NovelToon NovelToon
Kembalikan Anakku, Adinata

Kembalikan Anakku, Adinata

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: doubleareya

Copyright ©2026, Kembalikan Anakku, Adinata oleh Doubleareya.

Adinata Hardiyanto menikah dengan Nadine Ayunda bukan akibat perjodohan, accident atau kontrak semata, tapi karena rasa cinta untuk memiliki. Dari awal menikah orang tuanya selalu ikut campur dan tidak memberi akses untuk dirinya bisa memimpin keluarga kecilnya sendiri. Adinata tetap bersabar sampai ia harus kehilangan sang istri—Nadine Ayunda.

Nadine Ayunda memilih berpisah dengan sang suami—Adinata Hardiyanto yang hidupnya selalu disetir oleh sang mertua. Nadine pergi dengan membawa sang buah hati yang dikandung di perutnya.

Tapi jika memang sudah digariskan oleh takdir, sejauh apapun langkah membawa, ia pasti akan kembali menjadi satu lagi. Untuk kembali artinya perlu dijemput, apakah Adinata bisa menjemput istrinya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doubleareya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Terasa menengangkan

“Seperti ini caramu membalas semua jasa Papa untukmu, Adinata?”

Sebelumnya Adinata sudah mendengar suara sang papa yang beradu mulut dengan Gerry di depan pintu ruang kerjanya. Dia tidak banyak bereaksi karena dia mengetahui alasan sang papa yang datang ke ruang kerjanya dengan wajah penuh amarah.

Dia menutup dokumen yang sedang diperiksa sebelum meminta revisi lalu berganti menatap sang papa. “Aku tidak perlu membalasnya.”

Kedua tangan Hanung terkepal erat. Emosinya benar-benar menyebar ke seluruh tubuhnya karena ulah Adinata. “Kamu mempermalukan Papa!”

“Tidak.” Adinata menggelengkan kepalanya. “Papa yang mempermalukan diri Papa.”

Hanung tertawa paksa. “Jadi alasan kamu tidak menghadiri rapat perusahaan karena kamu sengaja membuat rencana untuk mempermalukan Papa. Hebat sekali anakku.”

“Terima kasih pujiannya, Papa.” Adinata tersenyum tipis.

“Kamu tidak ingat perjuangan Papa untuk membawamu ke sini, Adinata? Tega sekali kamu menyuruh Gerry untuk mempresentasikan uang yang Papa berikan untuk adikmu. Kamu melanggar privasi Papa, Adinata. Bagaimana bisa kamu masuk ke rekening Papa dan mencatat pengeluaran Papa selama ini.”

“Apa Papa juga tidak ingat bagaimana cara Adinata melindungi keegoisan Papa?”

Hanung menggelengkan kepalanya. Tidak menyangka dengan ucapan anak sulungnya. “Kamu ingin Papa membalas jasamu?”

Adinata diam. Tangannya bergerak mengusir Gerry yang berdiri di belakang sang papa. Dia menyuruh Gerry untuk keluar dan menutup pintu untuk membiarkannya berbicara berdua dengan papa kandungnya.

“Adinata, aku ini orang tuamu. Sudah sepantasnya kamu membalasku untukku. Aku tidak perlu untuk membalasmu karena kamu anakku.”

“Duduklah, Pa.”

Hanung menurut. Dia duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi kerja anaknya.

“Aku tidak akan menjelaskan apa-apa.” Karena tidak ada yang perlu dia jelaskan. Sang papa seharusnya mengerti alasannya.

“Papa mengerti kalau kamu masih merasa patah hati karena berpisah dengan Nadine, tapi Adinata, hidup terus berjalan. Banyak wanita yang bisa kamu pilih acak. Tidak usah menikah, salurkan saja nafsumu tanpa ikatan.” Hanung tertawa kecil dengan tangan terlipat di depan dada. “Tindakanmu ini ceroboh, tapi tidak apa-apa. Papa akan memaafkannya kalau kamu mau membantu Papa.”

Hati Adinata terasa berapi karena ucapan Hanung yang mudah sekali. Dia menyesal menutupi korupsi yang Hanung lakukan, seharusnya dia bertukar cerita dengan Nadine tentang langkah ini. Dia meringis pilu. “Kalau menyangkut perusahaan, Papa lakukan sendiri. Adianta tidak akan membantu.”

