NovelToon NovelToon
MANISNYA SI BOS NARSIS

MANISNYA SI BOS NARSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.


Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.

Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.

Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: LIMA TAHUN MENAHAN HORMON DAN EMOSI

...Pagi ini, Jakarta diguyur gerimis tipis yang malas. Namun, isi kepala Anaya terasa secerah musim semi di Kyoto....

...Suasana hati yang indah itu dipicu oleh sebuah amplop berwarna putih bersih yang sedang digenggam erat olehnya, seolah benda itu adalah tiket emas menuju surga. Di dalamnya, berisi sebuah surat yang bukan sembarang surat. Itu adalah surat kebebasan....

...*****************...

Bagi Anaya, ruangan kerja CEO PT Bimantara Food Internasional bukan sekedar tempat mencari nafkah.

Ruangan luas berlantai marmer di lantai tiga puluh lima itu adalah medan perangnya setiap hari.

Selama lima tahun penuh—atau tepatnya 1.825 hari, jika menghitung jam lembur malam atau di waktu weekend—Anaya telah berhasil mempertahankan dua hal paling sakral dalam hidupnya: kewarasan dan kehormatan-nya.

Pagi ini, sambil menunggu mesin kopi espresso di pantry selesai meneteskan cairan kopi yang akan ia sediakan untuk bos-nya, Anaya menatap pantulan dirinya di dinding kaca pembatas. Dia tersenyum simpul. Penampilannya hari ini sangat kontras jika dibandingkan dengan dirinya lima tahun lalu.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di korporasi raksasa jaringan makanan dan minuman instan ini sebagai lulusan D3 Kesekretariatan yang masih minim pengalaman, Anaya adalah definisi nyata dari kata "cupu".

Kala itu, demi terlihat profesional dengan anggaran fresh graduate miskin, Anaya memakai blazer hitam kedodoran yang ber-busa dibagian bahu, hasil hunting di pasar loak.

Rok sepan yang digunakannya berbunyi kresek-kresek mirip kantong belanjaan minimarket karena berbahan poliester murah, lengkap dengan kacamata berbingkai bulat tebal yang selalu melorot ke ujung hidung setiap kali dia berkeringat dingin.

Dan sialnya, di hari pertama kerja dengan penampilan menyerupai 'talas bogor' itu, dia langsung dihadapkan pada makhluk paling mendekati sempurna sekaligus paling menyebalkan di belahan bumi: Bimantara alias Bima.

Bima adalah CEO muda yang kejeniusannya diakui oleh majalah bisnis internasional karena berhasil mengekspansi gurita bisnis mi instan dan minuman kemasan keluarga Bimantara hingga ke pasar Eropa.

Ketampanannya memang setingkat aktor papan atas Korea, tetapi tingkat kenarsisannya sungguh sudah tidak tertolong. Ditambah lagi sifat pria itu yang pelit pujian, seakan-akan bakal kena denda satu miliar rupiah kalau mengucapkan kata "kerja bagus" ke bawahannya.

Anaya mendengus pelan, mengingat semua memori bagaimana dia bisa bertahan dari hantaman kelakuan unik dan sarkasme bos ganteng yang gila kerja itu selama setengah dekade ini.

"Anaya, apa kurikulum D3 sekarang menghapus bab tentang cara meluruskan klip kertas? Kenapa sudut laporan divisi mi instan rasa soto ini miring satu derajat?" Itu adalah kalimat sambutan hangat Bima di bulan pertama ia bekerja.

Atau yang ini, saat Bima yang sedang menginspeksi produk minuman jeli baru dan mendapati Anaya memakai parfum yang menyengat: "Saya nggak tahu kamu hari ini pakai parfum aroma vanilla atau es doger, Anaya. Tapi kalau besok ruangan kerja saya dikerubuti semut, saya akan potong gaji kamu untuk biaya fogging."

Dipikir-pikir, monolog batin Anaya di masa lalu biasanya dipenuhi oleh absen seluruh isi kebun binatang Ragunan karena saking gemasnya.

Tangannya sering kali gatal, ingin sekali mencakar wajah simetris tanpa pori-pori milik Bima yang selalu menatapnya dengan pandangan merendahkan dari balik meja kerjanya.

Namun, ego setinggi langit sang CEO bukanlah satu-satunya ujian. Ujian terberat Anaya sebenarnya terletak pada sistem reproduksi dan pertahanan hormonnya sendiri.

Bima memiliki kebiasaan buruk yang sangat tidak ramah bagi kesehatan wanita lajang. Setiap kali pria itu merasa gerah setelah berdebat dengan jajaran direksi, atau saat otaknya yang genius sedang bekerja keras untuk berfikir, Bima akan melepas jas dan mulai melonggarkan dasi sutranya dengan satu gerakan tangan yang lambat, lalu membuka tiga kancing teratas kemeja putih slim-fit-nya.

Itu adalah momen di mana Anaya harus mengerahkan seluruh kekuatan iman dan takwa.

Melalui celah kancing yang terbuka itu, siluet dada bidang yang kokoh, tulang selangka yang tegas, dan sangat maskulin akan mengintip dengan tidak sopan.

