Di dunia di mana batas tertinggi manusia hanyalah Saint Rank, Sander Duster—putra ketiga keluarga militer terkuat di Elegrand Kingdom—dianggap gagal karena tidak memiliki bakat Life Energy seperti para ksatria lain. Namun takdirnya berubah saat ia menyelamatkan seekor kucing hitam misterius di tengah badai salju.
Kucing itu ternyata adalah Behemoth, salah satu Legendary Beast pemegang Hukum Devouring yang hampir memusnahkan dunia di masa lalu.
Melalui ikatan Soul Resonance yang tak disengaja, Sander perlahan memperoleh kekuatan fisik abnormal yang melampaui logika manusia biasa. Di balik kehidupan akademi, intrik politik bangsawan, ancaman perang antar kerajaan, dan kebangkitan monster legendaris mulai mengguncang dunia.
Saat semua orang memperebutkan kekuasaan, Sander justru berjalan menuju sesuatu yang belum pernah dicapai siapa pun dalam sejarah—
God Rank, ranah sang Dewa Perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Menara Pengawas Aethelgard
Dinding Manusia dan Roda Politik Utara
Angin menderu laksana jeritan ratusan jiwa yang tersesat di tengah hamparan es putih tanpa batas. Di ujung paling utara dari benua ini, berdiri sebuah mahakarya pertahanan arsitektur manusia yang sengaja dibangun untuk menentang keganasan alam dan ancaman dari luar batas peradaban. Tempat itu dikenal dengan nama Benteng Es Aethelgard. Struktur raksasa yang terbuat dari susunan batu kelabu dan bongkahan es abadi ini membentang membelah cakrawala, menjadi perisai mutlak bagi Elegrand Kingdom. Di seberang jurang kematian yang menganga begitu dalam di bawah benteng, terbentang wilayah musuh bebuyutan mereka, Vorthamere Kingdom, serta hamparan dataran liar yang menjadi tempat bagi para monster berkeliaran untuk mencari mangsa kapan pun badai menerjang.
Di atas tembok pengawas tertinggi yang disapu badai salju tanpa henti, seorang pria berdiri tegap bagaikan pilar dunia yang tidak akan pernah bisa digoyahkan oleh badai sekeras apa pun. Dia adalah Grand Duke Gabriel Duster, penguasa wilayah Utara sekaligus komandan tertinggi di garis depan pertahanan ini. Jubah tebal dari bulu serigala salju yang dikenakannya berkibar kencang menantang arah angin yang menusuk. Di depannya, di atas sebuah meja batu besar yang terpahat menyatu dengan lantai tembok pertahanan, tergelar berbagai macam peta logistik dan tumpukan laporan intelijen terbaru mengenai kondisi medan perang.
Beberapa perwira tinggi militer berdiri mengelilingi meja tersebut, merapatkan rahang mereka untuk menahan hawa dingin yang terasa menembus hingga ke sumsum tulang, sementara Gabriel sendiri tetap menatap peta itu dengan ekspresi wajah yang datar dan sangat tenang. Gabriel sedang menjalankan tugas militernya yang berat. Dia meneliti setiap garis rute pasokan makanan dan persenjataan yang harus menembus badai musim dingin untuk sampai ke barak-barak prajurit. Dia juga dengan teliti menerima dan memilah laporan intelijen mengenai pergerakan mencurigakan dari pasukan pengintai musuh di seberang ngarai. Setiap keputusan yang diambilnya di atas meja batu ini akan menentukan hidup dan matinya puluhan ribu nyawa manusia yang berlindung di balik tembok pertahanan Aethelgard. Tangan besarnya menunjuk ke salah satu titik di peta, memberikan instruksi dengan suara bariton yang berat dan sedingin es, memastikan tidak ada satu pun celah di garis pertahanan yang bisa dimanfaatkan oleh musuh selama badai salju ini berlangsung.
Di tengah cuaca ekstrem yang bisa membekukan darah manusia biasa dalam hitungan menit, Gabriel sama sekali tidak perlu merapalkan mantra sihir pelindung atau mengangkat senjata besarnya untuk melindungi diri. Secara pasif, tubuh besarnya memancarkan sebuah aura tingkat (Saint Rank) berwarna putih keperakan yang luar biasa padat. Aura keperakan ini tidak menyilaukan mata, tetapi terasa begitu pekat dan berat hingga badai salju yang mengamuk di sekitarnya terpaksa mereda setiap kali mendekati tubuhnya. Udara di sekeliling sang Grand Duke seolah menolak untuk bergerak liar, dipaksa tunduk oleh eksistensi mutlak dari sang komandan tertinggi yang sedang berdiri mengawasi wilayah kekuasaannya.
