Desi adalah seorang guru di sebuah sekolah negeri, saat ini ia memiliki 3 orang anak. Si sulung bernama Bagas, adiknya Rafi dan si bungsu bernama Aqilla. Jarak umur mereka rata-rata 2 tahun. Kehidupan rumah tangga Desi awalnya baik-baik saja. Namun, kebutuhan ekonomi yang kian mendesak membuat suami Desi mencoba mencari pekerjaan di luar kota. Suami Desi bekerja di luar kota demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, siapa sangka ternyata Ridwan menikah lagi diam-diam tanpa sepengetahuan Desi. Akibatnya, Ridwan menjadi abai dengan nafkah untuk anak-anaknya. Bahkan seringkali tidak memberi nafkah sama sekali, sehingga Desi harus berjuang seorang diri untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Ya, anak-anaknya memiliki ayah tapi nasib mereka tak jauh berbeda dari anak yatim yang tidak memiliki ayah. Bahkan terkadang untuk makan pun Desi harus berhutang. Sungguh menyedihkan kehidupannya. Pernikahannya bagai tergantung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yayuk riyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Kontrakan Baru
Alhamdulillah, Desi sudah pindah rumah kontrakan. Dia bersyukur, meskipun rumah kontrakan yang baru tidak sebesar kontrakkan lamanya tapi Desi merasa lebih nyaman di rumah kontrakkan yang sekarang. Selain lebih dekat dengan tempat kerja juga lebih bersih dan rapi. Desi dan mbok Muna pelan-pelan merapikan barang-barang yang masih berantakan.
"Besok lagi ya bu beres-beres nya. Mbok mau pulang dulu sudah sore." , ijin mbok Muna.
"Iya mbok, saya juga sudah capek. Besok lagi aja rapihin nya. O iya mbok, ini ada sedikit rezeki mbok, diterima ya." , jawab Desi.
"Ya Allah ibu, makasih banyak ya bu. Mbok terima." , jawab mbok.
"Sama-sama mbok." , balas Desi.
Akhirnya mbok Muna pulang dan Desi juga beristirahat. Dia sudah kecapekan juga beres-beres dari pagi. Setelah mandi dan juga anak-anak sudah makan semua, Desi mengajak anak-anaknya untuk tidur.
'Mas Ridwan beneran nggak pulang. Terlalu sekali suamiku. Kemana dia? Masa bodoh aja dah daripada stres nanti. Lebih baik aku tidur.' , gumam Desi dalam hati.
'Alhamdulillah rumahnya nyaman walaupun agak kecil, kamar juga ada 2 dan yang penting uang sewanya lebih murah dari yang kemarin juga jarak ke sekolah lebih dekat.' , bathin Desi lagi.
Kemudian Desi mencoba untuk tidur, mumpung suaminya belum pulang. Jangan sempat Ridwan pulang malam dalam keadaan mabok. Bisa-bisa nggak tidur semalaman Desi. Karena kecapekan akhirnya Desi pun tertidur dengan nyenyak.
Pagi pun tiba, Desi terbangun dalam keadaan bingung. Suaminya tidak ada berarti tidak pulang semalam.
'Kemana mas Ridwan? Aku tidak habis pikir dengan sikap mas Ridwan sekarang ini. Biarin aja dah, terserah dia. Semakin dipikirin semakin pusing.' , gumam Desi.
Desi pun bangkit dari tempat tidur kemudian mandi dan solat subuh. Lalu memasak untuk anak-anak nya. Desi sengaja tidak memasak untuk suaminya daripada tidak dimakan, sayang pikir Desi. Kalau dia lapar, dia bisa beli atau masak sendiri.
Setelah rapi semua, Desi segera berangkat ke sekolah bersama Bagas. Bagas sekarang kelas 2 SD sudah hampir naik kelas 3 SD dan Rafi sebentar lagi masuk SD. Kalau Rafi sudah sekolah SD, mungkin Desi akan memberhentikan mbok Muna. Biar Aqilla ikut saja sekalian ke sekolah. Kalau mau di rumah pun, Desi bisa bolak balik pulang karena jarak rumah ke sekolah sangat dekat hanya kurang lebih 200 meter.
Hari demi hari Desi lewati dengan hati yang berusaha dia buat lapang dada. Suaminya Ridwan semakin jarang pulang. Apa mungkin suaminya itu sudah menikah lagi. Desi masa bodoh saja, yang penting dia fokus merawat anak-anaknya. Bahkan Ridwan belum tau dimana rumah kontrakkan Desi yang baru. Semenjak pindah rumah, Ridwan belum pernah datang. Tiba-tiba, saat Desi di sekolah Desi mendapat chat wa dari suaminya.
Ridwan ["Ma, jadi pindah rumah ya? Dimana pindahnya? Ini mas pulang rumah sudah kosong."]
Desi ["Iya mas jadi, lebih dekat dengan sekolah, hanya sekitar 200 meter dari sekolah. Sebentar mama sherlock."]
Akhirnya, Desi mengirim sherlock lokasi rumahnya yang sudah tersimpan di hp nya.
'Ingat pulang juga, ah masa bodoh. Aku masih di sekolah. Ini masih jam kerja, belum bisa pulang. Kalau lapar biar aja mas Ridwan beli atau masak lauk sendiri.' , bathin Desi.
