"Aku membiarkan diriku ditangkap oleh hukum, hanya agar aku bisa tetap berada di dalam duniamu."
....
Herry adalah kapten tim elit kepolisian Seoul yang dingin, kaku, dan menganggap dunia hanya sebatas hitam dan putih. Baginya, Marysa ratu mafia termuda yang kejam hanyalah target besar yang harus dia seret ke balik jeruji besi.
Namun, di balik borgol dan dinding penjara yang dingin, sebuah rahasia berdarah lima tahun lalu di Pelabuhan Incheon terkunci rapat. Marysa mengingat semuanya termasuk bagaimana dia mengorbankan segalanya demi menyelamatkan nyawa Herry. Sementara Herry? Amnesia pascatrauma menghapus seluruh eksistensi Marysa dari kepalanya, menyisakan tatapan asing yang penuh kebencian.
Di saat Marysa rela menerima semua siksaan penjara asalkan bisa berada di bawah langit yang sama dengan Herry, sebuah kabar menghantamnya tanpa ampun, Herry akan bertunangan dengan wanita lain.
...
apa yang difikirkan Marysa? Kabur? atau memilih dieksekusi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Sesak
...
Lampu koridor Lembaga Pemasyarakatan Wanita Cheongju meredup tepat pukul sepuluh malam, menyisakan keremangan kuning yang suram di dalam sel nomor 407. Udara malam merayap masuk melalui celah ventilasi kecil yang berjeruji besi, membawa hawa dingin musim dingin Seoul yang membekukan lantai beton. Di dalam ruangan sempit itu, suara dengkur halus dan napas berat dari para tahanan mulai bersahutan, menandakan bahwa mereka telah menyerah pada rasa lelah setelah seharian dipaksa melakukan kerja bakti di ruang konveksi penjara.
Namun, di sudut paling gelap dekat kamar mandi yang berbau pesing dan antiseptik menyengat, Marysa masih terjaga.
Dia duduk meringkuk, memeluk kedua lututnya yang dibalut celana tahanan yang tipis. Tubuhnya terasa remuk. Tiga jam yang lalu, sebelum jam apel malam dimulai, Chae-won dan dua anak buahnya kembali menyudutkan Marysa di belakang loker. Mereka tidak menggunakan senjata tajam karena itu akan memicu investigasi sipir melainkan pukulan-pukulan pendek yang terarah ke perut, rusuk, dan paha. Bagian-bagian tubuh yang tertutup pakaian, yang memarnya bisa disembunyikan dengan mudah.
Setiap kali kepalan tangan mentah Chae-won menghantam kulitnya, Marysa tidak pernah berteriak. Dia hanya memejamkan mata, menahan napas, dan ketika dia membuka mata kembali, bibirnya yang pecah akan memamerkan sebuah senyuman. Senyuman tipis, dingin, dan penuh ejekan yang justru membuat para penyiksanya semakin frustrasi dan memukulnya lebih keras.
Bagi Chae-won, senyuman Marysa adalah bentuk kesombongan seorang mantan ratu mafia yang menolak untuk tunduk. Namun, bagi Marysa, senyuman itu adalah satu-satunya perisai warisan yang tersisa di dalam hidupnya yang sudah runtuh total.
Dalam kesunyian malam yang mencekam, sepasang mata kelam Marysa menatap kosong ke arah dinding semen di hadapannya. Pikirannya melayang jauh, melompati dinding-dinding beton penjara, menembus waktu yang telah lewat bertahun-tahun lalu.
Senyuman itu bukan miliknya. Itu adalah milik mendiang ibunya.
Marysa masih bisa mengingat dengan sangat jelas bagaimana rupa ibunya seorang wanita berhati malaikat yang memiliki senyum paling hangat di dunia, namun takdirnya berakhir tragis di dalam sangkar emas berdarah. Ibunya adalah istri dari seorang kepala mafia besar yang kejam, pria yang tak lain adalah ayah Marysa sendiri. Hidup di bawah atap yang sama dengan monster membuat wanita itu menderita setiap detik, mengalami kekerasan domestik yang tak pernah terekspos oleh media, hingga akhirnya... wanita lembut itu dibunuh secara dingin oleh suaminya sendiri ketika mencoba melarikan diri membawa Marysa yang masih kecil.
Namun, ada satu malam yang paling membekas di benak Marysa. Malam di mana ibunya duduk di tepi ranjangnya, mengusap rambut Marysa dengan tangan yang gemetar dan dipenuhi memar biru akibat amukan sang ayah. Wanita itu menatap Marysa dengan mata yang berkaca-kaca, namun bibirnya tetap memaksakan sebuah senyuman yang begitu tulus.
"Sesulit apa pun hidupmu nanti, tetaplah tersenyum, Marysa. Jangan terus dipikirkan, itu akan membuatmu sakit, Nak," suara lembut ibunya terngiang kembali di telinga Marysa, begitu nyata hingga membuat dadanya terasa sesak. "Jangan sampai kamu sakit karena pikiran, ya? Pikiran yang menumpuk dan membusuk di dalam dada itu jauh lebih berbahaya daripada peluru atau pisau apa pun di dunia ini. Tersenyumlah, Sayang... dengan begitu, dunia tidak akan pernah tahu bagian mana dari dirimu yang sedang hancur."
Nasihat itu menjadi mantra pelindung bagi Marysa selama bertahun-tahun. Ketika ibunya tewas dan Marysa dipaksa tumbuh di bawah didikan tangan besi ayahnya yang kejam, dia belajar untuk menelan semua rasa sakit fisik dan mentalnya bulat-bulat, lalu menutupinya dengan senyuman ibunya.
