasa terasing di tengah pesta Maya."
Safira melirik kakaknya. Ada kilatan aneh di mata Raka—seperti rasa bersalah yang tertahan. Safira hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih menyakitkan daripada makian, lalu ia melewati mereka begitu saja.
Di sisi lain kota, di gedung pencakar langit Sudarso Group, Arkan berdiri di depan jendela kaca besar yang menghadap ke jalanan Jakarta. Di atas mejanya, terdapat koper kulit milik ayahnya yang sempat dicuri Tempo hari.
"Abian," panggil Abimanyu yang masuk ke ruangan. "Papa dengar dari pengawal, kemarin mobilmu hampir dibobol di mall?"
Abian berbalik, wajahnya tetap datar. "Hanya pencuri amatir. Seseorang membereskannya."
Abimanyu menaikkan alisnya. "Seseorang? Siapa? Papa harus berterima kasih padanya."
Abian terdiam sejenak. Bayangan gadis dengan rambut pendek, tatapan tajam, dan sapu tangan di tangannya kembali muncul. "Hanya seorang gadis SMA. Aku tidak tahu namanya."
"Gadis SMA lagi?" Abimanyu terkekeh. "Jangan-jangan dia orang yang sama dengan yang menyelamatkan Papa di gang. Apa dia punya rambut pendek dan mata yang sangat berani?"
Jantung Abian berdenyut aneh. Ia teringat gadis di parkiran itu. Rambut pendek? Ya. Berani? Sangat.
"Mungkin," jawab Abian pendek. "Aku sudah menyuruh orang mengecek rekaman CCTV mall."
"Bagus. Cari tahu siapa dia. Papa punya firasat, dia bukan orang sembarangan," ucap Abimanyu sebelum meninggalkan ruangan.
Tak lama setelah ayahnya pergi, asisten pribadi Abian, Leo, masuk dengan sebuah tablet di tangan. "Tuan Muda, rekaman CCTV di area parkir kemarin terhapus secara misterius pada jam kejadian. Sepertinya ada seseorang yang meretas sistem keamanan mall untuk menghilangkan jejak."
Abian menyipitkan mata. "Meretas? Seorang gadis SMA bisa melakukan itu?"
"Atau seseorang yang melindunginya," tambah Leo.
Abian mengetukkan jarinya di meja. Rasa penasaran yang selama ini mati di dalam dirinya kini mulai berkobar. Gadis itu menolongnya, menolak bantuannya, dan sekarang jejaknya hilang. "Cari di setiap SMA elit di Jakarta. Fokus pada siswi kelas 11 atau 12. Aku ingin tahu siapa dia sebelum pesta Maheswara dimulai lusa."
Hari yang dinanti keluarga Maheswara tiba. Hotel Grand Hyatt didekorasi sedemikian rupa hingga menyerupai istana kristal. Ratusan tamu dari kalangan pengusaha, pejabat, hingga selebritas mulai memenuhi ballroom.
Maya tampil memukau dengan gaun putih bertabur swarovski, berdiri di samping Raga dan Ratih seperti seorang putri sejati. Raka, Bima, dan Vian juga berdiri di sana, menyalami tamu-tamu penting.
"Mana anakmu yang satu lagi, Raga?" tanya salah satu kolega bisnis.
Raga tertawa hambar. "Oh, Safira? Dia sedang kurang enak badan, jadi istirahat di rumah. Biasalah, anak muda."
Raka mendengar itu dan merasa muak. Ia tahu Safira ada di hotel ini, karena ayahnya memaksa Safira datang untuk sekadar "menunjukkan wajah" agar tidak ada gosip buruk, namun Safira dilarang naik ke pelaminan pesta.
Di sebuah sudut yang remang-remang, jauh dari keramaian panggung, Safira duduk sendirian. Ia tidak memakai gaun putih seragam keluarga. Ia mengenakan dress sutra berwarna hitam pekat yang jatuh dengan sempurna di tubuhnya yang ramping. Rambutnya ditata sedikit sanggul tinggi, memberikan kesan dewasa namun tetap imut dengan poni wispy-nya.
"Gila, itu Safira?" bisik Mufti yang baru datang bersama rombongan Nathan.
Nathan membeku di tempatnya. Safira terlihat luar biasa. Hitam di tengah lautan putih pesta itu membuatnya menonjol seperti berlian hitam yang langka. Nathan ingin menghampirinya, namun langkahnya terhenti saat melihat Safira sedang sibuk dengan ponselnya, sama sekali tidak memedulikan kemegahan di depannya.
"Dia kayak nggak butuh siapa-siapa di sini," gumam Valen dengan nada kagum.
Tiba-tiba, suasana ballroom mendadak hening. Pintu utama terbuka lebar, dan pembawa acara mengumumkan kedatangan tamu yang paling dinantikan.
"Keluarga Byakta, Bapak Abimanyu razka Byakta dan Tuan Muda Abian Alvarazka Byakta."