Sekarang yang bisa dia lakukan hanyalah membuka pesan lama yang ada di kontak Nadine. Nadine telah memblokir nomornya. Dia tidak bisa lagi menghubungi Nadine dan hanya bisa mendapat kabar terbaru Nadine dari omongan yang Gerry sampaikan. Hidupnya terasa lebih berat karena berjalan sendirian tanpa bergenggaman tangan bersama dengan cintanya. Apa ini cara Tuhan menghukum Adinata.

“Kamu harus membantu Papa! Papa membutuhkan dana lebih banyak lagi untuk investasi pertambangan yang dibangun oleh teman Papa.”

Adinata tertawa kecil. Apa teman Hanung dan Sapta adalah orang yang sama? Dia merasa Gerald—kakak Nadine juga turut ikut serta menjadi salah satu penggerak investasi bodong tersebut. “Dengan uang perusahaan?”

Hanung tertawa. “Kalau tidak dari sini, dari mana lagi Papa mendapatkan uang, Adinata? Kamu cukup diam seperti biasa.”

“Tidak, Pa. Adinata tidak akan melakukannya lagi.”

“Kamu.” Hanung menunjuk Adinata dengan mata melotot. “Aku ini Papa kamu, Adinata!”

“Adinata tidak lupa denganmu. Adinata tidak ingin membantu kecurangan Papa di sini. Lakukan sesukamu, Adinata tidak akan ikut campur.” Adinata tidak akan melaporkan dan menutupinya. Dia akan memberikan semua karyawan di perusahaan mengetahuinya secara bebas.

“Papa memberikannya untuk kedua adikmu juga, Adinata. Pendidikan, gaya hidup dan karier kedua adikmu, Papa selalu mengusahakan yang terbaik untuk mereka.”

Pantas saja mereka bertindak tanpa norma. Adinata merasa terlihat menyedihkan ketika membuka memori lamanya. Dia hanya bisa diam tanpa bisa membela Nadine karena pelototan tajam dari sang nenek dan mama.

“Ya, Papa mohon. Ini yang terakhir.”

Adinata menghela napas. “Adinata tidak membantumu. Jadi pulanglah, Pa. Papa mendapat sanksi dari kakek, kan. Silahkan pulang dan nikmati waktu luangmu di rumah sambil minum kopi dan camilan sehat. Suruh mama untuk membuatkannya.”

“Kamu senang dengan apa yang kamu lakukan, Adinata?! Sungguh tega sekali kamu mengkhianati kepercayaan Papa kepadamu.”

Adinata tidak menggubris ucapan sedih Hanung.

“Papa melakukannya untuk keluarga kita. Tidaklah kamu lihat kebahagiaan Mama dan kedua adikmu selama ini? Oh, apa perlu Papa minta Nadine untuk tinggal lagi di rumah kita.”

Selalu Nadine yang menjadi senjata Hanung untuk mengancamnya. Kali ini dia tidak akan takut dengan keselamatan Nadine. Dia tertawa kecil. “Apa Papa lupa kalau Adinata dan Nadine sudah bercerai?”

“Papa bisa memintanya datang lagi ke rumah dan Papa juga bisa minta Mama untuk melakukan tindakan sebelumnya. Seperti memarahi Nadine di depan keluarga besar kita atau menyuruh Nadine untuk membantu ART di rumah.”

Adinata menegakkan tubuhnya sambil merapikan jas yang dipakainya. Benar kata sang paman, papanya memang berwajah tebal, tidak mengenal malu. “Pulanglah, Pa. Adinata tidak ingin membuat Papa menyesal karena membesarkan Adinata.” Ambisi dan dendam yang ikut tersimpan bersama dengan Adinata.

“Tidak sebelum kamu setuju dengan tujuan Papa.”

“Papa dan Adinata tidak berada di tujuan yang sama. Adinata tidak ingin merepotkan diri lagi untuk membantu urusan yang Papa lakukan. Kalau Papa ingin Adinata bantu, beri Adinata imbalan yang seimbang dengan kecurangan Papa.”

“Kamu sudah memulai perhitungan dengan Papa, Adinata?!”

Adinata berdiri dari duduknya. Dia memencet nomor di telepon kantor. “Ger, datang ke dalam dan bawa satpam untuk membawa Tuan Hanung pulang.”

1
doubleareya
Halo, teman-teman 👋🏻👋🏻 Terima kasih sudah membaca cerita Adinata - Nadine yaaa, aku mau minta tolong kepada teman-teman untuk memberi dukungan cerita ini dengan suka dan komentar yaaa 🤍 🤍 Aku sangat terbuka dengan saran dan kritik yang baik untuk cerita ini yaa 😙💛
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!