Di Alam Fana yang kejam, bakat adalah segalanya. Lin Ye, seorang pemuda dengan meridian cacat, ditakdirkan menjadi pelayan seumur hidupnya. Namun, nasibnya berubah ketika darahnya tak sengaja membangkitkan sebuah relik berkarat: Kuali Penelan Bintang.
Kuali kuno ini bukan sekadar alat pelebur pil, melainkan artefak primordial yang mampu melahap esensi langit dan bumi, bahkan menelan energi bintang-bintang. Dalam perjalanan kultivasi yang lambat, penuh perhitungan, dan berdarah, Lin Ye perlahan mengubah fisik fananya, menembus kemustahilan, dan melangkah ke jalan keabadian.
Ini bukan kisah pahlawan instan, melainkan seorang pemuda biasa yang merangkak dari debu, menentang takdir surga, dan pada akhirnya, melahap seluruh kosmos untuk melindungi apa yang ia hargai. Langit kesembilan pun akan gemetar di bawah kualinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starlope, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Roh Pedang Kuno
Pilar cahaya berwarna merah darah yang menembus langit kelabu Makam Pedang Awan Jatuh bukanlah sekadar pemandangan biasa. Itu adalah sebuah suar kebangkitan.
Seketika, tekanan berat di seluruh bentangan makam tersebut melonjak dua kali lipat. Udara yang sebelumnya hanya dipenuhi Niat Pedang liar kini berubah menjadi sangat padat, seolah-olah bernapas di dalam lautan raksa. Niat membunuh yang terkandung di udara kini memiliki wujud; ia bergesekan dengan kulit, merobek jubah, dan menusuk langsung ke dalam pikiran siapa pun yang mentalnya tidak cukup kuat.
Di berbagai penjuru wilayah pinggiran, puluhan murid luar tingkat rendah yang tersisa dan para pelayan fana langsung memuntahkan darah. Beberapa yang tidak memiliki fondasi mental yang kuat seketika menjadi gila, mencabut pedang mereka, dan mulai saling membunuh tanpa alasan di bawah pengaruh hawa pembantaian kuno tersebut.
Makam Pedang Awan Jatuh akhirnya menunjukkan taring aslinya sebagai tanah pemakaman para dewa pedang dari zaman purba.
Namun, di tengah kekacauan alam tersebut, Lin Ye berdiri setenang gunung es. Tekanan berat dan Niat Pedang berdarah yang membuat kultivator lain merangkak di tanah, bagi Lin Ye, hanyalah angin sepoi-sepoi yang menyegarkan. Tubuh fisiknya yang telah mencapai Puncak Tingkat Kedelapan Bina Tubuh terlalu padat dan kokoh untuk dipengaruhi oleh perubahan tekanan remeh ini.
Ia berjalan santai menyusuri tanah berbatu, tangan kanannya memegang bongkahan logam hitam pekat—Embrio Pedang Kekacauan yang baru saja ia cabut dari dasar kolam.
Logam itu sama sekali tidak memiliki bilah yang tajam. Bentuknya kasar, berlekuk-lekuk menyerupai tulang raksasa yang belum selesai dipahat, dengan berat melampaui seribu kati. Bagi kultivator pedang biasa, benda ini adalah rongsokan yang tidak bisa diayunkan. Namun, saat Lin Ye menggenggamnya, otot-otot lengannya mengembang, menyatukan kekuatan fisiknya yang mencapai sepuluh ribu kati dengan berat benda tersebut secara sempurna.
Wuuusss!
Lin Ye mengayunkan bongkahan logam itu ke udara kosong dengan gerakan santai.
BAM!
Udara di depannya langsung meledak, menciptakan gelombang kejut berbentuk sabit yang membelah tanah berbatu sejauh tiga tombak di depannya. Tidak ada Qi spiritual yang terlibat; ini murni adalah daya hancur dari kepadatan massa yang digerakkan oleh kecepatan otot ekstrem.