Efek dari tekanan aura (Saint Rank) yang bocor secara pasif itu tidak hanya dirasakan oleh udara dan salju di atas tembok. Jauh di dasar jurang perbatasan yang gelap gulita di bawah sana, kawanan monster tingkat (Elite) yang tadinya melolong kelaparan dan mencoba memanjat dinding tebing mendadak menghentikan pergerakan mereka. Makhluk-makhluk buas yang memiliki kulit sekeras baja dan cakar tajam itu gemetar ketakutan. Insting liar mereka mendeteksi sebuah hawa ancaman maut yang turun dari atas langit, membuat mereka meringkuk dan mundur kembali ke dalam bayang-bayang tebing, terintimidasi sepenuhnya oleh keberadaan Gabriel yang bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah mereka.
"Pastikan rotasi prajurit penjaga malam dipercepat menjadi setiap dua jam sekali," perintah Gabriel kepada perwira di sebelah kirinya. "Hawa dingin malam ini lebih menusuk dari biasanya. Aku tidak ingin ada prajurit yang kehilangan jari mereka karena radang dingin hanya karena kita terlambat membunyikan lonceng pergantian di atas menara."
Sang perwira langsung memukul dada zirahnya dengan kepalan tangan, memberikan hormat militer tertinggi sebelum bergegas menuruni tangga batu untuk melaksanakan titah tersebut. Setelah memastikan seluruh agenda militer malam itu selesai dan garis pertahanan terkunci rapat, Gabriel menggulung peta logistik utamanya. Tugas penjagaan di menara pengawas telah usai untuk hari ini. Dia membalikkan badan dan mulai melangkah meninggalkan area dinding luar.
Alur waktu dan suasana mendadak bergeser perlahan saat Gabriel mulai berjalan melintasi lorong-lorong batu internal benteng, menuju ke arah kastil kediaman pribadi keluarganya yang terletak di area paling aman di dalam Aethelgard. Langkah kaki bot besinya bergema di sepanjang koridor panjang yang diterangi oleh obor-obor sihir berwarna keemasan. Hawa dingin dari luar perlahan digantikan oleh kehangatan api perapian yang menyala di berbagai sudut ruangan. Begitu tiba di ruang ganti pelataran depan kastilnya, para pelayan setia segera mendekat dengan kepala menunduk untuk membantunya melepaskan zirah perang yang berat dan masih tertutup oleh lapisan es tipis.
Begitu lapisan pelindung dada baja terakhir dilepaskan dari tubuhnya, sebuah transformasi karakter yang sangat drastis terjadi pada pria tersebut. Sifat keras, dingin, dan penuh perhitungan yang membuat para monster gemetar serta para bawahannya menunduk hormat tadi, menghilang tanpa sisa. Wajah keras sang jenderal perang berubah seratus delapan puluh derajat. Ekspresinya kini melembut, matanya berbinar hangat, dan garis-garis ketegangan di dahinya sirna seketika. Dia tidak lagi berdiri sebagai seorang komandan tertinggi yang memegang nasib benua, melainkan bertransformasi menjadi seorang suami yang sangat merindukan istrinya setelah seharian lelah bekerja di luar rumah.
Gabriel melangkah tergesa-gesa melintasi lorong berkarpet merah, memasuki ruang makan utama kastil yang luas dan didekorasi dengan megah. Di ujung meja makan panjang yang terbuat dari kayu mahoni gelap, seorang wanita dengan keanggunan yang tak terbantahkan sedang berdiri menata piring-piring porselen. Dia adalah Lyora, istri kesayangan dari sang Grand Duke. Saat mendengar langkah kaki suaminya memasuki ruangan, Lyora menoleh ke arah pintu dan memberikan senyuman lembut yang selalu berhasil meluluhkan hati Gabriel yang sekeras batu.
Tanpa memedulikan kehadiran beberapa pelayan istana yang tersenyum simpul di sudut ruangan, Gabriel setengah berlari menghampiri istrinya, merengkuh pinggang wanita itu dengan lembut, lalu mendaratkan kecupan hangat dan lama di keningnya. Sang pilar militer yang ditakuti oleh seluruh kerajaan musuh itu ternyata menunjukkan sikap yang sangat bucin dan penuh puja-puji ketika berada tepat di depan istrinya sendiri.
"Kau pulang sedikit lebih lambat malam ini, Sayang. Sup daging rusanya hampir saja menjadi dingin," ucap Lyora dengan nada menegur yang sangat halus dan dipenuhi oleh kasih sayang yang mendalam.
Gabriel tertawa menggelegar, suara tawanya memantul di dinding ruang makan yang hangat, menciptakan atmosfer yang sangat ceria dan jauh dari bayang-bayang kematian peperangan di luar sana. "Maafkan aku, Cintaku. Ada beberapa laporan intelijen dari perbatasan luar yang harus kupastikan sendiri kebenarannya sebelum aku bisa tenang meninggalkan pos. Tapi melihat senyumanmu saat ini, seluruh rasa lelahku berdiri di atas menara beku tadi langsung lenyap tak berbekas," balas Gabriel, memposisikan dirinya dengan sempurna sebagai sosok ayah yang hangat saat jamuan makan malam keluarga akan segera dimulai.
