Sejak kecil, Kiara hidup sebagai anak yang dibenci dan disiksa oleh keluarga yang membesarkannya. Ia tak pernah tahu bahwa semua penderitaan itu berawal dari sebuah pembunuhan yang terjadi dua puluh lima tahun lalu.
Demi merebut harta dan kekuasaan, pamannya membunuh ayah kandung Kiara, mengurung ibu kandungnya selama puluhan tahun, lalu membesarkannya dengan identitas palsu.
Saat kebenaran mulai terungkap, Kiara harus merebut kembali haknya dan membalas semua dosa yang telah merenggut keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Kiara sama sekali tak menyangka akan menghadapi kenyataan seberat ini—kenyataan pahit yang kini harus ia terima sepenuhnya.
Ia menjauh dari pintu ruangan itu, menggeleng-gelengkan kepala seolah tak percaya, lalu berlari keluar tanpa arah yang jelas meninggalkan rumah megah itu—rumah yang selama ini ia kira milik Anton, padahal sejatinya adalah milik Yuda, ayah kandungnya.
Air hujan mengguyur sekujur tubuhnya, bercampur dengan air mata yang tak henti mengalir. Ia terus berlari hingga kakinya tersandung batu dan terjatuh di atas aspal yang tergenang air.
“Jadi… aku bukan anak kandung Papa Anton? Nama Yuda yang mereka sebut-sebut itu… adalah ayah kandungku sendiri? Kenapa mereka tega membuat ayahku meninggal? Kenapa mereka tega membunuhnya… Kenapa…?!!!” teriak Kiara dengan dada terasa sesak, hancur oleh kenyataan yang baru saja ia dengar dari balik pintu ruang kerja itu.
Di sisi lain, Bara dan Vera yang sedang dalam perjalanan pulang tak sengaja melihat sesosok wanita di pinggir jalan.
“Ver, kamu lihat orang itu tidak?” tunjuk Bara dengan telunjuknya.
“Mungkin orang yang mengalami gangguan jiwa,” jawab Vera santai.
“Masa sih? Coba kamu turun dan lihat ke sana,” perintah Bara.
“Kamu ini laki-laki, seharusnya kamulah yang turun sendiri!” sahut Vera kesal.
“Baiklah, baiklah. Ribet sekali menyuruh orang,” gumam Bara. Ia lalu turun sambil membawa payung dan berjalan mendekati wanita itu. Saat jarak semakin dekat, Bara mengenali pakaian yang dikenakan wanita itu—dan ya… itu adalah Kiara. Ia segera membuang payungnya dan meraih tubuh gadis itu.
Kiara yang menyadari ada orang yang mendekat menoleh ke arah Bara. Pandangan mereka bertemu, namun tatapan Kiara tampak sendu dan masih basah oleh air mata. Tanpa berpikir panjang, Kiara langsung memeluk Bara erat-erat. Bara tertegun dan mematung sejenak, membiarkan gadis itu menangis di bawah guyuran hujan.
Kiara menangis sepuasnya di dalam dekapan Bara, hingga akhirnya Bara membalas pelukan itu dengan lembut, membiarkan Kiara meluapkan segala kesedihannya.
Di dalam mobil, Vera yang belum menyadari siapa wanita itu akhirnya turun juga membawa payung. Saat ia mendekat, betapa terkejutnya ia mengetahui bahwa wanita itu adalah Kiara.
“Kiara…” gumam Vera pelan. Ia lalu menatap Bara sekilas. “Bara, lebih baik kita bawa Kiara masuk ke dalam mobil sekarang. Ia basah kuyup semua, nanti bisa sakit.”
Bara mengangguk setuju. Ia pun melepaskan pelukannya sedikit, lalu menuntun Kiara berjalan menuju mobil.
“Kiara… kenapa kamu bisa begini?” tanya Bara penuh rasa prihatin.
“Ayo, Pak, jalan langsung pulang saja,” perintah Bara kepada sopir setelah mereka bertiga masuk ke dalam mobil.
