Aku sibuk mengurus ibumu di atas pembaringan, sedangkan kamu sibuk menggoyang bosmu yang haus belaian. -Wulan-
Seperti cahaya purnama yang tertutup mega, semua kebaikan dan juga bakti yang sudah diberikan oleh Wulan untuk keluarganya sama sekali tak nampak di mata Awan. Wulan yang sudah dengan sabar merawat sang mertua yang lumpuh karena stroke di sela-sela kewajibannya menjadi seorang ibu muda sampai membuat wanita itu tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri tidak lantas membuat wanita itu mendapatkan balasan kesetiaan.
Wulan memilih untuk berpisah saat memergoki Awan berselingkuh. Wanita itu rela menjanda daripada batinnya selalu tersiksa karena Awan telah terpikat pada seorang janda kaya yang merupakan bos di tempat sang suami bekerja.
Lantas, bagaimanakah Wulan menjalani hari-harinya sebagai seorang janda? Dan bagaimana kehidupan Awan setelah kepergian Wulan? Apakah istri baru Awan bisa menjadi sosok istri dan menantu yang sempurna atau justru durhaka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM 31. Persiapan Menghadiri Acara Mantan
"Jadi, pak Awan itu mantan suamimu?"
Di tengah perjalanan pulang mengantar Wulan, Awan dibuat terkejut dengan cerita yang dibawakan oleh wanita itu. Dunia memang ternyata sesempit itu sampai-sampai orang-orang yang berada di lingkup perkenalannya saling memiliki keterkaitan.
"Betul Mas. Mas Awan adalah mantan suamiku." Wulan menghela napas panjang sembari melihat ke arah luar jendela mobil. "Aku juga tidak menyangka ternyata setelah bercerai aku malah sering bertemu dengan Mas Awan."
Langit terkekeh pelan. "Apa kamu menyesal dengan pertemuan itu?"
"Tidak, hanya saja emosiku kadang selalu muncul tiba-tiba jika bertemu dengan sepasang kekasih itu. Ada saja ucapan dari mereka yang membuatku ingin menyobek mulut mereka."
Tawa Langit semakin pecah ketika melihat Wulan yang semakin kesal sendiri itu. Bibirnya mengerucut, persis seorang anak kecil yang merajuk karena tidak diperbolehkan membeli permen.
"Ujian untukmu Lan. Semoga kamu bisa selalu sabar."
"Hmmmm.. Entahlah Mas."
"Nanti malam kamu juga akan menghadiri acara mantan suamimu kan?"
"Baiknya bagaimana ya Mas?"
"Aku rasa kamu memang harus datang."
Wulan menoleh ke arah Langit. "Harus? Sewajib itukah?"
"Menurutku dengan kamu menghadiri acara itu bisa sebagai validasi bahwa kamu sudah move-on dari Awan."
"Begitu ya?"
"Menurut pandanganku seperti itu. Tapi semuanya aku serahkan keladamu."
"Baiklah, aku akan datang."
"Nanti malam aku jemput."
"Hah, tidak perlu Mas. Nanti malah merepotkanmu."
"Tentu tidak Lan. Sudah, jangan menolak. Nanti malam aku jemput kamu."
Akhirnya, Wulan mengangguk pasrah. Ia akan menghadiri acara itu sebagai satu bentuk jika ia sudah tidak memiliki keterlibatan perasaan apapun terhadap sang mantan.
***
"Masuk dulu Mas?"
"Hmmmm.. Aku langusng saja ya Lan. Kebetulan, setelah ini aku ada janji temu dengan salah satu relasi bisnis. Takut kalau terlambat."
"Baiklah kalau begitu Mas. Terima kasih banyak dan hati-hati di jalan."
"Oke Lan. Salam untuk Bagas, bu Rahmi dan Pak Sastro ya."
"Iya Mas, nanti aku sampaikan."
Wulan keluar dari dalam mobil sembari menenteng beberapa paper bag yang berisikan pakaian baru. Di perjalanan pulang tadi, Langit memberikan satu saran agar dirinya membeli pakaian baru untuk dikenakan di acara Awan.
Kamu harus tampil beda malam ini. Setidaknya, dengan begitu kamu bisa membuat Awan sedikit menyesal karena pernah mencampakkanmu.
Itulah kata-kata yang diucapkan oleh Langit yang menjadi alasan Wulan membeli pakaian baru. Wulan sebelumnya memikirkan masak-masak semua yang diucapkan oleh Langit. Hingga akhirnya Wulan menerima usulan itu.
Mobil yang dikemudikan oleh Langit perlahan mulai melaju meninggalkan pelataran rumah Wulan hingga benar-benar tak nampak lagi di penglihatan Wulan.
"Sudah pulang Lan? Bagaimana hasilnya? Sukses?"
Tiba di kediaman Rahmi, Wulan sudah disambut oleh Rahmi dan juga Sastro yang sedang duduk santai di beranda rumah. Wulan tersenyum simpul dan menyalami dua paru baya yang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri.
"Alhamdulillah semua berjalan lancar Pak, Bu. Dan semua desain yang saya buat di acc oleh para dewan direksi."
Mata Rahmi dan Sastro turut memancarkan binar bahagia yang begitu kentara. Berita yang dibawa oleh Wulan juga ikut membuat dua paruh baya itu merasa bersyukur.
"Alhamdulillah... Kami turut bahagia mendengarnya Lan. Semoga hidupmu ke depan jauh lebih sukses."
"Aamiin, terimakasih untuk doanya, Bu." Wulan mengulurkan dua paper bag ke arah Rahmi. "Ini untuk bu Rahmi dan Pak Sastro. Diterima ya."
