Anisa adalah gadis yang gendut dan juga pendek, beda jauh dengan sang adik yang bertubuh langsing serta berkulit putih.
siapa yang tidak tertarik bila melihat Arumi, bahkan mulut para tetangga juga tak segan mencemooh Anisa yang beda jauh dengan sang adik.
Hingga suatu hari Anisa di temukan tewas tergantung di dalam kamar, membuat seluruh keluarga menjadi berduka, namun mereka menutupi kematian Anisa yang gantung diri itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Teror Anisa
Kinan menarik nafas panjang ketika dia masih saja teringat bagaimana semua itu bisa terjadi begitu saja di kampung mereka saat ini, Ningsih yang terus berdusta mengatakan bahwa Anisa baik-baik saja dan mungkin sebentar lagi akan segera pulang sehingga membuat Kinan merasa tidak tenang dan beranggapan bahwa Ningsih memang sudah sangat gila.
Sebab gadis itu sudah meninggal dunia dalam keadaan gantung diri sehingga tidak mungkin bisa hidup kembali, namun Kenapa tadi saat di tukang sayur makan yang sering mengatakan bahwa Anita hanya pergi ke kota dan sebelum ini akan segera pulang untuk menemui para keluarga yang ada di rumah ini.
Ada rasa bingung juga di dalam hati kita namun yang jelas dia berusaha untuk tetap penangkaran karena beranggapan bahwa mungkin saja nanti Purnama akan mengurus itu, yang lebih penting lagi dirinya memang tidak paham dengan harga seperti itu dan yang timbul di dalam hati hanya perasaan takut saja saat ini.
Entah kenapa hati Kinan begitu takut ketika dia mengingat Anisa yang dikatakan masih hidup oleh Ningsih, setidaknya dia tetap berusaha untuk tetap tenang dan melakukan aktivitas seperti biasa walau malam ini dia merasakan takut dan cukup besar, karena tidak bisa tidur maka Kinan memutuskan untuk mencuci baju saja terlebih dahulu agar pikiran ini sedikit terhibur.
Mesin sudah berbunyi begitu lembut sehingga Kinan bisa melakukan aktivitas yang lain dan Amir tertidur pulas di dalam kamar, namun entah kenapa ketika akan duduk di kursi ini maka timbul perasaan resah sehingga dia menoleh ke sana kemari untuk memastikan bahwa yang ada di sini hanya dia seorang saja.
Punggung juga terasa begitu dingin mencekam seolah ada sesuatu yang ingin mendekati dia malam ini, kerajinan berusaha untuk membaca beberapa surah pendek agar rasa takut itu bisa menghilang di dalam hati, semakin dia baca maka perasaan takut itu malah semakin besar saja sehingga Kinan menoleh ke sana kemari untuk memastikan.
"Aih perasaan apa ini yang membuat aku sangat resah, mau tidur tidak bisa tapi melakukan aktivitas malah ketakutan seperti ini." Kinan mengeluh sendirian.
"Kok seram sekali rasa nya ini." Kinan bangkit dan melongok pada mesin cuci yang terbuka.
Jreeeeeng.
"Allahu Akbar!" Kinan menjerit keras ketika melihat sesuatu di dalam mesin cuci itu.
Dengan jelas mata Kinan melihat sendiri kepala Anisa yang ikut berputar bersama dengan baju yang sedang dia cuci di dalam tabung, bahkan mata Anisa yang melotot serta lidah yang menjulur keluar sehingga membuat siapa saja yang melihat pasti akan pingsan karena ketakutan ini.
"Ya Allah, aku pasti salah lihat saja karena terlalu banyak kepikiran tentang dia." Kinan memegang dada yang berdegup kencang.
"Bismilah." Kinan kembali bangkit untuk melihat apa yang ada di dalam tabung mesin itu.
"Tidak ada, aku yakin tidak ada kok kepala yang tadi." Kinan berusaha untuk meyakinkan diri bahwa kepala yang dia lihat tadi hanya halusinasi.
Dreeeeek.
Dreeeeek.
Suara mesin bergetar keras dan menandakan ada sesuatu yang tersangkut di dalam sana, segera mendekat walau perasaan dia sudah tidak karuan namun tetap saja dirinya memberanikan diri untuk melihat apakah memang ada yang aneh atau itu hanya perasaan dia saja, sebab mesin cuci ini tidak akan bersuara seperti itu bila tidak ada yang tersangkut.
