NovelToon NovelToon
Istri Polos Untuk Sang Mafia Dingin

Istri Polos Untuk Sang Mafia Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Xavier Volkov, adalah seorang pemuda tampan yang dikenal dingin dan sangat sulit didekati. Namun ia memiliki sisi gelap sebagai seorang mafia yang ditakuti banyak orang. Meski banyak wanita yang mendekatinya, Xavier sama sekali tidak tertarik pada cinta ataupun hubungan serius. Namun hidupnya berubah saat sang ibu memaksanya untuk segera menikah. Karena tidak ingin dijodohkan dengan wanita hasil pilihan keluarganya, Xavier akhirnya memilih menikahi seorang mahasiswi polos yang bernama Lyko. Bagi Lyko, pernikahan itu bukan tentang cinta. Ia membutuhkan uang untuk bayar hutang dan pengobatan ibunya. Dengan terpaksa gadis itu menerima tawaran Xavier dan masuk ke dalam kehidupan pria yang sama sekali berbeda dari dunianya. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Xavier tetap bersikap dingin dan cuek pada Lyko. Tetapi semakin lama tinggal bersama, Xavier mulai merasa ada sesuatu yang tumbuh dihati. Di saat perasaan itu mulai tumbuh, berbagai macam bahaya mulai datang menganggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12 : Bunda setuju

“Lyko ingin menikah dengan seseorang Bun,” Lyko menatap Bundanya dengan gugup.

Suara bundanya seikit meninggi karena terkejut. “Menikah?!” katanya dengan mata yang membelalak. “Lyko… bagaimana bisa kamu ini menika secepat ini?”

Pertanyaan itu menggantung, perlahan pikiran bundanya langsung melayang ke arah yang buruk. “Apa jangan-jangan...” gumam Bunda Lyko kecil. “Lyko kamu tidak melakukan hal yang aneh-aneh kan, nak?” tanyanya sambil memegang bahu Lyko.

Lyko terkejut dan menggeleng kencang. “Bunda! Lyko sama sekali tidak melakukan hal yang Bunda bayangkan,” jawabnya tegas. “Ini murni kemauan Lyko sendiri Bunda.”

Napasnya sedikit terengah, dan perlahan menghembuskan nafas agar mengontrol emosinya. “Lyko hanya… merasa nyaman dengannya,” lanjutnya lebih pelan. “Dan juga, dia bisa membantu kita Bun. Hidup kita bisa berubah menjadi lebih baik.”

Bundanya terdiam sesaat. Wajahnya ragu. Matanya perlahan menatap Lyko dalam, seperti berusaha membaca pikiran anaknya.

Lyko menggenggam tangan bundanya lebih erat. “Bunda juga bisa sembuh, dia akan bertanggung jawab sepenuhnya pada Lyko dan Bunda, dia sudah berjanji.”

Hening kembali menyelimuti ruangan kecil itu, Bunda Lyko tampak masih menatap anaknya. Perlahan ia juga melihat kearah sekeliling rumah, lalu kembali menatap Lyko.

“Kita bisa pindah, kalau Bunda mau Lyko bisa membuatkan Bunda sebuah rumah, atau... atau butik? Itu impian Bunda sejak lama bukan? Lyko pastikan, Lyko bisa menjamin kehidupan Bunda kedepannya, percaya pada Lyko Bun, ya?” ucap Lyko penuh keyakinan.

Beberapa detik seketika hening. Bundanya belum menjawab Lyko, dan itulah yang membuat Lyko semakin ketakutan. Takut bundanya tidak mau, takut bundanya menolak. Lyko menunduk pelan, takut menatap bundanya.

Namun perlahan... Bundanya tersenyum lembut kearah Lyko. Mata itu kembali hangat menatapnya.

“Kalau itu pilihan Lyko…” ucapnya pelan. “Bunda tidak akan melarang, Bunda setuju,” bundanya tersenyum dan perlahan mengusap lembut kepala Lyko.

Lyko terdiam, matanya membesar tak percaya. “Bu-Bunda... setuju?” suaranya hampir tak terdengar.

Bundanya mengangguk dan tersenyum semakin lebar. “Asalkan Lyko bahagia... itu sudah lebih dari cukup untuk Bunda.”

Air mata embali mengalir di pipi Lyko, ia sedikit terharu dan merasa lega bahwa bundanya menerima semua itu. Ia kembali memeluk bundanya erat.