Dahi Rahmi berkerut seraya menerima paper bag yang diberikan oleh Wulan. "Ini apa Lan?"
"Baju sarimbit untuk bu Rahmi dan pak Sastro. Semoga ukurannya pas ya."
"Astaga Lan. Kamu kenapa repot-repot seperti ini?" tanya Sastro sedikit tidak enak hati. "Memang kamu sudah langsung dapat gaji?"
"Sudah Pak. Untuk project fee sudah langsung di transfer ke rekening saya. Maka dari itu, saya bisa membelikan Pak Sastro dan bu Rahmi pakaian ini. Sekaligus sebagai ucapan terimakasih saya karena Pak Sastro dan bu Rahmi sudah sering membantu saya."
"Ya ampun, seharusnya kamu tidak perlu seperti ini Lan. Lebih baik uangnya kamu simpan untuk kebutuhanmu dan juga Bagas."
"Untuk kebutuhan saya tiap bulan dengan Bagas, sudah ada sendiri Bu. Jadi tidak akan berpengaruh apa-apa meskipun saya membelikan pakaian ini untuk Pak Sastro dan bu Rahmi."
Rahmi membuka paper bag pemberian Wulan. Mata wanita paruh baya itu terbelalak lebar melihat pakaian sarimbit dengan motif batik yang nampak begitu mewah dan elegan.
"Lan, ini batik tulis asli?"
Wulan menganggukkan kepala. "Betul Bu. Kebetulan tadi saya melewati galeri batik tulis, dan akhirnya saya mampir untuk membeli baju sarimbit ini."
"Ya ampun Lan, ini pasti mahal sekali."
"Ini semua tidak sebanding dengan apa yang sudah bu Rahmi dan Pak Sastro lakukan untuk saya."
"Ya ampun Lan, terimakasih banyak. Semoga rezekimu terus mengalir deras."
"Aamiin Bu, terimakasih."
***
"Risma!"
Wulan berteriak lantang ketika melihat Risma turun dari mobil yang terparkir di depan rumah. Wanita itu berlari kecil sembari merentangkan kedua tangannya dan langsung memeluk tubuh sahabatnya ini.
"Wulan!"
Rasa rindu turut membuncah di dada Risma setelah dua bulan lebih ia tidak bertemu dengan Wulan. Akibat menjalani masa-masa hamil muda, Risma lebih sering berada di rumah dan jarang keluar. Bahkan untuk sekedar mendatangi Wulan saja belum sempat ia lakukan. Dan malam ini ketika ada undangan dari Awan, adalah kesempatan baginya untuk bertemu dengan Wulan.
Wulan mengurai pelukannya. "Bagaimana kabarmu Ris?"
"Aku baik Lan. Hanya masih sering mual muntah."
Dahi Wulan mengernyit. "Mual muntah?" Seketika bibir Wulan langsung menganga lebar. "Kamu hamil Ris?"
Risma mengangguk bahagia. "Betul Lan, aku hamil. Tadinya aku ingin ngasih kabar ke kamu, tapi nomor handphonemu sudah tidak aktif. Jadi aku tidak bisa berkabar kepadamu."
"Maaf ya Ris. Nomor lamaku terblokir karena tidak pernah diisi pulsa."
Risma menganggukkan kepala. Ia menatap lekat wajah temannya ini. Ia kemudian menoleh ke arah sang suami.
"Mas, coba lihat Wulan!"
Toni menatap sejenak Wulan dan hanya senyum tipis yang terbit di bibirnya. "Kamu pasti berpikir kalau penampilan Wulan sekarang berbeda dari terakhir kita bertemu kan Sayang?"
"Kamu nampak beda sekali sekarang Lan. Tubuhmu jauh lebih berisi tidak kering kerontang seperti dulu. Dan kamu memakai gaun serta make up begini semakin membuatmu bukan seperti Wulan yang aku kenal sebelumnya. Kamu terlihat lebih fresh dan cantik Lan."
Wulan hanya terkekeh mendengar pujian dari Risma. "Nanti aku ceritakan semua yang terjadi kepadaku setelah keluar dari hidup mas Awan, Ris."
Risma mengangguk-anggukkan kepala. Melihat perubahan dalam diri Wulan dan rumah yang ditempati oleh Wulan ini, membuat Risma semakin yakin jika ada cerita yang sangat menarik tentang perjalanan hidupnya selama hampir tiga bulan terakhir.
"Kalau begitu, ayo kita berangkat. Keburu telat!" ajak Toni.
"Eh tunggu sebentar Ton, Ris."
"Loh, ada apa Lan?"
"Kita nunggu seseorang dulu."
"Siapa Lan?" tanya Toni penasaran.
"Emmmm... Dia..."
Deru suara mesin mobil yang berhenti di sebelah mobil Toni membuat ucapan Wulan terjeda. Mereka menoleh ke sumber suara dan tak berselang lama turunlah sosok lelaki tampan dengan setelan pakaian formalnya.
"Maaf aku terlambat."
Toni terperangah seketika melihat sosok lelaki ini. Lelaki yang pernah ia temui di kantor yang katanya ingin membeli beberapa unit kendaraan untuk pabrik garmen nya.
"Pak Langit?"
Langit menoleh ketika namanya disebut. "Loh, mas Toni?"
"Pak Langit kenapa bisa ada di sini? Pak Langit kenal Wulan?" tanya Toni penasaran.
Langit tergelak pelan. Lagi-lagi orang yang ia temui juga ada keterkaitannya dengan Wulan.
"Ceritanya nanti di mobil saja ya Mas. Soalnya panjang sekali."
.
.
.