Rizky Adhitya adalah seorang penulis novel miskin yang hidupnya penuh kegagalan karena karyanya selalu ditolak. Namun, takdir berubah saat ia terbangun di dalam tubuh seorang Antagonis kaya raya dengan nama yang sama di dunia novel buatannya sendiri. Alih-alih mengikuti alur asli yang menakdirkannya mati mengenaskan di tangan sang protagonis, Rama Wijaya, Rizky memilih untuk menikmati kehidupan mewahnya dengan santai.
Berbekal "System Menghamburkan Uang" dan Kartu Hitam Tanpa Batas, Rizky yang kini berkepribadian periang mulai melakukan aksi gila. Ia membeli perusahaan penerbitan hanya untuk mencetak novel-novel lamanya yang dulu ditolak, hingga menggunakan artefak legendaris seharga triliunan hanya sebagai pengganjal pintu kantor asistennya, Rafa Ariyanto.
Aksi "trolling" finansial ini menghancurkan reputasi Rama, sang hero munafik yang kehilangan semua panggungnya. Sementara itu, tunangannya, Aprillia Rahma, yang semula sangat membencinya, mulai jatuh hati pada sosok Rizky yang baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Futami Rizuryu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skill 'Tangan Midas' dan Akuisisi Tercepat
Pagi itu, sinar matahari yang menembus jendela kaca Menara Adhitya tampak berkilau lebih terang dari biasanya, memantul pada dinding-dinding kantor yang kini sedang dalam proses akhir pelapisan berlian murni. Di lantai teratas yang super eksklusif, Rizky Adhitya duduk dengan gaya periang di kursi titaniumnya. Di depannya, sebuah meja porselen menampilkan peta digital ekosistem bisnis nasional yang hampir seluruhnya telah berwarna emas—tanda bahwa wilayah tersebut telah dikuasai Adhitya Group.
Rizky menyesap kopi yang bijinya dipanen hanya saat gerhana bulan, sambil sesekali mengelus kepala Jojo, jerapah kesayangannya yang kini memiliki akses lift khusus ke ruangannya. Sebagai mantan penulis novel gagal, Rizky tahu bahwa pahlawan yang terdesak akan selalu mencari "harta karun tersembunyi"—sebuah perusahaan kecil yang akan menjadi batu loncatan untuk kebangkitannya.
"Rafa! Bagaimana kabar 'Hiu' dan 'Fixer' kita?" seru Rizky penuh semangat.
Rafa Ariyanto masuk dengan langkah lemas. Wajahnya tampak seperti orang yang baru saja tersambar petir angka-angka. Di belakangnya, Vanya Alister berjalan dengan keanggunan seorang predator, diikuti oleh Bara Ksatria, sang "The Fixer" yang kini berseragam jas rapi namun tetap memancarkan aura dunia bawah [Bab 26, Bab 29].
"Tuan Muda," lapor Vanya dengan suara sedingin es. "Rama Wijaya baru saja menemukan sebuah startup bernama 'Eco-Nexus'. Ini adalah perusahaan teknologi hijau yang hampir bangkrut namun memiliki paten algoritma efisiensi energi yang revolusioner. Rama berencana menggunakannya sebagai landasan untuk membangun kembali citra pahlawannya."
Bara Ksatria menyeringai, menunjukkan layar tabletnya. "Dia sedang berada di sebuah kafe kumuh sekarang, bersiap menandatangani kontrak awal untuk membeli 51% saham perusahaan itu dengan sisa emas batangan terakhirnya."
Rizky tertawa terbahak-bahak hingga kopinya sedikit tumpah ke meja berliannya. "Hahaha! Rama, Rama... kamu benar-benar gigih. Tapi di dunia ini, aku adalah penulisnya, dan aku baru saja memutuskan untuk mengubah genre ceritamu dari 'kisah pahlawan' menjadi 'tragedi ekonomi'!".
Tiba-tiba, layar holografis biru System Menghamburkan Uang muncul di hadapannya.
[Ding! Misi Arc 4 Aktif: Keajaiban Tangan Midas!] [Tujuan: Rama Wijaya sedang mencoba mengakuisisi 'Eco-Nexus'. Rebut perusahaan itu tepat setelah Rama menandatangani kontrak awal!] [Instruksi: Gunakan Kartu Hitam untuk melakukan 'Forced Buyout' (Pembelian Paksa) dengan nilai seribu kali lipat dari harga pasar!] [Hadiah: Poin Hedon +150.000 dan Aktivasi Penuh Skill Pasif 'Tangan Midas'!]
"Vanya! Siapkan tim legal. Rafa! Siapkan Kartu Hitam Tanpa Batas-ku!" perintah Rizky sambil melompat dari kursinya. "Kita akan melakukan akuisisi tercepat dalam sejarah manusia!".
Di sebuah kafe kecil di pinggiran kota, Rama Wijaya sedang duduk berhadapan dengan CEO startup Eco-Nexus yang tampak putus asa. Rama merasa ini adalah momen takdirnya. Dengan paten ini, ia bisa membuktikan bahwa integritas dan visi jauh lebih penting daripada uang Rizky yang dangkal.
