NovelToon NovelToon
ASI untuk Pewaris Haram

ASI untuk Pewaris Haram

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Ibu susu
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: N A R I

Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.

Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.

Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.

Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.

Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.

Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.

Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,

“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29. Kepergian

"Apa maksud pertanyaan itu?"

Suara Madam Eleanora dan Bastian terdengar hampir bersamaan.

Ruangan Nathan yang sejak tadi dipenuhi ketegangan mendadak terasa semakin sesak. Kemala yang masih menggendong bayi laki-laki itu refleks menundukkan kepala. Bayi yang disebut Clarissa sebagai Arkana itu kembali merengek pelan di pelukan Kemala. Tangan wanita desa itu bergerak menepuk-nepuk punggung bayi itu dengan lembut. Namun pikiran Kemala jauh lebih kacau dibanding bayi yang sedang wanita itu tenangkan.

Bastian melangkah mendekat. Tatapan pria itu tak lagi tertuju pada Clarissa. Melainkan langsung kepada Kemala.

"Apa maksudnya, Kemala?" tanya Bastian terlihat sangat serius.

Kemala menelan ludah. Wanita yang sedang menggendong bayi itu memandang wajah pria itu beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pelan.

"Pak Bastian pasti ingat saat pertama kali bertemu saya," jawab Kemala menatap Bastian dengan matanya yang sudah sangat sembab.

"Kamu datang ke Jakarta untuk mencari anakmu." Bastian mengernyit.

"Benar." Kemala mengangguk.

"Sejak awal tujuan saya memang itu." Suara wanita itu bergetar.

Bastian langsung membalas. "Aku tahu. Itulah sebabnya sampai hari ini aku masih mencarinya."

Nada suara pria itu mulai mengeras.

Kemala menggigit bibir bawahnya lalu menggeleng pelan. Gerakan kecil itu justru membuat rahang Bastian mengeras.

"Apa maksudmu?" tanya Bastian yang masih mencerna segalanya.

"Sekarang Arkana sudah ditemukan." Kemala memeluk bayi itu sedikit lebih erat.

Ruangan mendadak hening. Nathan yang berada di boks bayi mengeluarkan suara kecil. Namun tak ada seorang pun yang memedulikan bayi kecil yang berada dalam boks itu. Semua perhatian tertuju kepada Kemala. Bastian menatap wanita itu tak percaya.

"Kamu bahkan belum memastikan bayi itu benar-benar anakmu," ujar Bastian menunjuk perlahan bayi yang berada dalam pelukan Kemala.

"Bu Clarissa tidak mungkin berbohong." Kemala menampik.

Jawaban itu keluar begitu saja. Membuat Bastian langsung terdiam. Kemala melanjutkan dengan suara yang semakin lirih.

"Saya percaya padanya," lanjut Kemala yang menatap Clarissa tak begitu jauh di belakang Bastian.

Clarissa membalas tatapan itu dengan senyuman yang ramah kepada Kemala.

Tatapan Bastian berubah. Sejak mengenal Kemala, baru kali ini pria itu tampak benar-benar kecewa.

"Kamu terlalu mudah percaya kepada orang yang bahkan baru kamu kenal." Bastian mengatakannya dengan penuh ketegasan.

Kemala mengangkat wajah. Tatapan wanita desa itu bertemu dengan Bastian lalu tersenyum kecil. Senyum yang justru membuat dada pria itu terasa semakin sesak.

"Saya juga percaya kepada Bapak." Kemala mengatakannya dengan penuh ketulusan.

Bastian membeku. Kemala melanjutkan perlahan.

"Sejak awal saya sampai sejauh ini karena Bapak," ucap Kemala yang terlihat bekas air mata di pipi yang memerah itu. "Bapak juga Rothmere."

"Dan Bapak orang baik," lanjut Kemala semakin tersenyum lalu kembali melihat ke arah Clarissa. "Maka saya yakin Bu Clarissa juga tidak akan menyakiti saya."

