Zerrin Atalea Felix seorang gadis mafia yang meninggal dunia lalu berpindah jiwa atau biasa di sebut bertransmigrasi ke tubuh Claudia Ramirez seorang gadis kaya tapi begitu di benci oleh saudara kandung nya sendiri, hanya kedua orang tua nya lah yang menyayangi nya.. Claudia yang selalu di anggap sebagai pembully di sekolah nya, padahal kenyataan nya selama ini dia hanya selalu di jadikan kambing hitam oleh seorang yang iri pada nya. Kesalahan pahaman ini lah yang membuat Claudia akhir nya di benci secara berlebihan oleh kedua abang dan lelaki yang sudah dia cintai sejak lama beserta anggota genk nya yang merupakan anggota most wanted di kampus. Kelompok para cowok-cowok kaya, keren dan populer di kawasan sekolah.
Bagaimana kisah jiwa Zerin yang berada di tubuh Claudia selanjutnya, ikuti terus kisahnya ya 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑁𝑜𝑣𝑖𝑒25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Jebakan di Balik Air Mata dan Permainan Saling Mengamati
Sejak hari pertama menyadari bahwa Claudia adalah satu-satunya orang yang tidak mudah terpedaya oleh topeng kepolosannya, Sinta Melati merasa tidak tenang. Bagi seseorang yang terbiasa memanfaatkan rasa kasihan orang lain untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, keberadaan Claudia menjadi penghalang yang harus segera disingkirkan atau setidaknya, dicoreng namanya agar tidak lagi dipercaya oleh siapa pun.
Ia tidak bertindak secara tergesa-gesa. Sebagai orang yang licik, ia tahu bahwa satu kesalahan kecil bisa membongkar seluruh sifat aslinya. Maka ia merencanakan langkah demi langkah dengan sangat hati-hati, memastikan bahwa jika rencananya berhasil, semua orang akan percaya bahwa Claudia adalah pelakunya, sedangkan ia hanya akan terlihat sebagai korban yang malang.
Peluang yang ia tunggu akhirnya datang saat sekolah mengumumkan persiapan lomba pidato dan seni budaya antar-kelas. Setiap kelas harus memilih satu perwakilan, dan secara suara terbanyak, Claudia kembali dipilih hal yang sudah diduga banyak orang, mengingat kemampuan bicaranya dan kepercayaan yang dimilikinya.
Sinta melihat ini sebagai kesempatan emas. Jika ia bisa membuat Claudia terlibat dalam masalah menjelang lomba, reputasinya akan jatuh, dan posisinya sebagai siswi teladan akan hancur seketika.
Ia mulai mendekati Claudia dengan sikap yang terlihat sangat menghormati dan mengagumi. Setiap bertemu, ia selalu menunduk, berbicara dengan nada lembut, dan seolah-olah sangat ingin belajar dari Claudia.
“Kak Claudia… aku sangat mengagumimu. Bagaimana caramu bisa berbicara dengan begitu percaya diri dan pandai menyusun kata-kata? Aku ingin sekali bisa sepertimu, tapi rasanya aku selalu kurang percaya diri,” ujar Sinta suatu sore, sambil menatap Claudia dengan mata yang berkaca-kaca seolah sedang mengagumi sosok yang sangat hebat.
Claudia menatapnya dengan pandangan tenang, tidak terpesona oleh sikapnya yang berlebihan. Ia tahu betul bahwa sikap ini hanyalah bagian dari aktingnya.
“Kamu hanya perlu berlatih dan percaya pada dirimu sendiri. Tidak ada rahasia khusus,” jawab Claudia singkat dan sopan, tidak memberi kesempatan untuk masuk lebih dalam.
Namun Sinta tidak menyerah. Selama beberapa hari berikutnya, ia terus mendekat, membantu mengumpulkan bahan, dan bahkan meminta izin untuk membaca naskah pidato yang sudah disusun Claudia, dengan alasan ingin mempelajari susunan kalimatnya.
“Tolong izinkan aku membacanya sebentar saja, Kak. Aku tidak akan mengubah apa pun, hanya ingin melihat bagaimana cara menyusunnya agar terasa menarik,” pujuknya dengan nada memohon.
Claudia sempat ragu, namun ia juga ingin melihat sampai sejauh mana Sinta akan melangkah. Ia memutuskan untuk memberikan naskah itu — namun sebelumnya, ia sengaja membuat dua versi: satu versi asli yang disimpan dengan aman, dan satu versi yang sedikit diubah pada bagian akhir, mengandung kalimat yang bisa disalahartikan jika dibaca di depan umum, namun tetap terlihat wajar sekilas.
“Ini naskah yang sedang aku susun. Baca saja, tapi kembalikan sebelum jam pulang sekolah, ya,” kata Claudia dengan tenang.
Wajah Sinta bersinar seolah mendapatkan harta berharga. “Tentu saja, Kak! Aku akan mengembalikannya segera, terima kasih banyak!”
