NovelToon NovelToon
Darah Di Bukit Manoreh

Darah Di Bukit Manoreh

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Anak Genius
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ANTARA LUKA DAN MALU

Seluruh bala tentara pulang, tak ada sorak-sorai kemenangan di antara keduanya. Semua pulang dengan mulut terkunci. Pasukan Kerajaan Jalapati, kembali dengan kepala sedikit tertunduk. Bahkan sepanjang perjalanan, Prabu Wijaya hanya diam.

Pangeran Putera Mahkota Aryo Seto Wijaya menatap ayahnya. Mestinya, dada sang ayah membusung bangga. Mestinya, dagu sang ayah terangkat jumawa. Mestinya, sorak-sorai kemenangan disanjung sepanjang perjalanan.

Mereka telah melukai musuh, darah di golok sang raja. Sebagai bukti jika ada pertumpahan darah di sana.

Tangan Aryo yang mencengkram tali kekang, makin mengeratkan cengkramannya. Ia sangat yakin jika ada sesuatu terjadi sebelum kedatangannya. Tetapi melihat ayahnya begitu tenang, ia pun tak berani mengangkat suara.

Kesunyian yang merayap di sepanjang jalur kepulangan pasukan Jalapati terasa jauh lebih mencekam ketimbang gemuruh perang itu sendiri.

Debu-debu yang beterbangan di bawah kaki-kaki kuda seolah ikut membisu, enggan mengusik lamunan Prabu Wijaya Ningrat yang terus menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.

Sebagai penguasa, ia berhasil menyelamatkan mukanya di hadapan ratusan prajurit. Tetapi, sebagai seorang ksatria, batinnya hancur. Ia tahu betul bahwa setetes darah di golok patahnya bukanlah simbol penaklukan, melainkan sedekah harga diri yang diberikan oleh Punggawa Buksa.

Aryo Seto Wijaya, sang Putra Mahkota, terus mengawasi gerak-gerik ayahnya dari atas punggung kuda cokelatnya. Rahangnya mengatup rapat. Indra batinnya yang telah terasah tajam selama belasan tahun di kawah Gunung Lawu menangkap adanya ketidakselarasan yang ganjil.

Rasa bangga yang seharusnya membumbung tinggi dari sisa aura sang Prabu, justru berganti menjadi kabut kegelisahan yang pekat.

Kepulangan pasukan Kerajaan Jalapati tentu berbeda dengan kepulangan pasukan Kerajaan Kali Ireng.

Sama-sama sunyi, bahkan salah satu punggawa mereka terluka. Adipati Sengko sudah menotok aliran darah di area luka, agar racun dari golok Prabu Wijaya tidak menyebar. Di pinggiran luka, sudah mulai kemerahan setelah sempat menghitam akibat reaksi racun dari golok milik raja musuh.

"Kau terlalu berani Buksa!" protes Sengko kesal.

"Adipati, hamba hanya memberi satu hadiah yang tak bisa dilupakan Prabu Wijaya!" jawab Buksa tenang.

"Tapi racun itu bisa membunuhmu!" sahut Sengko.

"Tidak akan!" jawab Buksa yakin.

"Karena ada Kangmas Sengko yang pasti menolongku!" lanjutnya lagi.

Sengko hanya bisa menghela nafas panjang.

"Ayo percepat langkah. Kita harus sampai istana sebelum fajar tiba!" teriaknya memberi perintah.

Dengan cepat, rombongan pasukan Kali Ireng melesat cepat, meninggalkan bukit Menoreh.

Sementara di lereng bukit, Srikandi baru selesai membelah kayu. Ia menghela nafasnya ketika melihat tumpukan kayu. Karena pekerjaan itu sudah biasa ia lakukan.

Makanya, ketika melihat kesediaan kayu untuk arang habis. Ia pun gegas menebang pohon waru tua, untuk dibakar menjadi arang.

"Ayah. Jika begini terus. Kapan aku mencari keadilan untukmu!" teriaknya putus asa.

"Sri! Mana arangnya! Kangmasmu mau buat teh!" teriak Rukmi dari dalam.

Srikandi mencebik kesal, ingin sekali melempar dua manusia di dalam yang tak berhenti mengganggunya itu. Tapi, jika ia lakukan. Pasti dirinya akan kesusahan di masa mendatang karena ulahnya mengusir orang lebih tua.

"Ayah. Boleh tidak aku abaikan Bibi?" keluhnya bertanya sambil menatap langit.

Alih-alih mendapat jawaban, malahan ia mendapat wajah ayahnya menatapnya lembut namun penuh peringatan.

"Ah ... Ayah tak asik!" gerutunya.

"Sri!" teriak Rukmi menggema di dalam.

"Iya Bi, tunggu!" sahutnya pada akhirnya.

Kembali ke istana Kali Ireng.

Rombongan pasukan Kali Ireng sudah sampai istana, mereka langsung disambut Prabu Laksa dengan wajah khawatir. Ia menatap Buksa yang terluka.

"Apa yang terjadi?" tanyanya cemas.

"Ampun Sri Baginda Raja, kami datang tidak membawa berita gembira!" ujar seluruh prajurit termasuk Sengko dan Buksa langsung bersimpuh ke tanah.

Prabu Laksa mendekat dan mengangkat bahu Adipatinya.

"Bangkitlah kalian. Ayo, kita ke ruang makan. Gusti Ratu kalian telah menyiapkan hidangan untuk disantap bersama!" ajaknya pada seluruh prajurit.

"Matur nuwun sanget, Gusti, Prabu!”

Prabu Laksa tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kehangatan yang seketika meruntuhkan ketegangan di antara para prajurit yang baru saja bertaruh nyawa. Di belakang sang Prabu, Gusti Ratu menyambut dengan tatapan teduh, sementara para dayang mulai sibuk menata hidangan hangat di meja panjang ruang perjamuan.