Beberapa detik berlalu. Setelah Kemala berhenti bicara, tak ada suara yang menyertai. Tak ada yang berbicara. Bahkan Clarissa yang sejak tadi berdiri tenang hanya memperhatikan perkembangan situasi. Madam Eleanora akhirnya maju selangkah.

"Tidak sesederhana itu," suara wanita tua itu terdengar tajam.

Kemala menoleh. Madam menatapnya lurus.

"Kamu tidak bisa pergi begitu saja," lanjut Madam dengan raut wajah yang sedikit menggambarkan kemarahan.

Kemala terdiam. Bastian langsung menyambung.

"Setidaknya pastikan dulu bayi itu benar-benar Arkana," ujar Bastian kembali menunjuk bayi yang digendong Kemala.

"Kita bisa melakukan tes." Bastian berusaha meyakinkan Kemala sekali lagi. "Kita bisa memeriksa semuanya."

Namun Kemala kembali menggeleng. "Tidak perlu."

Bastian memejamkan mata sesaat. Kesabarannya mulai terkikis.

"Tidak perlu?" tanya Bastian dengan nada yang sudah berubah. "Ini menyangkut hidupmu, Kemala."

"Tidak mungkin kamu mengambil keputusan sebesar ini hanya karena seseorang datang membawa bayi lalu mengaku itu anakmu," kata-kata dari Bastian kali ini terdengar cukup panjang. Tak seperti biasanya, suara pria itu terdengar bergetar tipis.

Kemala menunduk. Air mata wanita itu mulai jatuh satu per satu.

"Tapi saya seorang ibu," ucap Kemala yang tertunduk sehingga air mata itu terjatuh ke bayi yang digendongnya. "Saya tahu perasaan saya."

Bastian hampir membantah. Namun kata-kata Kemala berikutnya membuat seluruh ruangan kembali terdiam.

"Saya harus pulang," ucap Kemala tertunduk yang rambutnya hampir jatuh menutup wajah ayunya.

Madam langsung bertanya. "Lalu Nathan?"

Kemala memandang boks bayi itu. Nathan sedang memainkan jemarinya sendiri. Bayi yang begitu kecil dan tak berdosa. Dada Kemala terasa nyeri.

"Saya akan tetap pulang," ucap Kemala masih tetap Nathan lalu mengalihkan pandangannya ke bayi yang berada dalam dekapan.

"Jawab pertanyaan saya.” Madam mencengkeram tongkatnya lebih erat. “Nathan bagaimana?"

Kemala menarik napas panjang. "Keadaan Nathan sudah jauh lebih baik."

Madam tak berkata apa-apa.

Kemala melanjutkan. "Keluarga Rothmere memiliki semua hal yang dibutuhkan Nathan."

"Dokter terbaik," ujar Kemala menatap Madam Eleanora. "Perawat terbaik."

Kemudian Kemala menatap ruangan Nathan yang begitu megah untuk ukuran ruangan seorang bayi. "Semua fasilitas terbaik dimiliki oleh Rothmere untuk Nathan."

Air mata wanita itu kembali jatuh saat Kemala mengalihkan pandangan ke bayi di pelukannya. "Tapi Arkana hanya punya saya."

Suara itu nyaris membuat ruangan kembali sunyi. Karena tak ada yang bisa membantah wanita yang begitu terlihat menyedihkan itu. Kemala menatap bayi yang ada di pelukannya sangat dalam.

"Saya ibunya." Kemala berusaha tersenyum untuk bayi itu. "Kalau saya tidak pulang bersamanya ...."

"Saya tidak tahu siapa lagi yang akan menjaganya," lanjut Kemala di tengah ruangan yang hanya terhiasi oleh suara-suara kecil dari bayi.

Madam memalingkan wajah. Sementara Bastian masih berdiri diam. Tatapan pria itu tak pernah lepas dari Kemala.

"Aku masih mencarinya," suara Bastian terdengar jauh lebih pelan sekarang.

