Yang tak suka, silahkan minggir!
Perceraian tak lantas menyudahi hubungan diantara Bagaspati Samudera dan Adinda Ayuningtyas. Sebab masih ada penghubung diantara mereka, sayangnya penghubung mereka hilang entah kemana.
"Dua tahun belakangan ini, Eyang sakit, Dind. Beliau mau ke Jakarta, dan ingin menginap di rumah kita," kata Bagas.
"Lalu, apa masalahmu? Bukankah Eyang sudah tahu kita berpisah?" sahut Adinda sengit.
"Itulah masalahnya, Ingatan Eyang mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind, anggap saja ini permintaan terakhir Eyang pada kita."
Apakah permintaan Eyang Tuti pada Bagas dan Adinda?
Apakah Adinda sanggup menurutinya, sedangkan mereka bukan pasangan halal seperti dulu?
Berhasilkah mereka merajut kembali benang pernikahan yang dulu tercerai berai? Lantas bagaimana nasib putri kecil mereka yang hilang beberapa tahun silam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#4
#4
Kedua mata Dinda terpejam, ia enggan turun dari mobilnya meski sudah parkir di halaman rumah sejak beberapa menit yang lalu. Di benaknya masih terbayang wajah pria yang kini terlihat semakin tampan dan bentuk tubuhnya pun mampu membuat siapapun terpesona.
Wajar saja, mungkin Bagas sengaja melakukan itu untuk memikat lawan jenis, seperti yang ia lihat siang tadi. Dinda menahan sesak dan sakit yang makin terasa sejak ia melihat Bagas dipeluk seorang wanita, tapi kenapa Dinda harus marah, bukankah wajar sebab mereka bukan lagi suami istri?
“Cukup Dinda! Jangan membayangkan hal yang justru akan menyakiti dirimu sendiri,” monolog Dinda.
Tok!
Tok!
Dinda menoleh dan cukup kaget saat melihat Dara berdiri di depan kaca mobilnya. “Mbak Dind, kok, belum masuk?”
“Iya,” jawab Dinda lalu membuka pintu mobilnya. “Kamu darimana malam-malam begini?”
Dara mengangkat kantong berisi makanan ringan yang baru saja ia beli dari minimarket di depan gang. “Biasa, buat temen nonton.”
Dinda menoyor kening Dara, “Jangan suka begadang, butik sedang sangat sibuk dengan pesanan baju pengantin, serta bridesmaid.”
“Tahu, Mbak, ini juga sambil ngerjain payet biar gak ngantuk,” sanggah Dinda, “Mbak sendiri, kenapa baru pulang?” Dara balik bertanya, sebab hari ini ia tak ikut ke stand pameran.
“Habis makan malam.”
Dara manggut-manggut. “Kirain, habis kencan sama Mas Bagas, kan, Mbak Dinda lagi di mall keluarga Mas Bagas.”
“Memang.”
“Oh em ji beneran!?” pekik Dara, langsung berjalan cepat mengikuti langkah kaki kakak sulungnya.
“Wah, apa kabar Mas Bagas? Makin kece badai, dong? Terakhir kali aku ketemu dia udah keliatan vanget bedanya dibandingkan ketika masih jadi suami Mbak Dinda.”
Dinda terus melangkah, mengabaikan celotehan adik bungsunya yang membuat hatinya semakin tak nyaman.
“Lupakan, Dind. Lepaskan, meski itu hanya bayangannya, dan juga, jangan sampai kamu datang.” Dinda langsung menutup pintu kamarnya. Tapi adiknya yang jahil justru iseng mengetuknya kembali.
“Mbak, kok, langsung tidur, kan, Mbak Dind belum cerita gimana tadi ketemuannya sama Mas Bagas?”
“Berisik!” Dinda menutup kedua telinganya dengan bantal.
“Duh, ini anak berisik amat, sudah malam, suaramu mengganggu tetangga,” tegur Mama Juwita.
“Ih, Mama, nggak tahu berita heboh apa. Mbak Dinda habis makan malam sama Mas Bagas.” Dengan heboh dan semangat menggebu, Dara bercerita.
“Lha, memang apa salahnya, mungkin saja mereka kebetulan bertemu,” sahut Mama Juwita santai, sebab ia masih berharap Dinda bisa berbaikan kembali dengan mantan suaminya itu.
“Lho, aku gak menyalahkan, hanya penasaran, apa jantung Mbak Dinda masih dag dig dug kayak dulu pas awal-awal kencan sama Mas Bagas.”
“Dih, nggak penting pertanyaanmu.”
“Ih, penting banget, Ma. Soalnya terakhir kali aku ketemu mantan mantu mama itu, dia makin tampan dan kece badai abis, Ma.”
Mama Juwita menggelengkan kepalanya, ia menuang air ke dalam gelas, lalu meneguknya perlahan. Setelah itu beliau kembali masuk melanjutkan tidur malamnya.
•••
Adinda menghela nafas, baru juga melangkah beberapa tapak sepulang dari bertemu calon klien baru yang akan memesan pakaian untuk acara siraman dan lamaran. Netranya tiba-tiba disuguhi senyuman lebar dari Ayunda Btari Samudera, kakak sulung Bagas.
“Maafkan, Mbak mengganggu kesibukanmu.”