Aroma kuah rempah dan nasi gurih menguar, kontras dengan bau anyir darah dan hawa dingin bukit Menoreh yang masih melekat pada zirah mereka.

"Masuklah, basuh luka dan lelah kalian. Di istana ini, tidak ada yang perlu bersimpuh seolah-olah kalian telah gagal," titah Prabu Laksa lembut namun penuh wibawa.

Sengko dan Buksa bangkit perlahan. Buksa meringis sedikit, totokan di bahunya mulai mengendur dan rasa perih akibat racun golok Prabu Wijaya kembali berdenyut, memanaskan sendi-sendinya.

Namun, ksatria tua itu tetap menegakkan punggungnya, menolak terlihat lemah di depan rajanya.

Prabu Laksa menyentuh bahu Buksa yang terluka ... Cess! Bunyi mendesis di atas luka. Asap tipis keluar dari luka itu.

"Argh!" lutut Buksa lemas ia nyaris tersungkur jika Prabu Laksa tak menahan lengannya dan merangkulkannya di pundaknya.

"Prabu?" Buksa terkejut.

Sengko hendak mengambil alih, tapi Prabu Laksa menolaknya.

"Biar aku saja!" ujarnya tegas tanpa sungkan.

"Dimas Ratu!" panggilnya pada sang istri.

"Dalem Kangmas Prabu!" sahut Sandika hormat.

"Bawa semua prajurit untuk bersantap, dan kau Sengko. Ikut ratumu untuk menemani semuanya!" perintah Prabu Laksa lagi.

"Daulat Gusti!" sahut Sengko dan Ratu Sandika bersamaan.

"Mari kangmas sekalian!" ajak Ratu Sandika membawa semua prajurit ke area perjamuan bersama Sengko.

Sementara Buksa dibawa Prabu Laksa ke sebuah ruangan khusus. Sang raja membawa Punggawanya ke tengah ruangan beralas tikar jerami.

"Duduk bersila di sana!' perintahnya.

Buksa menurut, ia duduk bersila, sementara Prabu Laksa duduk di sisi bahunya yang terluka.

"Kau tau racun apa yang ada di lukamu, punggawa?" tanyanya sambil mengerahkan hawa murni ke telapak tangannya dan menekan luka Buksa.

""Nuwun sewu, Paduka, kula mboten mangertos. Nanging mesthi Badinda ingkang mangertos ingkang paling sae!" jawab Buksa.

"Racun yang sama yang membunuh sepupumu. Punggawa Abda!"

"Apa ... Jadi Kanda Abda dibunuh oleh Raja Wijaya?" seru Buksa kaget.

"Aku belum bisa menyimpulkan itu Buksa," jawab Prabu Laksa.

"Tapi kata Baginda tadi ...?"

"Racun yang ada di tubuhmu, tingkatnya sangat rendah, walau tetap mematikan," jawab Prabu Laksa menggantung.

"Baginda ... Tolong ... Ini ada apa? Saya juga perlu tau!" desak Buksa kesal.

"Kau memerintahku Buksa?"

Buksa terkejut, ia menyadari kesalahannya.

"Ampun seribu ampun Baginda ... Bukan maksud hamba ...."

"Pantas Kandi keras kepala. Ternyata itu dari mu!" potong Prabu lalu selesai mengobati luka di bahu punggawanya itu.

Buksa menoleh bahunya yang sudah tertutup kulit. Walau masih terlihat kemerahan, tetapi lukanya hilang tanpa jejak.

""Aku utang nyawaku marang Paduka Sang Prabu! Ngapuraa abdi iki sing bodho banget, kawula ingkang mulya!"

Prabu Laksa hanya terkekeh pelan, ia berdiri dan menyodorkan tangan ke arah Buksa.

"Ayo berdiri, kita susul yang lain untuk makan. Aku yakin, Buksa pasti akan mengemut nasinya sampai kita datang!" ajaknya sambil berkelakar.

Buksa meraih telapak tangan rajanya, ia pun berdiri dan keduanya pergi ke ruang perjamuan.

bersambung.

Next?

1
Deyuni12
dasar daun pandan,kaga kapok kapoknya
Deyuni12
semakin penasaran dengan langkah apa yg akan prabu laksa n srikandi ambil selanjutnya
Eni Istiarsi
kapokmu kapan Padan Laran.. sirepmu tidak mempan ketika berhadapan dengan ketulusan hati
Benny Badaruddin
PD amat sakta minta bagian dr kiabda yg menjadi milik srikandi.dasar rakus suami istri sama saja rakus seperti kera
Anita Barus
Srikandi jengkel PD petinggi istana yg membela kebo Ireng hingga dia menyerah kan benda temuan nya .
vania larasati
lanjut
Benny Badaruddin
adiknya keknya terbuat dari tanah sengketa 😄🤣🤣🤣
Benny Badaruddin
ternyata seperti itu 🤭
Eni Istiarsi
sedikit demi sedikit kebenaran mulai menemukan jalannya
Anita Barus
Srikandi hebat y bisa menciptakan ilmu send8ri
Benny Badaruddin
keren Ki abda👍
vania larasati
lanjut
Deyuni12
hmm
Deyuni12
huaaaa
emang enak ketahuan semua kejahatan dirimu hayatri
Anita Barus
lanjut Thor tumpas habis penghianat
vania larasati
lanjut
Eni Istiarsi
diam diam Nyi Padan Laran sepertinya menjadi tokoh kunci terbunuhnya Ki Abda
Deyuni12
makin seru n menegangkan
Deyuni12
lanjutan
Benny Badaruddin
seru dan menarik lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!