"Pak CEO, ini adalah kontraknya. Saya akan menyuntikkan modal dan kita akan mengubah dunia bersama," ujar Rama dengan nada suara pahlawan yang penuh karisma palsu.
Tangan Rama gemetar saat ia menorehkan tanda tangannya di atas kertas. Begitu pena diangkat, Rama menghela napas lega. "Akhirnya... aku punya panggung kembali."
Namun, tepat saat itu, suara deruman mesin mobil mewah terdengar dari luar. Lima unit Rolls-Royce hitam berhenti di depan kafe, dan Vanya Alister melangkah masuk dengan dokumen emas di tangannya.
"Selamat siang, Tuan-tuan," suara Vanya memotong keheningan kafe. "Saya Vanya dari Adhitya Group. Saya di sini untuk memberitahu Anda bahwa seluruh saham Eco-Nexus baru saja dibeli secara paksa oleh Tuan Muda Rizky Adhitya."
Rama berdiri dengan wajah merah padam. "Mustahil! Aku baru saja menandatangani kontrak awal! Ini melanggar hukum!"
Vanya memberikan senyum tipis yang merendahkan. "Kontrak awal Anda mencantumkan nilai akuisisi sebesar satu miliar rupiah. Tuan Muda Rizky baru saja mentransfer Satu Triliun Rupiah ke rekening perusahaan induk Anda dan memberikan ganti rugi pemutusan kontrak kepada Anda sebesar seribu rupiah—cukup untuk membeli permen karet."
Rama terbelalak. "Satu... satu triliun?! Untuk startup bangkrut ini?".
"Bagi Tuan Muda kami, satu triliun hanyalah uang receh untuk membeli hiburan pagi," jawab Vanya dingin sambil menyerahkan tablet konfirmasi transfer.
Di Menara Adhitya, Rizky sedang memantau situasi lewat satelit pribadinya. Begitu notifikasi pembelian sukses muncul, ia merasakan gelombang energi emas mengalir ke seluruh tubuhnya.
[Ding! Misi Berhasil! Skill Pasif 'Tangan Midas' Teraktivasi Penuh!] [Deskripsi: Setiap perusahaan yang Inang beli akan mengalami lonjakan nilai 500% secara instan karena keajaiban sistem!]
Seketika, seluruh layar bursa saham di dunia mulai berkedip gila. Berita tentang Adhitya Group yang membeli sebuah startup kecil seharga satu triliun rupiah memicu spekulasi masif. Karena nama Rizky Adhitya kini dianggap sebagai "sentuhan Tuhan", investor dari seluruh dunia berebut membeli saham sisa atau menjalin kemitraan dengan Eco-Nexus.
Nilai startup itu yang tadinya "sampah", melonjak 500% dalam waktu kurang dari dua belas jam. Nilainya kini menembus angka lima triliun rupiah.
Rama Wijaya masih berdiri di kafe tersebut, menatap layar televisi yang menayangkan berita lonjakan nilai Eco-Nexus. Ia menyadari bahwa jika saja ia memegang kepemilikan itu lima menit lebih lama, ia akan menjadi triliuner baru. Namun, karena Rizky membelinya tepat sebelum nilai itu meledak, Rama kehilangan segalanya.
"Hanya lima menit... aku kehilangan empat triliun dalam lima menit..." Rama jatuh terduduk di lantai kafe yang kotor. Air mata mulai mengalir di pipinya. Ini bukan lagi soal persaingan bisnis; ini adalah penghinaan terhadap takdirnya sebagai pahlawan.
Rizky muncul di layar televisi lewat siaran langsung dari kantornya, tampak sangat periang sambil memegang sikat gigi emasnya.
"Halo warga dunia! Aku baru saja membeli sebuah startup karena aku suka logonya!" Rizky tertawa humoris ke arah kamera. "Dan ternyata nilainya langsung naik lima kali lipat? Wah, sepertinya aku tidak bisa berhenti menjadi kaya meskipun aku sudah mencoba menghamburkan uang! Rama, kalau kamu menonton ini, jangan menangis. Aku akan menyumbangkan sisa permen karetmu ke panti asuhan jerapah!".
Rama Wijaya benar-benar menangis sesenggukan di sudut kafe, menyadari bahwa di hadapan skill 'Tangan Midas' milik Rizky, semua kerja keras dan idealismenya hanyalah debu.
Di kantor pusat, Rafa Ariyanto menatap laporan keuangan terbaru dengan mata yang hampir keluar. "Tuan Muda... Anda menghamburkan satu triliun... tapi kita justru untung empat triliun dalam semalam? Kepala saya... saya ingin pensiun dan menjadi kaktus saja..." rintih Rafa yang disambut tawa keras dari Rizky.
[Ding! Poin Hedon Bertambah +150.000!] [Status Rama Wijaya: Hancur secara Mental!]
Rizky menyandarkan tubuhnya dengan puas. Baginya, melihat Rama menangis karena kehilangan triliunan rupiah jauh lebih menyenangkan daripada menulis bab penutup untuk novelnya yang gagal. Dunia ini adalah panggungnya, dan ia baru saja mencetak emas dari air mata sang pahlawan asli.