Bukan tak suka, tapi Adinda pilih menghindari siapapun anggota keluarga Samudera. Bahkan pilihan paling ekstrim ia ambil demi mewujudkan keinginannya tersebut, yaitu mengganti nomor ponsel.
Adinda hanya bisa diam memendam kekesalan hatinya, semalam Bagas, dan sekarang Btari, kira-kira apakah pembicaraan mereka akan sama? Dan ternyata tebakan Dinda benar, bahkan usaha Tari lebih ngotot ketimbang Bagas.
“Kenapa Mbak? Bukankah kita cukup bicara jujur dan apa adanya ketimbang terus berbohong?”
“Inginnya begitu, tapi wajah polos Eyang Tuti membuat kami tak tega melakukannya. Lagi pula kami tak bisa menampik kenyataan bahwa kamu masih jadi kesayangan Eyang, hingga ia bisa melupakan hal-hal paling penting dalam hidupnya, tapi dia tak bisa melupakan kamu sebagai istri Bagas.”
Tuh, kan, benar dugaan Dinda, memang Bagas dan keluarganya itu punya sifat pemaksa, dan itu sudah Dinda hafal sejak dulu. Kini, dibumbui dengan keprihatinan atas kondisi Eyang Tuti yang semakin memprihatinkan.
“Please, Dind—”
“Mbak, aku gak mau jadi bagian dari sandiwara konyol ini, aku tak tega sama Eyang,” sela Dinda sebisanya, meski ia harus menggunakan alasan yang sama.
Tari menggeser posisi duduknya, hingga semakin dekat dengan Dinda. Digenggamnya kedua tangan mantan adik iparnya tersebut. “Kami tahu, kamu pasti tak ingin lagi berurusan dengan keluarga Samudera, iya, kan?”
Gesture wajah dan tubuh Dinda mendadak tak nyaman, kentara sekali bila ia sedang menyembunyikan perasaannya. “Nggak, kok.”
“Jangan bohong, Mbak tahu itu. Kamu mengganti nomor ponsel, dan selalu bilang sibuk, meski yang datang adalah Mama. Iya, kan?”
Sebenarnya tak bisa di bilang menghindar, tapi, saat itu Dinda sedang masa pemulihan pasca kecelakaan, Dinda meminta keluarganya tak memberitahukan tentang kondisinya saat itu, bahkan lebih memilih berpindah dari ruko pemberian Bagas untuknya.
“Okelah, kalau Mbak memaksa. Tapi, jika kita terus-terusan begini, bagaimana Mas Bagas bisa memulai kembali hubungannya dengan wanita baru?”
“Heh?!” Btari terkekeh geli. “Siapa yang mengatakan itu padamu?”
Adinda melongo, lalu menggeleng, “Tidak ada, Mbak, tapi kemarin aku melihat Mas Bagas berpelukan dengan seorang wanita di Mall.”
Kedua tangan Btari mengusap air mata yang mengalir saat ia tertawa geli. “Bagaimana bisa Bagas memulai kehidupan baru, jika dia masih mencintaimu?”
Gleg!
“Ah, Mbak jangan bercanda—”
“Aku tidak bercanda.” Cepat-cepat Btari menyela ucapan Dinda. “Memang kamu tak bisa merasakannya?”
Adinda menggeleng polos. “Pokoknya Mbak tetep tunggu kehadiran kamu, oke?!”
Setelah itu, Btari pamit pergi ke production house yang ia dirikan dan kelola bersama Igun suaminya.
Apakah drama bujukan itu selesai?
Jelas saja belum, karena sore harinya, Mama Yanti sendiri yang datang ke butik Dinda Dengan drama andalannya, air mata dan pelukan erat.
“Maafkan Mama, Nak. Mama tahu, kamu masih marah sama Mama soal Biandra. Dan berkumpul bersama kami pasti mengingatkanmu pada Abel,” isak Mama Yanti, wanita itu sesenggukan di sela pelukan eratnya ke tubuh Dinda.
Kerena Dinda hanya diam membisu, Mama Yanti pun melepas pelukannya, “Bener, kan, kamu marah sama Mama? Mama tahu itu, sebab beberapa tahun ini kamu menolak menemui Mama.”
“Bukan menolak, Ma. Tapi Dinda benar-benar sibuk.” Dinda berusaha meluruskan suasana, tapi sepertinya Mama Yanti tak mau percaya begitu saja.
“Bohong! Buktinya, setiap kali Mama datang ke butikmu, selalu alasannya sibuk, dan karyawan kamu mengatakan, kamu tak ada di tempat. Tapi Mama tahu, sebenarnya kamu sudah tak ingin lagi berhubungan dengan keluarga Samudera, kan?” Tudingan bertubi-tubi itu meluncur dari lisan Mama Yanti.
Disinilah Dinda kembali terombang ambing, jika menjawab IYA maka dirinya akan dicap sebagai si raja tega. Karena sungguh, Dinda tak ingin memutus ikatan silaturahmi dengan keluarga Samudera, apalagi mereka sangat menyayanginya meski ia hanya menantu.
Tapi Dinda harus realistis, dia ingin menjaga kewarasan, sebab bersama keluarga Samudera membuatnya kembali terseret ke masa lalu. Masa di saat-saat Biandra tinggal bersamanya, dan Bagas. Masa paling kelam bersama misteri hilangnya Abel, yang belum terpecahkan hingga detik ini.
“Tolong kami, Dind.”
aku lupa nama Kaka nya bagas