“Baik, Den,” jawab sopir itu. Mobil pun segera melaju membelah jalanan basah menuju kediaman keluarga Kencana.
“Ia terus menangis, Bar,” ucap Vera pelan.
“Iya, Ver. Tapi aku tidak tahu apa penyebabnya. Tiba-tiba saja ia sudah seperti itu,” jawab Bara.
“Kiara, ceritalah pada kami, ada apa sebenarnya?” bujuk Vera lagi. Namun Kiara hanya menoleh sebentar ke arah mereka, lalu menggeleng lemah tanpa berkata sepatah kata pun.
“Sepertinya kita jangan tanya dulu untuk saat ini, Ver,” saran Bara.
“Baiklah. Nanti setelah sampai di rumah Om Seno, kamu harus jaga dia baik-baik ya. Aku pulang sebentar untuk ganti baju, nanti aku menyusul lagi ke sana.”
“Tenang saja, Ver. Aku akan jaga dia,” jawab Bara meyakinkan.
“Baiklah, aku percaya padamu kali ini.”
“Memangnya selama ini kamu tidak pernah percaya padaku, ya?”
“Bukan begitu, Bar… Maaf ya.”
Tak lama kemudian, mereka pun tiba di rumah Bara yang besar dan megah. Beberapa petugas keamanan segera menyambut sambil membawa payung. Bara menuntun Kiara masuk ke dalam rumah, sedangkan Vera berpamitan untuk pulang sebentar.
Begitu berada di dalam rumah, Bara segera memanggil ibunya.
“Ma… Mama…!” teriak Bara, membuat Pak Seno dan istrinya, Bu Yuni, menghentikan kegiatan mereka di kamar.
“Anak ini memang tidak bisa dibiarkan tenang sebentar saja, selalu saja mengganggu,” gumam Pak Seno kesal.
“Hahaha… sabarlah, Mas. Nanti kita lanjutkan lagi ya, takutnya ia benar-benar datang mengetuk pintu kamar,” ucap Bu Yuni sambil mengusap punggung suaminya. Pak Seno yang masih merasa belum puas akhirnya terpaksa menghentikan kegiatannya dan bergegas menuju kamar mandi.
“Baru saja asyik, masa harus berhenti begitu saja,” gerutu Pak Seno.
“Sudahlah, nanti kita lanjut ronde ketiga,” bujuk Bu Yuni.
“Janji ya, Ma?”
“Iya, iya. Sudah cepat bersiap, nanti Bara malah mendobrak pintu kamar kita.”
Keduanya segera membersihkan diri, berpakaian rapi, lalu keluar dari kamar.
“Apa-apaan sih, Bar? Berteriak-teriak seperti di hutan saja,” sapa Pak Seno begitu melihat putranya.
“Papa dan Mama ini ngapain sih? Lama sekali di dalam kamar!” sahut Bara kesal.
“Sedang membuat adik baru untukmu, Bar,” canda Pak Seno.
“Jangan aneh-anehlah, Pa. Bara sudah berusia tiga puluh tahun, masa disuruh lagi mengasuh adik kecil,” jawab Bara ketus.
“Sudah-sudah, jangan bertengkar terus,” tegur Bu Yuni menengahi. “Ngomong-ngomong, kenapa kamu memanggil Mama tadi?”
“Tadi Bara membawa Kiara pulang, Ma. Ia baru saja kehujanan dan terus menangis. Maksud Bara mau minta tolong Mama, tapi sekarang Mbok Yam sudah menangani dan merawatnya,” jelas Bara. Penjelasan itu membuat pasangan suami istri itu saling berpandangan penuh tanya.
“Kiara kenapa, Bar? Di mana dia sekarang?” tanya Bu Yuni cemas.
“Saat ini Kiara sedang di kamar tamu, sebentar lagi ia akan keluar kok,” jawab Bara.
“Baiklah, biarkan Kiara menginap di sini dulu untuk sementara waktu. Sepertinya ia sedang menghadapi masalah berat,” usul Pak Seno.