Desi tetap melanjutkan kegiatannya di sekolah hingga jam pulang tiba. Sesampainya di rumah, Desi melihat suaminya masih tidur.
'Kirain pulang main sama anak-anak, malah tidur.' , gumam Desi.
"Mbok, tadi bapak pulang jam berapa?" , tanya Desi.
"Jam sepuluh an bu. Pas Rafi baru pulang sekolah." , jawab mbok Muna.
"O iya mbok. Terus pas pulang, bapak langsung tidur apa main dulu sama anak-anak mbok?" , tanya Desi lagi.
"Bapak langsung tidur bu, tadi kaya mau makan bu tapi pas liat nggak ada lauk langsung tidur bu." , jawab mbok Muna lagi.
"Iya mbok, biarin aja. Saya nggak tau bapak mau pulang jadi tadi pagi masak buat anak-anak aja." , jawab Desi.
"Mbok, jagain Qilla dulu bentar ya, saya mau masak dulu buat bapak. Kasihan juga belum makan." , tambah Desi.
"Iya bu. Mbok juga di rumah bosan nggak ada kerjaan." , jawab mbok Muna.
Kemudian Desi memasak untuk suaminya. Selesai memasak, mbok Muna pulang. Lalu Desi membangunkan suaminya supaya makan bersama. Selesai makan, Desi bertanya pada suaminya.
"Mas, kok baru pulang? Sudah 3 hari mas pergi." , tanya Desi.
"Saya kerja. Dikira kemana...." , jawab Ridwan agak marah.
Akhirnya, Desi mengalah dan tidak ingin memperkeruh keadaan. Kemudian, Ridwan berkomentar.
"Kok kecil banget rumahnya, apa nggak sumpek ini?" , tanya Ridwan.
"Nggak papa lah mas, kan uang sewanya lebih murah mas. Habis mama nggak ada uang lagi buat bayar sewa." , jawab Desi.
"Terserah dah. Makin nggak betah aja di rumah." , jawab Ridwan.
Desi hanya bisa diam dan tidak menanggapi ucapan suaminya. Namun, di dalam hati dia merasa kesal dengan sikap suaminya yang marah-marah. Padahal semua ini juga karena ulah suaminya.
Keesokkan harinya, Desi menjalani aktifitas nya seperti biasa. Suaminya kebetulan libur jadi bisa menemani Qilla bermain di rumah. Juga bisa mengantar Rafi ke sekolah.
"Ayah, coba tiap hari ayah ngantar aku sekolah, aku kan nggak capek jalan kaki." , ucap Rafi.
"Iya sayang. Kalau ayah libur baru bisa ngantar." , jawab Ridwan.
"Iya ayah. Semoga ayah sering libur. Hehehe..." , ucap Rafi sambil tertawa.
"Iya...iya...jagoan ayah sudah besar nie." , jawab Ridwan.
"Sudah donk ayah. Sebentar lagi aku sudah sekolah SD kaya abang Bagas. Kata mama, nanti SD nya aku di tempat mama kerja, biar bareng berangkatnya." , jawab Rafi bangga.
"Iya dah. Nah sudah sampe nie. Belajar yang benar. Ayah pulang dulu ya." , ucap Ridwan.
"Siap ayah, nanti jangan lupa jemput ya. Dadah...." , ucap Rafi lagi.
"Siap komandan." , jawab Ridwan.
Kemudian, Ridwan pun pulang. Sesampainya di rumah, dia bermain bersama anak bungsunya, si cantik Aqilla. Ada-ada aja yang dibuat Aqilla dan Ridwan. Ridwan membuat video Aqilla sedang menyanyi lalu mengunggahnya di sosmed. Lama-lama Aqilla mengantuk dan mereka tidur bersama.
Jam pulang sekolah Rafi hampir tiba, namun ayahnya masih tertidur bersama Aqilla, mbok Muna nggak berani bangunin. Akhirnya, mbok Muna yang menjemput Rafi. Rafi marah sepanjang jalan. Begitu sampai di rumah, dia langsung membangunkan ayahnya.
"Ayah bangun, kok nggak jemput aku tadi. Aku jadi jalan kaki sama mbok." , ucap Rafi agak teriak sambil marah.
"O iya, maaf ya sayang. Ayah ketiduran. Mbok juga nggak bangunin ayah." , jawab Ridwan.
"Aku marah sama ayah. Pokoknya ayah harus beliin aku mainan baru." , jawab Rafi.
"Iya...iya...sebentar kita beli mainan baru ya. Rafi mau mainan apa?" , tanya Ridwan.
"Aku mau beli mainan robot-robotan." , jawab Rafi.
"Oke...oke..." , jawab Ridwan.
pulang juga desi masih mau di tiduri ma laki nya pdhl laki nya gk peduli ma mereka kerja jauh krn punya gundik. desi tau tp masih mau berarti desi yg kecintaan ma lakinya. pdhl anak anak juga dia ngurus sendiri masih hrs kerja juga.
kl aku juga ogah jd desi.
kl Aku mnding cerai toh anak juga gk di nafkahi. cerai lbih jos bhgia walau tanpa suami.