"Benda ini belum menjadi pedang. Saat ini, ini hanyalah sebuah gada besi raksasa," gumam Lin Ye, matanya memancarkan kepuasan. "Tapi kekerasannya dan kemampuannya mengalirkan hawa murni dari Kuali Penelan Bintang... sangat luar biasa. Ini akan menjadi mainan yang bagus sampai ia berevolusi."
Lin Ye kemudian menyarungkan bongkahan logam hitam itu ke punggungnya, menggunakan akar merambat yang kuat sebagai tali pengikat darurat, menutupi sebagian punggung telanjangnya yang berotot.
Di belakangnya, Su Yue berjalan dengan napas sedikit terengah-engah. Wajah cantiknya sedikit memucat karena menahan tekanan dari udara dan Niat Pedang yang membombardir perisai Qi esnya.
Namun, ada pendar keemasan redup yang berkedip di balik kulit pucatnya. Tiga kelopak Teratai Darah Pedang Kuno yang baru saja ia telan sedang bekerja luar biasa di dalam Dantian-nya. Energi herbal yang hangat dan purba itu perlahan-lahan mencairkan sisa-sisa racun Yin yang selama ini menyumbat beberapa titik meridian kecilnya, memurnikan Qi esnya menjadi lebih jernih dan tajam layaknya kristal surgawi.
"Fokuskan pikiranmu pada Dantian, jangan membuang Qi untuk melawan tekanan dari luar. Biarkan energi teratai itu mengalir selaras dengan tekanan makam ini," suara Lin Ye tiba-tiba terdengar, berat dan tanpa intonasi, memecah rasa sakit Su Yue.
Su Yue tersentak pelan, segera mematuhi instruksi tersebut. Ia melonggarkan perisai Qi es luarnya dan membiarkan energi teratai menyerap tekanan dari udara. Keajaiban pun terjadi. Rasa sesak di dadanya langsung menghilang, dan langkah kakinya kembali menjadi ringan.
Su Yue menatap punggung tegap Lin Ye dengan pandangan yang semakin rumit. Senior ini... pengetahuannya tentang kultivasi benar-benar tidak bertepi. Dia bisa membimbingku hanya dengan satu kalimat sederhana, membalikkan krisis menjadi pencerahan. Rasa tunduk dan kesetiaan di hati Su Yue kini telah berubah menjadi pemujaan yang fanatik.
Mereka berdua berjalan menuju arah pusat pilar cahaya berdarah itu selama hampir satu jam. Pemandangan di sekitar mereka berubah drastis. Hutan pepohonan mati dan bukit pedang karatan telah tertinggal di belakang. Kini, mereka tiba di sebuah ngarai raksasa yang diapit oleh dua tebing batu hitam yang menjulang menembus awan.
Ngarai itu adalah satu-satunya jalur masuk menuju wilayah dalam Makam Pedang.
Namun, udara di depan pintu masuk ngarai itu dipenuhi oleh bau darah segar yang sangat menyengat.
Lin Ye dan Su Yue menghentikan langkah mereka di atas sebuah gundukan batu yang tinggi, memandang ke bawah ke arah mulut ngarai. Di sana, pemandangan yang tersaji benar-benar menyerupai penggilingan daging neraka.
Lebih dari tiga puluh kultivator dari berbagai faksi yang berada di Makam Pedang—murid luar tingkat tinggi, beberapa sosok berwajah tua yang menyembunyikan kultivasi mereka, hingga murid-murid jenius sekte lain—terjebak dalam pertempuran putus asa yang berdarah-darah.
Musuh mereka bukanlah Binatang Iblis. Musuh mereka adalah ratusan siluet manusia transparan yang melayang di udara, memancarkan cahaya perak redup, dan memegang pedang kuno yang terlihat nyata.
"Roh Pedang Kuno..." bisik Su Yue, suaranya mengandung getaran ketakutan yang nyata. "Senior, itu adalah roh-roh dari para ahli pedang zaman dahulu yang tewas di sini. Kehendak mereka yang tidak mau mati menyatu dengan energi makam, membentuk boneka pembunuh yang tidak memiliki rasa sakit, tidak bisa kelelahan, dan mengabaikan sebagian besar serangan Qi elemental!"