Kemala tersenyum sedih. "Saya tahu."

"Lalu kenapa?" tanya Bastian yang merasa bahwa Kemala sudah tak lagi percaya padanya.

Pertanyaan itu keluar begitu saja. Bastian sendiri tak menyadarinya.

"Kenapa kamu tidak bisa mempercayaiku sedikit lebih lama?" Bastian kembali bertanya yang cukup mengejutkan beberapa orang. Karena baru kali ini Bastian terdengar seolah merengek walau suara bastian masih terdengar datar.

Kemala terdiam. Pertanyaan itu membuat dada wanita desa itu terasa sesak. Namun keputusan yang selama ini selalu Kemala pegang tak pernah berubah. Tujuan wanita desa itu jauh-jauh ke Jakarta memang hanya satu, Arkana. Kemala meyakini saat ini, bahwa Arkana benar-benar sudah berada dalam pelukannya.

"Saya minta maaf." Hanya itu yang mampu Kemala ucapkan.

Bastian tertawa pendek. Ekspresi yang tak pernah dikeluarkan oleh sosok Presiden Direktur Rothmere Group itu. Tawa yang seharusnya mencairkan suasana tetapi yang tergambar di wajah pria itu tak ada sedikip pun kehangatan di sana. Hanya berisi kekecewaan mendalam yang pahit.

Di sudut ruangan, Raline yang sejak tadi diam mulai memahami semuanya. Tatapan wanita sosialita itu beralih kepada Clarissa. Lalu kepada bayi yang berada di pelukan Kemala. Kemudian senyum perlahan muncul di bibir Raline. Senyuman yang begitu tipis dan licik.

Baru sekarang Raline menyadari tujuan Clarissa. Clarissa mendekati Kemala tetapi sekaligus membuatnya pergi sendiri tanpa perlu perang panjang, tanpa perlu mengusirnya secara langsung. Betapa sederhana dan betapa efektif.

Sementara itu, Bastian masih memandangi Kemala lama sekali. Sampai akhirnya pria yang sudah dipenuhi rasa kecewa itu berbalik. Bastian tak mengatakan apa pun lagi, tak mencoba menahan, bahkan tak mencoba membujuk Kemala. Pria itu langsung berjalan keluar ruangan. Langkah pria itu panjang, cepat, dan dingin.

Pintu tertutup menjadi penanda kesedihan Kemala atas Rothmere, atas Bastian. Kemala merasa kehilangan sesuatu yang tak bisa wanita polos itu jelaskan. Mata Kemala terus mengikuti arah pintu yang baru saja tertutup. Mata wanita itu berusaha menangkap bayang Bastian yang sudah tak lagi ada. Hingga akhirnya, Kemala memeluk bayi itu lebih erat.

"Arkana sudah pulang ...." bisik Kemala pelan sedang meyakinkan dirinya sendiri.

Madam Eleanora masih berdiri di tempat. Tatapan wanita tua itu sulit dibaca.

"Lalu Nathan?" Pertanyaan Madam itu kembali keluar.

Kemala buru-buru menjawab. "Saya akan menyiapkan ASIP sebanyak mungkin sebelum pergi."

"Saya akan menjelaskan jadwal menyusunya," jelas Kemala menatap Madam Eleanora. "Saya juga–"

TAK!

Tongkat Madam menghantam lantai. Suara itu membuat semua orang tak bersuara. Clarissa sedikit tersenyum tipis. Bahkan suara tongkat yang biasanya membuat Raline cukup takut itu, kali ini justru membuat wanita sosialita itu nyaris tertawa lepas. Kemala hanya membeku tak berani melanjutkan lagi.

Madam menatap wanita yang menggendong bayi asing itu sangat dingin. "Simpan itu."

Kemala membeku. "M-Madam?"

"Tidak perlu memikirkan Nathan lagi." Madam Eleanora mengeluarkan suara yang sangat tajam.

Mata Kemala melebar tetapi Madam hanya menunjuk pintu.