“Terimakasih... Bunda,” bisiknya pelan.

Bundanya membalas pelukan Lyko. “Sama-sama, sayang.”

***

Hari kini semakin siang, Xavier terlihat barus aja selesai mengadakan rapat, ia mengecek jam tangan kemudian melihat jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Xavier langsung berdiri dari tempat duduknya.

“Ke rusun,” ucap Xavier singkat pada Felix.

Felix langsung mengerti apa maksud Xavier. “Baik, Tuan.”

Kini Xavier dan Felix sudah berada di dalam mobil yang melaju, Xavier duduk bersandar dengan satu tangan memegang ponsel. Tatapannya datar, namun pikirannya tidak benar-benar tenang.

Jarinya bergerak singkat, mengetik pesan.

“Sudah siang, aku akan menjemputmu sekarang.”_ Xavier.

Pesan itu terkirim. Lyko lumayan lama membalasnya. Dan entah mengapa itu justru membuat Xavier sedikit gelisah. Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya pesan terbalas.

“Baiklah, aku mengerti.”_ Lyko.

Xavier menatap layar itu sejenak, ia sedikit lega. Lalu kembali memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.

“Lebih cepat,” ucapnya singkat pada Felix.

“Baik, Tuan,” Felix mengangguk lalu mempercepat kecepatan mobil.

Mobil melaju lebih cepat, membelah jalanan kota.

***

Beberapa menit kemudian mobil itu berhenti di depan kawasan rusun yang kumuh. Cat bangunannya memudar, dinding retak, dan lingkungan yang padat langsung terlihat jelas. Tatapan Xavier menyipit, rusun ini lebih kumuh dari yang pernah ia bayangkan.

Xavier keluar dari mobil tanpa ragu. Tatapan orang-orang langsung tertuju padanya. Mobil yang mahal, jas yang rapih, aura yang berwibawa, dan berjalan tegak melewati mereka. Xavier terlalu jauh dari namanya penduduk disana.

“Eh lihat itu... bukankah itu Tuan Xavier?”

“Iya benar, wajahnya lebih tampan daripada di majalah dan TV.”

“Andai menantuku seperti dia, hidupku pasti sudah sangat enak.”

“Badannya sangat keren ya, jadi ingin lihat otot perutnya deh.”

“Eh ku dengar dia masih jomblo loh.”

“Yes! Aku masih punya kesempatan!”

Bisikan-bisikan itu mulai terdengar dikuping Xavier. Namun ia tidak perduli. Ia masih fokus berjalan lurus, diikuti Felix di belakangnya. Langkahnya cepat menuju gang tempat Lyko tinggal.

Begitu sampai didalam rusun ia langsung menuju lift tua dengan besi yang berkarat itu. Felix langsung menekan tombol lantai 8 dan berdiri disamping Xavier. Lift perlahan bergerak naik dengan suara berderit.

DING

Pintu terbuka lift terbuka dan bergemah di lorong itu. Xavier melangkah keluar dengan cepat. Dari kejauhan ia melihat Lyko, ia tidak sendirian, melainkan ada seorang pemuda berdiri didepannya. Lyko tampak tersenyum dan bahagia saat berbicara dengannya.

Tatapan Xavier langsung menyipit dan tajam. Tapi wajahnya tetap dingin. Namun ada sesuatu yang berada didalam dirinya mulai terbakar.

Ia berjalan mendekati mereka. “Lyko,” panggil Xavier dengan suara yang rendah namun tegas.

Lyko seketika langsung menoleh. Matanya langsung bertemu dengan Xavier, ia terdiam dan sedikit terkejut.

Sementara pria di sampingnya ikut menoleh. Pria itu adalah Zergan. Wajahnya menunjukkan keterkejutan saat mengenali siapa yang berdiri di hadapannya.

“Tu-Tuan... Xavier…?” ucap Zergan, sedikit kaku, namun tetap berusaha tersenyum sopan.

Xavier menatapnya sebentar.

Lyko segera membuka suara, mencoba mencairkan suasana yang dapat menjadi kesalahan pahaman jika tidak di jelaskan secepatnya.

“Xa-Xavier kenalkan ini adalah Kak Zergan. Teman kecilku… dia banyak membantu aku dan bunda selama ini,” ucapnya menjelaskan dengan sedikit gugup.