Apa yang dikatakan Su Yue benar adanya. Di medan pertempuran bawah sana, seorang murid Tingkat Ketujuh dari sekte lain baru saja melepaskan bola api raksasa ke arah sekumpulan Roh Pedang. Bola api itu menembus tubuh transparan mereka tanpa memberikan luka berarti. Detik berikutnya, tiga Roh Pedang melesat menembus lautan api tersebut dan tanpa ampun menebas murid itu menjadi empat bagian yang berjatuhan ke tanah.
Jeritan kesakitan, benturan logam, dan lolongan Roh Pedang memenuhi udara. Barisan pertahanan para kultivator hancur satu per satu. Mereka tidak bisa maju menembus ngarai, namun mereka juga tidak bisa mundur karena Niat Pedang di belakang mereka semakin memadat, menjebak mereka di area pembantaian ini.
Lin Ye menatap pembantaian itu dengan wajah datar yang tidak manusiawi. Matanya yang hitam pekat mengawasi setiap pergerakan Roh Pedang tersebut.
"Mereka memang tidak memiliki tubuh fisik, sehingga serangan Qi elemental tidak terlalu efektif karena energi elemental akan tembus melewati wujud roh mereka," pikir Lin Ye dengan tenang. "Namun, pedang berkarat yang mereka pegang memiliki massa. Mereka membutuhkan titik jangkar fisik untuk menyerang, dan untuk itu, roh mereka harus memadat sejenak saat mereka mengayunkan pedang."
Lin Ye menyentuh dadanya pelan. Kuali Penelan Bintang di Dantian-nya bergetar dengan ritme yang lambat namun sangat lapar. Kuali itu tidak menginginkan daging kali ini; kuali purba itu menginginkan untaian Niat Kuno murni yang menyusun tubuh roh-roh pedang tersebut. Itu adalah nutrisi kelas atas untuk menembus Tingkat Kesembilan.
Sebuah seringai tipis, dingin, dan penuh haus darah mengembang di wajah Lin Ye.
"Ikuti di belakangku. Tetap pada jarak tiga tombak. Jika kau tertinggal, kau akan mati," perintah Lin Ye tanpa menoleh.
Ia melompat turun dari gundukan batu. Bunyi debuman keras bergema saat kakinya menghantam tanah di mulut ngarai, langsung menarik perhatian belasan Roh Pedang yang melayang di dekatnya.
Mata kosong para roh itu beralih menatap Lin Ye. Merasakan tidak ada fluktuasi Qi spiritual dari tubuh pemuda itu, roh-roh itu merespons layaknya boneka pembunuh yang menemukan mangsa lemah. Lima Roh Pedang melesat maju secara serentak, pedang berkarat mereka mengiris udara, memancarkan Niat Pedang yang cukup untuk membelah baja.
Su Yue yang baru saja mendarat di belakang Lin Ye, secara refleks meraih gagang pedangnya, bersiap menangkis. Namun, pemandangan berikutnya membuat matanya terbelalak hingga nyaris lupa cara bernapas.
Lin Ye tidak menghindar. Ia bahkan tidak repot-repot menarik Embrio Pedang Kekacauan dari punggungnya. Ia melangkah lurus ke depan menyongsong lima pedang kuno mematikan itu.
TRAAANG! KRAAKK!
Lima pedang berkarat yang digerakkan oleh Niat Kuno menghantam berbagai titik fatal di tubuh Lin Ye: leher, dada, bahu, dan punggung. Suara benturan logam yang memekakkan telinga bergema. Bunga api memercik dengan liar.
Namun, jangankan memotong tulang, pedang-pedang itu bahkan tidak mampu menggores kulit perunggu Lin Ye yang memancarkan kilau gelap di bawah cahaya makam. Otot Lin Ye yang ditempa hingga batas Puncak Tingkat Kedelapan terlalu padat, mengubah tubuh fananya menjadi perisai hidup yang setara dengan pusaka pelindung tingkat tinggi.