Raga Maheswara hampir menjatuhkan gelas sampanyenya. Ia segera merapikan jasnya dan memberi isyarat pada Ratih serta Maya untuk bersiap. Ini adalah momen langka. Keluarga Byakta hampir tidak pernah menghadiri pesta ulang tahun anak SMA, kecuali ada kepentingan bisnis besar.
Abian melangkah masuk dengan setelan jas hitam yang sangat pas di tubuh atletisnya. Wajahnya yang dingin dan berwibawa membuat para gadis di ruangan itu menahan napas. Namun, mata Abian tidak tertuju pada dekorasi mewah atau pada Maya yang sudah bersiap menebar pesona. Matanya menyisir setiap sudut ruangan, mencari satu sosok yang memenuhi pikirannya selama dua hari terakhir.
"Tuan Byakta, suatu kehormatan luar biasa Anda bisa hadir," sapa Raga dengan membungkuk hormat.
Abimanyu tersenyum ramah. "Sama-sama, Raga. Aku dengar ini hari besar putrimu."
Maya maju dengan senyum paling manisnya. "Terima kasih sudah datang, Om Abimanyu, Kak Abian."
Abian hanya mengangguk sekilas tanpa minat. Ia merasa bosan. Namun, saat matanya beralih ke arah pojok ruangan, dekat dengan balkon luar, ia melihatnya.
Gadis itu sedang menyesap air putih, menatap ke arah luar jendela seolah-olah pesta ini adalah hal paling membosankan di dunia. Abian mengenali garis rahang itu. Ia mengenali cara gadis itu berdiri.
"Papa, aku permisi sebentar," bisik Abian pada Abimanyu.
Tanpa menunggu jawaban, Abian melangkah membelah kerumunan. Raga dan Maya terpaku melihat Abian justru berjalan menjauh dari mereka menuju sudut yang sepi.
Safira sedang asyik memikirkan laporan dari Andi tentang kenaikan saham kafe Solace saat ia merasakan kehadiran seseorang di sampingnya. Aroma sandalwood dan citrus yang familiar menyapa indra penciumannya.
"Sapu tangan itu... kau sudah mencucinya?" suara rendah dan berat itu terdengar tepat di telinga Safira.
Safira menoleh, sedikit terkejut namun tetap tenang. Di depannya berdiri pria dari area parkir itu. Kini ia terlihat jauh lebih mengintimidasi dengan setelan jas formal.
"Aku tidak membawanya ke pesta," jawab Safira tenang. "Dan aku tidak tahu kalau kau suka mendatangi pesta anak kecil."
Abian berdiri di samping Safira, menyandarkan punggungnya di pagar balkon. "Aku juga tidak tahu kalau gadis yang jago berkelahi ternyata adalah bagian dari keluarga yang suka pamer ini."
Safira terkekeh sinis. "Aku bukan bagian dari mereka. Aku hanya 'pajangan' yang tidak laku di rumah ini."
Abian menatap Safira dalam-dalam. "Aku sudah mencarimu di seluruh SMA di Jakarta."
"Untuk apa? Meminta ganti rugi sapu tangan?"
"Untuk memastikan kau tidak meretas sistem keamanan mall lagi hanya untuk menyembunyikan identitasmu," ucap Abian dengan nada menantang.
Safira tertegun sejenak, lalu tersenyum miring. "Ternyata kau tidak sebodoh yang kukira, Tuan 'A.B'."
Di seberang ruangan, Raga, Raka, Bima, dan Nathan menonton adegan itu dengan perasaan campur aduk. Raga kaget karena Abian Alvarazka Byakta terlihat sangat akrab dengan anak yang ia kucilkan. Maya menggigit bibirnya sampai hampir berdarah karena iri. Sedangkan Nathan... ia merasakan hatinya benar-benar panas melihat Safira bisa tersenyum pada pria lain—pria yang jauh lebih segalanya darinya.
"Siapa dia sebenarnya, Safira?" gumam Nathan dengan rasa perih yang tak tertahankan.
Malam itu, di tengah kemegahan pesta yang dibuat untuk Maya, perhatian dunia justru perlahan-lahan bergeser pada berlian hitam yang selama ini tersembunyi. Dan bagi Abian, pencariannya baru saja dimulai. Ia tidak peduli jika gadis ini seorang Maheswara, karena ia sudah menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga di balik tatapan dingin Safira.
"Namaku Abian," ucap Abian, mengulurkan tangannya secara resmi.
Safira menatap tangan itu, lalu menatap mata Abian. Ia tidak langsung menyambutnya. "Safira. Dan jangan berharap aku akan menjadi gadis penurut hanya karena kau menyebutkan namamu."
Abian tertawa kecil—sebuah pemandangan yang membuat orang-orang di ballroom ternganga karena sang pangeran es baru saja mencair. "Justru itu yang membuatku tertarik."
...****************...
Safira Kirana maheswara by pinterest
Abian Alvarazka Byakta by pinterest
Guyssss jangan lupa like nya ya, kalau ada yang kurang atau typo coment aja nanti, biar jadi pelajaran buat Rayas soal nya ini novel pertama rayas