Xavier kembali menatap Zergan beberapa detik lebih lama. Kemudian ia mengangguk pelan. “Aku mengerti,” nada suaranya tetap datar, namun tatapannya masih tetap tajam.

Zergan jelas merasakan tekanan itu. Ia tersenyum canggung, lalu menggaruk tengkuknya pelan. “Kalau begitu... aku izin pamit dulu ya Lyko. Aku masih ada tugas di kantor,” ucapnya sambil menatap Lyko.

Lyko mengangguk. “Ah, baiklah... hati-hati ya kak. Terima kasih sudah datang berkunjung, maaf merepotkan,” ia sedikit tersenyum kecil.

Zergan juga ikut tersenyum. “Sama-sama, tenang saja sama sekali tidak merepotkan ko.”

“Nak Zergan sebentar...” panggil Bunda Lyko padanya. “Ini kue buatan tante, masih panas... kamu bisa memakannya untuk di kantor,” ia menyerahkan kotak kecil itu pada Zergan.

Zergan menerimanya dengan sopan. “Terimakasih banyak Tante... maaf aku jadi merepotkan.”

Bundanya tersenyum. “Sama sekali tidak merepotkan, terimakasih juga sudah datang ya.”

Ia membungkuk sedikit. “Sama-sama Tante, kalau begitu saya pamit dulu ya, permisi.”

“Iya, hati-hati dijalan ya nak,” Bunda Lyko tersenyum kearahnya.

Zergan menoleh sekilas ke arah Xavier dan Lyko, mengangguk sebagai salam, lalu pergi menyusuri lorong.

Suasana mendadak hening, kini tersisa Xavier, Lyko, Felix, dan bundanya.

Tatapan bundanya perlahan beralih pada sosok di samping anaknya. Ia seketika terdiam. Tubuh pemuda itu tinggi, tegap, memiliki aura dingin yang kuat, dan wajah yang tegas. Xavier berdiri di sana dengan wibawa yang sulit diabaikan.

Lyko menyadari itu dan langsung memperkenalkan Xavier kepada bundanya. “Ah Bunda… ini laki-laki yang aku ceritakan itu, namanya Xavier,” ucap Lyko pelan sambil memegang tangan Xavier.

Xavier melangkah maju satu langkah, lalu membungkuk sedikit dengan sopan. “Selamat siang Nyonya. Namaku Xavier.”

Bundanya sedikit terkejut… namun kemudian tersenyum hangat. “Selamat siang juga nak Xavier... aku ibunya Lyko,” jawabnya lembut. “Oh iya apa mau masuk dulu...?”

Namun Lyko langsung menjawab ucapan bundanya. “Ah ma-maaf, Bu,” potong Lyko cepat, sedikit gugup. “Xavier masih banyak urusan… jadi kami harus segera pergi.”

Bundanya tersentak kecil sedikit bingung, namun kemudian langsung mengangguk mengerti. “Oh begitu ya.”

Namun Xavier tiba-tiba berbicara. “Felix,” panggilnya singkat.

“Ya, Tuan.”

“Berikan.”

Felix maju, lalu menyerahkan sebuah koper hitam kepada bundanya.

Bundanya mengernyit pelan. “Apa... ini?”

Begitu koper dibuka, terlihat isinya penuh dengan tumbukan uang yang sangat banyak. Matanya Lyko dan bundanya langsung membesar dan terkejut.

“Xavier…” bisiknya pelan sambil menatap Xavier.

Xavier hanya menatapnya sekilas. “Jumlah uang di koper ini sekitar dua ratus juta,” ucap Xavier tenang. “Mungkin Nyonya bisa memakainya untuk kebutuhan sementara.”

Lalu Xavier mengeluarkan sebuah kartu ATM. “Dan ini adalah kartu ATM yang isinya satu miliar. Nyonya bisa menggunakannya untuk melunasi hutang pada para penagih itu,” ucapnya sambil memberikan kartu itu ditangan Bunda Lyko.

Suasana seketika membeku. Bundanya hampir tidak bisa berkata-kata. “Ini… ini semua terlalu banyak… a-apa...”

“Bunda…” Lyko langsung menahan tangannya, memberi isyarat pelan pada bundanya.

Lyko tahu bahwa Xavier tidak suka sebuah penolakan. Bundanya langsung terdiam. Ia menelan semua kata yang hampir keluar.

