Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.
Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.
Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.
Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Di Balik Toko yang Kian Sepi
Arvin terdiam saat mendapati orang yang berada di balik etalase bukan Vira. Ia menyapukan pandangan ke sekeliling toko, tetapi tak menemukan sosok gadis itu.
"Permisi," sapanya pelan.
Yanti yang sejak tadi sibuk menatap layar ponsel akhirnya mengangkat wajah. Ia langsung mengenali pemuda di depannya. Bukankah ini orang yang beberapa waktu lalu berbicara cukup lama dengan Vira?
"Mau beli apa?" tanyanya datar.
"Setengah liter beras yang biasa aja."
Yanti mengangguk singkat, lalu mengambil beras dan menakarnya.
"Yang lain?"
"Itu aja."
Yanti mengangkat sebelah alis. "Cuma beli setengah liter beras?"
"Iya."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Yanti menuang beras ke dalam plastik, lalu meletakkannya di atas etalase.
"Delapan ribu."
Arvin mengeluarkan uang dari saku celananya. Ia menghitung beberapa lembar uang kecil dan recehan dua ribuan, seribuan, hingga lima ratusan sebelum menyerahkannya kepada Yanti.
Yanti memandangi tumpukan uang receh itu sambil berdecak pelan.
"Ya ampun... zaman sekarang masih belanja pakai recehan begini."
Meski ucapannya lirih, nada meremehkan itu terdengar jelas.
Arvin tidak menanggapi. Wajahnya tetap tenang. Setelah menerima kantong beras, ia tetap berdiri di depan etalase. Sesekali matanya melirik ke arah rumah, berharap Vira keluar.
Yanti mulai merasa risih. "Masih ada perlu?"
Arvin mengangguk pelan. "Aku mau ketemu Vira."
"Vira lagi sibuk." Yanti kembali memainkan ponselnya seolah pembicaraan mereka telah selesai.
"Tolong bilangin ada Arvin."
Yanti menghela napas kasar, lalu menatap Arvin dari ujung kepala hingga kaki.
"Kamu tahu gak?" katanya sinis. "Kalau kamu berdiri di sini lama-lama malah bikin toko kelihatan gak enak dipandang."
Arvin terdiam.
"Udah pakaianmu lusuh, dekil, miskin pula." Bibir Yanti melengkung sinis. "Cepat pergi sana."
Rahang Arvin mengeras. Seumur hidup ia memang sering dipandang rendah karena kemiskinannya.
Namun, baru kali ini seseorang menghina dirinya terang-terangan seperti itu.
Melihat Arvin tetap bergeming, Yanti semakin kesal.
"Masih gak pergi juga?" bentaknya. "Aku gak mau ketularan aroma kemiskinanmu."
"Yanti!"
Suara Vira terdengar dari dalam rumah.
Yanti dan Arvin sama-sama menoleh.
Vira berjalan cepat menuju toko. Tatapannya langsung tertuju pada Arvin yang berdiri kaku, lalu beralih kepada Yanti.
"Apa begini caramu memperlakukan pembeli?" tanyanya tajam.
Wajah Yanti langsung berubah panik.
"Bukan begitu, Ra." Ia buru-buru menggeleng. "Dia sudah selesai belanja, tapi masih berdiri di sini. Aku pikir dia mau bikin masalah."
Vira menatap Arvin. "Vin, benar begitu?" tanyanya meski ia sangat yakin Arvin bukan orang yang seperti itu.
Arvin menggeleng pelan. "Aku cuma mau ketemu kamu."
"Kenapa gak dipanggilin?" Vira kembali menatap Yanti.
Yanti langsung gugup. "A-aku... kupikir gak penting."
Sorot mata Vira berubah semakin dingin. "Gak penting menurut siapa?"
Yanti menunduk. Bibirnya terkatup rapat.
Vira mengembuskan napas pelan, lalu menoleh kepada Arvin. "Maaf ya, Vin."
Arvin buru-buru menggeleng. "Gak apa-apa."
Vira tetap menatapnya dengan rasa bersalah. "Kalau ada tamu yang mencariku lagi, panggil aku," ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari Yanti. "Siapa pun orangnya."
"Iya, Ra," jawab Yanti lirih, meski tangannya perlahan mengepal.
"Jadi dia lebih membela pengemis itu daripada aku...?"
"Kamu cuci piring dulu," titah Vira. "Biar aku yang jaga toko."
Tanpa membantah, Yanti keluar dari toko lalu masuk ke dalam rumah. Meski wajahnya tampak patuh, di dalam hati ia menggerutu.
"Orang miskin aja dibelain. Memangnya dia istimewa apa?"
Sementara itu, kini Vira berdiri di balik etalase, berhadapan dengan Arvin. "Ada apa, Vin?" tanyanya lembut.
