Asha dijodohkan oleh keluarga dengan tuan muda dari keluarga Rahardi. Keluarga nomor satu di kota mereka. Pria itu tampan, mirip aktor luar negara, bahkan terlihat bak anime hidup. Hanya saja, itu saat ia tidak bergerak saja. Jika ia bergersk atau berbicara, dia berbeda dari yang kaum hawa harapkan. Pria itu gemulai, kemayu, pria bertulang lunak atau apapun lah itu sebutan untuk dia yang berbeda dari pria pada umumnya.
Perjodohan itu karena hutang budi papa Asha pada keluarga Irza. Namun, dibalik itu semua, ada hal tersembunyi yang Asha tidak ketahui. Apakah hal tersembunyi itu? Yuk! Ikuti kisah mereka sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps*28
Seperti yang telah mereka bicarakan tadi pagi, keduanya beranjak meninggalkan rumah hanya untuk belanja. Iya, Sha yang tidak pernah belanja, kali ini ikut Irza ke pusat perbelanjaan. Cukup aneh rasanya, tapi wanita itu juga merasa cukup tertarik akan hal tersebut. Hal yang belum pernah ia coba sebelumnya, sekarang, dia melakukannya.
Entah karena sudah cukup sering jadi pusat perhatian, Sha sekarang sudah tidak lagi terlalu perduli dengan pandangan orang lain terhadapnya. Maklum, sejak bersama Irza, jadi pusat perhatian adalah hal yang paling wajar. Di manapun mereka berada, tatapan mata untuk Irza pasti ada.
Ditambah lagi mereka seperti pasangan yang posisinya tertukar. Biasanya, wanita yang sibuk memilih barang belanjaan. Tapi kali ini, tidak. Yang sibuk memilih malah laki-lakinya. Mulai dari kebutuhan dapur, hingga kebutuhan seisi rumah. Irza lah yang memilih semuanya. Sha hanya diam sambil menemani. Saat di tanya bagus atau tidak, atau cocok atau nggak, Asha akan jawab.
"Bagus kok." Atau .... "Iya, cocok." Atau bahkan hanya jawab. "Oke." Singkat, padat, sampai terasa tidak ada pendapat sedikitpun di sana.
Mungkin, kalau Irza adalah seorang wanita, Asha sudah kena imbasnya. Bukan hanya tidak diajak bicara, mungkin juga kena omelan panjang kali lebar. Beruntung saja Irza lelaki. Walau ada rasa kesal, ia malah langsung menghilangkan perasaan itu dengan cepat.
Setiap toko yang mereka lalui semuanya terlihat biasa. Hingga akhirnya, mereka tiba di toko paling ujung. Toko peralatan pecah belah rumah tangga.
"Sha. Ke sini sebentar yuk."
"Ha? Ngapain?"
"Lihat perlengkapan dapur, mungkin ada yang tertarik."
"Hei! Emang rumah kita kurang apa?"
"Sepertinya, sendok deh, Sha."
"Ha? Memangnya, sendok di rumah kurang? Perasaan cukup deh untuk kita berdua," ucap Asha tanpa pikir panjang.
Mendengar percakapan itu, hati si penjual tertarik untuk ikut bicara. "Kalian berdua, pasangan ya?"
Sontak, Sha langsung menoleh. Ekspresi wajahnya pun ikut berubah. Sementara Irza, wajah anak itu malah langsung terlihat cerah. Dengan bangga ia angkat tangannya yang di mana ada cincin nikah yang sedang melingkar di jari manis.
"Iya, Bu." Irza berucap dengan lembut, terlihat sangat bahagia.
"Wah ... ternyata benar. Pasangan istimewa."
"Kalian baru menikah ya? Istrinya cantik banget. Mas nya juga ganteng. Kalian pasangan yang sangat serasi."
Asha hanya diam saja. Pujian itu masuk ke telinga Sha malah berubah arti. Malah jadi sebuah penghinaan untuk hati Asha yang masih belum bisa menerima Irza dengan sepenuhnya. Jangankan sepenuh hati, separuh hati saja ia masih enggan.
"Wah ... makasih banyak, Bu. Pujiannya benar-benar bikin saya melayang," ucap Irza tanpa beban.
Entahlah. Semakin lama, suara ibu-ibu semakin jauh saja di telinga Asha. Ingin sekali Sha pergi dari sana. Menghilang secepatnya agar tidak lagi dilihat oleh mereka-mereka yang memuji tapi rasanya meremehkan.
"Za. Ayo cepat! Aku ingin ke kamar mandi soalnya," ucap Sha pada akhirnya.
Saat itu, wajah Asha bisa Irza lihat dengan sangat jelas. Wajah tidak suka. Wajah tertekan. Irza langsung mengerti akan apa yang sedang Asha rasakan. Tanpa menunggu lama lagi, pria itu beranjak meninggalkan toko tersebut. Tentunya, setelah berbasa-basi terlebih dahulu dengan si ibu penjual yang sebelumnya ia ajak bicara.