Di sekeliling meja makan yang kini dipenuhi oleh berbagai macam hidangan lezat dan asap yang mengepul dari mangkuk sup, anak-anak klan Duster telah duduk dengan rapi di kursi mereka masing-masing. Suasana ruangan dipenuhi oleh obrolan ringan, cerita tentang latihan pedang, dan tawa yang lepas. Ini adalah sebuah harmoni indah yang sangat kontras jika dibandingkan dengan badai mematikan yang sedang mengamuk membabi buta di luar jendela kastil.
Di salah satu kursi kayu yang tidak terlalu jauh dari posisi Gabriel, duduk seorang bocah laki-laki yang sejak tadi diam-diam mengamati seluruh interaksi antara kedua orang tuanya dengan tatapan mata yang sangat tenang dan jernih. Bocah itu bernama Sander Duster. Di usianya yang baru menginjak sembilan tahun, Sander menyerap setiap detail atmosfer keluarga yang sangat harmonis di depannya. Dia duduk dengan punggung yang tegak lurus, memegang sendok dan garpunya dengan etika bangsawan yang tanpa cacat.
Di balik kehangatan tawa ayah dan kelembutan ibunya yang melayani makan malam, Sander kecil bisa merasakan fondasi disiplin militer yang sangat kuat mengalir diam-diam di dalam darah keluarganya. Kehangatan ini bukanlah sebuah bentuk kelemahan, melainkan alasan utama yang mulia mengapa ayahnya rela berdiri menahan badai di atas tembok beku setiap hari. Sander menatap ayahnya yang sedang menceritakan lelucon kepada kakak-kakaknya dengan suara lantang, lalu mengalihkan pandangannya menatap ibunya yang tersenyum simpul sambil menuangkan air minum ke gelas-gelas kosong.
Meskipun masih sangat belia, Sander perlahan mulai mengerti bahwa kedamaian di ruang makan ini adalah sesuatu yang harus dibayar dengan harga pengorbanan yang sangat mahal di luar sana. Tembok Aethelgard yang sangat dingin dan pedang raksasa milik ayahnya adalah perisai mutlak yang menjaga tawa di meja makan ini agar tidak direnggut oleh cakar monster liar atau ambisi kerajaan musuh.
Di luar sana, badai salju Utara semakin mengganas tak terkendali. Butiran es menghantam kaca jendela kastil dengan suara gemeretak yang konstan, seolah alam liar sedang berusaha mendobrak masuk paksa untuk merenggut sisa-sisa kehangatan manusia yang berlindung di ujung benua. Namun, kaca-kaca tebal itu bertahan kuat, ditopang oleh sihir pelindung kuno dan tebalnya dinding batu yang telah berdiri kokoh selama berabad-abad menantang waktu.
Sander sesekali mengalihkan pandangannya dari piring makan menuju jendela yang buram karena tertutup lapisan es. Dalam benaknya yang masih penuh dengan rasa ingin tahu anak-anak, terbersit sebuah tanda tanya besar tentang apa yang sebenarnya bersembunyi di balik kegelapan badai salju yang tak tertembus pandangan tersebut. Ayahnya pernah bercerita tentang legenda makhluk-makhluk purba raksasa yang dulu menguasai bumi, jauh sebelum umat manusia mendirikan benteng-benteng pertahanan mereka. Cerita pengantar tidur yang menegangkan itu sering kali diakhiri dengan tawa Gabriel yang menepuk dada, meyakinkan bahwa pedang keperakan miliknya akan selalu tajam dan cukup kuat untuk memotong kepala makhluk apa pun yang berani mendekati keluarganya. Sander selalu memercayai kata-kata ayahnya itu tanpa keraguan sedikit pun. Baginya saat ini, sang ayah adalah dinding pertahanan yang sesungguhnya, jauh lebih kokoh dari batuan penyusun Aethelgard itu sendiri.
"Sander, kau melamun lagi," tegur sebuah suara halus yang membuyarkan isi kepalanya. Lyora menatap putra ketiganya dengan pandangan mata yang penuh dengan perhatian seorang ibu. "Habiskan potongan dagingmu. Kau butuh banyak tenaga untuk mengikuti sesi latihan fisik dasar besok pagi di lapangan pasir yang dingin."
Sander segera mengangguk patuh dan membalas tatapan ibunya dengan senyuman kecil, "Baik, Ibu."
Dia mengalihkan pandangannya dari jendela gelap dan kembali fokus menyuap makanannya. Di sekelilingnya, kehangatan keluarga Duster terus mengalir tanpa putus, menutupi segala bentuk kecemasan akan bahaya hari esok. Malam itu di dalam jantung Menara Pengawas Aethelgard ditutup dengan rutinitas makan malam yang luar biasa damai. Ini adalah momen yang mengakhiri sebuah babak kehidupan normal bagi seorang bocah pendiam, yang tanpa ada satu orang pun yang menyadarinya, suatu hari nanti akan tumbuh dan dikenal oleh seluruh penjuru benua sebagai sang dewa perang yang sesungguhnya.
folback aku yah ehehe