Setiap kali pemandangan berdosa itu tersaji, jantung Anaya akan mendadak melakukan senam disko. Saraf-saraf di tubuhnya berteriak, memintanya untuk menerkam sang bos saat itu juga, sementara otaknya yang waras buru-buru mengingatkan tentang pasal pelecehan seksual di tempat kerja.

Selama lima tahun, Anaya sukses memasang wajah sedatar tembok, padahal di dalam hatinya dia menjerit: Tolong, hamba ya Tihan, hamba tidak kuat dengan cobaan visual si ganteng menyebalkan ini!

Namun hari ini, harapan akan lepas dari semua penderitaan mental dan biologis itu akan segera berakhir.

Bip.

Lamunan Anaya terhenti oleh bunyi mesin espresso, menandakan kopi pagi Bima—yang harus dibuat dengan suhu tepat 85 derajat Celcius, tanpa gula, dan diaduk berlawanan arah jarum jam sebanyak tujuh kali karena Bima punya tingkat kepicikan akut terhadap detail—telah siap.

Anaya mengambil cangkir porselen tersebut, meletakkannya di atas nampan kecil, lalu menyelipkan amplop putih berharga itu di bawahnya.

Alasan utama keberanian Anaya hari ini murni karena urusan finansial keluarganya yang mendadak berputar 180 derajat.

Kemarin malam, Arden—adik laki-lakinya yang dulu hobi menghabiskan uang jajan untuk membeli sepatu bola KW dan membuat rumah bising—baru saja menandatangani kontrak eksklusif bernilai fantastis sebagai penyerang utama tim sepak bola nasional.

Penghasilan Arden dari gaji, bonus mencetak gol, dan endorsement produk suplemen pria sudah lebih dari cukup untuk membuat keluarga mereka kaya mendadak. Penghasilan Arden kini dapat menghidupi ibu mereka, dan membiayai seluruh mimpi Anaya yang sempat tertunda.

Anaya tidak perlu lagi mendekam di bawah siksaan lisan Bima demi membayar kebutuhan rumah atau biaya sekolah adiknya. Sekarang, saatnya dia mengejar mimpinya sendiri: bersekolah kuliner mengambil spesialisasi pastry, lalu membuka sebuah toko kue kecil yang merangkap sebagai perpustakaan atau toko buku mini. Sebuah tempat beraroma mentega panggang dan buku lama—dua hal yang paling dia cintai di dunia ini, jauh berbeda dengan aroma, kertas dokumen, gosip-gosip panas, dan keringat dingin di kantor ini.

Dengan langkah seringan kapas dan senyum profesional terbaiknya, Anaya mengetuk pintu kayu jati ruang kerja CEO.

Tok, tok, tok.

"Masuk," terdengar suara berat dan bariton dari dalam, jenis suara yang biasanya membuat para manajer divisi gemetaran.

Anaya membuka pintu. Di balik meja kerjanya yang luas, Bima sedang fokus menatap layar monitor laptopnya. Kacamata berbingkai tipis bertengger di hidung mancungnya, menambah kadar ketampanan dan intelektual yang menggoda, sialnya hal itu selalu berhasil membuat Anaya menelan ludah dengan susah payah.

"Kopi pagi Anda, Pak Bima," ujar Anaya lembut, melangkah mendekat dengan anggun.

Gaya jalannya kini sudah sangat terlatih, berkat latihan tak kenal lelah bak pelatihan militer, kini Anaya dapat menggunakan sepatu hak tinggi tujuh sentimeter tanpa terseok-seok seperti saat lima tahun yang lalu.

Bima tidak mendongak, hanya menggumam pendek dan meraih cangkir kopi tersebut dengan tangan kanannya. Namun, gerakan tangan pria itu mendadak terhenti saat mata elangnya menangkap sudut amplop putih yang menyembul dari bawah nampan.

Bima menurunkan pandangan, menatap amplop bertuliskan nama dirinya, lalu perlahan menaikkan tatapannya ke arah Anaya. Alis tebal pria itu bertaut, menciptakan kerutan kecil di dahi geniusnya.

"Apa ini, Nay?" tanya Bima, suaranya terdengar dingin, datar, dan penuh selidik.

Anaya menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan oksigen, lalu memamerkan senyum paling manis yang pernah dia miliki selama setengah dekade berada di bawah ketiak korporasi ini.

"Itu adalah surat pengunduran diri saya, Pak Bima. Saya memutuskan untuk resign efektif mulai bulan depan," jawab Anaya dengan nada suara yang sangat tenang, namun terdengar mantap.

Bima terdiam seketika. Dia bersandar pada kursi kulitnya yang empuk, melipat tangan di depan dada, lalu menatap Anaya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan mata yang intens.

Ruangan yang luas itu seketika terasa sunyi, menandakan adanya perang dingin di antara mereka.

-

*

Sambil nunggu kelanjutan kisah Ana dan mas Adinya di Novel "SI JUTEK DAN SANG DOSEN KILLER. bisa mampir kesini dulu ya... Selamat membaca, semoga suka ya....

1
English Lesson
semangat 💪🏻
English Lesson
Bagus👍🏻
Mar lina
Kirain mau kiss
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
Mar lina
Di tunggu
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!