Arvin tampak ragu. "Ra..."
"Iya?"
"Aku... sebenarnya mau ngomong sesuatu."
"Ya sudah, bilang aja."
Arvin menarik napas pelan. "Kamu tahu gosip yang lagi beredar di desa?"
Vira mengernyit. "Gosip apa?"
"Gosip tentang kamu."
"Tentang aku?"
Arvin mengangguk pelan. "Kamu digosipin... udah..." Ia menggantung ucapannya.
"Udah apa?"
Arvin menundukkan kepala. Bahkan ia tak sanggup menatap mata Vira. "Katanya... kamu udah gak perawan."
Vira membeku. "Hah?"
Raut wajah Vira dipenuhi kebingungan.
Arvin kembali berkata pelan, "Katanya hubungan kamu sama Daril dulu udah kelewat batas."
Vira masih terdiam seolah berusaha mencerna setiap kata yang terlontar dari mulut Arvin.
"Bahkan..." Arvin kembali ragu.
"Bahkan apa, Vin?"
"Orang-orang juga ngomong... tiap malam kamu sering masukin laki-laki ke rumah."
Mata Vira membelalak. "Apa?!"
Tanpa sadar suara Vira meninggi.
"Tapi aku gak percaya!" Arvin buru-buru menambahkan. "Aku kenal kamu. Kamu perempuan baik. Gosip itu pasti dibuat orang yang iri sama kamu."
Vira tidak langsung menjawab. Lebih tepatnya ia tak tahu harus berkata apa. Ia hanya berdiri mematung. Namun perlahan, kepingan-kepingan kejadian beberapa hari terakhir mulai tersusun di kepalanya.
Pantas saja...
Beberapa pelanggan selalu mencuri pandang ke arah lehernya. Tatapan mereka terasa berbeda. Ada yang sinis, ada yang jijik, ada pula yang seperti sedang menghakiminya.
Dan... Lehernya.
Lehernya yang memerah akibat tomcat. Hari itu ia menjelaskan dengan jujur penyebabnya. Namun ternyata, bercak merah itu justru dianggap sebagai bukti yang menguatkan fitnah.
Lalu Vira teringat sesuatu. Tokonya mulai sepi tepat setelah bekas tomcat itu muncul di lehernya. Ia menggenggam ujung etalase erat-erat.
"Jadi... selama ini penyebabnya ini?" Suara Vira terdengar lirih.
Arvin mengangguk pelan. "Maaf... aku baru berani bilang sekarang."
Vira menggeleng. "Bukan salahmu."
Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Dadanya terasa sesak. Ia hidup seorang diri sejak kedua orang tuanya meninggal. Kesehariannya hanya berputar antara rumah, toko, dan sesekali pergi membeli stok barang.
Ia bahkan hampir tak pernah ikut berkumpul dengan warga jika tidak ada keperluan penting.
Lalu...
Siapa yang begitu membencinya hingga tega menyebarkan fitnah sekeji itu?
Fitnah yang bukan hanya menghancurkan nama baiknya. Tetapi juga perlahan menghancurkan mata pencahariannya.
Tatapan Vira perlahan berubah. Kesedihan di matanya mulai tergantikan oleh ketegasan.
"Siapa pun orangnya..." Jemarinya mengepal pelan. "...aku akan menemukan dia."
Arvin menatap Vira dengan khawatir. "Ra... kamu baik-baik aja?"
Vira mengulas senyum tipis, meski matanya masih menyimpan luka. "Aku baik-baik aja."
Namun, jauh di dalam hatinya, "Aku harus menjaga tokoku, dan memperjuangkan nama baik kedua orang tuaku yang telah tiada. Aku gak mau nama mereka hancur karena fitnah."
...✨"Fitnah bukan hanya melukai hati seseorang, tetapi juga dapat merampas kepercayaan, mata pencaharian, bahkan masa depannya."...
..."Orang baik sering kali tidak kalah oleh kesalahannya, melainkan oleh kebohongan yang dipercaya banyak orang."...
..."Kepercayaan dibangun dalam waktu yang lama, tetapi gosip mampu menghancurkannya hanya dalam hitungan hari."✨...
.
To be continued
silahkan saja kalo bisa,nanti kalianlah yang akan menyesal...
buat mereka jera Vira
orang yg di beri kesempatan bukan ya berbuat Baik tapi malah semakin jahat ..
keluarga bisa Jadi musuh terbesar dalam ujian hidupmu vira , kamu usir Salah g kamu usir kamu sendiri yg di buat menderita oleh mereka
keep strong vira
semangat buat kak Nana juga
ra vira usir aja tuh yanti sudah cukop kamu kasih dia kesempatan Dan tempat tinggal ,, jauhilah orang² yang tak pernah menghargai kebaikanmu