Marysa mengembuskan napas perlahan, uap dingin keluar dari mulutnya yang terluka. Di bawah temaram lampu sel, bayangan ayahnya kemudian menggantikan sosok ibunya di dalam kepala.
Ayah yang dia benci setengah mati, namun juga pria yang membentuknya menjadi singa betina yang ditakuti di dunia bawah tanah Seoul. Setelah kematian ibunya, sang ayah membawa Marysa ke ruang bawah tanah kediaman mereka, menunjukkan mayat-mayat musuh klan yang bersimbah darah untuk melatih mentalnya. Di tempat itu, setiap kali Marysa menangis karena ketakutan, sebuah cambukan kulit akan mendarat di punggungnya.
"Jangan pernah menangis di depan orang lain, Marysa!" bentakan menggelegar ayahnya seolah bergema di dinding sel 407. "Air mata adalah tanda bahwa kamu lemah. Di dunia kita, jika kamu terlihat lemah sedikit saja, serigala-serigala di sekitarmu akan langsung merobek lehermu dan merebut takhtamu. Tegarlah! Tertawalah di hadapan musuhmu, atau setidaknya tersenyumlah. Buat mereka bingung dan ketakutan karena tidak bisa membaca rasa sakitmu."
Dua didikan yang bertolak belakang dari dua orang tua yang bertarung di dalam jiwanya. Ibunya mengajarinya tersenyum untuk menjaga kewarasannya agar tidak mati karena pikiran, sementara ayahnya mengajarinya tersenyum untuk membangun dinding pertahanan agar tidak terlihat lemah di mata dunia. Dan malam ini, di dalam sel kotor penjara Cheongju, kedua pelajaran itu menyatu sempurna di dalam diri Marysa.
Dia tidak bisa menangis.
Bukan karena kelenjar air matanya telah kering, melainkan karena jiwanya telah dikondisikan sedemikian rupa untuk menolak air mata sebagai bentuk pertahanan diri. Bahkan setelah mendengar kabar mengerikan tentang pertunangan Herry tadi, kabar yang rasanya seperti merobek jantungnya menjadi serpihan kecil, Marysa tetap berada dalam kondisi terbengong kosong. Matanya kering, menatap lurus ke depan dengan kekosongan yang begitu pekat.
Rasa sakitnya terlalu besar hingga melampaui batas kemampuan tubuhnya untuk mengekspresikannya lewat tangisan.
Herry... kamu akan bertunangan, batin Marysa, dan untuk pertama kalinya, senyuman yang biasanya otomatis terpasang di wajahnya terasa sangat berat untuk dipertahankan. Sudut bibirnya bergetar kecil, menahan badai emosi yang bergemuruh liar di dalam dadanya.
Selama ini, alasan terbesar Marysa bisa bertahan melewati siksaan harian Chae-won adalah karena dia tahu dia berada di penjara ini demi Herry. Dia membiarkan dirinya ditangkap agar karier Herry melesat, agar pria itu mendapatkan lencana yang lebih tinggi jabatannya yang selalu dia impikan. Setiap memar di tubuhnya adalah bukti cintanya yang gelap dan bisu kepada pria yang telah melupakannya. Marysa menikmati rasa sakit itu, menganggapnya sebagai benang merah yang mengikatnya dengan sang detektif.
Namun sekarang, benang merah itu terasa seperti tali gantung yang mencekik lehernya sendiri. Herry tidak membutuhkan pengorbanannya. Herry tidak membutuhkan sisa-sisa kenangan malam di Pelabuhan Incheon. Pria itu sudah bahagia dengan wanita lain, seorang putri pejabat tinggi kepolisian yang suci dan terhormat, wanita yang bisa memberikan masa depan cerah tanpa ada noda darah mafia di sekitarnya.
"Kenapa hidup ini begitu lucu, Ibu?" bisik Marysa, suaranya nyaris menyerupai desiran angin malam.
Dia menyandarkan kepalanya ke dinding semen yang dingin. Rasa sakit akibat hantaman Chae-won di rusuknya mulai mendenyut hebat, namun itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sesak yang berakar di dalam dadanya. Pikiran tentang Herry yang berdiri di altar pernikahan, mengenakan jas tuksedo rapi, dan tersenyum hangat kepada wanita lain senyuman perih yang dulu pernah diberikan pria itu kepadanya mulai menumpuk di kepalanya. Menumpuk, memadat, dan membusuk, persis seperti yang ditakutkan oleh ibunya dulu.
Marysa memejamkan matanya rapat-rapat. Dia mencoba mengingat instruksi ayahnya, Tertawalah, tersenyumlah.
Maka, di tengah kegelapan sel penjara yang dihuni oleh orang-orang buas yang membencinya, di atas lantai beton yang kotor, Marysa kembali menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Dia tersenyum. Sebuah senyuman yang begitu indah namun sekaligus menjadi pemandangan paling menyedihkan di dunia. Senyuman seorang wanita yang jiwanya sedang dieksekusi mati secara perlahan oleh kenyataan, namun menolak untuk membiarkan dunia melihat kekalahannya.
Di luar, angin musim dingin kembali melolong, menyamarkan suara napas Marysa yang mulai terasa berat akibat sesak yang tak kunjung mereda. Di kota Seoul yang gemerlap, Kapten Herry mungkin sedang merayakan keberhasilan dan masa depannya yang sempurna, sama sekali tidak pernah tahu bahwa di sudut gelap sebuah penjara wanita, ada sepasang mata yang menolak menangis demi menjaga harga diri cinta yang telah dilupakan.
...