Hana Untari seorang wanita yang baik dan cantik, diamenikah dengan laki‑laki bernama Dimas Prayoga. Hana tinggal dengan suami beserta keluarga suaminya. Namun, Dimas selama 3 tahun menjadi suami Hana tidak menafkahinya dengan layak, dia beralasan jika Hana juga mempunyai penghasilan yang cukup. Dimas menghabiskan uangnya untuk kebutuhannya sendiri, sedangkan untuk kebutuhan ibu dan kakak serta adiknya semua uang dari Hana. Perselingkuhan Dimas dengan orang terdekat Hana, membuat Hana tidak bisa memaafkan suaminya. Mampukah Hana menjalani biduk rumah tangga dengan Dimas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lisxone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hana kena Omel
Hana meninggalkan dapur tanpa sepatah katapun, dia masuk kamar. Air mata nya tumpah membasahi pipinya, rasa sakit hati juga menyesakkan dadanya. Kurang apa dia, selama ini dia sudah patuh dan tidak pernah membantah suami maupun ibu mertuanya. Bahkan, dia harus berbohong kepada kakaknya jika dia hidup bahagia dan rukun bersama keluarga suaminya.
Hana bersiap‑siap untuk pergi ke kantor, percuma menangis. Yang ada dia pekerjaannya akan terbengkalai, terlebih dia ada meeting dengan klien.
" Mas, Dimas sudah keterlaluan. Dia sudah berani menampar ku, lihat saja mas. Kamu mendiamkan ku, aku juga bisa mendiamkanmu. Jangan kamu kira aku selama ini mengalah, karena aku takut sama kamu. Itu semua karena aku menghargaimu sebagai suami."Ucap Hana bermonolog pada dirinya sendiri.
Cekleekk
Pintu kamar terbuka, Dimas masuk tanpa mengucapkan apapun. Sebenarnya dia menyesal sudah bertindak kasar, dan ingin meminta maaf. Akan tetapi, dia gengsi jika harus lebih dulu meminta maaf.
Biasanya selalu Hana yang mengalah, tapi tidak untuk kali ini. Hana benar‑benar mendiamkannya.
Saat Dimas masuk ke kamar mandi, Hana keluar dari kamar dan menyambar kunci motor yang ada di atas meja ruang tengah.
" Mbak, hari ini aku mau pakai motornya. Aku ada kumpul sama teman‑temanku, malu kalau harus naik angkot."Ucap Lastri adik iparnya.
" Kalau mau pakai motor, beli sendiri. Ini motor ku, dan aku beli pun untuk aku pakai. Kalau motor ini kamu pakai, aku kerja pakai apa? Bukannya kamu sudah selesai ujian? Dirumah saja beresin ini rumah, jangan tahunya cuma makan tidur dan minta uang segala."Ucap Hana dengan kesal.
" Mbak !! Kamu tidak ada hak untuk menasehatiku. Aku mau kemana itu hak aku, tidak ada urusannya sama mbak. Cuma motor seperti itu saja sombong, aku kalau sudah bekerja juga bisa beli motor. Jangankan motor, mobil pun aku bisa beli."Seru Lastri dengan beraninya tanpa ada sopan santunnya bicara dengan kakak iparnya sendiri.
Hana hanya menggeleng sambil tersenyum tipis. Dia tidak menghiraukan ucapan Lastri, dia lebih memilih cepat berangkat ke kantor. Tanpa sarapan lebih dulu, Hana pun berangkat kerja. Tidak menghiraukan teriakan Lastri yang memintanya untuk tidak memakai motor.
" Mbak Hana!
" Mbak Hana !! Jangan bawa motornya !!."Teriak Lastri dari teras rumah.
Teriakan Lastri yang melengking, membuar Sintia dan ibu Sundari langsung menghampirinya.
" Kenapa lagi dengan Hana, Las?."Tanya ibu Sundari.
" Itu bu, mbak Hana membawa motornya. Padahal aku sudah bilang kalau aku mau pakai motor, aku ada kumpul sama teman‑teman sekolah ku. Tapi masih saja di bawa, dan meminta aku untuk beli motor sendiri."Ucap Lastri mengadu dengan wajah cemberut.
" Dasar menantu kurangajar ! Hana semakin keterlaluan saja, sudah nanti kamu naik taksi online saja. Nanti ibu kasih uang untuk ongkosnya."Ucap ibu Sundari menenangkan anak gadisnya yang manja dan pemalas.
Kini Dimas dan yang lainnya sudah berkumpul di meja makan. Mereka sarapan dengan masakan yang tadi sudah Hana siapkan.
" Mas, besok gajian kan? Aku mau motor yang kayak punya mbak Hana dong. Aku juga pengen punya motor sendiri, tidak pinjam punya mbak Hana terus. Mbak Hana semakin pelit, sekarang aku sudah tidak boleh pinjam motornya lagi."Ucap Lastri meminta motor baru kepada Dimas.