Begitu ia pergi, senyum tipis terukir di bibir Claudia. “Mari kita lihat apa yang akan kau lakukan selanjutnya, gadis yang suka bersembunyi di balik air mata itu.”
Sore harinya, Sinta mengembalikan naskah itu dengan wajah yang terlihat biasa saja. “Sudah aku baca, Kak. Sangat bagus sekali. Semoga nanti saat lomba berjalan lancar ya.”
Namun di balik senyumnya, ia sudah menyusun rencananya. Ia telah menyalin naskah itu, lalu mengubah bagian akhir menjadi kalimat yang sangat tidak pantas, menyinggung aturan sekolah dan kebiasaan warga sekitar, sehingga jika dibacakan, akan menimbulkan kemarahan dan kecaman dari semua pihak.
Keesokan harinya, saat Claudia sedang sibuk mengurus keperluan lain, Sinta mendatangi ruang guru dengan wajah yang terlihat cemas dan sedih.
“Bu Guru… maaf mengganggu. Aku hanya ingin memastikan sesuatu… kemarin aku melihat naskah pidato milik Kak Claudia, dan ada bagian yang menurutku agak aneh dan menyinggung, tapi aku takut salah mengartikan. Bolehkah aku menunjukkan salinannya agar Bapak/Ibu Guru bisa melihatnya?” katanya dengan nada ragu, seolah takut menyinggung Claudia.
Guru yang mendengarnya segera merasa khawatir. “Tentu saja, tunjukkan. Kita harus memastikan semuanya sesuai aturan sebelum hari lomba tiba.”
Begitu membaca naskah yang dibawa Sinta, wajah guru itu berubah tegas. “Ini benar-benar tidak pantas! Jika dibacakan, nama baik sekolah bisa tercoreng. Kita harus segera memanggil Claudia untuk menanyakan hal ini.”
Sinta segera menambahkan dengan nada sedih, “Mungkin Kak Claudia tidak sengaja menulisnya seperti itu… tapi aku khawatir jika sampai dibacakan, semua orang akan salah paham. Aku hanya ingin membantu, bukan bermaksud buruk…”
Tindakan itu membuat Sinta terlihat sebagai siswi yang bertanggung jawab dan peduli, sementara tuduhan buruk kini mengarah kepada Claudia.
Saat dipanggil ke ruang guru, Claudia sudah menduga apa yang terjadi. Ia tidak terlihat panik atau marah, hanya tenang dan penuh keyakinan.
“Claudia, naskah pidato yang kau siapkan ini mengandung kalimat yang sangat tidak pantas. Apakah ini benar tulisanmu?” tanya guru itu dengan nada serius.
Claudia menatap naskah yang ada di meja, lalu menoleh ke arah Sinta yang berdiri di sudut ruangan dengan kepala tertunduk, seolah merasa bersalah telah membawa masalah.
“Ini bukan naskah asli yang aku susun, Bu,” jawab Claudia tegas. “Ada yang mengubah bagian akhirnya.”
Sinta segera berbicara dengan suara terguncang, “Tapi… tapi kemarin aku membacanya persis seperti ini. Aku tidak mengubah apa pun, aku hanya menyalinnya apa adanya…”
Suasana menjadi tegang. Beberapa guru mulai ragu, mengingat Sinta selama ini terlihat sangat lembut dan jujur, sedangkan tuduhan ini terasa serius.
Namun Claudia tidak panik. Ia mengeluarkan naskah asli dari tasnya, lalu menunjuk ke bagian yang berbeda. “Ini naskah yang aku kerjakan. Perhatikan tulisan tangan dan tanda baca yang aku gunakan. Selain itu, kemarin saat aku memberikan naskah itu kepada Sinta, aku juga merekamnya secara tidak sengaja dengan ponselku hanya untuk memastikan tidak ada kesalahpahaman, karena aku tahu dia sering lupa barang.”
Ia memutar rekaman suara yang jelas terdengar, di mana ia menyebutkan secara rinci isi naskah yang diberikan, dan Sinta mengiyakan tanpa keberatan. Perbedaan kalimat di bagian akhir terdengar jelas, membuktikan bahwa naskah yang dibawa Sinta memang telah diubah.
Wajah Sinta seketika memucat. Rencana yang ia susun dengan hati-hati ternyata sudah dipersiapkan jawabannya oleh Claudia. Ia mencoba memutar otak, namun tidak bisa menemukan alasan lagi. Air mata mulai mengalir, bukan karena rasa bersalah, melainkan karena rasa takut ketahuan.
“Aku… aku tidak tahu… mungkin saat menyalin aku salah tulis…” gumamnya dengan suara parau.
Claudia menatapnya dengan pandangan yang dalam, cukup didengar oleh mereka berdua saja. “Kesalahan bisa terjadi, tapi mengapa kamu langsung membawanya ke guru tanpa menanyakan kepadaku terlebih dahulu? Apakah itu cara yang baik untuk membantu?”
Sinta tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa menunduk dalam, menyadari bahwa untuk pertama kalinya, ia gagal menjebak seseorang dan justru terjebak dalam perbuatannya sendiri.
