Di sudut tergelap Distrik Kumuh Oakhaven, Ren bertahan hidup sebagai pelayan di sebuah rumah bordil sekaligus tempat penampungan anak-anak telantar. Di balik fisiknya yang tampak biasa dan otaknya yang encer, Ren menyembunyikan kutukan sekaligus berkah: ia adalah keturunan Vampir terakhir yang murni, terpaksa menahan dahaga darah agar tidak memicu kecurigaan Gereja Suci.
Dunia Ren runtuh ketika sekelompok Ksatria Suci berzirah perak—yang seharusnya menjadi simbol kehormatan—membantai tempat tinggalnya demi menutupi skandal korupsi ordonya. Di ambang kematian, Ren merangkak ke ruang bawah tanah rahasia dan menemukan Crimson, roh pedang kuno yang haus darah. Demi membalaskan dendam dan mengubah takdirnya, Ren memulai jalannya sebagai Sword Master yang tidak biasa: memadukan teknik pedang legendaris dengan kekuatan darah yang terlarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. di balik bayangan
Julian van Asche tidak pernah melupakan penghinaan di lapangan latihan. Bagi seorang bangsawan, diremehkan oleh warga biasa di depan umum sama saja dengan mencoreng nama baik keluarganya.
Di sebuah ruangan privat di asrama sayap barat, Julian berdiri di dekat jendela sambil memegang segelas anggur. Di depannya, tiga orang murid senior dari faksi bangsawan berdiri dengan sikap tegap.
"Kau yakin anak itu tidak punya latar belakang kuat, Julian?" tanya salah satu senior, seorang pemuda bertubuh tegap bernama Garreth.
"Dia cuma sampah dari perbatasan yang beruntung," desis Julian, matanya berkilat penuh amarah. Genggamannya pada gelas anggur mengencang. "Tapi kontrol energinya aneh. Aku ingin kalian memberinya 'pelajaran' di hutan simulasi besok pagi. Pastikan dia tidak bisa memegang pedang lagi setelah ujian taktis selesai."
Garreth tersenyum sinis, lalu mengepalkan tangannya hingga sendi-sendinya berbunyi. "Serahkan pada kami. Di hutan simulasi, kecelakaan latihan adalah hal yang lumrah."
### Diskusi di Tengah Kegelapan
Sementara faksi bangsawan menyusun rencana, Ren berada di atap gedung perpustakaan tua yang terbakar separuh—tempat yang jarang didatangi murid lain. Angin malam berembus kencang, memainkan rambut perak abu-abu miliknya.
*Sreet.*
Sesosok bayangan melompat ringan dari dahan pohon terdekat dan mendarat tanpa suara di samping Ren. Itu adalah Lyra. Gadis itu mempat sebuah gulungan perkamen kecil di tangannya.
"Kau populer sekali, Anak Baru," ucap Lyra sambil menyandarkan punggungnya pada cerobong asap tua. "Julian van Asche baru saja menyewa beberapa senior tingkat dua untuk mengincarmu di ujian taktis besok."
Ren tidak menoleh. Matanya tetap menatap tajam ke arah menara utama akademi. "Kerikil yang berisik. Biarkan saja mereka mencoba."
**"Hmph! Bocah-bocah ingusan itu bahkan tidak cukup untuk membasahi bilah pedangku,"** Crimson mendengus di dalam kepala Ren, terdengar sangat bosan. **"Kenapa kita tidak langsung memotong leher mereka semua malam ini, Ren?"**
*'Kita butuh alasan yang logis agar Ordo Perak tidak langsung curiga,'* batin Ren menenangkan roh pedangnya.
Ren menatap Lyra, lalu mengambil gulungan perkamen dari tangan gadis itu. "Apa ini?"
"Peta rute perbatasan untuk misi bulan depan," Lyra menjelaskan, nadanya berubah serius. "Kaelen Vance secara pribadi akan memimpin tim elite Ordo Perak ke wilayah reruntuhan kuno di perbatasan barat. Alasan resminya adalah membersihkan sarang monster, tapi informanku di ruang administrasi menemukan bahwa mereka mencari artefak khusus. Sesuatu yang berhubungan dengan... energi darah."