Beberapa langkah menjauh, keduanya memilih diam. Hingga pada akhirnya, suara lembut Irza memecah keheningan yang tercipta di antara mereka berdua. "Sha ... maaf."
"Untuk apa?" Asha berucap tanpa menoleh.
"Untuk ... untuk aku yang sudah bikin kamu merasa gak nyaman. Aku tahu, aku salah, Sha. Aku gak seharusnya begitu. Gak kasi tau pada semua orang hubungan kita. Aku ngerti kamu malu. Dan itu hal yang wajar. Aku-- "
"Za. Cukup." Asha berucap sambil menoleh. Langkah kakinya pun dia hentikan. "Kamu mungkin benar dengan apa yang baru saja kamu ucapkan barusan. Tapi ... ya ... tidak perlu minta maaf. Karena ... kamu gak salah."
"Aku memang butuh waktu, tapi kamu gak salah, Za. Jadi, tidak perlu merasa bersalah begitu," ucap Asha lagi.
"Iya ... tapi aku udah bikin kamu merasa gak nyaman."
"Lupakan saja. Aku gak mau bahas lagi."
"Tapi-- "
"Za."
"Iya. Baiklah."
Tidak mudah memang untuk menyatukan dua hal yang berbeda. Tidak pula mudah untuk membiasakan hal yang telah dipaksakan. Segalanya butuh waktu, butuh kesabaran, butuh perjuangan yang besar. Ini masalah hati, masalah perasan, masalah yang paling rumit untuk diselesaikan.
*
Beberapa hari berlalu, semua berjalan dengan tenang. Libur satu minggu yang mereka ambil akhirnya sudah selesai. Kehidupan kampus kembali seperti semula.
"Sha ... sudah siap belum?" Irza berucap sambil menunggu di depan pintu.
"Iya. Bentar lagi, Za. Lagi beresin tas nih."
"Iya, deh. Tapi, esok kalo aku mau bantu jangan halangin yah."
"Jangan ngomel. Kamu jadi kek emak-emak entar baru tau."
"Asha ... jangan ngomong gitu."
Mereka pun meninggalkan apartemen. Tentu saja, ratu tepat diratukan. Irza dengan senang hati membukakan pintu mobil untuk Asha. Saat sampai di kampus, hal yang sama ia lakukan. Pintu mobil ia bukakan untuk istri tercinta. Tak hanya itu saja, Tas Asha, dia juga yang bawa. Singkatnya, ini bukan pemandangan suami istri pada umumnya. Malahan terlihat bak pelayan dengan majikan.
"Za. Gak perlu. Biar aku bawakan sendiri saja tasnya."
"Gak papa, Sha. Ini enteng. Biarkan aku yang bawa."
"Ya karena enteng biar aku yang bawa."
"Gak papa."
Untuk pertama kalinya setelah menikah, mereka kembali ke kampus. Ke tempat umum yang paling berisik. Yang paling sibuk, yang banyak sekali cobaan dengan berbagai macam pandangan dan pembicaraan tentang kehidupan mereka berdua.
Mereka harus sangat menebalkan telinga, menguatkan iman, meninggikan kesabaran. Karena kehadiran mereka ke tempat ini lagi akan membuat kesabaran mereka diuji dengan sedemikian rupa. Maklum, gosip akan semakin marak. Tatapan mata akan semakin tajam. Dan pembicaraan tentang mereka tidak akan pernah ada habisnya.
Benar saja. Baru juga menjejakkan kaki ke lorong, eh ... malah sudah ada yang mengajak mereka berdua bicara.
"Eh, Asha. Irza. Manten baru nih. Akhirnya datang ke kampus juga. Udah lama gak kelihatan kalian berdua. Habis bulan madu ya," ucap salah satu gadis yang mereka temui di lorong tersebut.
Kata-kata itu tentu saja sebuah cemoohan. Sebuah penghinaan untuk Irza yang mereka anggap tidak normal sebagai seorang pria.
Belum pula sempat Sha menjawab, eh ... biang malah yang lainnya malah sudah ikut berdatangan. "Ngomong apa sih? Mana ada mereka bulan madu. Gak akan mungkinlah ya."
"Iya. Secara, astaga, hampir saja aku bicara yang enggak-enggak. Tapikan, ini kenyataan kan, Sha? Kalian gak bulan madu kan ya," ucap yang lainnya pula.
"Ya jelas enggak. Irza kan gak mungkin bulan madu dengan Asha. Secara-- "
ga salah juga ya Thor secara melambai 🤭🤭😂
🤣🤣🤣🤣
visualnya pas jadi manten itu kaya pemuda jepang jaman now yg jadi temennya Ani" kesepian
Thor pernah lihat dokumentasi ga Thor cowok jepang jaman now
ga gemulai lagi