Uhhuukk Uhhuukk Uhhuukk
Seketika itu Dimas pun langsung batuk‑batuk dan tersedak. Permintaan Lastri mengejutkannya, darimana dia dapat uang untuk membeli motor seperti punya Hana. Gajinya saja cuma 5 juta, dan motor Hana seharga 30 juta lebih.
" Belikan saja dong, Dim. Uang kamu kan banyak, bukannya kamu ini seorang menejer yang bergaji besar. Masa iya cuma motor saja tidak kebeli, pasti kamu punya tabungan kan?."Seru ibu Sundari membuat Dimas semakin bingung.
Dimas mengaku kepada keluarganya jika dia sudah naik jabatan sebagai menejer. Dan bergaji besar, namun semua itu hanya omong kosong saja. Dimas hanyalah karyawan atau staf biasa di kantor.
" Atau jangan‑jangan uang kamu semua sama Hana? Jangan bodoh kamu Dim, pasti istrimu itu akan berfoya‑foya dengan uangmu."Ucap Sintia ikut berkomentar.
" Gajiku memang dikelola Hana, mbak. Tapi tidak semuanya, hanya jatah untuk Hana, ibu, Lastri dan untuk kebutuhan rumah saja yang Hana kelola. Sisanya ada sama Dimas sendiri, begini‑begini Dimas juga harus punya tabungan."Ucap Dimas semakin berbohong.
" Sebenarnya berapa sih gaji kamu yang dikelola Hana? Selama ini ibu tidak tahu sama sekali berapa jumlah uang itu, yang ibu tahu Hana hanya memberi ibu uang 1,5 juta dan uang jajan Lastri 1 juta saja. Pasti banyak kan? Dan sisanya diembat Hana semua."Seru ibu Sundari berfikir buruk terhadap Hana.
Hahhh ?
Dimas tercengang saat tahu berapa nominal uang yang Hana berikan untuk ibunya dan Lastri. Uang 1,5 juta dan 1 juta itu adalah nominal yang besar, belum untuk uang sekolah Lastri. Selama 3 tahun ini yang membayar uang sekolah Lastri juga Hana, begitupun dengan kebutuhan rumah dan yang lainnya.
Sebenarnya berapa sih gaji Hana? Setahuku gaji dia tidak jauh beda dengan gajiku, kenapa dia memberi uang ibu dan Lastri sebanyak itu.
Tagihan listrik, tagihan air dan iuran sampah serta keamanan dan kebutuhan rumah. Itu semua tidak sedikit, bisa hampir 10 juta? Ahh masa bodoh, yang penting itu semua tidak pakai uangku. Bisa saja Hana setiap bulan dapat transferan dari kakaknya yang juragan sapi itu, kakaknya kan pasti banyak duit.*Gumam Dimas dalam hati mengira Hana mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan rumah dari kakaknya.
Memang benar, setiap satu atau dua bulan kakaknya itu mengirimkan uang ke rekening Hana. Uang bagian hasil panen dari cokelat dan sawit peninggalan almarhum kedua orang tuanya yang saat ini dikelola oleh kakaknya Hana, Farhan. Sawah bagian Hana di tanami sayuran dan padi oleh tetangga di sana, dan bagian Hana setiap bulannya selalu disetorkan ke Farhan.
Namun semua itu tidak diketahui oleh Dimas dan keluarganya. Uang itu sendiri Hana tabung, dia tidak menggunakan uang itu untuk kebutuhan rumah tangganya. Hana memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan uang gajinya.
" Soal motor nanti kita bicarakan lagi. Sudah siang, aku berangkat kerja dulu." Ucap Dimas buru‑buru menghindari obrolan soal motor.
Sesampainya di kantor, Hana bergegas ke kantin untuk mengisi perutnya lebih dulu. Dia tidak akan membiarkan perutnya kosong saat bekerja.
Bu,nasi sotonya ayam nya 1 ya sama teh hangatnya juga." Ucap Hana memesan menu sarapan kepada ibu penjaga kantin.
" Iya bu, Hana. Kok tumben sarapan di kantin, jarang‑jarang loh ibu Hana makan di kantin?." Tanya ibu penjaga kantin.
Iya bu, tadi buru‑buru karena ada pekerjaan yang tertinggal sampai tidak sempat untuk sarapan." Jawab Hana sengaja berbohong.
Tidak mungkin juga Hana bicara jujur, sama saja dia mengumbar aib rumah tangganya dengan orang lain.
Setelah menunggu 5 menit, pesanan Hana sudah berada di depannya. Hana memakan sarapannya dengan cepat, 10 menit lagi dia harus segera memimpin rapat. Kliennya pasti saat ini sudah berada di ruang rapat.
Tidak membutuhkan waktu lama, satu porsi nasi soto dan 1 gelas teh hangat sudah habis. Hana membayarnya dan buru‑buru berjalan ke ruangannya.