NovelToon NovelToon
ASI untuk Pewaris Haram

ASI untuk Pewaris Haram

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Ibu susu
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: N A R I

Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.

Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.

Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.

Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.

Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.

Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.

Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,

“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34. Wibawa Seorang Ibu

Bastian tak langsung menjawab. Tatapan pria dengan setelan jas lengkap itu berhenti pada wajah Madam Eleanora yang masih berdiri di samping ranjang Nathan. Tatapan itu dipenuhi tanda tanya.

"Ma …."

Madam tetap memandang cucunya yang kini mulai tidur lebih tenang setelah meminum ASIP dari Kemala.

"Apa?" tanya Madam singkat.

"Barusan Mama bilang ... Arkana boleh ikut tinggal di Kediaman Rothmere?" tanya Bastian masih tak percaya dengan apa yang didengarnya.

Madam mengangguk tanpa ragu. "Ya."

Bastian masih diam. Pikiran pria itu berputar cepat. Sejak beberapa waktu terakhir, Bastian terus dihantui satu pertanyaan. Mengapa pencarian Arkana berjalan begitu lambat? Padahal tim yang digunakan Bastian adalah tim terbaik.

Semakin Bastian menyelidiki, semakin banyak kejanggalan yang muncul. Dan semua kecurigaan itu perlahan mengarah pada satu orang, Madam Eleanora. Wanita yang memiliki pengaruh terbesar terhadap divisi keamanan Kediaman Rothmere.

Namun kalimat yang baru saja diucapkan ibu Bastian membuat seluruh dugaan itu runtuh. Jika benar Madam menghambat pencarian Arkana, mengapa kini justru mengizinkan bayi itu tinggal di Kediaman Rothmere?

Tak masuk akal.

Bastian kembali menatap Nathan. Bayi kecil itu sudah jauh lebih tenang. Dada Nathan naik turun dengan ritme yang normal. Setelah beberapa saat, Bastian akhirnya mengangguk.

"Baik, Ma."

Madam hanya membalas dengan anggukan tipis.

"Jemput Kemala." Suara wanita tua itu kembali tegas. "Bawa dia pulang."

***

Siang itu, sebuah sedan hitam mewah memasuki jalan sempit menuju desa tempat Kemala tinggal. Ban mobil perlahan melewati jalan beton yang mulai retak di beberapa sisi. Rumah-rumah sederhana berjajar di kanan kiri. Anak-anak yang sedang bermain bola langsung menghentikan permainan mereka.

"Eh ... mobil bagus datang lagi!"

"Mobil orang kaya!"

Beberapa warga mulai keluar dari rumah. Tatapan mereka mengikuti mobil itu hingga berhenti tepat di depan rumah Rani. Ini adalah kedua kalinya kendaraan semewah itu datang ke desa tersebut. Dan semuanya terjadi setelah Kemala pulang.

Di dalam rumah. Kemala baru saja selesai menidurkan bayi yang diyakininya sebagai Arkana. Ketukan di pintu membuatnya menoleh.

Tok. Tok. Tok.

"Sebentar."

Kemala berjalan menuju pintu. Saat daun pintu terbuka, mata Kemala langsung membesar.

"P-Pak Bastian?"

Pria itu berdiri tegak di depan rumah. Masih mengenakan setelan jas hitam. Rapi, tenang dan tetap memancarkan wibawa yang sulit dijelaskan.

"Kemala," sapa Bastian singkat dengan suara rendahnya.

Belum sempat wanita ayu itu berkata apa-apa, suara seorang wanita terdengar cukup keras dari ujung jalan.

"Nah, kan!"

Kemala menoleh. Sekelompok ibu-ibu sedang duduk di gardu kecil depan rumah. Salah satunya menunjuk ke arah Bastian.

"Udah kubilang apa?" suara wanita yang menunjuk ke arah bastian itu kembali terdengar. "Itu sugar daddy-nya datang lagi!"

Ibu lainnya langsung menyahut. "Ih ... benar juga. Pantesan pulang-pulang bawa bayi."

"Kasihan Rani ya punya teman begitu," ujar seorang ibu lainnya lagi.

"Iya ih, malu-maluin kampung." Kali ini seorang wanita muda ikut menimpali. "Mungkin bayi itu juga bukan anaknya."

"Anak siapa lagi coba?" tanya sinis kembali terdengar dari wanita yang pertama kali bersuara.

Mereka memang mengetahui Kemala pernah hamil karena Reza. Mereka juga tahu Reza kini dipenjara. Namun lidah mereka tetap memilih mencari sasaran yang lebih mudah yaitu Kemala.

Kemala menarik napas pelan. Bastian mengira wanita itu akan menangis atau masuk kembali ke rumah. Namun dugaannya salah, Kemala justru melangkah turun dari teras. Berjalan menghampiri kelompok ibu-ibu itu.

Langkahnya tenang, bahunya tegak, sama sekali tak tergesa maupun gemetar. Bastian memperhatikannya tanpa berkedip.

Kemala berhenti beberapa langkah di depan mereka.

"Bu ...." suara wanita itu terdengar lembut tetapi jelas. "Saya sudah berkali-kali bilang ya."

Tatapan Kemala menyapu satu per satu wajah mereka.

"Saya bukan LC," ucap Kemala dengan tegas sambil menunjuk dirinya dengan penuh penekanan. "Saya juga bukan perempuan matre."