Xavier melanjutkan, “uang di koper itu untuk pengobatan dan kebutuhan di sini. Dan nanti… Nyonya akan dipindahkan ke rumah yang sudah saya siapkan.”

Lyko benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Matanya hanya menatap Xavier. Wajahnya tampak ingin mengatakan sesuatu namun ia tahan.

Bundanya akhirnya mengangguk pelan. “Te-terima kasih… Xavier maaf merepotkan...”

“Tidak perlu berterimakasih,” jawabnya singkat. “Itu sudah kewajibanku.”

Lalu Lyko menarik nafas perlahan. “Kalau begitu.... kami berdua pergi dulu ya, Bun.”

Bundanya mengangguk. “A-Ah i-iya… hati-hati dijalan ya nak,” ucap bundanya yang masih gugup. Ia menatap Xavier perlahan. “Tolong jaga Lyko ya, Xavier.”

Xavier menatapnya sejenak dan mengangguk. “Aku akan menjaganya dengan baik.”

Lyko menatap bundanya lalu memegang tangannya. “Bun... kalau ada apa-apa beri tahu Lyko ya... Lyko pasti akan datang dan membantu Bunda.”

Bundanya mengangguk mengerti. “Iya sayang... kamu juga jaga diri baik-baik ya,” ucap bundanya sambil tersenyum.

“Iya Bunda, itu pasti. Kalau begitu... Lyko pergi dulu ya Bun,” ucap Lyko sambil tersenyum.

Xavier membungkuk pelan. “Kami permisi.” Felix pun menyerahkan koper itu pada Bunda Lyko dan membungkuk lalu mengikuti Lyko dan Xavier dari belakang.

Bundanya mengangguk mengerti.

lalu mereka berbalik dan berjalan pergi. Langkah kaki mereka menjauh di lorong sempit itu.

Bundanya tetap berdiri di sana, menatap punggung anaknya… yang kini berjalan berdampingan dengan seorang pria yang tak ia kenali. Perlahan… Ia tersenyum.

Ia kembali masuk kedalam rumah. Pandangan matanya tertuku pada koper yang ada di hadapannya. Lalu bergeser ke arah kartu ATM ditangannya.

Tangannya sedikit gemetar, namun hatinya perlahan menghangatkan. Lalu perlahan pandangannya bergeser ke bingkai foto Lyko yang masih kecil yang ada didekat televisi.

Senyuman anaknya kini telah jarang ia lihat sepenuhnya. Namun bunda Lyko juga harus menerima kenyataan. Bahwa Lyko juga sudah dewasa... ia tidak bisa selamanya terus berada disisinya.

Saat melihat tatapan mata Xavier itu... terlihat jelas terpancar sebuah kesungguhan di dalamnya. Dan entah kenapa merasa bahwa mungkin anaknya akan bahagia jika berada disisi Xavier.

1
Raicy Starmoonix
bnr lgi/Facepalm/
It's me Sky: efek trlalu kaya bgtu tuh/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
bohongnya nyambung lagi/Facepalm/
It's me Sky: bkn skrip dlu mrka/Slight/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
gmna g terpesona Lykonya aja cantik gituu/Sly//Rose/
It's me Sky: //Chuckle//Chuckle/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
tegang tor, aura mafianya ada bgt/Shame/
It's me Sky: bulu kudup aman?/Blush/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
bagusss bgt ceritanyaa/Kiss//Kiss/
Raicy Starmoonix
si mc ganteng bgt tor/Drool/
It's me Sky: kiww🤭
total 1 replies
Raicy Starmoonix
Xavier tanggung jwb anak orng salting/Facepalm/
It's me Sky: xavier aja salting sendiri/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
salting.... saltingg/Smirk/
It's me Sky: gengsi... gengsi/CoolGuy/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
omak, terbakar cemburu dan posesif/Doubt/
It's me Sky: shhtt/Shhh/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
astaga diksih black card.../Doubt/
It's me Sky: iya dong/Casual/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
lyko nya polos bgt pilss/Proud/
It's me Sky: hu um, soalnya dya bukan batik/Tongue/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
pingin punya cowok spek Xavier ihh, royal bgt😍/Rose/
It's me Sky: heii aku jg mau lohh/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
wahh alurnya keren/Joyful/
Arditya
luar biasa mantap thor
It's me Sky: makasihh/Hey/
total 1 replies
Arditya
Mampir baca thor😍
It's me Sky: yuk¹ mampir/Proud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!