Mendengar kata 'energi darah', pupil mata merah Ren menyusut sesaat. Insting vampirnya bergejolak.
"Energi darah?" tanya Ren, suaranya terdengar lebih dingin dari biasanya.
"Ya. Ada rumor bahwa Ordo Perak diam-diam mengumpulkan pasokan esensi kehidupan untuk mengaktifkan kembali persenjataan kuno Kekaisaran," Lyra menyipitkan mata. "Dan tebak siapa yang mengelola logistik rahasia itu sebelum dihancurkan? Rumah bordil dan panti asuhan tempatmu tinggal dulu. Mereka mengorbankan tempat itu karena salah satu pengurusnya berniat membocorkan dokumen ini ke publik."
Ren mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya memutih. Potongan teka-teki itu kini menjadi jelas. Kaelen Vance bukan sekadar membersihkan skandal korupsi biasa—dia sedang menyembunyikan konspirasi tingkat tinggi Kekaisaran yang melibatkan ras vampir atau sihir darah terlarang.
"Bagus," ucap Ren, seringai dingin dan dangerous smirk khasnya kembali muncul di bawah temaram cahaya bulan. "Misi luar akademi bulan depan adalah tempat pemakaman yang sempurna untuk Kaelen Vance."
Lyra menatap wajah Ren sesaat, merasakan hawa membunuh yang begitu pekat hingga membuat bulu kuduknya berdiri. "Aku suka tatapanmu yang itu. Tapi sebelum itu, selesaikan dulu urusanmu dengan Julian besok. Jangan sampai kau tereliminasi sebelum misi dimulai."
"Tereliminasi?" Ren membalikkan badannya, berjalan menjauh sambil melambaikan tangan kirinya yang memiliki tato Crimson. "Besok... aku akan menunjukkan pada mereka bedanya harimau dan kelinci parit."
### Ujian Taktis di Hutan Simulasi
Keesokan paginya, wilayah Hutan Simulasi Akademi dipenuhi oleh kabut buatan. Ujian taktis hari ini mengharuskan setiap murid mengumpulkan poin dengan berburu tanda pengenal kelompok lain.
Ren berjalan sendirian di antara pepohonan besar, pedang besi standarnya tergantung di pinggang. Suasana sekitar terlampau sunyi, pertanda bahwa mangsa—atau pemburu—sudah dekat.
*SRAAAK!*
Tiga bayangan melompat dari atas pohon, mendarat dengan formasi segitiga yang langsung mengurung posisi Ren. Mereka adalah Garreth dan dua senior suruhan Julian. Masing-masing dari mereka memegang pedang dengan Mana elemen tanah dan angin yang sudah aktif, menciptakan tekanan angin yang cukup kuat di sekitar area tersebut.
"Langkahmu berhenti di sini, Anak Baru," Garreth tersenyum meremehkan, mengacungkan pedangnya tepat ke arah wajah Ren. "Julian mengirim salam. Dia bilang, tangan yang digunakan untuk menghinanya kemarin... sebaiknya dipatahkan saja hari ini."
Ren berhenti melangkah. Ia menatap ketiga senior itu satu per satu dengan tatapan datar, lalu menghela napas panjang seolah merasa bosan.
**"Bocah! Boleh aku memotong mereka sekarang? Tolonglah, aku sudah sangat haus!"** Crimson berseru penuh gairah di dalam benak Ren.
*'Jangan gunakan teknik darah murni secara langsung,'* jawab Ren di dalam hati. *'Cukup gunakan bagian terkecil dari Blood-Stride untuk mempercepat gerakan fisik kita. Kita buat ini terlihat seperti kebetulan.'*
Ren perlahan memegang gagang pedangnya. Seringai tipisnya muncul di balik bayangan kabut hutan simulasi.
"Hanya bertiga?" tanya Ren memprovokasi, nadanya sangat santai. "Kira-kira... butuh waktu berapa detik bagi kalian untuk menyadari bahwa kalian sudah salah memilih lawan?"
"Sombong! Habisi dia!" teriak Garreth marah.
Ketiga senior itu bergerak maju secara bersamaan dari tiga arah berbeda, memicu serangan kombinasi Mana yang mematikan.