Salah seorang ibu langsung mendengus. "Kalau bukan, kenapa orang kaya datang terus nyari kamu?"

"Iya," sahut seorang ibu lainnya. "Udah dua kali kita lihat."

"Bukankah Rani juga sudah menjelaskan kepada Ibu-ibu?"

Tak ada yang menjawab.

Kemala kembali berkata, "Jangan mudah menuduh orang. Itu tidak baik."

Seorang ibu berdecak. "Terus dia siapa?"

Kemala menoleh sekilas ke arah Bastian. Kemudian kembali menghadap mereka.

"Beliau adalah pria terhormat. Saya mengenalnya dengan baik," jawab Kemala penuh keyakinan dan terpancar wibawa dalam wajah ayu polos Kemala. "Jangan sembarangan merendahkan orang."

Mereka saling pandang lalu kembali menyeringai. "Halah."

"Orang kaya datang dua kali ke rumah perempuan sendirian," ucap seorang ibu begitu sinis melihat ke arah Bastian. "Masih bilang cuma kenal."

Kemala tetap tenang. "Memangnya berteman dengan orang berbeda status itu dilarang?"

Keheningan sejenak. Wanita ayu itu melanjutkan. "Yang seperti ini justru membuat nama kampung kita jelek."

Ucapan itu membuat beberapa ibu langsung tersinggung.

"Enak saja!" hardik seorang ibu begitu penuh amarah. "Justru kamu yang bikin malu kampung!"

"Iya!" sahut semua ibu-ibu lainnya.

"Hamil di luar nikah!" Ibu tadi kembali bersuara lantang. "Kamu yang bikin nama kampung rusak!"

Kemala mengangguk pelan. "Begitu ya?"

Tatapan wanita desa yang anggun itu berubah. Kemala masih tenang tetapi kali ini penuh ketegasan.

"Kalau begitu ..." Kemala sengaja menjeda ucapannya. "Siapa yang sekarang masuk berita nasional?"

Tak ada yang menjawab.

"Siapa yang dipenjara karena pemerkosaan dan pemerasan?" Kemala kembali bertanya semakin tegas.

Suasana mendadak sunyi.

"Siapa yang sebenarnya menghancurkan nama baik kampung ini?" Pertanyaan itu jelas membalikkan semua tuduhan kepada Kemala.

Semua terdiam. Nama itu seolah tercekat di tenggorokan mereka. Reza Adiprana, anak kebanggaan kampung. Anak keluarga terpandang yang dulu selalu mereka puji. Kini justru menjadi narapidana.

Kemala menarik napas.

"Pak RT juga sudah pernah menegur Ibu-Ibu. Kalau masih mengulang fitnah seperti ini ..." Tatapan Kemala semakin tegas. "Apa perlu saya melapor lagi?"

Tak ada satu pun yang berani menjawab. Beberapa mulai menunduk. Yang lain pura-pura sibuk membereskan barang.

"Sudahlah."

"Ayo pulang."

Satu per satu mereka meninggalkan gardu. Tak ada lagi yang berani memandang Kemala. Suasana kembali sunyi.

Bastian masih berdiri di depan rumah. Tatapan pria kaku itu belum lepas dari wanita desa yang berani.

Tadi, Bastian tak melihat seorang wanita lemah. Bastian melihat seseorang yang memiliki wibawa. Kemala tak berteriak, tak memaki, dan tak membalas dengan emosi. Wanita ayu itu memilih berdiri dengan kepala tegak dan memenangkan semuanya hanya dengan kebenaran.

Kemala perlahan berbalik. Tatapan mereka bertemu. Beberapa helai rambut wanita itu tertiup angin. Langkah wanita ayu itu kembali menuju rumah pelan dan tenang. Seolah semua fitnah tadi sama sekali tak mampu menggoyahkan harga diri Kemala.

Bastian tertegun.

Untuk beberapa detik, suara burung, semilir angin, bahkan hiruk-pikuk desa di sekelilingnya seolah menghilang. Yang tertinggal hanyalah sosok wanita sederhana yang sedang berjalan ke arah pria kaku itu.

Bastian benar-benar menyadari bahwa kekuatan wanita desa itu tidak pernah berasal dari penampilannya. Melainkan dari keberanian dan martabat yang selalu dijaganya.

Semua itu membuat Bastian bergumam saat menatap Kemala.

“Hebat.”

1
Apita BalqisNabillah
ternyata ooh ternyata ada uadang dibalik batu dasar wanita sundel clarissa memanfaatkan keadaan untuk mencapai keuntungan....
Apita BalqisNabillah
kurang ajar clarissa harus dikasih salam 5 jari kemala karena sudah mempermainkan kamu.
N A R I: 10 jari juga boleh kak 🤣
total 1 replies
Apita BalqisNabillah
jangan sampai ketipu kemala siapa tau anak yng dibawa clarissa bukan arkana anakmu melainkan anak orang yng diambil dari panti asuhan.....jangan sampai nathan celaka gegara kamu lengah kemala...
N A R I: gawaaaat 🙈
total 1 replies
Apita BalqisNabillah
waduh apa tujuan si clarissa mendekati kemala apa mau dijadikan tumbal
N A R I: waduh serem banget 😢
total 1 replies
Syifa Rufaidah
kerennn
N A R I: terima kasih kak 😍
total 1 replies
Alia Chans
cerita nya ser😣
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️






kalo berkenan mampir juga y😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!