Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.
Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.
Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Pagi hari dengan suasana yang memuakkan
Wang Chan akhirnya pulang. Ia masuk melalui pintu belakang dan langsung menuju ke kamarnya dengan langkah pelan, berusaha tidak menimbulkan suara.
Tidak ada lagi suara Liu Chiyang yang mendesah. Kelihatannya wanita itu sudah tidur.
Setidaknya Wang Chan bisa bernapas lega untuk malam ini.
Ia membaringkan tubuhnya di ranjang. Matanya menatap langit-langit kayu yang gelap, tapi pikirannya tidak langsung memikirkan tawaran Nuan Shuang.
Menurutnya, Nuan Shuang benar-benar membutuhkannya.
Wanita itu sudah menunggu ratusan tahun, tentu ia tidak akan keberatan menunggu beberapa hari atau bahkan beberapa minggu lagi.
Tidak perlu terburu-buru. Keputusan seperti ini tidak bisa diambil dalam semalam.
"Aku membutuhkan lebih banyak hal untuk menjadi lebih kuat," gumamnya pelan. "Hanya saja, hal itu tidak gratis."
Setiap kenaikan tingkat membutuhkan pengorbanan. Batu sumber, teknik, waktu, bahkan mungkin nyawa.
Nuan Shuang menawarkan jalan pintas, tapi Wang Chan tidak cukup naif untuk percaya bahwa jalan pintas tidak memiliki harga.
Kali ini, Wang Chan hanya menutup matanya. Ia memilih untuk membiarkan dirinya tertidur untuk malam ini.
Tubuhnya lelah, pikirannya penuh, tapi tidur adalah satu-satunya tempat ia bisa beristirahat sejenak dari semua kebisingan di kepalanya.
Pagi tiba.
Sinar matahari masuk melalui celah-celah jendela kayu, membangunkan Wang Chan dari tidurnya yang tidak terlalu nyenyak.
Ia bangun dengan rasa pegal di sekujur tubuh, seperti orang yang baru saja bermimpi buruk tapi tidak bisa mengingat isinya.
Di dapur, seperti biasa, Qing Yi dan Liu Chiyang sudah sibuk menyiapkan makanan.
Kedua wanita itu bergerak dengan efisien, seolah-olah sudah saling mengerti apa yang dibutuhkan tanpa perlu banyak bicara.
Qing Yi memotong sayuran di atas talenan, sementara Liu Chiyang mengaduk bubur di atas tungku.
Wang Chan yang baru saja bangun terlihat keluar dari kamarnya sambil menguap.
Tangannya mengusap matanya yang masih berat, rambutnya berantakan, dan pakaian kusut di sana-sini.
Pandangannya pertama kali langsung tertuju pada Liu Chiyang.
Wanita itu mengenakan pakaian yang lagi-lagi mengekspos belahan dadanya.
Kain tipis itu nyaris tidak menutupi apa pun di bagian atas, hanya mengandalkan satu tali di bahu yang tampak akan putus kapan saja.
Wang Chan hanya bisa mengalihkan pandangannya. Sesaat, bayangan kejadian tadi malam melintas di kepalanya.
Liu Chiyang dengan jubah melorot, tubuhnya yang putih berkilau oleh keringat, suaranya yang terputus-putus di ruang tamu yang gelap.
"Sungguh aku sangat ingin melupakannya," gumamnya pelan, nyaris tidak terdengar.
Ia menghela napas, lalu mendekati dua wanita itu.
"Oh, Xiao Chanchan. Pagi!"
Liu Chiyang menyapanya lebih dulu dengan suara ceria yang sama seperti biasa.
Tidak ada kesan aneh, tidak ada perubahan. Seolah tadi malam tidak terjadi apa-apa.
Wang Chan membalas sapaan itu dengan anggukan kecil.
Sementara itu, Qing Yi sibuk dengan masakannya. Ia tidak menoleh, hanya sesekali mengaduk sayuran di wajan sambil sesekali mengecap kuahnya dengan ujung sendok kayu.
"Duduk saja, Wang Chan. Sebentar lagi akan siap," ucap Qing Yi tanpa mengalihkan pandangan dari wajan.
Wang Chan hanya duduk di kursi meja makan. Kayu kursi itu terasa dingin di kulitnya yang masih hangat karena baru bangun.