"Aaaaghkkk, Mas Amir!" Kinan akhirnya berteriak keras ketika dia melihat air yang di dalam mesin cuci sudah berubah menjadi darah.
Hap.
"Eemmmp!" wanita ini semakin kaget tidak karuan karena sebuah tangan membekap mulut dia dengan begitu kencang sekali.
"Kauuuuu.... jangan pernah ikut campur dalam urusan ini bila tidak ingin celaka." berisik suara yang begitu serak dan berat.
"Ya Allah siapa yang ada di belakang aku saat ini?" Kinan membatin di dalam hati dengan perasaan tidak karuan.
"Membunuh dirimu adalah hal yang mudah sehingga aku akan melakukan itu bila nanti sudah tidak ada pilihan lain." suara serak itu kembali terdengar.
Braaaaaaak.
Tubuh Kinan melenting begitu saja menghantam tembok rumah dan dia menjadi kesulitan untuk bangun, wanita ini berusaha menatap kesana kemari untuk melihat apa yang sudah terjadi dan ternyata tidak ada satu orang pun di dalam dapur ini sehingga Kinan semakin ketakutan dan segera berlari masuk ke dalam kamar.
Amir sedang tertidur pulas dan dia sama sekali tidak mengetahui apa yang telah terjadi kepada sang istri, Kinan sendiri gemetar karena ketakutan dan dia bingung untuk membangunkan Amir bagaimana lalu menceritakan apa saja yang telah dia alami ketika ada di belakang tadi.
"Kenapa dia menghantui aku seperti ini?" Kinan kebingungan karena terus mendapat teror dari Anisa.
"Apa karena aku sudah mengetahui bahwa dia meninggal dunia? lalu dia datang untuk menghantui aku seperti ini." Kinan tenggelam dalam pikiran dia sendiri dan segera berbaring di sebelah Amir.
"Dari mana kamu tadi, sayang?" Amir bertanya dengan mata terpejam dan memeluk tubuh sang istri.
"Ah kamu tidak tahu saja bahwa aku habis menemui sesuatu yang sangat menyeramkan." keluh Kinan dengan suara pelan.
"Apa saya menyeramkan ini?" Amir bertanya dan membuat Kinan segera menoleh kepada sang suami.
"Aassghhhkkk!" Kinan menjerit keras karena wajah Amir berubah menjadi wajah Anisa yang melotot dan lidah terjulur keluar.
"Hei ada apa?!" Amir tersentak bangun karena mendengar Kinan yang berteriak seperti itu.
"Astagfirullah!" ujar Kinan sambil mengusap wajah karena Amir berubah kembali seperti sedia kala.
"Kamu Kenapa kok berteriak seperti itu dan kenapa wajah kamu begitu pucat sekali?" Amir memegang tangan sang istri untuk memastikan.
Kinan reflek memeluk sang suami karena dia begitu ketakutan dan tidak tahu kenapa Anisa terus-menerus memberikan teror seperti ini kepada dia, bahkan Amir yang tertidur lelap saja bisa berubah menjadi kepala Anisa itu sehingga Kinan merasakan hidup dia semakin tidak tenang saja setelah mengetahui bahwa Anisa meninggal karena bunuh diri.
"Aku melihat Anisa di dalam mesin cuci dan barusan dia juga ada di sebelah sini." Kinan berkata sambil menangis.
"Tenang, itu hanya karena pikiran kamu terus mengarah kepada dia sehingga terbayang wajah Anisa." Amir berusaha untuk menenangkan.
"Ya Allah, Mas! aku takut sekali dengan keadaan seperti ini." Kinan memang sudah menangis karena merasa begitu ngeri.
Siapa yang tidak ngeri bila malam-malam seperti ini malah mendapat teror dari arwah yang sangat menakutkan sekali, wajah pucat kebiruan mata melotot serta lidah terjulur panjang sehingga bila orang memiliki mental yang lemah maka pasti tidak akan sanggup untuk bertahan.
Selamat pagi besti, jangan lupa like dan komentar kalian semua ya.
ga nyangka si pocong patah hati bs gelut jg👻
calon mantu pangeran ular itu,
ada yg datang ngk sich nolong Digo bisa mampus tu anak orang