Melihat pedang mereka memantul tak berguna, kelima Roh Pedang itu membeku sejenak karena kebingungan insting mereka. Momentum hantaman pedang mereka membuat wujud roh mereka memadat selama sekejap mata.
Dan waktu yang sekejap itu adalah waktu yang lebih dari cukup bagi Lin Ye.
"Tubuh yang rapuh," ejek Lin Ye pelan.
Tangannya bergerak secepat sambaran petir. Tangan kanannya mencengkeram wajah salah satu Roh Pedang. Kuali Penelan Bintang meledak dengan daya hisap kosmik.
SWUUUSHH!
Roh Pedang itu bahkan tidak sempat menjerit. Wujud transparannya langsung terdistorsi, tersedot ke dalam telapak tangan Lin Ye layaknya asap yang disedot oleh pusaran angin raksasa, langsung dimurnikan oleh Kuali Bintang menjadi cairan Niat Murni yang menyegarkan Dantian-nya.
Dalam waktu bersamaan, kaki Lin Ye menendang ke samping. Tendangan yang mengandung tenaga belasan ribu kati menghantam dada Roh Pedang kedua. Tubuh roh yang sedang memadat itu meledak menjadi serpihan cahaya perak seketika, dan sebelum cahaya itu menghilang, pusaran dari Kuali Bintang di tubuh Lin Ye menyedot sisa energinya tanpa ampun.
Hanya dalam dua tarikan napas, dua penjaga kuno telah dimusnahkan hingga eksistensi mereka terhapus. Tiga roh sisanya secara naluriah mencoba mundur, namun Lin Ye melesat maju layaknya harimau yang menerkam kawanan domba, meninju dan mencabik mereka menjadi debu energi yang langsung ia telan bulat-bulat.
Pemandangan ini sungguh menentang hukum alam! Para kultivator jenius yang sedang mati-matian menghindari sabetan roh, menoleh dan terpaku di tempat. Mereka melihat seorang pelayan berbaju compang-camping berjalan dengan santai, membiarkan tubuhnya ditebas berulang kali tanpa terluka sedikit pun, lalu menghancurkan dan "memakan" Roh-Roh Pedang tersebut dengan tangan kosong.
"S-siapa monster itu?!" jerit salah satu kultivator sekte luar yang tubuhnya dipenuhi luka. "Apakah dia... Dewa Fisik dari Alam Atas yang sedang turun derajat?!"
Namun, pembantaian brutal yang dilakukan Lin Ye memancing kemarahan makam. Ratusan Roh Pedang yang tadinya menyebar menyerang para kultivator lain, kini berhenti bergerak secara serentak. Mata kosong mereka secara bersamaan menoleh ke arah Lin Ye.
Mereka merasakan ancaman pemusnahan. Pemuda ini bukan hanya pembunuh, dia adalah pemangsa roh mereka.
"Hooo... mereka semua marah," bisik Lin Ye. Darah perunggunya mendidih, hawa panas menguap dari permukaan kulitnya. Kuali di Dantian-nya berputar kegirangan.
WUSSS! WUSSS! WUSSS!
Layaknya kawanan lebah raksasa yang sarangnya diinjak, ratusan Roh Pedang Kuno meninggalkan target awal mereka dan melesat seperti badai perak mematikan, menukik turun dari segala arah dengan target tunggal: Lin Ye.
Menghadapi ratusan pedang yang siap mencincangnya, wajah Lin Ye tidak memancarkan ketakutan, melainkan senyum kejam yang memperlihatkan deretan giginya. Tangan kanannya perlahan merogoh ke balik punggungnya.
Jari-jarinya menggenggam erat gagang kasar dari Embrio Pedang Kekacauan.
"Su Yue, tutup telingamu," perintah Lin Ye dengan nada yang mengandung antisipasi pembantaian.
Sesaat kemudian, Lin Ye menarik bongkahan logam hitam seberat ribuan kati itu dari punggungnya dan mengayunkannya dalam satu putaran penuh, menyambut badai Roh Pedang yang sedang menerjangnya.
"Mari kita hancurkan kalian menjadi debu."