Meskipun tidak ada hukuman berat yang diberikan, karena tidak ada bukti yang cukup untuk membuktikan niat jahatnya secara mutlak, namun para guru dan siswa yang melihat kejadian itu mulai merasa ada yang tidak beres dengan sikap Sinta. Rasa percaya yang dimilikinya perlahan mulai terkikis.
Sementara itu, di sisi lain, hubungan antara Raka dan Claudia juga semakin mendalam dalam bentuk pengamatan diam-diam.
Setelah kejadian itu, Raka yang melihat semuanya dari kejauhan semakin yakin bahwa Claudia bukan gadis biasa. Ia melihat bagaimana Claudia tetap tenang, tidak tergesa-gesa menuduh, dan memiliki bukti yang siap kapan saja untuk melindungi dirinya sifat yang hanya dimiliki oleh mereka yang terbiasa menghadapi intrik dan bahaya setiap hari.
Suatu sore, Raka mendatangi Claudia saat ia sedang berjalan pulang sendirian.
“Kau sangat tenang saat menghadapi masalah tadi,” ujar Raka dengan senyum tipis. “Banyak orang akan marah atau panik jika dituduh seperti itu, tapi kau justru terlihat sudah menyiapkan semuanya.”
Claudia menoleh dan menatapnya dengan pandangan yang setara. “Jika kau tahu siapa dirimu dan apa yang kau lakukan, tidak ada alasan untuk panik. Kebenaran akan selalu terungkap pada waktunya.”
Raka tertawa pelan, suaranya terdengar dalam dan penuh wibawa. “Kata-kata itu terdengar seperti nasihat yang diberikan oleh orang yang sudah banyak melihat dunia, bukan oleh siswi sekolah biasa. Kau benar-benar membuatku penasaran, Claudia.”
Ia melangkah sedikit lebih dekat, nadanya menjadi lebih serius namun tetap sopan. “Ayahku mengirimku ke sini untuk melihat bagaimana situasi di wilayah ini. Kami tahu bahwa Klan Felix baru saja bangkit kembali dan dipimpin oleh sosok yang misterius namun sangat cakap. Jujur saja, aku merasa ada kaitan antara kebijaksanaan yang kau tunjukkan dan kebijaksanaan yang ditunjukkan oleh pemimpin baru itu.”
Claudia tidak terkejut mendengar pengakuan itu. Ia sudah menduga Raka memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar belajar di sekolah.
“Dunia ini luas, Raka. Banyak orang yang terlihat biasa saja, namun menyimpan kelebihan dan pengalaman yang tidak terlihat oleh mata telanjang. Apakah itu berarti mereka semua memiliki hubungan dengan urusan yang tidak biasa?” jawabnya dengan bijaksana, tidak mengonfirmasi atau menyangkal secara langsung.
Raka mengangguk, mengerti bahwa Claudia tidak akan membuka rahasianya semudah itu. “Kau benar. Aku tidak akan memaksamu untuk menjawab hal yang tidak ingin kau katakan. Namun izinkan aku menyampaikan satu hal: Klan Black Phantom tidak datang untuk bermusuhan. Kami ingin melihat apakah kita bisa menjadi mitra yang saling menguntungkan, atau setidaknya menjaga hubungan yang damai. Jika pemimpin Klan Felix sebaik dan secerdas dirimu, maka aku yakin kita bisa berjalan beriringan tanpa masalah.”
Claudia tersenyum tipis. “Itu adalah niat yang baik. Aku berharap semuanya akan berjalan sesuai harapan.”
Percakapan itu berakhir dengan saling pengertian namun tetap menjaga batasan. Keduanya tahu bahwa mereka sedang berada dalam permainan yang lebih besar, di mana kepercayaan harus dibangun perlahan, dan setiap langkah harus dihitung dengan cermat.
Malam itu, saat Zerrin kembali ke ruang kerjanya di markas Klan Felix, ia merenungkan kejadian hari itu. Ia telah berhasil menggagalkan jebakan Sinta, dan juga membangun hubungan awal dengan Raka tanpa membocorkan identitas aslinya.
Namun ia sadar bahwa ini baru permulaan. Sinta yang telah gagal sekali akan menjadi lebih berhati-hati dan lebih berbahaya di kemudian hari, sementara kehadiran Klan Black Phantom membawa peluang sekaligus risiko baru yang harus dihadapi dengan sangat bijaksana.
“Dua jenis bahaya yang berbeda , satu datang dengan senyum dan air mata, yang lain datang dengan kekuasaan dan niat yang belum jelas,” gumam Zerrin dalam hati. “Tapi selama aku tetap tenang dan tidak kehilangan arah, aku akan bisa menghadapi keduanya.”
Babak baru ini mengajarkan bahwa di dunia yang penuh intrik, musuh terberat bukanlah mereka yang menyerang secara terang-terangan, melainkan mereka yang berdiri di sampingmu dengan wajah yang paling ramah dan polos.
**✿❀ ❀✿** To be continued **✿❀ ❀✿**