Tak lama kemudian, Kiara keluar dari kamar tamu dengan pakaian yang sudah bersih dan kering. Ia berjalan menuju ruang tamu dan duduk di dekat Bara serta kedua orang tuanya.
“Pak Seno, Bu Yuni,” sapa Kiara dengan sopan.
“Eh, Kiara… Kamu sudah makan belum, Nak?” tanya Bu Yuni lembut.
“Sudah, Bu Yuni. Maaf ya kalau kehadiran Kiara di sini malah merepotkan Ibu,” jawab Kiara pelan.
“Tidak apa-apa, Sayang. Kamu tinggal di sini saja dulu, tidak merepotkan sama sekali. Mama malah senang, jadi suasana rumah jadi lebih ramai,” ucap Bu Yuni hangat.
Sementara itu, Pak Seno terus menatap wajah Kiara dengan pandangan yang tampak berpikir keras. Wajah gadis itu terasa begitu akrab, seolah pernah ia temui sebelumnya, namun ia tak ingat persis di mana. Ada kemiripan yang sangat jelas dengan seseorang yang pernah ia kenal.
“Wajahnya mirip siapa ya… Kenapa rasanya begitu akrab? Jangan-jangan…” gumam Pak Seno dalam hati.
“Ehem… Pa?” suara Bara membuyarkan lamunan ayahnya.
“Eh, iya, Bar… Ada apa?” tanya Pak Seno sedikit terkejut.
“Papa kenapa? Menatap Kiara begitu tajam, seolah melihat hantu saja,” canda Bara.
“Tidak apa-apa, Bar. Tidak ada apa-apa. Oh iya, sebaiknya Kiara istirahat lagi saja sekarang,” perintah Pak Seno.
“Baiklah, Pa. Ayo, Kiara, aku antar kembali ke kamar,” ajak Bara. Ia lalu berjalan bersama Kiara menuju kamar tamu.
“Papa kenapa sih? Sepertinya ada sesuatu yang berbeda,” tanya Bu Yuni penasaran.
“Ma, mari kita bicara sebentar di ruang kerja Papa saja,” ajak Pak Seno. Keduanya pun beranjak menuju ruang kerja.
“Ada apa sebenarnya, Pa?” tanya Bu Yuni setelah mereka duduk.
Pak Seno menutup pintu rapat-rapat, lalu mendekat ke arah istrinya. “Wajah Kiara terasa sangat akrab bagi Papa, Ma. Seolah-olah Papa sangat mengenalnya. Setelah Papa mengingat-ingat kembali, tahukah kamu siapa yang terlintas di pikiran Papa?”
Bu Yuni menggeleng bingung. “Siapa, Pa? Mama tidak tahu.”
“Ia sangat mirip dengan Linda, Ma. Linda yang dulu dikabarkan menghilang dan diduga kabur membawa laki-laki lain,” ucap Pak Seno. Perkataan itu membuat Bu Yuni tertegun tak percaya.
“Masa sih, Pa? Kok Mama tidak menyadarinya sama sekali?” gumam Bu Yuni.
“Tapi sebenarnya ada perpaduan wajah antara Yuda dan Linda di sana, Ma. Dan satu lagi, cara bicaranya serta nada suaranya sangat mirip dengan Linda,” tambah Pak Seno.
“Papa yakin dengan dugaan itu, Pa?”
Pak Seno mengangguk mantap. “Iya, Ma. Nanti kita akan tanya pelan-pelan, apakah benar ia anak kandung Pak Anton. Jika jawabannya tidak, maka apa yang dikatakan Vino selama ini benar, Ma. Kiara adalah anak Yuda yang selama ini dipelihara oleh Anton.”
“Semoga saja dugaan itu benar, Pa. Kalau begitu, Papa tidak perlu lagi bersusah payah mencari keberadaan anak mendiang Yuda,” sahut Bu Yuni sambil mengangguk setuju.
Bersambung