Meskipun kelihatan tenang, pikirannya selalu melayang. Ingatan tentang Liu Chiyang tadi malam terus terngiang-ngiang di kepalanya, seperti lagu yang diputar berulang-ulang.
Terlebih lagi saat ini, wanita itu benar-benar memakai pakaian yang terbuka. Setiap kali Liu Chiyang bergerak mengambil garam atau membalik dadar, kain di dadanya bergoyang, dan Wang Chan harus memalingkan muka.
'Apakah semua wanita di dunia ini begitu tidak tahu malu?!' serunya dalam hati.
Dulu ia mengira Qing Yi yang paling berani.
Sekarang ia tahu bahwa murid dan guru memang sepadan. Mungkin itu sebabnya mereka cocok satu sama lain.
"Ada apa, Xiao Chanchan?"
Wang Chan tersadar dari lamunannya.
Liu Chiyang berdiri di depannya, satu tangan memegang sendok kayu, tangan satunya di pinggang.
"Hah? Tidak ada apa-apa." Wang Chan menggelengkan kepalanya agak terlalu cepat.
"Benarkah? Sedari tadi kau terus menatapku."
Liu Chiyang mendekat. Wang Chan bisa mencium wangi melati yang khas, wangi yang sama seperti tadi malam.
Wangi yang sekarang entah mengasa terasa berbeda, lebih hangat, lebih menusuk.
Wajah Liu Chiyang dekat, sangat dekat. Hidung mereka berdua hampir bersentuhan.
Wang Chan bisa melihat setiap detail wajah wanita itu, bulu matanya yang panjang, kulitnya yang mulus tanpa pori-pori, bibirnya yang merah alami tanpa polesan.
"Benar tidak ada apa-apa?" ulang Liu Chiyang, matanya menyelidik.
Wang Chan hanya bisa menghela napas. Ia tidak bisa bilang bahwa ia melihat wanita itu masturbasi tadi malam.
Ia tidak bisa bilang bahwa bayangan itu masih melekat di kepalanya seperti lem. Ia tidak bisa bilang apa pun.
"Tidak ada."
Liu Chiyang menatapnya beberapa saat lebih lama. Bibirnya sedikit mengerucut, tanda ia tidak sepenuhnya percaya.
Tapi akhirnya ia menghela napas kecil, mundur selangkah, dan kembali ke dapur.
"Baiklah kalau begitu."
Dari balik meja dapur, Qing Yi yang selama ini diam tiba-tiba bersiul pelan.
"Kak Liu, jangan ganggu Wang Chan terus. Nanti dia tidak mau makan lagi karena malu."
"Aku tidak malu," potong Wang Chan cepat.
"Ah, jadi kau memang diganggu?" Qing Yi menoleh dengan senyum nakal.
Wang Chan menutup mulutnya. Terlambat.
Liu Chiyang tertawa kecil dari balik tungku. "Lihat, Xiao Yi lebih pintar dari yang kukira."
"Kak Liu, jangan panggil aku Xiao Yi. Kedengarannya aku masih kecil."
"Kau memang masih kecil."
"Aku tidak kecil!" Qing Yi membusungkan dadanya.
Gerakan yang langsung ia sesali karena pakaian tipisnya menegang di bagian dada, persis di depan Wang Chan.
Wang Chan memejamkan mata. Menghela napas.
Lalu membuka mata lagi, menatap langit-langit dapur yang berlumut.
"Sarapan belum selesai?" tanyanya dengan suara datar.
"Sabar," jawab Qing Yi.
"Bentar lagi," sahut Liu Chiyang bersamaan.
Wang Chan mengangguk pelan. Ia duduk diam di kursinya, menunggu, sementara dua wanita di depannya terus bergerak di dapur dengan tawa dan canda yang sesekali meledak.
"Wang Chan, makan!"
Suara Qing Yi memecah lamunannya. Semangkuk bubur ayam panas diletakkan di depannya, asapnya masih mengepul, aroma jahe dan ayam menyengat hidung.
Wang Chan tersenyum kecil.
"Terima kasih."
Ia mengambil sendok dan mulai makan. Buburnya hangat, mengalir di kerongkongannya, menghangatkan perutnya yang kosong.
Sementara di sampingnya, Qing Yi dan Liu Chiyang sudah mulai berdebat tentang siapa yang paling tidak tahu malu di rumah ini.
Wang Chan tidak ikut campur.
Ia hanya tersenyum.