"Kemasi barang-barangmu." Madam menatap Kemala sangat marah. "Pergi dari Kediaman Rothmere bersama bayimu itu."

Jantung Kemala seperti berhenti berdetak. "Madam ...."

"Jangan membuat saya mengulanginya," nada suara Madam benar-benar dingin.

Kemala tak mampu berkata apa-apa lagi. Air mata wanita desa itu jatuh semakin deras. Namun akhirnya Kemala mengangguk.

"Baik ...."

Satu jam kemudian. Setelah Kemala membereskan semua barang termasuk pakaian pemberian Rothmere di lemari kamarnya. Hanya tas kecil dan pakaian lusuh yang kembali melekat pada tubuh Kemala. Sama seperti saat pertama kali datang. Bedanya, kali ini wanita desa itu membawa seorang bayi.

Clarissa berdiri di samping Kemala berpura-pura membantu dan berpura-pura menguatkan.

"Kamu akan baik-baik saja," ujar Clarissa.

Kemala tersenyum kecil. "Terima kasih."

"Kalau bukan karena kamu …." Kemala hanya menatap bayi di gendongannya tanpa melanjutkan kata-katanya.

Senyum Clarissa semakin hangat. Padahal jauh di dalam sana, pikiran wanita itu sedang menghitung kemenangan.

"Aku sudah memesankan taksi," kata Clarissa dibalut kehangatan.

Kemala mengangguk. "Terima kasih."

Perjalanan menuju gerbang utama terasa begitu panjang. Tak satupun penghuni kediaman utama Rothmere yang mengantar, menahan, atau memanggil nama Kemala. Ketika taksi akhirnya datang, Kemala masuk ke dalam sambil menggendong bayi itu erat-erat. Mobil perlahan bergerak meninggalkan Kediaman Rothmere. Meninggalkan tempat yang selama ini memberi wanita desa itu perlindungan.

Clarissa berdiri di depan gerbang, memperhatikan taksi itu sampai benar-benar menghilang dari pandangan. Barulah wanita elegan itu berbalik. Namun langkah Clarissa langsung terhenti.

Seseorang sudah berdiri di belakang wanita elegan itu. Raline dengan senyum lebar di wajahnya.

"Ternyata kamu lebih pintar daripada yang kukira."

"Apa maksudmu?" Clarissa mengangkat alis.

Raline tertawa kecil.

"Ayolah. Kita sama-sama tahu." Tatapan Raline beralih ke arah jalan yang tadi dilalui taksi. "Bayi itu bukan anak Kemala."

Clarissa tak menjawab. Justru senyum tipis muncul di bibir wanita elegan itu.

Raline melangkah mendekat dengan senyum yang semakin lebar.

"Kamu asal mengambil bayi. Lalu membuat Kemala percaya itu Arkana. Supaya gembel itu cepat pergi." Raline berbalik menatap bangunan kediaman utama yang begitu megah. "Dan Nathan kehilangan ibu susunya."

"Kalau tujuan kita sama." Raline lalu kembali memandang Clarissa dengan tatapan yang begitu licik. "Kenapa tidak bilang dari awal?"

1
Apita BalqisNabillah
kurang ajar clarissa harus dikasih salam 5 jari kemala karena sudah mempermainkan kamu.
Apita BalqisNabillah
jangan sampai ketipu kemala siapa tau anak yng dibawa clarissa bukan arkana anakmu melainkan anak orang yng diambil dari panti asuhan.....jangan sampai nathan celaka gegara kamu lengah kemala...
N A R I: gawaaaat 🙈
total 1 replies
Apita BalqisNabillah
waduh apa tujuan si clarissa mendekati kemala apa mau dijadikan tumbal
N A R I: waduh serem banget 😢
total 1 replies
Syifa Rufaidah
kerennn
N A R I: terima kasih kak 😍
total 1 replies
Alia Chans
cerita nya ser😣
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️






kalo berkenan mampir juga y😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!